Bab 3 Jandaku3
Jam menunjukkan pukul 06:15 pagi waktu London, terlalu awal untuk memulai hari di negara ini. Mataku menyusuri setiap sudut kamar yang tidak familiar yang mendominasi berwarna kuning lemon ini. Koper-koper baju masih tertata rapi di sudut ruangan, seperti biasa aku terbangun dari mimpi burukku, walaupun aku sudah mencoba meminum obat dari dokter Joe aku masih kesulitan untuk tidur.
“Hah, sampai kapan akan terus begini..“ gumamku sambil menghela nafas panjang.
Selama beberapa menit aku hanya terdiam tanpa berpikir sama sekali apa yang harus ku lakukan apa yang harus buat?
Sesekali aku melirik sisi kasur yang masih sangat rapi dan membayangkan bahwa gavin tertidur di sana dengan rambutnya yang sangat berantakan membangunkan nya dengan sebuah ciuman yang dibalas dirinya dengan sangat cepat.
Tanpa ku sadar air mata ku mulai membendung dibawah mata ku, segera aku menghapus nya dan kembali ke realita yang nyata bahwa sosok gavin telah tiada.
*TIT TIT TIT*
Bunyi alarm pagi terdengar sampai ke dalam kamar mandi, uap panas yang di barengi air yang keluar terus menerus terjun ke atas tubuhku. Aku hanya bisa terduduk di bawah pancuran air yang panas, kali ini aku tidak bisa menahan tangisku. Setiap kali aku membuka mata dipagi hari hanya kesakitan yang ku rasa.
"Sa..kit, sampai kapan aku harus begini. Gavin.“ Ucapku pelan dibarengi suara tangisan yang cukup kuat.
Aku sengaja membuat TV tetap menyala dengan volume yang cukup besar agar tidak ada yang bisa mendengar suara tangisan ku ini
*Brak-Brak-Brak*
“Anin!! “ teriak Ara dengan cukup keras yang membuat ku tersadar, aku sudah terlalu lama berada disini.
“Anin, apa kau menangis?“ tanya ara dengan khawatir sesaat aku membuka pintu kamar mandi.
Aku hanya menggeleng sambil tertawa dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan ku secara berlebihan.
“Aku kira kau pergi,“ sahut ara memecah keheningan.
“Yang benar saja, aku baru sampai dan kau mengira aku pergi secepat ini. Ara kau harus lebih banyak minum air putih “ jawabku sambil mencari bedak di tumpukan baju yang belum dikeluarkan dari koper.
Ara hanya membalas jawaban ku dengan tertawa yang cukup keras dan membuatku sangat malu karena ia mengatakan bahwa ia melihat celana dalam ku saat menunduk.
“Apa tidak apa-apa kamu kerja secepat ini?" tanya Ara sambil memberikan ku sepotong roti berselai coklat.
“Ya tidak apa-apa, jangan cemas. Aku tidak mau ngerepotin kalian terlalu lama." Ucapku yang dibalas oleh kemarahan Ara karena aku mengatakan hal seperti itu.
Sesekali aku melirik sudut ruangan rumahnya, Ara mencari sosok kakaknya yang sering dibanggakan nya, terlihat seperti sosok kakak yang cukup baik.
“Kau mencari kak Barez? Dia memang terbiasa tidak pulang bahkan bisa beberapa hari. Makanya aku mengajak mu untuk tinggal disini.“ sahut Ara yang seperti nya tahu apa yang akan ku pertanyakan sebelum ia menjawab nya terlebih dahulu. Ara mengomel bahwa ia kesepian di rumah sebesar ini, sebenarnya sesibuk apa kakaknya?
“Apa tidak apa-apa pergi sesiang ini, Ra?“ tanyaku sedikit cemas.
“Tidak apa-apa , selagi kau bersamaku. Ini semua terkendali, jadi ayo..“ jawab nya dengan tertawa yang dibuat-buatnya membuat kesan ia seperti pria-pria tua berperut besar.
Langkah kaki Ara terhenti saat ia membukakan pintu mobil nya untukku, ia menatapku dengan rasa cemas yang begitu banyak.
“Anin, apa kau tidak apa-apa?“ tanyanya dengan nada pelan.
“Tidak, selagi aku tidak duduk di depan, tidak masalah." Jawabku dengan pelan.
Ara membuka kan pintu mobil dan membawa ku masuk secara perlahan, ia terus bertanya bagaimana keadaan ku selama perjalanan.
“Ingatan saat itu begitu jelas.. Mgmh!" gumamku pelan sambil memejamkan mata dengan perasaan yang begitu sakit & gelisah.
***
Mobil berhenti didepan gedung pencakar langit yang cukup besar, orang-orang berlalu lalang dengan santai. Ara mengajak ku ke dalam setelah sekian detik aku melihat betapa besarnya gedung ini, ia juga tertawa kecil dan mengatakan padaku bahwa aku terlihat seperti anak kecil yang baru tau dunia yang luas.
Di dalam kantor, beberapa orang berpakaian rapi berlalu lalang dengan kesibukan mereka sendiri. Hingga mataku terpaku pada sosok pria yang berjalan ke arah kami dengan elegan memakai jas berwarna biru gelap dan seorang lagi di belakangnya mengejar dirinya.
“Ara, Anin..“ sapa Edgar.
Mataku sedikit terpesona melihat betapa berubah nya Edgar saat ini. Aku dan Ara membalas sapaan Edgar dengan teman nya,
“Dia didalam, masuklah.“ ucap Edgar sesaat ara menanyai lokasi kakaknya. Aku tidak sempat berbincang dengan Edgar karna Ara sudah menarik tangan ku untuk segera bertemu dengan kakaknya. Edgar hanya tersenyum dan sedikit menganggukan kepalanya kepadaku.
Di dalam ruangan kantor yang cukup besar ini beberapa tumpukan berkas berserak dimana mana, tercium juga aroma maskulin seorang pria dan juga aroma parfum wanita yang begitu menyengat.
“Aku akan kembali, kopi atau teh? Ah, kopi latte,“ ucap ara yang membuatku tertawa, ia bertanya dan menjawab pertanyaan nya sendiri.
Ara menyuruhku duduk sembari menunggu ia kembali, mataku melirik kesana kemari dan terhenti saat mendengar suara air yang terdengar dari kamar mandi. Seorang pria keluar dari sana dan mata kami saling bertemu, Aku yang kaget sontak berdiri dan mengatakan bahwa aku temen nya Ara. Pria berjas orange gelap itu hanya tersenyum licik sambil menutup pintu kamar mandinya. Ia berjalan mendekati ku yang membuat badan ku gemetar, perasaan takut ini mengalir ke seluruh tubuhku.
“Rilex, aku tidak gigit. Duduklah “ sahutnya, aku hanya mengikuti instruksinya berharap ara segera datang dan membawa ku pergi dari ruangan ini.
“Anda kenapa?“ tanyanya lagi.
Ia mengelus pipiku dengan lembut badanku gemetaran dan menutup mataku selama beberapa saat, seperti mangsa di hadapan predatornya. Aku tak sanggup menatap dan melihat wajahnya, tatapan nya begitu mengintimidasi ku.
“Anin, Loh kakak! “ panggil Ara dengan membawa dua gelas kopi panas.
Mataku terbelalak lebar saat melihat laki-laki ini mengecup pipi kanan Ara dan dia memanggilnya dengan sebutan KAKAK.
“Ini Anin, Ini kak Barez. Dia yang akan menjadi sekretaris nya kakak,“ kata ara dengan penuh semangat.
“Barez,“ jawabnya singkat.
Ara juga mengatakan bahwa aku ingin bekerja secepatnya yang dibantah olehku, Ara hanya kebingungan sampai Barez mengatakan bahwa aku mulai bekerja besok.
“Ayo, aku tunjukkan beberapa tempat yang harus kau ketahui,“ ujar Ara sambil menarik tanganku keluar dari ruangan. Mataku tertuju ke Barez, ia tersenyum licik sambil menyandarkan badan nya di meja besar nya dengan tangan yang menjadi penopang nya dan sisa tangan yang menginstruksikan agar aku segera kesana dengan cara yang nakal.
"Bagaimana aku bisa bekerja besok bersama laki-laki ini??" Batin Anin.
Bersambung..
