Mood yang kembali memburuk
“Oooo tentu bos, mengingat bisa makan gratis menikmati masakan Sanum, Dia cantik banget kan?” Zein sengaja menggoda Reyhan. Membuat darah Rey naik dan bertambah marah.
“Cantik dari mana? anak kecil yang belum tumbuh sempurna itu kamu bilang cantik.” Bentaknya sambil menyeruput kopi hitam buatan Sanum.
“Buktinya, bos begitu menikmati kopi buatan nya.” Sambil menunjuk kearah kopi hitam, yang cangkirnya masih dipegang oleh Reyhan, yang sudah tinggal separuh.
“Jelaslah, kalau ngak bisa buat kopi, mungkin sudah aku pecat dia.”
“Kenapa sih bos, sikap mu sekarang berubah banget, akhir-akhir ini lebih mudah marah, bawaannya emosi melulu. Lagi dapet ya?”
“Ngomong apa kamu, Prungghh...”
“Aduuuh sakit, bos.”
“Makanya lihat-lihat dulu jika mau bercanda.” Menatap tajam Zein.
“Bos, maaf sebelumnya. Tapi aku rasa Sanum gadis yang baik. bahkan dia sangat cocok untuk menjadi ibu bagi anak-anak bos nantinya, uuups maaf bos aku keceplosan lagi.”
“Kamu lupa ya jika aku sudah menikah? Meskipun aku berniat untuk nambah istri, tapi dia bukan tipe seleraku. bahkan aku tidak tertarik dan bergairah sedikit pun terhadapnya gadis ingusan itu. jadi aku rasa, dia ngak bisa melahirkan anak-anak ku nantinya.” Jawab Reyhan ingin memulai sarapannya.
“Dia itu cewek unik Bos, kita perlu bersihin dikit. Setelah itu dia terlihat kinclong. Bahkan jika dia didandani dengan barang-barang mewah maka semakin terlihat indah.” Jawab Zein sambil menahan tawa membayangkan wajah cantik Sanum.
“Jangan mengalihkan pertanyaan ku, apa kamu ingin menerima surat PHK hari ini, atau aku mutasi ke salah satu cabang perusahaan perkebunanku yang ada di daerah terisolir.” Bentak Reyhan dengan tatapan mata tajamnya.
“Gawat ini, Bos Reyhan benar-benar marah.” Gumam Zein sambil memikirkan cara untuk membujuk Rey kembali.
“Ampun Bos. Tolong kasiani saya. Aku Cuma bercanda...bos sekarang lebih seriusan.” ucapan Zein.
Dikamarnya, Sanum menatap sedih foto-foto orang-orang tersayang nya yang sudah duluan pergi meninggalkan dirinya sebatang kara. Sanum masih bersyukur Bu Sinta mau menampungnya dirumah ini dan membiayai sekolah nya, kalau tidak Sanum tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya hidup diluaran berjuang sendiri.
"Andaikan kedua orang tua ku masih hidup, tentunya aku tidak akan menjalani hidup seperti ini." Gumam Sanum mengusap air mata nya. Sanum memeluk foto mereka dengan penuh kerinduan.
“Cepat habiskan sarapanmu, Zein.” Ucap Reyhan yang sudah terlihat rapi dengan stelan pakaian kantor yang menambah kesan elegan dan pesona ketampanan nya.
“Bos ngak sarapan dulu, sayang makanan buatan Sanum seenak ini diabaikan.”
“Ngak buat kamu saja.”
Reyhan merasa moodnya sudah memburuk pagi ini. Sehingga dia memilih membatalkan sarapannya. Dan pergi dengan tergesa-gesa menuju mobil. Dia merasa malas jika bertemu dan berhadapan kembali dengan Sanum. Terutama mama yang selalu memuji dan membela Sanum.
Zein mempercepat langkahnya mengimbangi langkah panjang Reyhan. Sampai di mobil, Zein langsung melaju kencang menuju kantor perusahaan.
“Untuk apa sih, Mama membawa gadis kampung itu tinggal dirumah. Kalau kasihan kan bisa diangkat jadi anak asuh dan diberi modal. Sejak bertemu dengannya aku merasa gerah dan kesal. Apa lagi melihat tingkah dan gayanya yang norak. bahkan sangat kampungan, meskipun memiliki wajah yang lumayan, tanpa polesan yang tebal.” Bathin Reyhan yang mulai fokus melihat kearah jendela mobilnya, nampak jalanan yang mulai ramai dan sibuk pengendara lain.
“Memang Sanum anak angkatnya Tante Sinta, jadi sudah sepantasnya dia tinggal serumah dengan bos dan Tante Sinta.”
“Diam kamu.”
Spontan Zein menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Sambil menyembunyikan senyum melihat sikap Reyhan.
Sampai dikantor, Reyhan menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Dan menghubungi OB agar membantu menyiapkan makanan, untuk sarapan Rey pagi ini.
“Emangnya enak Bos, sarapan dikantor sendirian. Biasanya bareng Mama dirumah atau mbak Fiona, maluya dilihat Sanum jika makan Bos banyak?” Goda Zein.
Reyhan berdiri, sambil mengepalkan tangannya dan diarahkan langsung pada asisten sekaligus sahabatnya tersebut.
"Bicara lagi kepalan tanganku ini melayang di wajahmu yang bak kaca mata Nobita itu." hardik Rey kesal.
“Sorry....sorry Bos, aku keceplosan lagi.” Mengusap mulutnya Menyesali ucapan barusan. Sambil memukul-mukul pelan bibirnya.
“Kamu makin hari makin ngelunjak, aku harus menyiapkan hukuman yang akan membuatmu jera.”
“Bos, jangan begitu. Masa tega sama sahabat sendiri. Ingat Bos Kita selalu bersama-sama semenjak SMA.” Zein mengeluarkan jurus andalan nya, yang biasanya akan membuat Reyhan akan luluh dan melupakan kemarahan nya.
“Aku masih curiga dengan mama, apa tujuannya sebelum dia membawa Sanum masuk kerumah. Tanpa memberi tahu dan meminta persetujuan dari ku terlebih dahulu?” Ucap Reyhan sambil melanjutkan sarapannya.
“Kenapa sih bos, masih mikirin hal itu melulu. Mendingan kita belajar memahami Tante Sinta, yang sekarang terlihat sudah sangat bahagia dengan adanya Sanum dirumah. Lagian kita berdua sudah mendengarkan alasan dari mama bos sendiri, dan itu merupakan pilihan yang tepat, lagian Bos kenapa mempermasalahkan nya sekarang, bukankah Sanum juga sudah lama menempati Rumah besar itu, semenjak papa bos Pergi dan memilih menikah dan tinggal dengan istri mudanya.”
“Tolong Zein, jangan kamu ungkit permasalahan itu lagi.”
“Maaf Bos.”
“Aku tidak habis pikir, dizaman modern seperti ini, masih ada wanita yang seperti Sanum. Sesuai namanya sih yang terdengar norak. Dengan tingkah nya yang Kampungan dan sangat di dukung oleh penampilannya yang dibuat-buat agar terlihat cantik.” Reyhan tertawa lepas membayangkan wajah cantik Sanum.
“Ditambah lagi, rambut panjang bergelombang nya, aku rasa sudah ada ratusan kutu berkembang biak disana. Yang bahkan terlihat apek seperti habis dilumuri dengan minyak goreng.” Tutur Rey kembali.
“Bos jangan terlalu meremehkan, dan memandang rendah gadis itu. Aku yakin Sanum itu gadis yang sangat istimewa. Ingat bos benci dan cinta itu beda tipis, hati-hati bos, bisa-bisa Anda akan termakan ucapan sendiri. Baru tahu rasa." balas Zein dengan nada kesal, bahkan emosinya sudah ikut mulai terpancing dengan ocehan Reyhan yang berlebihan.
“Terserah padamu lah, yang jelas aku tidak tertarik melihat Sanum, lagian aku sudah mempunyai istri yang lebih segala-galanya dibandingkan Sanum.”
Reyhan menyudahi makanya dan berjalan menuju meja kerjanya. begitu juga Zein, pergi meninggalkan ruangan Bos yang mulai arogan dan memandang rendah Sanum.
***
Seiring berjalannya waktu, Samum sudah mulai terbiasa selalu mendapatkan sikap kesal dan jutek dari Reyhan. Namun dia tetap bertahan demi Bu Sinta yang sangat tulus menyayangi nya.
“Aku tidak peduli lagi dengan sikap tuan muda Reyhan, yang penting Bu Sinta Sangat menyayangi ku.”
Sanum juga sudah belajar atau cara berbicara dengan sopan, dan juga mengikuti berbagai les kecantikan. Bu Sinta langsung mendatangkan penata rias wajah ternama untuk mengajari Sanum secara langsung. Sehingga dia cepat belajar dengan mudah.
“Sanum, kamu cepat sekali menguasai keterampilan ini. Meskipun baru beberapa kali kamu mengikuti les ini.”
“Iya nyonya, karena Sanum juga sangat menyukai hal ini.”
“Baguslah sayang.”
