Bab 7 Jandaku7
Saat Barez, Edgar, dan Juan tengah bersiap untuk pulang.
"Wow… sangat nikmat bukan, yang telah berpelukan dengan seorang wanita."
"Apa maksudmu?" tanya Edgar yang merasa tersindir oleh Barez.
Sedangkan Juan hanya menatap mereka bingung.
"Kau menyindirku?"
"Kau merasa tersindir?"
"Kau munafik, Barez.." lalu Edgar pergi meninggalkan Barez dan Juan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tahya Juan yang seperti kambing congek saat ini.
"Tidak ada…"
"Kau cemburu?"
"Cih.." Barez tidak menanggapi ucapan Juan.
"Sialan, aku seperti manusia terbodoh saat ini." Cibir Juan.
Barez, dia tidak pulang kerumah. Melainkan pulang ke apartemen Anggi.
"Barez, kemarin kau tak datang.."
"Hm, iya.. aku merindukanmu, sekarang."
Barez menggendong Anggi ala bridal style menuju kamar.
Dia mencium bibir Anggi dengan kasar.
"Malam ini, aku tidak bisa lembut. Kau mengerti?"
Anggi hanya menganggukkan kepalanya.
Berbeda dengan Anin, di dalam kamar. Anin duduk di tepi jendela. Mantap langit malam, menghitung bintang.
"Sampai saat ini, aku benar-benar belum tahu. Siapa pemilik mobil itu. Mereka menyembunyikan identitas dengan bersih. Karena mereka, aku kehilangan dua nyawa sekaligus." Gumam Anin.
"Mungkin, aku akan sangat membenci orang itu. Orang yang sudah mengambil separuh napas ku. Lihatlah,.." Anin mengusap perutnya. "Perut ini telah rata, sekarang, yang seharusnya aku bahagia dengan Gavin dan buah cinta kami. Justru kesedihan yang selalu datang, Gavin.. aku benar-benar membutuhkanmu."
Lalu Anin berjalan gontai menuju ranjangnya. Merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Lalu berusaha untuk memejamkan matanya.
***
Pagi ini, Anin tengah bersiap dengan rutinitas nya. Ia terkejut saat melihat Ara dengan berciuman di ruang tamu.
Jian menghentikan ciuman, dan menatap Anin. Ara pun mengikuti arah pandang Jian.
"Eh.. Anin," sapa Ara gugup.
"M-maaf, aku telah mengganggu kalian."
Ara hanya mengangguk kecil.
"Oh ya, Anin, kenalkan.. ini Jian kekasihku."
"Jian.." Jian mengulurkan tangannya dan Anin menerima uluran tangannya.
"Anin.."
"Ehm, Anin.. mungkin nanti malam, aku tidak pulang. Karena aku akan pergi dengan Jian."
Anin terkejut dan ada rasa takut, ketika Ara mengatakan kalau dirinya tidak pulang malam ini.
"J-jadi?"
"Kau tenang saja, kakakku juga tidak akan pulang. Kau aman, Anin.."
Ada perasaan lega saat Anin mendengar penjelasan dari Ara.
"Oh, iya.. baiklah. kau berhati-hati lah, Ara."
Ara pun mengangguk dan tersenyum.
Dalam hati Anin merapalkan doa agar Barez benar-benar tak pulang malam ini.
"Kalau begitu, aku berangkat ke kantor dulu ya?" Pamit Anin.
"Hati-hati, Anin… eh Anin, mau di antar?"
"Tidak perlu, kak Edgar menjemputku."
"Oh, okay…"
Lalu Anin kembali melangkahkan kakinya keluar. Disana sudah ada Edgar yang berdiri di samping mobilnya.
"Dia berpacaran dengan kak Edgar?"
"Tidak, dia hanya berteman biasa."
"Aktivitas kita jadi terganggu."
"Tidak masalah, sayang."
"Aku benar-benar merindukanmu,."
"Aku juga, kau kenapa kerjanya sangat jauh?"
Jian hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu.
***
Selama perjalanan menuju kantor, hanya hening yang ada di dalam mobil Edgar.
Hingga akhirnya Edgar berani memecahkan keheningan.
"Anin, maaf.. maaf banget kalau aku banyak bertanya."
"Eh, kenapa, kak?"
"Maaf, itu.. kenapa kamu tidak ingin duduk di kursi depan?"
Seketika jantung Anin berdetak lebih kencang dari biasanya.
Dia terdiam, keringat dingin mengucur di dahinya.
Edgar yang menyadarinya pun segera meminta maaf.
"M-maaf, aku salah bicara."
Anin menundukkan kepalanya.
"Kak Edgar ingi tahu?"
"Tidak, aku tidak ingin membuatmu mengingat kejadian yang mungkin membuatmu terluka."
Anin tersenyum.
"Sepulang kantor kita bisa berbicara sebentar.."
Lalu Edgar pun mengangguk setuju.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman parkir kantor.
***
Anin mengantar secangkir coklat hangat ke dalam ruang kerja Barez. Dan dia terkejut saat melihat Barez sedang bercumbu dengan seorang wanita.
'DEG'
"M-maaf, saya hanya ingin mengantar ini."
Anin meletakkan secangkir coklat hangat di meja Barez.
"Kau, tidak punya sopan santun. Kau tidak mengetuk pintu saat kau masuk. Kau pikir ini kantor orang tuamu?"
"I-iya, maaf.."
"Pergi, kau.."
Lalu Anin beranjak keluar.
"Bukan kau yang pergi, Anin. Tapi dia..", ujar Barez menghentikan langkah Anin dan menunjuk wanita yang ia cumbu tadi untuk keluar.
Wanita itu keluar dan menatap tajam pada Anin. Sedangkan Anin hanya menundukkan kepalanya.
Barez berjalan mendekati Anin yang masih berdiri, tubuh Anin menegang. Sedikit bergetar.
"Apa kau ingin juga, Anin?"
Tanya Barez dengan seringaiannya.
"Anin.." panggil Barez dengan lembut dan sangat dekat.
Jantung Anin berpacu lebih cepat.
Rasa takut mulai menjalar di tubuhnya.
Ia terkejut saat Barez mencium pipinya dan dengan refleks, Anin menampar pipi Barez.
'PLAKK'
Barez meringis perih dengan tamparan Anin.
"Kau berani menamparku?"
Anin menunduk takut.
"M-maaf, tapi kau tidak sopan padaku. Tolong Kaka Barez jangan begitu ke Anin." Ucap Anin dengan nada permohonan.
"Kalau begitu, kau duduklah di sana sampai aku selesai kerja."
"T-tapi.."
"Apa kau tuli?"
Anin menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, duduklah."
Anin pun menuruti perintah Barez.
Anin duduk di sofa ruang kerja Barez.
"Kau tunggu pembalasanku, Anin." Batin Barez.
Setelah beberapa jam, Anin mulai gelisah.
"Aneh, dari kemarin aku sama sekali tidak diberi pekerjaan. Lalu untuk apa aku disini?" Batin Anin.
Anin duduk dan bertumpu dagu di sofa. Memberikan kesan manis disana.
"Kakaknya Ara jahat banget, ya Tuhan.. aku sangat takut." Batin Anin lagi
Barez melirik Anin sejenak.
Jantungnya berdetak kencang saat melihat makhluk Tuhan yang sangat indah untuk di pandang.
"Sial, apa yang terjadi?" Batin Barez.
"Kau buatku penasaran." Batinnya lagi.
Tak lama kemudian Edgar pun masuk ke dalam ruang kerja Barez.
"Anin, aku mencarimu."
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu, Edgar?"
"Biasanya juga langsung masuk, tidak jadi masalah."
"Anin, ku pikir kau sudah pulang sejak tadi."
"Anin disini, kak."
Edgar menganggukkan kepalanya.
"Cih, sama yang lain kau bisa bersikap manis." Batin Barez.
"Anin, jadikan?"
Edgar yang menguping serasa penasaran.
Anin mengangguk dan menjawab.
"Jadi, kak."
"Kalau gitu, ayo pulang.. Rez, aku duluan."
"Anin duluan, kak.." ucap Anin dengan menunduk.
Barez menatap tajam pada Anin.
Menatap marah pada kepergian mereka berdua.
"Brengsek! Dengan yang lain kau bisa bersikap biasa saja, bagaimana denganku tidak? Kau memang ingin mendapatkan hukuman dariku, Anin.." Barez menyeringai licik.
Edgar dan Anin kini telah sampai di sebuah cafe..
Setelah memesan makanan dan minuman, Edgar dan Anin duduk di kursi paling belakang.
"Jadi, kau ingin memulai dari mana, Anin?"
Saat Anin akan menjawab seorang waiters membawa pesanan mereka dan membutuhkan beberapa detik untuk memulai pembicaraan mereka kembali.
"Apa kita tidak makan dulu saja?"
"Baiklah, Anin juga sudah lapar."
Edgar terkekeh dengan jawaban jujur Anin. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk makan lebih dulu.
Bersambung..
