Bab 6 Jandaku 6
Saat Anin membawakan secangkir coklat hangat untuk Barez, ternyata sudah ada Juan di sana yang menemani Barez.
"Permisi, pak.. ini coklat hangatnya."
"Taro di meja saya."
Anin menganggukkan kepalanya dan menaruh coklat hangat di meja Barez.
"Kak Juan, mau juga?"
"Tidak, Anin. Terima kasih atas tawarannya."
Anin tersenyum kecil dan mengangguk.
"Anin, sekarang kau keluar dan kembali keruanganmu. Dan cepat datang jika aku memanggilmu." Perintah Barez.
"Baik, pak. Permisi…" ucap Anin membungkuk lalu keluar dari ruang kerja Barez.
Barez menghela napas kasar, sejenak saat Anin sudah pergi.
"Kau menyukainya?" tanya Juan pada Barez.
"Pertanyaan konyol. Sangat tidak jelas.."
"Aku hanya bertanya. Tidak perlu kau menjawabnya dengan ketus seperti itu."
"Hm.. kau sudah mencari tahu tentangnya?"
"Sudah.."
"Lalu?"
"Dari data yang ku temui, ini.." dengan ragu Juan memberikan informasi tentang Anin.
"Ini baru data sementara, dan sepertinya dia bukan orang biasa."
"Kau yakin?"
"Entahlah, hanya saja. Banyak info tentangnya yang bertengger dimana-mana."
Barez menautkan kedua alisnya.
"Oh ya? Apa aku harus percaya?"
"Ck, terserah kau saja." Jawab Juan dengan kesal.
"Terus, info apa yang sudah kau dapat?"
Juan menghela napas sejenak.
"Jadi.. Anin ini sudah pernah menikah."
Mata Barez terbelalak lebar saat mendengar penuturan Juan.
"Apa? Di umur semuda itu?"
"Iya, dari info yang ku dapatkan seperti itu. Dia hamil duluan saat masih duduk di bangku kuliah."
"Gila, ini benar-benar info gila.."
"Jadi, ini maksud dari percakapannya tadi pagi." Batin Barez.
"Kalau dia sudah punya suami, kenapa dia bekerja disini? Dan kenapa dia jauh-jauh dari Jerman hanya untuk menjadi sekretaris?"
"Entahlah, itu semua belum ku dapat. Karena saat ini dia menyandang status single. Kenapa tak kau tanyakan saja pada adikmu?"
"Tidak mungkin aku bertanya padanya. Ehm, apa mereka bercerai?"
"Entahlah, aku belum mendapatkan informasi lagi tentang hal itu."
"Aku akan mengorek lebih dalam. Tapi, apa pentingnya ini untukmu?"
"Aku sudah mengatakan jika data dia tidak jelas, dan aneh saja jika namanya hanya Anindya saja."
"Benar juga, dan dia juga tidak jelas asal usul lebih detailnya. Anehnya, kenapa dia sangat terkenal di Jerman?"
"Ya sudahlah, biarkan saja."
"Apa hari ini aku ada jadwal penting?"
"Tidak ada, bos. Santai untuk hari ini."
"Baiklah. Kau keluarlah dari sini."
"Kau mengusirku?"
"Ini waktunya kerja. Bukan menggosip."
"Baiklah, aku akan keluar."
"Tolong kau cari lagi infonya dan kabari aku secepatnya."
"Siap.."
Lalu Juan pun pergi keluar dari ruang kerja Barez.
"Single ya? Di usia mudanya dia sudah menyandang status sebagai seorang janda? Dia hamil di luar nikah? Lalu, dimana anak dan suaminya? Apa mereka bercerai?" Gumam Barez dengan rasa penuh penasaran.
"Kenapa dia datang jauh-jauh kemari hanya untuk bekerja? Tapi bagus jika dia seorang janda, karena aku yakin dia … " Barez menyeringai licik.
***
Di dalam mobil..
"Sayang, sini dong tangannya. Pegang perut aku." Pinta seorang istri pada suaminya.
"Iya, sayang. Aku pegang perut kamu nih." Ujar sang suami dengan mengusap lembut perut istrinya. Dengan tangan satu yang masih memegang setir.
Sang suami tersenyum lembut,
"Aku sangat bahagia, sayang."
"Aku juga, bahagia."
"Beruntung kita sudah lulus," ujar sang istri dengan cemberut.
Suaminya hanya terkekeh.
"Maaf ya, sayang. Aku kelepasan.."
"Tidak masalah, aku tidak apa-apa. Meskipun mereka mengatakan kalau kita menikah karena aku hamil duluan hehe."
"Maafin aku, ya sayang.."
"Kau ini, terlalu banyak minta maaf."
"Ya, habis mau bagaimana lagi. Kita sudah menikah sejak kita dari dalam perut. Nikah gantung.."
"Ya sudah, ini kan mang sudah jadi takdir kita." Jawab istrinya dengan lembut.
"Aku sangat bahagia, bentar lagi kita lengkap. Karena ini.." ujar sang suami dengan mengusap lembut perut istrinya.
"Bulan depan, aku ingin ke dokter. Ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi kita."
Sang suami hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu sang istri menyandarkan kepalanya di bahu suami.
Dan suami mengecup lembut kening istrinya.
"Anin, jika aku pergi, kau harus bahagia."
"Gavin, kamu kok ngomongnya gitu sih. Aku tidak suka dengan kata itu. Seolah-olah kamu akan pergi ninggalin aku."
"Ya, maaf. Aku hanya bicara saja.."
"Pokoknya kamu tidak boleh pergi. Titik."
"Iya, sayang. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku selalu sama kamu, selalu di hati kamu."
"Aku sayang sama kamu.."
"Iya, begitu juga denganku. Sayang sama kamu, tapi tidak tahu mengapa. Hatiku berkata kalau aku akan pergi meninggalkanmu." Batin Gavin.
"Aku juga menyayangimu."
Tak mereka sadari, dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Mobil mewah yang terlihat hilang kendali,
"GAVIN, AWASSSS…" teriak Anin.
Gavin pun hilang kendali,
"BRAKKK"
Mobil yang mereka tumpangi menabrak pohon hingga hancur, akibat benturan yang sangat keras, Anin kehilangan bayi dalam kandungannya dan juga suami yang sangat dicintainya.
Gavin terjepit dalam mobil, sangat parah.
"A-anin.." ucap Gavin terbata.
"G-gavin, hiks.. s-sakit, p-perut aku sakit hiks.." jerit Anin.
"I-ikhlaskan sayang, m-maafka aku, aku harus pergi. A-aku sayang kamu.." lalu Gavin memejamkan mata untuk selamanya.
"GAVIN, JANGAN!!" teriak Anin frustasi.
"Kamu tidak boleh pergi dariku, Gavin.. Gavin bangun.." teriak Anin menangis histeris.
"GAVIN, GAVIN.." teriak Anin dengan keringat dingin mengucur di dahinya.
"Anin, hei...Anin.." panggil Edgar lembut, membangunkan Anin dari tidurnya.
Anin tersentak, terbangun dari tidurnya.
"Kak Edgar.." Edgar terkejut saat Anin tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Hiks.. hiks..s-sakit kak,"
"Kenapa hm? Jangan nangis.." ujar Edgar memenangkan Anin.
"Hari Anin sakit, hiks.. dia ambil semuanya dari Anin, Anin tidak sanggup. Anin harus apa, hiks hiks.. Anin capek.."
Entah kenapa, Edgar pun ikut sesak melihat Anin menangis sesenggukan.
"Ssst… sabar ya, kamu harus ikhlas, harus semangat. Semua akan baik-baik saja." Ujar Edgar mengusap lembut punggung Anin.
"Aku tidak tahu apa yang kamu alami, tapi aku tahu, semua yang kamu alami itu sangat berat. Jangan menyerah, masih banyak orang yang sayang dan peduli padamu."
Anin melepas pelukannya di tubuh Edgar.
"Terimakasih, kak Edgar. Jas mu jadi basah karena air mataku."
"Tidak apa. Kalau kamu butuh sandaran, aku siap kok jadi sandarannya." Jawab Edgar tulus pada Anin.
Anin menganggukkan kepalanya.
"Kak Edgar baik banget, terimakasih."
"Sama-sama.."
"Jangan sedih lagi, kau sangat jelek jika terus menangis."
Anin pun segera menghapus sisa air matanya.
"Iya, kata mama juga begitu. Aku sangat jelek jika terus menangis." Jawab Anin dengan senyuman.
Diluar ruang kerja Anin, Barez menatap tajam pada mereka berdua.
"Dengan enaknya mereka bermesraan di kantorku. Itu adalah hal yang sangat menjijikan."
Bersambung...
