Fiona pergi
“Sayang, apa kamu jadi berangkat ke Negara Paris?”
“Jadi mas, besok pagi dengan penerbangan pertama.” Fiona menghentikan sejenak kesibukan nya, menatap sayang wajah suaminya.
“Please Fio, jangan pergi lagi. Saat ini aku masih butuh kamu, untuk berdada disisiku.”
“Mas, jadwal pemotretan ku tidak mungkin ditunda lagi. Seminggu ini sudah cukup, kita habiskan bersama. Apa semua ini masih kurang?” bujuk Fiona.
“Sayang, apa uang dan harta ku masih kurang banyak, sehingga kamu masih sibuk dengan pemotretan mu itu, aku mampu membayar mu berkali-kali lipat dari apa yang kamu dapatkan sekarang.” Ucap Reyhan yang mulai protes.
“Bukan itu permasalahan nya mas, dari awal pernikahan kita, kamu sudah tahu dan berhaji jika tidak akan menghalangi pekerjaan yang merupakan impian ku selama ini.”
“Iya Sayang, tapi seiring berjalannya waktu, aku ingin kamu juga mulai ngertiin aku. Termasuk mengabulkan harapan terbesar mama dan papa yang sangat menginginkan kehadiran seorang cucu ditengah-tengah pernikahan kita yang sudah masuk tahun ketiga.”
Fiona terdiam, mengabaikan perkataan suaminya. Bagaimana pun dia lebih mencintai bentuk tubuhnya yang indah dan seksi ini, dari pada memilih menjadi seorang ibu. Yang hanya akan menghancurkan impian dan tubuh indahnya. Pikir Fiona.
“Kamu egois Fiona.”
Reyhan mengepalkan tangannya emosi, ditambah lagi melihat Fiona yang masih sibuk mengemasi pakaian dan peralatan kecantikan nya yang akan dibawanya besok, ketimbang membujuk dan memberikan pengertian pada suaminya itu.
“Fiona, kamu dengar aku Nggak sih.”
“Dengar mas, tapi berapa kali sih aku harus menjelaskan nya. Jika aku belum siap untuk itu.” Mengacungkan telunjuknya kearah wajah Reyhan.
“Wanita egois.”
Reyhan sangat marah dan kesal, mendorong tubuh Fiona hingga jatuh disisi ranjang.
“Mas...mas Reyhan, tunggu kamu mau ke mana?” Fiona berlari mengejar Reyhan, ketika pria itu akan masuk kedalam lift. Tapi dia kalah cepat oleh gerakan Reyhan dengan kemarahan nya.
Reyhan tidak mempedulikan teriakan Fiona yang masih menangil-mangil dirinya. Langkah kakinya yang panjang menuju mobilnya terparkir, dan langsung melajukan kencang tanpa arah. Mengabaikan panggilan masuk dari Fiona yang terus membuat ponselnya bergetar.
“Kenapa Fio, kamu terlalu egois dan hanya memikirkan dirimu sendiri, aku juga bodoh...bodoh dan terlalu menyayangi dan mencintai mu...aku benci dengan keadaan ini.”
Reyhan memukul stir kemudi mobilnya, meluapkan kemarahan dan kekesalannya. Serta perasaan cinta yang malah membuat nya tersisa, dia membelokan mobilnya memasuki Club malam termahal yang tidak sembaragan orang yang mampu memasukinya, terutama ruangan kelas VVIP ini. Dengan minum-minum kegundahan Reyhan sedikit terobati.
Reyhan Alexander Pewais tunggal Perusahaan dibawah naungan Wiguna Groups. seorang CEO muda tampan dan energik, dengan pesona yang begitu memikat para wanita. Namun pria yang akrab disapa Rey itu, kini seakan tidak memiliki wibawanya lagi, Meskipun ditengah-tengah kegundahan hatinya tidak pernah mau disentuh oleh sembarang wanita, karena cinta dan hatinya masih terpaut erat pada satu wanita yang dipacari dan sudah dinikahinya selama tiga tahun ini Fiona Salsabila.
Setiap mengingat Fiona, emosi Reyhan kembali memuncak, dan meneguk minuman keras yang sudah gelas kesekian kalinya.
"Prraakknngk...."
Reyhan membanting kasar botol minuman itu ke lantai, sehingga tidak ada wanita penghibur kelas atas yang berani menggoda dan mendekati dirinya saat ini. Mereka lebih memilih mundur perlahan saat melihat kemarahan pria tampan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bahkan pemilik klub ini pun melarang OB, yang ingin masuk untuk membersihkan ruangan dari pecahan kaca boto minuman tersebut.
Pikiran Reyhan kembali melayang indah, semalam dia dan Fiona, mereka berdua melewati makan malam Romantis, memadu kasih di Apartemen mewahnya. memberikan hadiah kalung berlian dengan harga yang sangat fantastis. Berharap fiona akan luluh, dan mau membatalkan niatnya untuk Pergi.
Tapi harapan Reyhan sia-sia belaka, Fiona tetap pada pendiriannya semula, meskipun Reyhan susah berusaha untuk membujuknya dengan berbagai cara.
“Wanita brengsek kamu Fiona, aku benci kamu....benci...ha...ha...” ceracau Reyhan.
Kebanyakan minum membuat Reyhan ambruk, pihak klub yang sudah sangat mengenal siapa sebenarnya Reyhan, langsung menghubungi asisten setia nya Zein. Mau tidak mau Zein yang tengah menikmati tidur makamnya harus begadang dan siap menjemput sang bos besar menuju klub. lalu mengantarkan sang bigbos kembali pulang menuju apartemen nya.
Fiona yang mendapati suaminya yang pulang dalam kondisi mabuk berat, membantu memapah tubuh Rey dan menidurkan nya secara perlahan dikamar apartemen mereka.
“Zein, terimakasih ya.”
“Ya, nyonya Fiona.”
Setelah kepergian Zein, Fiona membantu melepas pakaian Reyhan yang sudah kotor dan menggantinya dengan piyama tidur.
“Maafkan aku mas Reyhan, aku sangat mencintaimu. Tapi aku belum bisa mengambulkan keinginan mu untuk saat ini mas.” Memeluk Reyhan dan ikut berbaring disebelahnya.
Pagi yang cerah, Fiona bagun lebih awal, dan segera bersiap-siap untuk pergi, didepan pintu apartemen mereka, sudah menunggu asisten pribadinya Desi, yang selalu siap membantu dan menemaninya Pergi ke manapun.
“Mumpung mas Reyhan masih tidur, sekarang kesempatan untuk ku segera pergi.”
Saat melihat Suaminya yang masih tertidur pulas, Fiona mencium kening Reyhan sekilas, dengan berjalan sambil pelan-pelan takut laki-laki tampan itu akan terbangun. Fiona, menutup pintu sambil melangkah meninggalkan apartemen dengan senyum penuh kemenangan karena Rey telah memberikan nya sebuah kalung yang tak ternilai harganya. Dia yakin setelah kembali nanti dari Paris, Rey tidak akan marah lagi, karena Fiona akan memberikan servis terbaiknya.
“Rey... Reyhan, aku tahu kamu nggak bakalan bisa hidup tanpa cinta dan sentuhan dari ku, kamu nggak bakalan bisa marah dan membenciku. Sekarang marah besok kamu bakalan kembali bucin padaku...ha...ha...” Fiona tersenyum senang.
**
Reyhan mengucek matanya yang sikau terkena terpaan cahaya matahari langsung, yang masuk melalui celah-celah ventilasi kamar mereka. tangan panjang dan kekar Reyhan, meraba-raba sisi Kasur disebelahnya yang sudah kosong.
“Fiona...Fio...Sayang.”
Reyhan langsung terbangun, begiyu menyadari disebelah nya yang terdapat kosong. sambil memijid pelipisnya yang masih tersa berat dan sedikit pusing, Rey berusaha membuka matanya kembali. Mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan kamar yang sudah terlihat sepi, sudah tidak ada lagi Fiona yang tidur disampingnya.
“Sayang kamu dimana?”
Reyhan mempertajam pendengarannya, mendengar sahutan suara Fiona, dia masih berfikir jika istri cantik nya itu sedang mandi, namun dia tidak mendengar gemercik air yang jatuh. Mau tidak mau, Reyhan turun dari ranjang, berjalan sekeliling kamar dan mencari keberadaan sang istri tercinta, dikamar mandi dan dapur Apartemen.
"kosong"
Reyhan kembali ke kamar melihat selembar kertas di atas nakas.
"Mas Reyhan suamiku sayang,
"Maafkan Fiona mas, karena terpaksa meninggalkan mu demi mencapai mimpi Fio untuk menjadi model dunia, terimakasih juga atas semua kebaikan dan materi yang pernah kamu berikan. Termasuk kalung Berlian ini yang akan terus aku simpan dan menjaganya sebaik mungkin. Aku janji setelah balik dari negara Paris, aku akan menemanimu dan mencoba menjadi istri yang baik mas. Peluk cium dariku, istri mu Fiona Salsabila."
