Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Jandaku11

Saat malam tiba, Barez mengetuk pintu kamar Ara.

Ara pun membukanya, lalu menjawabnya dengan ketus.

"Apa?"

'gluk'

Barez meneguk ludahnya, betapa menyeramkan wajah sang adik. Barez menggaruk alisnya yang tak gatal.

"Kalau tidak ada keperluan, Ara mau tidur."

"Okay, okay. Begini.." Barez menghela napas sejenak.

"Hm, apa? Tidak usah terlalu banyak bertele-tele. Langsung saja apa yang mau kau bicarakan."

Lagi-lagi, nyali Barez sedikit ciut karena adiknya berubah menjadi lebih kasar.

"Baiklah, Ara.. begini, kakak mau pergi ke Jerman." Ucap Barez lirih, namun masih terdengar di telinga Ara.

Ara membelalakkan matanya lebar.

"Hah? Apa? Apa Ara tidak salah dengar? Kakak mau pergi ke Jerman? Untuk apa?" Barez langsung di bondong oleh rentetan pertanyaan.

Ara menatap tajam sang kakak.

"Jangan bilang kakak mau cari masalah lagi disana?"

"Astaga, bukan. Jangan nethink denganku, Ra."

"Cih, kau tak pantas di baiki."

Barez hampir tersedak ludahnya sendiri karena ucapan menohok dari sang adik.

"Ra, kakak kesana bukan untuk mencari masalah. Tapi, untuk mencari Anin."

"Untuk apa kau mencarinya?"

"Kakak mau minta maaf, mau tanggung jawab."

"Kakak pikir semudah itu untuk memaafkanmu? Dan dia mau menerimamu dengan mudah? Pikir lah kau pakai otak."

"Astaga.. ucapanmu," Barez sebisa mungkin menahan rasa kesalnya pada sang adik.

"Apa? Ucapan Ara kasar? Bagaimana denganmu?"

"Hm, baiklah. Kakak kalah."

"Harusnya kakak sadar, dia sudah terlanjur takut dan benci denganmu. Begitu pun Ara, sudah terlanjur benci dan kecewa padamu. Pada kakak yang selalu Ara banggakan."

Jantung Barez seakan berhenti berdetak. Bukan, bukan ini yang dia inginkan. Dia sadar dia sudah melakukan kesalahan fatal.

"Ra.." panggil Barez dengan lembut.

Ara menghela napas panjang.

"Baiklah, Ara tunggu sampai Anin memaafkanmu. Dan bawa Anin kemari jika dia sudah memaafkanmu, baru Ara akan percaya denganmu. Dan satu lagi…"

"Apa?"

"Jangan pulang sebelum kakak mendapatkan maaf dari Anin."

'gluk'

Barez menelan ludah.

Apa katanya? Dia tidak boleh pulang sebelum mendapatkan maaf dari Anin? Ya sudah, terima saja. Itu sudah konsekuensinya karena kesalahan yang telah ia perbuat.

"Baiklah, tapi … "

"Urusan kantor biar Ara yang urus. Ya sudahlah ya, Ara sibuk. Malas juga lama-lama berhadapan dengan kakak. Ingat kata-kata Ara tadi."

'BRAKK'

Ara menutup pintu kamarnya dengan kencang. Dan membuat Barez terlonjak kaget.

Barez menghela napas sejenak.

"Aku harus bisa.."

***

Jerman..

Tiga hari berlalu..

Setelah kepulangan Anin ke rumah, Anin kembali seperti semula, saat awal Gavin meninggalkan dirinya, dia menjadi lebih murung dan selalu berderai air mata.

Saat malam, di rumah Anin..

Sima sangat gelisah, dia mencemaskan putrinya.

"Mama kenapa?"

"Itu pa, mama merasa Anin sedikit beda, pa."

"Maksudnya?"

"Ini Anin jauh lebih pendiam, lebih sering nangis seprti awal di tinggal Gavin. Dia belum makan dari siang, hanya pagi, itu saja sangat sedikit."

El menautkan kedua alisnya. Merasa sedikit aneh.

"Papa juga merasa seperti itu. Anin tidak berkata apapun setelah pulang dari sana."

"Astaga, mama jadi sangat khawatir."

El menatap istrinya.

"Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang putriku alami?"

Di dalam kamar, Anin berbicara sendiri.

"Aku hampir gila saat ini. Tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Tidak mungkin aku mengatakan hal ini pada mama dan papa. Aku malu, aku bahkan sudah sangat menjijikan. Aku.." Anin menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. "Aku sudah kotor, sangat kotor.." dan air matanya pun berhasil lolos membasahi pipinya.

"Aarhhh.." Anin berteriak keras.

"Pasti mama dan papa bakal benci sama Anin, hiks.. ya Tuhan. Kenapa hidupku seperti ini."

"Mama, papa.. Anin capek hidup seperti ini, kenapa tidak mati saja diriku. Hiks..hiks.."

"Kenapa harus aku? Kenapa aku, yang kau pilih.. ya Tuhan hiks..hiks.. Gavin, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?"

"Aku hampir gila, Gavin hiks hiks.. aku sudah lelah."

Lalu terdengar suara pintu terbuka, Sima terkejut mendapati putrinya menangis, sesak sekali melihat putri semata wayangnya selalu di rundung kesedihan.

Sima mendekati putrinya, memeluknya lembut.

"Sayang.."

"Ya Tuhan, mama hiks.. Anin sudah tidak sanggup, mama..hiks.."

"Ssst, jangan bilang seperti itu. Mama sayang sama kamu, katakan pada mama. Apa yang sebenarnya terjadi, hm?" Ucap Sima dengan membelai lembut punggung putrinya.

"Mama akan benci dengan Anin, jika mama sudah tahu hiks hiks.."

Jantung Sima berdetak kencang mendengar ucapan putrinya, ada perasaan yang mengganjal di hatinya.

"Maafkan Anin, ma. Ini semua bukan Anin yang mau, hiks.hiks.. Anin minta ampun sama mama dan papa, hiks.."

Sima menatap sesak pada putrinya.

"Anin, katakan pada mama. Apa yang sebenarnya terjadi, nak? Mama tidak akan membencimu, kau adalah separuh hidup mama. Katakan, sayang.."

Jawaban Sima justru membuat tangisan Anin semakin kencang.

"Mama, sangat mencintaimu, jad … "

Suara bel rumah berbunyi dan membuat ucapan Sima terputus.

"Sebentar ya, sayang. Mama akan lihat siapa yang datang."

Anin mengangguk kecil. Sebelum pergi, Sima membelai lembut wajah putrinya yang terlihat merah karena sebuah tangisan.

Sima pun melangkahkan kakinya untuk keluar, dia membuka pintu.

Dia sedikit terkejut, seseorang yang tak di kenal berdiri di depan pintu rumahnya.

"Maaf, cari siapa ya?"

"Emm, m-maaf Tante. Saya, ingin mencari Anin."

Sima menautkan kedua alisnya.

"Mencari Anin?" Sima mengulang ucapannya, lalu di angguki oleh lelaki itu.

"Saya dari London, Tante."

"Oh, begitu.. baiklah, silahkan masuk."

Lalu ia pun masuk mengikuti langkah kaki Sima.

"Kau tunggu disini, biar Tante panggilkan Anin."

Ia pun duduk dan mengangguk kecil.

Sima mendekat Anin di kamarnya.

"Sayang, di bawah ada teman kamu, tuh."

"Siapa, ma?"

"Aduh, mama lupa tidak menanyakan siapa namanya. Kamu turun gih, temui dia. Katanya dari London."

"Baik, mama."

"Dia datang dari London.."

Anin menolehkan kepalanya pada sang mama.

Menatapnya lekat.

"Dari London?"

Sima pun mengangguk kecil.

"Kamu basuh dulu wajahmu. Kamu terlihat berantakan, baby.."

Anin pun dengan segera menuruti perintah sang mama, namun semua itu tetap saja, tak mengurangi sembab di matanya. Mata yang membengkak karena terlalu banyak menangis.

Setelah itu, Anin pun menuruni anak tangga.

Melihat dari tangga, sosok laki-laki sedang duduk dan hanya terlihat punggungnya saja.

Anin mengira jika itu adalah Edgar.

Hanya dia yang mengerti Anin saat ini, hanya dia yang tahu segala tentangnya saat ini. Hanya dia yang mau berteman dengan Anin saat ini. Hanya dia yang menjadi kepercayaan Anin.

Terlihat Sima membawakan minum untuk tamu Anin.

"Ini, kamu minum dulu.."

"Maaf, Tante. Saya jadi merepotkan.."

"Tidak, tidak. Oh ya, siapa namamu?"

"Nama saya Barez, Tante."

"Oh, Barez.."

Anin pun mendekat.

"Nah, itu Anin.." tunjuk Sima yang membuat Barez menolehkan kepalanya.

Anin terkejut, langkahnya terhenti dan kemudian bergerak mundur. Terlihat tatapan ketakutan dan juga kebencian.

"PERGI DARI SINI!!!"

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel