Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Jandaku2

Sepulang dari rumah bunda Gavin, Anin mempersiapkan segala keperluannya untuk ia gunakan di Jerman. Tidak terlalu jauh perjalanan dari London ke Jeman.

Setelah selesai, Anin merebahkan tubuhnya di ranjang. Ingin memejamkan matanya sejenak.

Karena lelah menangis dan juga lelah seharian, ia butuh waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Dan Anin pun tertidur.

Sima menengok putrinya, lalu mendekati ranjangnya.

"Anakku, begitu besar cobaan yang menimpamu.." Sima mendaratkan kecupan hangat di kening putrinya.

Lalu ia pun pergi dari sana, dari kamar Anin.

Hingga malam tiba, Anin kini sudah berada di bandara bersama kedua orang tuanya.

"Anin, baik-baik disana, sayang.."

"Iya, papa. Doakan semoga Anin selalu baik-baik saja disana." Anin memeluk tubuh sang papa.

"Jangan lupa untuk selalu kabari mama dan papa, sayang. Kami akan sangat merindukanmu.." sambung Sima lalu, Anin bergantian memeluknya.

"Anin pasti akan sering menghubungi kalian, Anin juga akan sangat merindukan kalian."

"Kalau di sana kamu tidak betah, cepat pulang ya, sayang. Mama tidak ingin kamu semakin sedih."

"Pasti, mama. Anin akan cepat pulang kalau tidak bahagia disana."

Lalu Sima dan El mendaratkan kecupan hangat di seluruh wajah putrinya bergantian.

"Anin berangkat dulu, jaga diri kalian. Anin sayang kalian.."

Sima dan El hanya mengangguk pasrah, melihat putrinya melangkah lebih jauh. Hingga punggungnya tak terlihat.

"Ya Tuhan, begitu besar cobaan yang anak kita lalui, papa. Semoga anak kita selalu baik-baik saja."

"Iya, mama.. semoga dia kuat menghadapi ini semua."

"Ya sudah, ayo kita pulang."

Lalu mereka pun pulang meninggalkan bandara.

***

Di dalam mobil, perjalanan pulang.

"Hiks.. ya Tuhan, mama masih tidak menyangka. Ternyata takdir Tuhan begitu kejam."

"Jangan nangis, mama. Papa yakin, Tuhan punya rencana indah untuk anak kita. Kita doakan saja, semoga dia selalu baik-baik saja."

"Iya, papa."

"Papa, yakin.. dia akan bahagia nantinya." Ucap El dengan menggenggam tangan istrinya.

"Iya, sayang.."

Berbeda di dalam pesawat..

Lagi-lagi, Anin menghirup napas dalam-dalam, ia berusaha untuk menahan sesak di dadanya.

"Gavin, semoga langkahku tidak salah. Aku pergi bukan untuk melupakan mu, tapi aku ingin hidup lebih baik. Meski tanpa dirimu, kamu akan selalu ada di hatiku."

Anin menatap cincin pernikahannya di jari manis.

"Aku pergi agar aku tahu, tujuan hidupku. Aku harus mencari kesibukan, agar aku bisa lewati hidup yang sulit tanpa dirimu. Aku harus bisa, harus bisa. Aku mencintaimu, Gavin."

Lalu Anin memejamkan matanya.

***

Di London..

Kakak adik sedang bercengkrama bersama.

Barez menautkan kedua alisnya. Menatap Sanga adik yang terlihat aneh saat ini.

"Ara?"

"Apa, kakak?"

"Kenapa kau rajin sekali? Itu hal langka."

"Hei, apa kau lupa? Temanku akan datang nanti. Dan dia akan tinggal disini."

"Siapa? Laki-laki?"

"Bukan, dia wanita. Anin namanya."

Barez mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Dia yang akan bekerja di kantor kakak, apa kakak lupa?"

"Oh itu, iya kakak tidak ingat. Dan hal itu tidak penting untuk di ingat, bukan?"

Ara memutar bola mata malas.

"Kakak masih membutuhkan sekretaris baru kan?"

"Tentu saja, masih. Tapi, kenapa dia harus tinggal disini?"

"Tidak apa, lagipula rumah ini sangat besar. Banyak kamar kosong. Apa kau tidak sadar, kau ini jarang sekali pulang? Ara berasa hidup sebatang kara."

Barez menatap sinis adiknya.

"Baiklah, terserah dirimu saja."

"Tidak masalah bukan?" Tanya Ara yang kini bergelayut manja di lengan kakaknya.

"Tidak masalah, asal dia … " barez menunjukkan seringai liciknya.

"Asal dia apa, kakak?"

"Tidak, lupakan saja." Ujar barez tersenyum simpul.

"Mungkin nanti malam dia akan sampai. Apa kakak akan pergi?"

Barez memicingkan matanya.

"Kenapa?"

"Aku harus menjemputnya, apa kakak bisa menemani ku?"

"Tidak, aku sibuk."

"Kau hanya sibuk dengan jalangmu."

Barez memutar bola mata malas.

"Ayolah kakak…"

"Tidak, kenapa kau tidak meminta bantuan kekasihmu?"

"Mana bisa begitu. Dia sedang sibuk diluar kota."

"Ehm.. biar nanti kakak hubungi Edgar untuk menemanimu."

"Kau terlalu kejam, kakak."

"Kalau kau tidak mau, kau bisa menyuruh temanmu untuk datang sendiri kesini, dengan taksi."

Ara menatap sang kakak tak percaya.

"Benar-benar sangat kejam. Aku tak mungkin menyuruhnya untuk sembarang naik taksi. Karena dia ini … "

"Dia ini?" Barez mengulang ucapan adiknya.

Ara menggeleng kecil.

"Lupakan, baiklah. Tidak masalah jika kak Edgar yang menemaniku."

"Bagus. Jadilah gadis yang penurut."

"Sejak kapan aku pernah membantahmu?"

"Sejak kau memiliki kekasih."

Ara memutar bola matanya malas.

"Tapi Jian sangat baik."

"Ya, ya, ya, terserah dirimu saja."

Lalu barez beranjak dari sana.

"Kakak mau kemana?"

"Pergi.."

"Pulang tidak?"

Barez hanya menggidikkan kedua bahunya dan melanjutkan langkah kakinya keluar dari rumah.

Ara menghela napas sejenak.

"Aku seperti orang yang hidup sebatang kara, tanpa adanya seorang kakak. Dia hanya sibuk dengan urusannya."

Lalu Ara melanjutkan kegiatan di kamar yang akan di tempati oleh Anin.

Barez melajukan mobilnya menuju apartemen, seorang wanita. Bukan kekasih, tapi memiliki hubungan. Hubungan yang hanya sebatas saling memuaskan satu sama lain.

Barez memasuki apartemen itu.

Melihat wanitanya sedang berdiri menatap luar jendela.

"Anggi…" barez memeluk wanita itu dari belakang.

"Hm, kamu.." Anggi membalikkan badannya menatap barez.

"Aku kangen sama kamu."

Anggi tersenyum.

"Barez, kenapa kita tidak meresmikan saja hubungan kita?"

Barez menunjukkan smirk smilenya.

"Tidak. Karena aku tidak ingin ada ikatan. Dan kau, hanya sebatas wanita bayaranku, saja."

Seketika raut wajah Anggi berubah menjadi kecewa.

"Dengar, Anggi. Jangan pernah mengharapkan lebih dari ini, kau mengerti?"

Anggi hanya menganggukkan kepalanya.

"Good girl."

Lalu barez duduk di sofa, dan ikuti Anggi yang duduk di pangkuannya.

Anggi mencium bibir barez, barez pun menahan tengkuknya.

Memperdalam ciuman, lalu merebahkan tubuh Anggi di sofa.

Membuka dress yang Anggi pakai.

Melemparnya dengan asal, barez mencium setiap inci tubuhnya. Dan melakukannya lebih jauh.

Di bandara London..

Ara dan Edgar sedang menunggu kedatangan Anin.

"Ra, dimana sih temanmu? Kenapa lama sekali?"

"Sabar dong, kak.."

"Ini sudah setengah jam lalu, kita nunggu. Mau sampai kapan lagi?"

"ARA.." lalu terdengar panggilan suara dari jarak yang lumayan jauh.

Ara menatap di depannya.

"ANIN…"

Lalu Anin berlari kearahnya, begitu juga dengan Ara yang mendekat.

"Ya ampun, Anin.. aku sangat merindukanmu."

"Aku juga sangat merindukanmu, Ara." Mereka berdua pun saling berpelukan.

Sedangkan Edgar, dia hanya terpana dengan kecantikan Anin.

"Kamu makin cantik, Anin.."

Anin terkekeh mendengar pujian sahabatnya itu.

"Kau jauh lebih cantik, Ara."

Ara pun tersenyum.

"Eh, apa dia kakakmu?"

Tanya Anin dengan menunjuk Edgar.

"Oh bukan, dia teman kakakku. Kalian berkenalan saja."

Anin menganggukkan kepalanya.

Menatap Edgar.

"Hai… Edgar, kau?" Ujar Edgar dengan mengulurkan tangannya.

"Anin.." jawab Anin menerima uluran tangan Edgar.

"Demi Tuhan, tangannya sangat licin. Mulus.." batin Edgar.

"Kakak, tolong bawakan koper Anin ya?"

"Eh, tidak usah. Biar aku saja yang bawa, Ra."

"Sudah, tidak masalah Anin. Pasti kau kelelahan."

"Ya, ampun.. maafkan Anin, Anin merepotkan kakak."

"Tidak, tidak. Santai saja. Ayo kita pulang.."

Lalu mereka pun pergi meninggalkan bandara..

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel