Bab 5 Jandaku 5
….
Anin menangis sejadi-jadinya, dimana dia merasakan sesak setiap detiknya.
"Gavin hiks.. aku merindukanmu.."
Anin mencengkram kuat sprei kasur, selalu berharap ini adalah mimpi.
"Gavin, sesakit ini kah hidupku tanpa kamu. Hiks.."
"Aku benar-benar sangat sesak, napasku sesak tanpamu."
Air mata Anin jatuh semakin deras.
"Aku sangat merindukanmu, sangat..hiks.."
Flashback
Setiap malam, setiap Anin akan tidur. Dia akan selalu bersikap manja pada Gavin.
"Gavin, elusin kepala aku dong. Aku ngantuk.."
"Iya, sayang.." lalu Gavin mengusap lembut kepala Anin.
Anin pun terlihat nyaman.
"Bagaimana jika aku pergi, nanti kau tidak bisa tidur, sayang.."
"Memangnya, kau akan kemana? Kau tidak boleh pergi." Ucap Anin dengan omelannya.
Gavin hanya terkekeh mendengar Omelan istrinya itu.
"Jangan berisik.." ujar Anin mengecup pipi Gavin sekilas.
Gavin menyeringai.
"Nakal ya kamu…"
"Hehe, hanya denganmu aku berani seperti itu."
"Tentu saja harus denganku. Tidak boleh yang lain.."
"Aku sangat mencintaimu, Gavin."
"Aku pun begitu, sayang.."
***
Anin(POV)
Hari berikutnya, Aku terbangun di jam yang sama terbangun lebih awal dari jam alarm yang ku setel tadi malam. Kali ini mataku menyusuri langit-langit kamar ku, berharap kehadiran gavin masih bisa ku rasakan.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan melihat botol berisi obat yang ku letakkan di meja kecil disamping tempat tidur ku.
“Obat ini sama sekali tidak ada reaksinya," gumamku sambil menggenggam keras botol obat ini.
Rasa sakit di dada ini semakin menumpuk berharap aku saja yang pergi daripada Gavin. Obat yang ku genggam ku lempar ke tong sampah, bukan hanya obat ini bahkan obat obat yang disarankan oleh dokter Joe pun tidak luput dariku, semua ku buang.
“Morning, Anin!!“ teriak Ara yang masih berbalut piyama panda nya.
Aku hanya tersenyum kepadanya dan menyuruh ia makan sarapan yang telah ku buat, Ara makan masalahku seakan ia tidak makan selama berhari-hari.
“Kak sini! Anin buat sandwich, dan ini sangat sangat lezat.“ ucap Ara dengan mulut yang penuh.
Sekilas aku melihat ke arah Ara memanggil kakaknya, tatapannya yang tajam bak elang siap menerkam ku.
“Pagi, Anin.“ sahut nya, suara nya yang begitu berat seakan terdengar tepat di telingaku.
Aku sedikit memejamkan mata saat ingatan Barez yang memanggil ku dengan nakal terlintas di pikiranku yang membuat tulang ku bergetar akan takutnya.
“Wah, kalian sedang sarapan.“ sapa Juan yang dibarengi Edgar menyapa dan mengucapkan selamat pagi untuk kesekian kalinya.
“Aku akan betah lama-lama menginap dirumah ini,“ ucap Edgar.
Barez yang mendengar, melemparnya dengan garpu yang membuat kesan di rumah ini semakin ramai.
Tatapan barez kepada teman-teman nya dan adiknya bukanlah tatapan yang ia perlihatkan kepadaku, terkadang aku berpikir apa ia membenci kedatangan ku?
“Setidaknya dirumah ini ada perempuan yang pintar memasak, bukan begitu, Rez?" sindir Juan kepada Ara yang membuat Ara sedikit meninggikan suaranya.
"Aku kalau sudah menikah pasti akan pintar masak kayak Anin kok " bangga Ara sambil berdiri dan menunjuk Juan dengan sendok selai coklat.
Aku hanya tertawa kecil saat mendengar argumen mereka walaupun sesekali aku melihat Barez sedang menatapku dengan tatapan mengintimidasi nya.
"Kau pikir menikah itu enak dan akan bahagia? Cih, aku tidak percaya akan hal seperti itu." Sahut barez yang membuat sedikit suasana sedikit suram.
Ara yang tidak menyetujui akan ucapan Barez malah balik menyerang nya yang di barengi Juan disamping nya. Barez hanya santai dan mengangkat pundak nya tidak peduli.
"Menikah itu tidak enak saat orang yang kita sayang pergi buat selama nya, "
"Biar bagaimanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan." Batinku berbicara dan mencoba menguatkan diri dari dalam.
Rasa nya terasa sesak, dadaku kembali sesak, rasanya aku tidak bisa bernafas tenggelam akan dalam nya laut dalam nan gelap tanpa ada nya sedikit cahaya
"Anin!"
"Anin!! Kau baik-baik saja?" Tanya Edgar yang membuatku tersadar.
“Akku baik baik saja," Jawabku sambil tersenyum dan meneruskan makanan ku.
****
Ponselku berdering saat aku membuka mulutku untuk melahap sandwich yang sudah dingin, aku meminta izin kepada Ara untuk menangkat telpon dan segera berlari menjauh dari dapur
“Ma ... “
“Anin, kau baik-baik saja sayang? Mama sangat merindukanmu.“ nada lembut dari suara mama mampu membuat hatiku yang sedikit cemas kembali tenang.
“Ya tentu, ma. Bagaimana keadaan kalian disana? Dimana papa?“ tanyaku sambil berdiri menerima cahaya matahari pagi.
Mama bilang bahwa papa sudah berangkat kerja, dan keadaan mereka baik baik saja.
Ia terus mengatakan untuk makan dengan teratur dan tidak pergi kemanapun sendirian, ia benar benar mencemaskan ku.
"Ayah akan kesana untuk menemui client dan bertemu denganmu. Mungkin beberapa minggu lagi." Jelas mama yang memberitahu kabar gembira tersebut.
"Seandainya.. "
"Anin.." Panggil mama seakan suaranya tepat disampingku.
Memelukku dengan pelukannya yang hangat dan mengelus kepalaku dengan tangan nya yang halus.
"Anin harus semangat ya? ini kan jalan yang kau mau. Jadi jangan terus bersedih" Kata mama lagi seakan tahu apa yang akan ku katakan.
"Jangan lupa untuk selalu meminum obat mu sayang, mama mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, mama.." Jawabku setelah beberapa saat ibu mematikan telpon nya.
***
"Ini menyakitkan.." Gumamku sambil memukul pelan dadaku.
"Kau mengambil Gavin disaat aku membutuhkan nya! Kau merenggut dua orang sekaligus dari hidupku."
"Kau merenggut Gavin dan Bayiku." Gumamku kecil.
Mataku memerah, nafas ku tidak beraturan. Saat mengingat semua yang terjadi, rekaman yang mengerikan berulang-ulang memutar seakan aku harus mengingat nya kembali dan kembali.
"Kau mengambilnya dariku! Kenapa tidak aku saja! Kenapa kau begitu kejam!!! Teriak ku sekeras mungkin.
Air mataku tidak bisa kutahan lagi, Tangisan ku pecah.
Menangis sejadi-jadinya, aku tersungkur di rumput hijau dibawah sinar matahari yang sangat cerah.
Ara datang memelukku dan mengatakan bahwa ia akan selalu disisiku pagi itu aku mencurahkan tangisan ku di hadapannya.
"Sudah? Ayo, kak Edgar menunggumu didepan."
"Kak Edgar katanya mau berangkat ke kantor bersamamu." Ucap Ara sambil menghapus air mataku dan menyemangati ku.
***
Hari pertama ku bekerja dimulai dengan menyusun berkas-berkas yang berserakan dan menempatkan nya kembali di tempat yang sesuai
"Anin," panggil Barez yang membuatku langsung berbalik arah seakan takut ia akan memangsaku secara tiba-tiba.
" I-iya, pak.."
"Good, kau sudah tahu untuk memanggilku seperti apa, di hadapan klien atau karyawan lain nya." Ucap Barez sambil berjalan ke arahku, ia juga melonggarkan dasi nya dan sedikit membuka kancing baju nya.
"Di Lain tempat kau bisa memanggilku kak.. atau sayang.. " ucap Barez dengan nada menggoda berbisik ditelingaku.
Spontan aku bergerak mundur menjauh dari Barez yang dibalas tatapannya yang tajam dan senyuman licik nya
"Kau takut?" Tanyanya.
Tangannya mencengkram rahangku dengan kuat mengangkat diriku sedikit hingga aku hanya bisa menjinjitkan diri.
"Kau membuatku merasa tak di anggap, kau ketus kepadaku tapi tidak dengan yang lain. Apa bedanya kau dengan?" Tanya lagi dengan nada tinggi dan berat.
Aku hanya memejamkan mata dan menahan sakit di pipi karena cengkraman nya sambil menatap matanya.
"Tidak ada yang beda, kak.." Jawabku yang hanya ditatap nya dengan mata yang sangat dingin
" L-lepasin.. Ini sakit kak," ucapku dengan terbata-bata tanpa sadar air mataku keluar mengaliri pipi dan mengenai tangan nya.
"Kau sudah berada di lingkaran ku, jangan berharap kau bisa keluar dari lingkaran ini." Ia berdecak kesal mengumpat kasar dan melepaskan ku menyuruhku agar berhenti menangis.
"Hapus air mata dan segera bikinkan aku coklat panas." Ucapnya dengan nada kesal sambil menyadarkan diri di kursi.
" B-baik "
Bersambung..
