Rencana mama
Reyhan mengepalkan tangannya marah. Dan melemparkan kertas itu tepat mengenai wajah Fiona, pada foto pernikahan mereka berdua yang terpajang ditengah-tengah ruang kamar.
"Aku sudah muak dan bosan dengan janji-janji mu Fiona, kamu selalu mengucapkan kata-kata itu. Tanpa pernah menepatinya. Berani nya kamu memperlakukan ku seperti ini, kamu memanfaatkan rasa cintaku yang besar untuk berbuat sesuka mu, lihat saja Fiona. akan aku pastikan kamu akan memohon cinta ku kembali. Dan saat itu aku akan membalikkan keadaan yang sesungguhnya. Agar kamu sadar pria seperti apa yang sedang kamu hadapi.!!!”
Reyhan membuang nafas kasar, suasana apartemen membuat nya seketika gerah. Kamarnya ini terlalu banyak menyimpan kenangan bersama Fiona.
“Sudah saatnya aku membuang semua nya.”
“Praggg....prraanggg.”
Kemarahan Reyhan langsung tanpa arah, foto-foto pernikahan mewah mereka yang tersusun rapi, hancur berantakan dilantai mar-mar berwarna putih bersih itu.
Tidak puas menghancurkan foto-foto pernikahan mereka, Reyhan mengeluarkan semua Pakaian-pakaian Fiona yang tersusun dilemari, sehingga kamar yang semula rapi sekarang berantakan.
Reyhan meremas-remas rambutnya frustasi, cukup lama dia tertunduk, mencoba mencoba mengendalikan emosi dan kemarahan yang mulai meledak-ledak ketika bayangan Fiona kembali melintas dipikirannya.
“Sebaiknya aku kembali pindah kerumah Mama, apartemen ini bisa membuat ku lama-lama gila. Bayangan wanita egois itu ada disetiap sudut ruangan ini, aku benci dengan keadaanku yang begitu berharap dan masih mencintai wanita seperti itu.” Reyhan meremas kembali rambutnya frustasi.
Reyhan perlahan menyeret langkah menuju kamar mandi, berendam cukup lama dalam bactub, bahkan dia menenggelamkan seluruh Tubuhnya beberapa saat dalam genangan air yang sudah terisi penuh, berharap panas di kepala dan hatinya bisa mereda.
“Aaaaaagghh, aaagghh....”
Reyhan berteriak beberapa kali dalam air, meluapkan kemarahan yang membuat dadanya semakin sesak.
Usaha Reyhan sedikit banyak membuahkan hasil, setelah sedikit tenang, dia pun berpakaian rapi, dan langsung pergi meninggalkan apartemen yang sudah lama dia tempati bersama Fiona.
Reyhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sepanjang perjalanan dia tidak sedikit pun menghiraukan makian dan bunyi klakson mobil pengguna jalan lainya, yang hampir bertabrakan dengan mobilnya.
“Bodo amat, dengan mereka. Emang mereka ngerti dan ngerasain apa yang aku rasakan saat ini.” Balas Reyhan menanggapi makian dan kemarahan pengguna jalan lainnya.
Mobil mewah yang dikendarai Reyhan sudah memasuki gerbang utama Rumah mewah yang ditempati Mama seorang, ditemani pelayan, sedangkan papa lebih sibuk dengan istri mudanya, Rey menghentikan mobil nya tepat dihalaman yang menghadap pintu masuk.
Reyhan turun, dengan langkah panjang dan tampang jutek dia melangkah masuk kedalam rumah, membuat Sanum yang kebetulan juga baru pulang dari sekolah tidak berani menegur. dia langsung berjalan menuju kamarnya, begitu juga dengan Reyhan menghempaskan kasar tubuhnya duduk di sofa menghadap langsung ke balkon. Sesekali dia mengusap kembali kepalanya. Menandakan jika Rey sedang berfikir keras.
Mama Sinta yang melihat kedatangan anaknya, tersenyum senang dan menyapa.
“Reyhan,”
Namun Reyhan tidak menanggapi, bahkan tidak menyapa mamanya sedikitpun, berjalan cepat dengan wajah ditekuk. Mama Sinta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dia mengetahui jika suasana hati anak kesayangannya sedang memburuk mengingat istrinya yang kembali pergi keluar negeri.
“Semoga kali ini kamu sadar Rey, jika Fiona bukanlah wanita yang terbaik untukmu, nak. Dia itu egois dan hanya memikirkan materi dan ketenaran karir nya. Dia tidak mencintai mu dengan , Mama yakin sekarang dia pasti pergi lagi dan meninggalkan luka dan harapan hampa untuk mu.” Gumam Sinta sedih.
“Aku pikir, ini kesempatan yang tepat untuk ku membujuknya Reyhan, agar bisa menerima dan melihat jika di dunia ini masih banyak wanita yang bisa membuat nya bahagia.” Gumam Sinta sambil tersenyum penuh arti.
Perlahan langkah Sinta berjalan mendekati kamar Reyhan yang tidak terkunci dari dalam, dengan senyuman lembut dan tulus seorang ibu dia mendekati putranya yang sedang gundah gulana.
"Anakku Rey, sebelumnya Mama minta maaf, jika Mama lancang dan ikut campur urusan pribadi Rumah tangga mu, tapi untuk kali ini tolong dengarkan perkataan mama. Mengingat suasana hati mu yang seringkali memburuk, Pasti Fiona pergi lagi ya, nak." Ucap mama hati-hati dan mengelus punggung anaknya perlahan.
"Iya ma, aku juga tidak tahu kenapa aku begitu mencintainya, semua mengalir begitu saja, tapi aku sadar jika Fiona lebih mencintai dirinya sendiri ketimbang aku, suaminya.”
“Mama punya cara untuk membalas perlakuan tidak adil Fiona terhadap mu.”
“Jangan ma, aku masih mencintainya, ma.”
“Mama tahu, kita akan bermain cantik dibelangkang nya. Sehingga dalam hal ini kamu juga sudah mengabulkan keinginan terbesar mama selama ini.” Ucap Sinta yang ingin mengutarakan ide yang sudah lama dipendamnya.
“Maksud Mama apa?’
“Mama rasa kamu sudah cukup dewasa, dan paham arah pembicaraan Mama barusan.”
"Entah lah, aku bingun dengan maksud pembicaraan mama. Apa mama meminta ku untuk mengencani salah satu model cantik, yang sedang terikat kontrak kerjasama dengan perusahaan kita, mereka juga tidak akan menolak ku, bahkan mereka selalu berusaha untuk menggoda ku. Mereka dengan sukarela akan menyerah kan diri nya. Tapi aku tidak mau berbuat serendah itu ma. Tubuh ku terlalu berharga untuk mereka." Tutur Reyhan.
"Diamlah Rey, jika kamu tidak paham dengan arah pembicaraan Mama. Mana mungkin Mama akan bersedia menerima jika calon cucu ku, terlahir dari wanita sembarangan." bentak Mama Sinta.
Reyhan diam, dia tidak tega terus membantah perkataan mamanya, mengingat apa yang dikatakan mamanya tentang Fiona dulunya sekarang terbukti, Fiona tidak pernah berubah.
“Reyha sudah pasrah ma, sekarang terserah Mama.”
Reyhan menyandarkan kepalanya di bahu sang Mama, wanita yang sudah melahirkan nya ke dunia ini. Elusan lembut tangan Mama dipundaknya, membuat ketenangan dan kenyamanan di hati dan pikiran Reyhan.
"Atau begini saja Rey, Mama akan mencarikan atau jika perlu, kita bayar saja wanita untuk dijadikan istri. yang bersedia mengandung dan melahirkan anak untuk mu, dan itu juga bukan wanita sembarangan dan harus dari gadis baik-baik." Bujuk Mama yang sudah mempunyai rencana besar setelah berhasil membujuk Reyhan.
"Wanita bayaran? tidak...aku tidak ingin menyentuh wanita sembarangan. Sudah berapa kali Reyhan jelaskan, jika aku tidak mau wanita semacam itu," tolak Reyhan menatap kesal tanaman hias dihadapannya.
"Kita akan mencari wanita baik-baik, kalau perlu wanita polos dan masih suci untuk kamu nikahi, dan ini juga pernikahan secara siri, sehingga dia tidak akan berani macam-macam. apalagi sampai menuntut mu kedepannya." Tawar Mama sambil mengulum senyum, melihat Reyhan yang mulai terpancing perkataan nya.
“Dan Mama sudah menyiapkan wanita terbaik itu.” Kembali melanjutkan perkataannya.
“Terserah Mama, tapi Reyhan minta waktu sampai pikiran Reyhan benar tenang dulu.”
“Baiklah, nak. Mama tunggu.”
