Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kerjasama

“ Reyhan, Mama akan buat kamu benar-benar jatuh cinta dengan Sanum, karena hanya dialah wanita yang tepat untuk mendampingi dirimu, calon ibu dari anak-anak mu kelak. Bukan Fiona. Untuk sementara biarlah Kamu berfikir jika Sanum istri Bayaran, tapi mama Berjanji pada diri Mama sendiri, akan menjadikan Sanum istri dan menantu mama yang sesungguhnya. Dia yang akan mendampingi mu untuk selama-lamanya.” Mama tersenyum penuh arti, perang bathin dengan perasaan nya sendiri, dimana Reyhan tidak mengetahui apa yang sudah membuat sang Mama tersenyum dalam diam.

"Okey, Baiklah ma, tapi ini harus nikah siri, karena Fiona pasti bakal tidak merestuinya ma.”

“Iya nak, Mama akan mendukung apapun yang terbaik untukmu.”

Reyhan memperbaiki posisi duduknya, dia seperti mendapat angin segar. Setelah mendengar perkataan mamanya barusan.

“Mungkin ini sudah saatnya aku menuruti permintaan kedua orang tuaku, dengan menikah lagi, aku bisa memberikan Mama seorang cucu untuk menemani hari-hari tua nya, sehingga pernikahan ku dengan Fiona tidak diusik lagi dengan tuntutan Mama yang sangat menginginkan seorang cucu, ini juga sebagai bentuk rasa protesku pada sikap Fiona yang memilih pergi. Aku berharap setelah ini Fiona akan sadar.” Gumam Reyhan.

“Ma, aku ingin wanita baik dan masih gadis, aku tidak mau sembarangan karena dia akan mengandung anak ku nanti. terutama lakukan beberapa tes untuk mengetahui kesehatan atau penyakit yang dideritanya. aku tidak mau jika tertular dan wanita itu, dia juga harus dibawah standar level Fiona dan pastikan semua ini tidak diketahui oleh media.

"Tentu sayang." ucap mama mantap Meskipun dia semula sempat kaget saat mendengar penuturan dan permintaan Reyhan yang terkesan berlebihan sekali.

“Baiklah, kamu tunggu saja. Setelah waktunya tiba, Mama akan langsung menunjukkan wanita pilihan Mama pada mu. Mama sangat yakin jika kamu pasti tidak bakal menolak nya Reyhan,”

“ Karena dia tidak sebanding dengan Fiona, Sanum bagaikan Berlian yang akan memerangi dan menghangatkan hatimu yang dingin dan sunyi.” Gumam Mama.

“Terserah Mama.”

Reyhan mengusap wajahnya, dia belum tahu jika Mama berencana untuk menjodohkan dirinya dengan Sanum. Karena selama ini Reyhan terlalu memansang rendah Sanum, bahkan untuk sekedar melirik nya Reyhan enggan. Dipikirannya Sanum itu anak kecil, yang merupakan pelayan kesayangan mamanya.

Mama keluar dari kamar Reyhan, menutup pintu kamar tersebut secara perlahan. Dia mulai menyusun rencana besar. Senyum mengembang dibibir nya mengingat sebentar lagi keinginan selama ini akan segera terkabul kan.

“Saat-saat yang aku tunggu-tunggu selama ini akhirnya datang juga, aku harus mengajak Zein asisten pribadi Rey, sapa tahu dia mau bekerjasama. membantu ku untuk menjodohkan Reyhan dan Sanum.” Ucap Mama tersenyum bahagia.

Mama bergegas menuju kamarnya, langsung mengambil ponselnya, menekan daftar nama kontak Zein, tidak begitu lama panggilan mereka terhubung.

Zein yang sedang sibuk menggantikan posisi Reyhan dalam memimpin rapat besar, langsung terhenti seketika saat melihat panggilan masuk dari Nyonya besarnya Sinta, Zein berjalan pergi meninggalkan ruangan rapat.

“Hallo ada apa Tante?” Ucap Zein.

“Zein, Tante ingin mengajakmu kerjasama.”

“Kerjasama, maksud Tante?”

“Mmhh... begini Zein, Bagaimana jika kamu membantu dan mendukung Tante, supaya Reyhan mau menerima Sanum. Dan bersedia menikahi gadis itu.” Ucap Sinta antusias.

Zeun terdiam sejenak, dia masih tidak percaya dengan permintaan Mama dari bosnya tersebut, bahkan ini juga terasa sangat tiba-tiba, begitu Fiona pergi keluar negeri. Zein sempat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dalam rumahtangga bos-nya saat ini, meskipun sedikit banyak Zein mengetahui permasalahan mereka.

“Maksud Tante, Sanum akan menjadi istri kedua bos Reyhan?”

“Betul sekali, untuk mewujudkan semua ini aku sangat memerlukan bantuan mu Zein.”

“Tapi kasihan Sanum, jika dia harus menjadi yang kedua.”

“Tidak Zein, aku janji bakal membuat Sanum menjadi wanita satu-satunya di hati Reyhan, bukan Fiona lagi.”

“Aku setuju sekali Tante, mengingat Fiona tidak pernah memberikan kebahagiaan yang sejati pada bos Rey, lagian aku sangat mengenal Sanum, dia wanita baik dan masih polos.” Zein keluar dan menutup pelan pintu ruangan rapat.

“Tapi Zein, kita harus bermain cantik dan Reyhan tidak boleh mengetahui jika kita bekerjasama.”

“Siiip Tante.” Balas Zein, panggilan mereka pun terputus.

Dirumah besar itu, akhir-akhir ini Sanum mersa seperti putri. Karena Nyonya Sinta memperlakukan nya dengan baik. Bahkan semua pakaian dan barang-barang Sanum satu persatu mulai diganti nya dengan yang lebih baru dan jauh lebih mahal. serta keperluan pribadi Sanum yang baru serta bermerk.

“Nyonya, aku merasa tidak enak tehadap kebaikan Nyonya.” Ucap Sanum sungkan.

“Sanum, ini semua tidak seberapa dengan kebaikan dan jasa Bi Yam terhadap keluarga kami. Bahkan Bi Yam, telah menyelamatkan nyawa Reyhan kecil, yang pernah jatuh ke kolam. Akibat kelalaian kami.” Ucap Sinta mengenang masa lalunya. Bi Yam merupakan neneknya Sanum.

“Tapi ini terlalu mewah bagi ku, aku mersa tidak pantas untuk mendapatkan nya.”

“Aku ikhlas memberikan nya Sanum, karena Kamu sudah seperti anakku sendiri.” Ucap Nyonya Sinta penuh haru. Dia akan memperlakukan mu dengan baik, sama halnya, bagaimana Biyam dulunya mengurus dan mengasuh anakku Reyhan dengan kasih sayang.” Sewaktu ketika itu Sinta masih aktif mengurus salah satu perusahaan miliknya.

“Hati nyonya sangat mulia sekali, aku tidak tahu bagaimana cara membuat!balas kebaikan nyonya selama ini baik terhadap aku, dan keluarga ku.”

Sanum ikut terharu, mendengar kisah kedekatan majikan dan neneknya dulu, Tanpa sadar dia ikut menitikan air matanya.

“Sanum, aku masih ingat. Bi yam sempat berpesan jika seandainya umur dia tidak panjang. Dia menitipkan dirimu padaku, agar menjaga dan menyayangi mu, nak. mengingat kamu, tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.” Ucap Sinta.

“Iya nyonya, nenek juga pernah mengatakan hal itu. Sehingga aku menyetujui untuk pindah kerumah ini, selain mengingat kebaikan keluarga nyonya.”

Sanum mengusap air mata seketika membasahi kedua pipinya. teringat perjuangan neneknya yang sangat menyayangi nya.

“Mulai sekarang, jangan khawatir dan merasa sendiri, karena aku juga menyayangimu, Sanum. Seperti putriku sendiri. Aku berjanji akan menjagamu sebaik mungkin.” Sinta menatap lembut kearah Sanum.

“Terimakasih Nyonya, aku sangat lega mendengarnya.” mereka pun berpelukan.

“Sanum aku ada beberapa peralatan make-up, kamu pakailah. Sekarang kamu sudah menjadi gadis yang cantik, apa lagi jika pintar dandan.” Puji Sinta.

Sanum memperhatikan peralatan kosmetik yang dibelikan, dia sangat menyukainya karena cocok dengan warna dan jenis kulit Sanum, yang masih remaja. Sinta tidak mau sembarangan. Bahkan dia sangat memperhatikan segala sesuatu yang akan dikenakan Sanum. Berharap anaknya Reyhan akan tertarik dan jatuh cinta, meskipun Sanum akan terlihat masih sangat cantik alami, Tanpa didandani dan melekat barang-barang mewah ditubuhnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel