Bab 4 Jandaku4
Malam harinya di rumah barez dan Ara.
Anin berada di dapur saat ini.
Ara yang melihat itu pun menghentikan langkahnya.
"Anin, kamu ngapain?"
"Oh, Ara.. maaf aku menggunakan dapurmu. Aku ingin membuat makan malam."
"Wah.. kau masak apa?"
"Aku membuat chicken teriaki. Makan yuk?"
Eh, kelihatannya sangat enak. Tapi, maaf loh.. aku sampai dibuatkan makanan begini."
Anin terkekeh.
"Tidak, tidak. Ini tidak membutuhkan kata maaf. Karena ini adalah kebiasaan ku, setahun yang lalu."
Ara terdiam sejenak.
"Anin, maafkan aku ya?" Ujar Ara dengan mengelus lengan Anin.
Anin tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, ayo kita makan. Mumpung masih hangat."
Lalu Ara pun mengiyakan ajakan Anin. Mereka makan dengan tenang.
"Demi Tuhan, ini sangat enak, Anin."
"Terimakasih, kau terlalu memujiku, Ara."
Ara tersenyum.
Lalu saat mereka makan, Barez pun melewati mereka.
"Kakak.." panggil Ara yang kemudian menghentikan langkahnya.
Barez menatap Ara dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Makan, kemarilah. Anin masak untuk kita. Ini sangat enak."
"Oh.." Jawa Barez lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Kakak, Ara ingin kita makan malam bersama. Kau melupakan aku, sejak kau sibuk dengan duniamu."
Barez kembali menghentikan langkahnya. Lalu menghela napas sejenak.
Dia pun berjalan mendekati meja makan.
Barez duduk di hadapan Anin, sedangkan Anin hanya terdiam menundukkan kepalanya.
"Ini, Ara ambilkan untuk kakak…"
Barez mengangguk kecil dan sekilas melirik Anin.
Barez tersenyum miring, dan kembali melirik Anin.
"Ya Tuhan. Dia sangat menyeramkan, aku sangat takut melihat dirinya." Batin Anin.
"Ini, kakak.. kau harus mencobanya. Ini benar-benar enak."
"Okay, terima kasih." Jawab Barez dengan menerima piring berisi makanan yang diambilkan oleh Ara.
Ara hanya mengangguk kecil.
Lalu Barez pun menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Bagaimana kak?" Tanya Ara antusias.
"Tidak terlalu buruk."
"Ara,.." panggil Anin lirih.
"Iya, kenapa?"
"Aku ke kamar duluan, tidak apa-apa kan?"
Ara tersenyum tipis.
"Baiklah, kau istirahat saja."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Kak, Anin duluan.."
Lalu Barez hanya menanggapi dengan anggukan.
Dengan terburu-buru, Anin melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Kakak, tidur dirumah?"
"Iya, malam ini Juan sama Edgar mau nginap."
"Jian?"
Brez hanya menggidikkan kedua bahunya.
"Ck, kakak tega sekali. Tidak mengajak calon adik ipar."
'tuk'
Barez menyentil kening Ara.
"Aduh.." Ara mengusap keningnya.
"Bukannya kau sendiri yang mengatakan jika dirinya tidak ada?"
Ara hanya nyengir bagai kuda.
"Doakan sibuk cari uang buat nikahin Ara, kak.."
Barez memutar bola matanya malas.
"Masih kecil sok-sok an membicarakan soal pernikahan."
"Kakak, Anin saja dia sud … "
Barez menaikkan sebelah alisnya.
"Apa?"
"Tidak, tidak. Lupakan saja."
"Apa? Anin sudah menikah?"
"B-belum kok.." jawab Ara gugup.
"Iyalah, mana mungkin dia sudah menikah. Masih muda kok."
Ara mengangguk kecil.
"Dan kalau dia sudah menikah, dia tak mungkin berada disini untuk mencari pekerjaan, bukan?"
"I-iya, kak.."
***
Saat tengah malam, Anin sangat gelisah, ia tak bisa tidur.
Anin pun terduduk di tepi ranjang.
"Ya Tuhan, sampai kapan aku akan seperti ini? Ini benar-benar menyiksaku. Aku tidak bisa tidur tanpa obat. Obat dari dokter Joe sama sekali tidak berguna. Sepertinya aku harus pergi ke apotek depan."
Anin melirik jam dinding, sudah tengah malam.
Ia menggigit bibir bawahnya.
"Tidak apa-apa, aku butuh itu dan aku harus pergi. Jika tidak begini, aku tidak akan bisa tidur dan aku sudah terlalu lelah."
Lalu Anin mengambil jaketnya dan beranjak keluar.
Anin melangkahkan kakinya keluar, dan tidak sadar ada orang lain di ruang makan.
Barez melihat Anin..
"Eh, Anin.." sapa Edgar pada Anin dengan senyum manisnya.
Anin terkejut.
"Astaga, kak Edgar.." ucap Anin dengan mengusap dadanya.
"Kaget ya? Maaf ya?" Ucap Edgar.
Lalu Anin mengangguk.
"Kamu temannya Ara ya?"
Tanya salah satu dari mereka.
Anin menganggukkan kepalanya, ia baru pertama kali melihat laki-laki itu.
"Boleh kenalan dong? Kenalin, aku Juan.." ucap Juan dengan mengulurkan tangannya pada Anin.
Anin pun menerima uluran Juan.
"Anin.." Jawab Anin dengan senyuman tipis.
"Ehm, aku keluar sebentar ya, kak?"
"Eh, Anin.. mau kemana?" Tanya Edgar.
"I-itu, Anin mau ke apotek depan." Jawabnya pelan.
"Ini sudah tengah malam, biar aku antar ya?"
"Eh.. tidak usah, kak."
"Tidak, di luar berbahaya Anin."
"Benar kata Edgar, Anin. Mendingan di antar sama dia.." sambung Juan membenarkan ucapan Edgar.
"Tapi, kak.."
"Sudah, tidak apa-apa. Ayo.." ujar Edgar lalu menarik tangan Anin yang belum siap.
Barez memandang remeh Anin.
"Dia sok jual mahal di hadapanku. Berbicara seolah-olah tak ada diriku disini. Lihat saja Anin,." Batin barez dengan menunjukkan seringai liciknya.
"Ada apa denganmu?" Tanya Juan.
"Tidak ada.."
"Kau membutuhkan asupan?"
"Biasa saja."
"Ehem, Ju.. kau bisa membantuku?"
"Untuk?"
"Tolong kau cari tahu semua tentangnya.."
"Maksudmu, Anin?"
Barez menganggukkan kepalanya.
"Untuk apa kau mencari tahu tentangnya?"
"Data tentang dirinya tidak terlalu jelas. Aku tidak bisa menerima orang yang sembarangan untuk bekerja di kantorku. Semua itu kulakukan demi Ara."
Juan mengangguk kecil.
"Aku pikir kau tertarik dengannya.." sindir Juan pada Barez.
Barez memutar bola mata malas.
"Buang-buang pikiran kotormu."
"Tidak bisa, sudah mendarah daging di dal diriku."
"Cih.."
Juan hanya terkekeh melihat tanggapan Barez.
Di sisi lain, saat Edgar dan Anin akan pulang dari apotek.
"Anin, beli obat apa tadi?"
"O-oh, ini.. obat herbal, kak." Bohong Anin.
"Perasaan yang kulihat bukan obat herbal.." batin Barez.
"Oh ya, Anin.."
"Iya, kak?"
"Kamu harus jauh-jauh dari Barez, ya?"
"Memangnya kenapa, kak?"
"Sudah, ikuti saja ucapanku."
Lalu Anin hanya menganggukkan kepalanya kecil, meskipun ia tak mengerti maksud dari ucapan Edgar.
"Jujur saja, aku memang sudah takut melihatnya." Batin Anin.
"Anin, kamu datang jauh-jauh dari Jerman hanya untuk bekerja menjadi sekretaris?"
Anin tersenyum tipis.
"Ada hal yang Anin tidak bisa bilang, kak."
"Oh, okay.."
"Maaf, kalau aku kebanyakan ngoceh."
Anin terkekeh dengan ucapan Edgar.
"Tidak masalah, kak."
"Besok kamu mulai kerja?"
Anin mengangguk lagi.
"Ya sudah, besok berangkat bersamaku saja."
"Emm, apa boleh?"
"Tentu saja, boleh."
"Ya sudah, iya kak.."
Tanpa terasa mereka pun telah sampai didalam rumah.
"Kakak, Anin ke kamar dulu ya?" Hal itu di angguki oleh Edgar.
Dan Anin pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Beli apa tadi?" Tanya Barez.
"Dia hanya mengatakan kalau dia membeli obat herbal.."
"Apa kau penasaran dengannya?"
"Tidak juga.."
Edgar memutar bola mata malas.
"Aku jadi curiga dengan Barez, takut Anin akan jadi korban Barez lagi." Batin Juan. Lalu menghela napas kasar.
"Kenapa kau?" Tanya Barez pada Juan.
"Tidak, hanya sedikit pusing saja." Jawab Juan mengalihkan.
"Oh.." Barez mengalihkan pandangannya pada Edgar yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Lalu kenapa dengan dirimu?"
"Tidak, aku hanya sedang berpikir. Sepertinya tadi, Anin bukan membeli obat herbal."
"Lalu apa urusannya dengan kita?"
"Ya, ya, tidak ada sih." Jawab Edgar dengan menggaruk alisnya yang tak gatal.
"Hm, ya sudah. Aku mau tidur, kalian tidur di kamar biasa."
Ucap Barez lalu berjalan meninggalkan Edgar dan Juan.
Saat Barez melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia mendengar suara tangisan di kamar Anin.
Barez berdiri sejenak di depan pintu kamar Anin.
"Nangis? Kenapa? Ah, tapi bukan urusanku." Gumam Barez, lalu ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.
Anin menangis sejadi-jadinya, dimana dia merasakan sesak setiap detiknya.
"Gavin hiks.. aku merindukanmu.."
Anin mencengkram kuat sprei kasur, selalu berharap ini adalah mimpi.
Bersambung..
