Bab 12 Jandaku12
Sima terkejut dengan teriakan Anin mengusir Barez.
"Sayang, ada apa? Tidak sopan seperti itu, nak."
Anin melempar tatapan tajam pada sang mama.
"Mama, Anin tidak peduli. Hiks.. Anin takut, mama." Saat mundur, Anin terjatuh dan terduduk di lantai.
Sima menatap bingung dan mendekati putrinya.
"Hei ada apa, sayang?"
Sima membelai lembut rambut putrinya.
"Mama, hiks.. suruh dia pergi, ma."
"Anin, katakan ada apa sebenarnya?"
"Mama, Anin mohon hiks.. usir dia, ma." Tangis Anin semakin pecah. Sima menatap bingung pada Barez.
"Anin, tolong. Aku ingin berbicara denganmu."
"Tidak, kau pergilah dari sini. Kau lebih menakutkan di banding monster." Jawab Anin penuh dengan kebencian.
"Kau sangat jahat, kau sangat kejam. Aku membencimu!!!" Teriak Anin, membuat Barez terdiam.
"Sst, Anin.. jangan begitu, sayang."
"Ma, usir dia mama. Dia jahat hiks.."
"Anin.."
"MAMA TOLONG USIR DIA!!!" Anin benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dia berteriak keras pada sang mama. Membuat sang mama semakin bingung dan terkejut dibuatnya.
"Baiklah, sayang. Tenang hm.."
Sima menatap Barez.
"Sebaiknya, kau pergi saja. Saya tidak ingin Anin semakin kacau. Saya tidak tahu apa yang telah terjadi pada kalian. Tapi, Anin terlihat sangat begitu takut padamu."
Barez merasa tak enak hati, namun ia pun tak bisa memaksa. Ia harus siap dengan apa yang ia dapat nantinya.
"Baik, Tante. Saya akan keluar, saya tunggu di luar."
Barez menatap sekilas Anin, lalu berjalan keluar dari rumah itu.
Sima mengangguk kecil, lalu memapah Anin, membawanya masuk kedalam kamar.
"Kau tidak apa-apa, sayang?"
"Mama, hiks..Anin minta ampun sama mama dan papa. Orang itu jahat, ma hiks.."
"Anin, kalau kau tak mengatakan apapun, mama tidak akan tahu apa yang sedang terjadi. Katakanlah, ada apa sebenarnya?"
"Mama hiks.. dia jahat."
Sima berusaha bersikap selembut mungkin pada putrinya.
"Dia jahat kenapa, hm?"
"Mama, hiks.. dia udah perko** Anin, hiks.."
Tubuh Sima melemas seketika, seperti tak memiliki tulang. Apa katanya? Barez memperko** putrinya? Astaga, cobaan apa lagi ini?
Sima memeluk tubuh Anin dengan erat, tangisnya ikut pecah. Ya Tuhan, kenapa begitu beraat cobaan yang menimpa anakku.
"Mama pasti sangat benci dan jiji pada Anin, hiks… ya Tuhan, hiks.. maafkan, Anin."
"Tidak, tidak. Mama tidak akan pernah membencimu. Maafkan mama, sayang." Sima membelai lembut rambut putrinya.
Ikut merasakan sakit apa yang di rasakan oleh Anin. Bagaimana semua itu bisa terjadi padanya? Kenapa tidak orang lain saja yang mengalami hal ini? Hidup Anin sudah sangat berat, dan tuhan kembali menimpanya dengan musibah itu.
"Maafkan Anin, mama. Demi Tuhan, ini bukan Anin yang mau hiks.. Anin benci dengan dia hiks.. Anin tidak mau bertemu dengannya, Anin takut hiks.."
Sima benar-benar tidak bisa berpikir jernih, dia hanya menatap miris putrinya. Dia menangis frustasi.
Ya Tuhan, kenapa takdir begitu kejam pada Anin?
Dalam hati, Sima takut, jika itu akan menjadi trauma Anin yang makin berat, cukup trauma yang membuat kehilangan Barez saja.
"Mama tidak membencimu, nak. Mama akan selalu ada di sampingmu."
"Hidup Anin hancur, mama hiks.."
"Ssst, jangan sedih, sayang. Kamu tidur ya? Kamu kelelahan."
Sima mencoba membujuk Anin untuk tidur. Ia tak ingin putrinya kembali sakit karena terlalu banyak berlarut dalam kesedihan.
Sima membelai lembut kepala Anin, lambat laun Anin pun memejamkan matanya. Setelah Anin terlihat pulas, Sima menyelimuti tubuh putrinya itu. Lalu berjalan keluar, dan melihat, ternyata Barez masih menunggu di depan pintu. Dengan duduk di tangga rumah.
"Tante, saya…"
'PLAKK'
Tamparan keras mendarat di pipi Barez. Membutny meringis sakit. Itulah akibatnya jika dia menyakiti Anin. Tapi semua itu tak sebanding dengan apa yang Anin rasakan.
"Kamu sudah kurang ajar. Sudah membuat hidup putriku semakin sulit. Dimana perasaan kamu!!! Saya berusaha mati-matian membuat anak saya ceria lagi, dan kamu dengan seenaknya menghancurkan kembali hidupnya. Kau lelaki brengsek!!!"
Barez menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah. Ia menerima segala umpatan yang diberikan oleh Sima. Semua itu pantas ia dapatkan.
"Saya minta maaf, Tante.."
"Pikir pakai otak!! Kata maaf tak akan bisa membuat Anin kembali seperti semula."
"Saya tahu, Tante. Tapi saya akan berusaha untuk membuatnya lebih baik lagi."
"Dengan cara seperti apa? Kau lihat, Anin saja sangat ketakutan melihat dirimu. Bagaimana dia akan memaafkan mu?!"
Barez menundukkan kepalanya.
"Saya akan berusaha, Tante."
"Sebaiknya kau pergi sekarang. Sebelum suami ku datang, dan membunuh mu!!"
Lalu Sima masuk dan menutup pintunya dengan kasar.
"Saya akan pergi, Tante. Tapi Tante harus ingat, saya tidak akan menyerah untuk Anin." Teriak Barez pada Sima.
"Ini kenapa jadi seperti ini? Ya Tuhan, Anin ku.." Sima meneteskan air matanya.
Tak menyangka jika dia akan mengalami hal seperti ini.
Ia menangis meratapi kesedihan yang di alami putrinya.
Pikirannya sangat kacau, lalu bagaimana dengan Anin?
"Gavin, Anin begitu menderita tanpamu. Mama harus apa untuk membahagiakan dirinya. Tanpa mu saja dia sudah sangat menderita, dan sekarang.. dia jauh lebih menderita. Berlipat ganda yang dia alami."
Sima kembali melangkahkan kakinya menuju kamar putrinya, menatap lekat sang putri yang sedang terlelap. Tangannya mengusap lembut mata Anin.
Begitu bengkak, terlalu banyak menangis.
Benar dugaan Sima, jika sesuatu telah terjadi pada putri semata wayangnya.
Sakit hati yang Sima rasakan, begitu jahatnya Barez menghancurkan hidup Anin.
Dia tak memikirkan, bagaimana perjuangan Anin untuk hidup hingga saat ini.
Dengan mudahnya, dia menjatuhkan lagi kehidupannya.
Air mata Sima kembali menetes. Dia sangat takut kehilangan Anin.
Cukup kemarin saat kehilangan Gavin, Anin terlihat seperti mayat hidup. Jangan lagi, Sima berharap tidak lagi seperti kemarin.
Sima mengecup lembut kening putrinya.
"Mama akan selalu mencintaimu, baby.."
Lalu Sima pun meninggalkan Anin dari sana.
Masuk kedalam kamar, mengambil foto Anin yang masih kecil. Sangat ceria, gadis itu terlihat sangat bahagia disana.
Sima tersenyum tipis, mengingat gelak tawa Anin.
"Sayang, mama sudah lama sekali tidak melihat kau tertawa. Anak mama.. kau pasti bisa melewati semua ini."
"Mama akan selalu ada di sampingmu. Akan mama lakukan segalanya agar kau kembali bahagia. Oh,Tuhan.. tolong, berikan putriku kebahagiaan. Aku ingin dia bahagia.. apa ini salahku yang telah membuatnya selalu bersedih? Hukuman apa yang kau berikan pada putriku. Ini terlalu berat untuknya.. Hatiku sangat sakit melihat keadaan putriku seperti itu."
Lagi-lagi, air mata Sima kembali menetes. Ia tak menyangka jika putrinya akan mengalami hal seperti ini. Ia hanya ingin putrinya bahagia, hidup dalam keluarga kecil yang bahagia. Itu saja..
Bersambung...
