Empat
Kinara mengurung diri dikamarnya setelah lelah mengejar Darren, kelelahan fisik dan mental secara bersamaan membuatnya hanya bisa berbaring menelungkup di atas kasur dengan wajah terbenam bantal, menangis.
Lagi dan lagi air matanya mengalir deras membanjiri bantal, saat ia kembali teringat perkataan Darren beberapa saat yang lalu.
Benarkah ia hanya anak adopsi? anak pungut? apa yang harus dilakukanya jika memang itu benar? Kinara tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini selain keluarganya saat ini.
Mungkinkah ia akan benar-benar diusir dari rumah ini jika tidak menuruti perintah papanya?
Tidak, ia tahu pasti papanya bukanlah orang yang kejam seperti itu.
Selama ini Adam selalu menyayangi Kinara dengan sepenuh hati, walaupun tumbuh tanpa didampingi seorang ibu, Kinara dan Darren tidak pernah kekurangan kasih sayang.
Itu karena Papa dan kakak-kakaknya selalu melimpahi mereka dengan kasih sayang yang tulus. Jadi, rasanya mustahil Kinara akan terusir dari rumahnya jika menolak.
Namun, bagaimanapun juga jika ia memang anak adopsi dia harus bersiap dengan segala hal yang mungkin akan terjadi, jelas sekali semuanya tidak akan bisa sama seperti dulu.
Dan mungkin dia harus mulai mencari keberadaan orang tua kandungnya, tapi siapa? di mana? Kinara bingung harus memulainya dari mana.
Selama ini memang jauh dilubuk hatinya Kinara merasa minder dengan saudara-saudaranya. Mereka begitu bersinar baik dari segi fisik dan kepribadian.
Banyak prestasi yang sudah diraih mereka dalam hal pendidikan maupun pekerjaan. Sedangkan Kinara hanya gadis biasa, memang wajahnya cantik dan manis ( itu kata papanya ) namun selain itu Kinara merasa tidak punya kelebihan apa-apa.
Nilai-nilai akademiknya pun biasa bahkan cenderung kurang atau dibawah rata-rata terutama untuk pelajaran eksak seperti matematika dan fisika.
Olahraga pun ia tak pandai, jangakan untuk olahraga yang melibatkan kekuatan dan kecepatan saat berjalan saja ia bisa tiba-tiba terjatuh atau keseleo.
Bahkan saudara atau teman-temanya selalu menggandeng tangan Kinara saat menyebrang jalan, karena mereka tau Kinara sangat ceroboh. Kinara juga sering tertipu karena kepolosanya.
Salah satu contohnya saat Kinara kelas dua SMA. Ketika itu Kinara dan teman-teman satu angkatanya tengah berlibur di salah satu tempat wisata di Bali.
Ketika menunggu teman-temanya yang masih berada di dalam toilet Kinara yang sendirian dihampiri oleh seorang pria paruh baya.
Singkat cerita pria tersebut mengaku tersesat dan dompetnya dicopet orang lalu tertinggal rombongan temanya, sehingga terpaksa meminta bantuan kinara untuk meminjamkan sejumlah uang agar bisa membeli tiket pesawat untuk pulang.
Karena hatinya mudah iba saat melihat orang kesulitan, Kinara lantas memberikan semua uang yang ada dalam dompetnya yang berjumlah satu juta lebih.
Tanpa ia ketahui bahwa modus seperti itu sudah sering digunakan untuk menipu orang.
Untung saja Kinara masih punya uang di dalam atmnya, walaupun tidak banyak. Tapi rencana membeli oleh-oleh untuk keluarganya gagal total.
Mungkin benar kata Darren yang saat itu paling jengkel dengan kebodohan Kinara, bahwa polos itu beda tipis sama bego.
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanya, namun Kinara masih tetap bergeming pada posisinya, tanpa berniat untuk membuka pintu.
Tok ... tok ... tok.
Kembali pintu diketuk dari luar, kali ini disusul dengan suara berat Adam, papanya.
"Nana,Papa masuk, ya."
Ceklek!
Adam membuka pintu yang memang tidak terkunci lalu masuk kedalam kamar Kinara. Diusapnya rambut Kinara dengan lembut sesaat setelah mendudukan pantatnya di sisi ranjang Kinara.
"Sayang, papa mau bicara sebentar," ucapnya lembut.
"Aku nggak mau, Pa. Papa jahat huhu ... hiks, hiks," jawab Kinara tanpa merubah posisinya. Air matanya yang tadi sempat berhenti kini deras kembali.
"Nak, tolong, dengerin papa dulu. Papa ngerti kamu marah, tapi papa cuma ingin yang terbaik buat kamu ...," ucap Adam pelan, tanganya masih membelai lembut rambut Kinara.
Namun, tiba-tiba Kinara bangkit dan duduk menghadap Adam lalu menatap matanya tajam.
"Papa, nggak ngerti. Papa ... egois. Papa, nggak sayang aku lagi! Aku benci Papa!" teriak Kinara emosi, namun detik berikutnya ia menyesal.
Emosinya berubah menjadi rasa takut, bagaimana kalau papanya marah atas sikapnya yang kurang ajar membentak orang tua lalu langsung mengusirnya? gawat!!
Kinara lalu menunduk, meski masih marah ia mencoba meredam emosinya.
Sementara itu Adam merasa hatinya tercubit melihat keadaan putrinya yang cantik menjadi tidak karuan seperti itu. Mata sembab, hidung merah, dan bibir sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis.
Namun demikian, keputusanya adalah yang terbaik, ia tidak akan mengurungkan niatnya walaupun hatinya juga sakit melihat putrinya seperti ini.
"Percayalah, nak, semua yang papa lakukan itu demi kebaikan kamu, karena papa sangat menyayangimu ...," ucap Adam lembut sambil menatap Kinara dengan sendu.
Matanya mulai berkabut menampakan kesedihan dalam hatinya.
"Tapi aku nggak mau, Pa. Aku masih muda, masih pengin bebas ... pengin jalan-jalan ... hangout bareng teman-temanku," tolak Kinara kali ini diucapkanya dengan hati-hati dan perlahan, takut membuat papanya marah.
"Walaupun menikah, kamu masih bisa bebas sayang. Kamu tetap bisa kuliah atau melakukan hal apapun, asal itu hal yang baik, Abbie tidak akan melarangnya," bujuk Adam semangat.
"Tapi aku nggak mungkin nikah sama kak Abbie, Pa. Sama kakaku sendiri!" ucap Kinara dengan menekankan kata 'Kakak'.
Walaupun mungkin mereka tidak ada hubungan darah, bagaimana bisa ia menikah dengan orang yang sudah belasan tahun dianggapnya sebagai Kakak kandungnya.
Sebagai seorang perempuan dia tentu memiliki impian untuk menikah dengan orang yang mencintainya dan dicintainya.
Adam mengehela nafasnya dengan berat, mungkin inilah saatnya Kinara tahu hal yang sebenarnya.
"Kenapa nggak mungkin?" jeda sebentar sebelum Adam meneruskan ucapanya, "kalian bukan saudara kandung. Kamu dan Abbie tidak ada hubungan darah."
Meski pelan, Kinara masih bisa mendengar perkataan papanya dengan jelas. Kembali airmatanya lolos begitu saja, kali ini diiringi dengan tangisan yang keras,nyaris histeris.
"Kenapa, sayang, ada apa? apa ada yang sakit?" tanya Adam panik saat melihat Kinara histeris. Dipeluknya Kinara sambil mengusap-usap punggung Kinara dengan lembut.
Setelah beberapa menit mencoba menenangkan Kinara, akhirnya Kinara mampu menguasai diri dan berhenti menangis.
Hanya sesekali masih terdengar isakanya, namun tidak sampai histeris seperti sebelumnya.
"Jadi, benar aku anak adopsi,Pa?" tanya Kinara dengan suara sedikit bergetar.
Adam terdiam sesaat, mencerna perkataan Kinara. Jadi penyebab Kinara menangis sampai histeris seperti tadi karena dia mengira bahwa dia anak adopsi? Adam tersenyum, memandang wajah risau putrinya saat menanti jawaban darinya.
"Siapa yang bilang begitu, sayang?" tanya adam lembut sambil mengusap air mata Kinara yang terus berjatuhan.
"Darren ...," jawab Kinara polos.
Darren, bocah tengil sok tau itu..awas saja nanti! Batin Adam geram.
"Mana mungkin,wajah cantik kamu itu 90% milik mama dan sifat ceroboh kamu 100% milik papa. Jadi sudah jelas kamu anak papa, kan?" jawab Adam tersenyum.
Kinara menatap Adam dengan seksama, berusaha mencari kebohongan dari raut muka papanya. Namun tidak menemukanya, lega rasanya saat mengetahui bahwa ia adalah anak kandung dari pria yang sangat disayanginya ini.
Namun sesaat kemudian ia tersadar, kalau bukan dia yang anak adopsi berarti ....
"Berarti, Kak Abbie ...," ucapnya menggantung, Adam mengangguk, membenarkan apa yang sedang Kinara pikirkan.
"Abbie anak dari sahabat Papa yang meninggal akibat kecelakaan. Abbie yang waktu itu baru berumur tujuh tahun sudah yatim piatu," ucap Adam, matanya menerawang kembali mengingat masa lalu.
"Saat Abbie datang ke rumah ini, kamu baru berusia satu tahun, sedang Darren masih ada dalam kandungan mama. Jadi wajar kalau kalian tidak tahu apa-apa." Adam menjelaskan.
"Kak Atta tau?" tanya Kinara lagi.
"Atta saat itu sudah berusia delapan tahun, jadi dia sudah mengerti," lanjut Adam, "sejak saat itu kita menjadi keluarga, Abbie bahkan sangat dekat dengan Mama, dia yang paling terpukul saat mama meninggal setelah melahirkan Darren."
Kinara mengangguk-angguk saat mendengarkan penjelasan papanya. Hatinya turut merasakan sedih saat memikirkan Abbie yang masih sangat kecil menjadi sebatang kara, untunglah Papa dan Mamanya bersedia merawat Abbie.
Namun baru saja dia merasakan lagi hangatnya keluarga, Abbie kembali harus merasakan kehilangan saat mamanya meninggal. Pasti sangat menyakitkan ... batin Kinara iba.
"Jadi gimana, mau ya menikah sama Abbie?" tanya Adam. Kinara tersadar, sejenak ia lupa masalah itu.
"Nggak bisa, Pa," jawabnya gusar.
"Kenapa, kamu bilang kamu nggak punya pacar?"
"Nggak punya pacar bukan berarti nggak ada orang yang disuka kan, Pa?" Kata Kinara, jelas itu bohong.
Selama ini ia belum menemukan orang yang mampu membuatnya jatuh cinta. Tapi nggak mungkin juga kan, menikah dengan orang yang nggak dicintai? apa lagi orang itu sudah kita anggap sebagai kakak sendiri, rasanya mustahil.
"Jadi, ada yang kamu suka? coba kamu bawa kesini, papa mau lihat apa dia bisa lebih baik dari Abbie?" tantang Adam semangat.
Kinara tentu kaget dengan permintaan papanya. Siapa yang mau dia bawa? tidak ada teman laki-laki yang dia suka.
Lagi pula, dari semua temannya tentu tidak ada yang bisa melawan ketampanan, kecerdasan, dan kecakapan seorang Habbibie.
Kalopun ada laki-laki yang ia kenal yang sebanding dengan Abbie itu hanyalah Atta, yang jelas-jelas kakak kandungnya. Kinara masih diam sambil meremas-remas tanganya, risau.
Dari mana ia bisa menemukan laki-laki yang nyaris sempurna yang sebanding dengan Abbie?
Adam tersenyum melihat kegusaran Kinara, ia tahu bahwa putrinya itu tidak banyak mengenal laki-laki, paling hanya teman-teman sekelasnya saja.
Dan Adam yakin, dari sekian banyak teman laki-laki Kinara(yang bisa dihitung dengan jari) tidak ada yang sebanding dengan Abbie.
"Sudah, kamu nurut aja sama papa. papa yakin, Abbie adalah yang terbaik buat kamu nak," kata Adam, Kinara masih diam.
"Kalau kamu mau menikah, Papa akan kasih hadiah kalian liburan ke korea selatan. Kamu udh lama ingin kesana, kan? nanti papa belikan juga tiket konser idol k-pop kesukaanmu," bujuk Adam lagi, namun Kinara masih tetap diam.
Sebenarnya Kinara cukup tertarik dengan tawaran papanya, berlibur ke korea dan nonton konser boygroup idolanya sungguh menggiurkan.
Namun akal sehatnya masih menolak, mana mungkin ia mau menukar seluruh sisa hidupnya untuk sebuah kesenangan yang hanya sesaat.
"Papa kasih kamu waktu seminggu untuk memutuskan. Pikirkanlah baik-baik," ucap Adam seraya bangkit meninggalkan Kinara yang masih hanyut dalam pikiranya.
???
