Tiga
Atta, Kinara, dan Darren berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam yang mengejutkan, sedang Abbie mengikuti Adam ke ruang kerjanya. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam sana.
"Ini nggak bisa dibiarin!" seru Darren tiba-tiba memecah kesunyian yang sedari tadi meliputi ruangan itu.
"Pernikahan sedarah itu dosa, melanggar norma dan agama, kok, bisa-bisanya papa malah nyuruh lo nikah sama bang Abbie? " tanya Darren pada Kinara yang masih tetap diam, dari raut mukanya jelas terlihat Kinara masih shock dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
"Bang, lo jangan diem aja dong. Bujuk papa buat batalin ide gilanya itu!" Kali ini Darren berbicara pada Atta yang juga masih diam, hanya saja wajahnya terlihat lebih santai tidak seperti Darren dan Kinara yang hampir pingsan karena shock.
"Bang, lo dengerin gue ngomong nggak, sih?"
Pletak!
"Sopan banget lo, ya!" seru Atta sambil menjitak kepala Darren dengan kepalan tanganya. Darren yang mendapat serangan dadakan cuma bisa meringis sambil mengusap-usap kepalanya.
"Maaf, Bang. Aku lagi panik," ucap Darren memberi alasan, memang karena terlalu shock dia jadi kelepasan ngmong lo-gue sama abangnya.
"Abang, sih, dari tadi diajakin ngomong malah diem aja."
"Emang gue mesti teriak-teriak? kalo papa udah mutusin gitu ia udh, biar aja. papa lebih tau yang terbaik," jawab Atta kalem.
Tapi ucapanya yang kalem itu justru bagai petir yang menyambar disiang bolong, yang tentu saja mengejutkan bagi Kinara dan Darren.
"Kok, Abang malah setuju, sih?" tanya Darren heran. Nggak habis pikir kenapa Atta bisa sama gilanya dengan papanya.
"Kak Atta bercanda doang, kan?" tanya Kinara yang sedari tadi diam, tanpa terasa air mata yang sedari tadi ditahanya, mengalir begitu saja.
"Hiks,hiks, aku nggak mau. Papa sama Kakak jahat. Aku baru aja lulus SMA, masa aku harus nikah, apa lagi nikahnya sama Kak Abbie, itu nggak mungkin," ucap Kinara sambil terisak, berulang kali diusapnya matanya, tapi tetap saja air matanya mengalir deras.
Darren yang biasanya jahil pada kakak perempuanya itu, untuk saat ini ikut juga merasakan kesedihan Kinara. Dengan lembut ditepuk-tepuknya punggung Kinara yang sedikit bergetar karena tangisanya semakin keras.
Tiba-tiba saja sebuah pikiran gila singgah diotaknya.
"Apa kita semua ini anak pungut, Bang? nggak ada hubungan darah, makanya papa bisa ngomong gitu?" celetuk Darren memuntahkan semua isi pikiranya.
Kinara yang sedari tadi menunduk sambil menangis seketika mengangkat kepalanya, memandang Darren heran, dan beralih menatap Atta menanti jawaban.
"Jangan sok tau lo, udah sih diem aja dulu" ucap Atta sambil memandang pintu ruang kerja papanya yang masih tertutup rapat.
Darren menarik dan meremas rambutnya dengan kasar, frustrasi.
Jika mereka bukan anak pungut yang tidak berhubungan darah, lantas kenapa papanya sampai memerintahkan hal yang mustahil seperti itu?
Lagi pula kalau dipikir-pikir tidak mungkin mereka semua anak pungut, mengingat banyak sekali kemiripan antara mereka dengan orangtua mereka. Atau jangan-jangan ... kembali sebuah teori singgah diotak Darren, kali ini teorinya lebih meyakinkan.
"Jangan-jangan lo yang anak pungut, Kak!" seru Darren pada Kinara, yang lagi-lagi harus menahan lonjakan jantungnya karena shock.
"Kok jadi gue sih?" protes Kinara tidak terima dengan perkataan Darren.
"Abis lo pikir aja, nggak mungkin papa punya ide gila kayak gitu kalo nggak ada alesanya. Nah, karena kita nggak mungkin anak pungut semuanya. Jadi kemungkiannya cuma lo atau bang Abbie aja yang nggak ada hubungan darah." jelas Darren panjang lebar.
"Terus kenapa lo jadi yakin banget kalo gue yang anak adopsi?" tanya Kinara sambil menahan getar suaranya, mendengar perkataan Darren dia jadi semakin takut dan risau.
Bagaimana kalau benar dia hanya anak adopsi? apa dia akan diusir jika tidak menuruti apa kata papanya? kemana dia harus pergi jika diusir dari rumah ini, sedangkan dia tidak tahu siapa orangtua kandungnya.
Selain itu, dia mungkin tidak akan sanggup meninggalkan rumah dan keluarga yang sangat disayanginya.
"Ya karena ...," suara Darren memecahkan lamunan Kinara "Secara lo kan yang paling beda diantara kita berempat."
"Beda gimana maksudnya?" kali ini Atta ikut angkat bicara setelah bosan menunggu Abbie dan papanya keluar ruangan kerja.
"Maksud lo apa? gue kan cewek sendiri, ya jelas bedalah sama kalian," Kinara membela diri disela isak tangisnya yang masih belum reda.
"Bukan beda dari segi laki perempuan kali," sahut Darren "Tapi beda kemampuan. Diantara kita berempat, kan lo yang paling ceroboh dan yang paling bego" ujar Darren tanpa tedeng aling-aling.
Detik berikutnya dia mengaduh sambil meringis kesakitan, mengusap-usap pinggang bekas cubitan keras Kinara.
"Sialan lo, itu nggak ada hubunganya!" seru Kinara geram sambil bersiap melancarkan serangan keduanya, tapi kalah cepat dari Darren yang berkelit, ogah dicubit lagi.
Atta cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang sekarang sedang berlari saling mengejar dan bertriak.
*****
Sementara itu di ruang kerja Adam ...
"Pa, Aku mau_"
"Udah, papa tahu kamu mau ngomong apa," potong Adam cepat saat Abbie ingin berbicara.
Mereka duduk berhadapan dimasing-masing sisi meja kerja Adam.
"Abbie, tolong kali ini kamu penuhin permintaan papa," kata Adam lagi, memandang Abbie dengan tatapan memohon.
"Tapi Pa, itu hal yang nggak mungkin," jawab Abbie sambil menunduk, menekuri setiap serat-serat meja yang terbuat dari kayu jati pilihan itu.
"Kenapa nggak mungkin? toh, kalian tidak ada hubungan darah."
"Tapi Pa, pernikahan bukan cuma soal hubungan darah, banyak hal yang harus dipertimbangkan."
"Apa lagi? kamu sudah dewasa, mapan, punya usaha_"
"Bukan cuma soal materi Pa," potong Abbie cepat. " Tapi soal perasaan, lagi pula Kinara baru lulus SMA, usiannya baru delapan belas tahun, masih terlalu muda untuk menikah."
"Maksud kamu soal cinta? tenang saja, bukankah cinta bisa timbul jika sudah terbiasa? Papa yakin kalian bisa saling mencintai suatu saat nanti," kata Adam sungguh-sungguh.
"Baiklah, mungkin papa benar soal cinta yang bisa tumbuh setelah terbiasa. Tapi apakah harus dalam waktu dekat ini? Kinara masih kecil Pa, biarkan dia menikmati masa remajanya dulu," bujuk Abbie pada Adam, berharap Adam mau mengurungkan niatnya.
"Dengan kamu menikahi Kinara, bukan berarti kamu merampas kebebasanya. Kamu masih bisa membiarkanya tetap kuliah atau apapun yang diinginkan Kinara, asal itu hal yang baik," sergah Adam.
"Sudahlah, keputusan papa sudah bulat, kalian akan menikah bulan depan. Biar papa yang mengurus semuanya."
Abbie kembali terpekur, memikirkan sikap Adam yang tidak seperti biasanya. Adam sebenarnya bukan tipe orangtua yang otoriter, dia membebaskan anak-anaknya untuk memilih sendiri jalan hidup mereka.
Tapi kali ini Adam sepertinya bersikeras untuk menikahkan Abbie dengan Kinara, kenapa? Abbie yakin ada sesuatu yang disembunyikan Adam dari mereka, anak-anaknya.
"Kenapa Papa seperti terburu-buru? ini tidak seperti Papa yang biasanya," tanya Abbie, Adam menghela napas panjang, sadar jika tidak ada yang bisa disembunyikannya dari Abbie.
"Papa cuma ingin kamu menjaga Kinara, menggantikan papa jika suatu saat nanti papa pergi," jawab Adam dengan tatapan sendu.
Abbie terhenyak mendengar jawaban Adam, kenapa papanya bicara seprti dia akan pergi jauh? ada apa sebenarnya? Abbie masih ingin bertanya lebih lanjut tapi melihat raut muka Adam yang kelam, membuatnya mengurungkan niat.
"Tanpa menikahinya pun, aku pasti jagain Kinara, Pa. Selain itu ada bang Atta sama Darren juga, Papa nggak usah khawatir."
"Tidak ... Atta dan Darren suatu saat akan menemukan wanitanya masing-masing. Mereka tentu harus memprioritaskan keluarga mereka sendiri, tidak mungkin sepenuhnya bisa menjaga Kinara," kata Adam lirih, kesedihanya kembali merebak tatkala memikirkan bagaimana nasib putri kesayanganya nanti.
"Papa ingin, Kinara menikah dengan laki-laki yang bisa melindungi dia sepenuh hati. Mampu menerima semua kekuranganya dengan tulus, dan papa cuma bisa percaya sama kamu, Abbie," ujar Adam lagi sambil menatap Abbie dalam-dalam.
Abbie menghela napas berat, dilema. Disatu sisi dia ingin menuruti Adam jika memang bisa membahagiakan papanya, tapi di sisi lain dia takut akan melukai Kinara karena telah merampas kebebasanya untuk memilih pasangan hidup yang sesuai keinginanya sendiri.
"Setidaknya, Papa tanyakan dulu pada Kinara, apakah dia menerima keputusan papa atau tidak." Pada akhirnya Abbie memilih untuk pasrah, biarlah Kinara nanti yang menentukan.
"Kalau Kinara mau menikah, maka kamu juga mau?" tanya Adam.
Abbie diam untuk beberapa saat, namun pada akhirnya dia mengangguk setuju.
"Baik, kalau begitu masalahnya papa tinggal membujuk Kinara," kata Adam dengan mata berbinar bahagia, yakin sekali dia bisa membuat Kinara menerima keputusanya.
???
