Benci dan cinta, itu beda tipis
Seperti biasa, pagi ini semua berkumpul sarapan dimeja makan. atas permintaan nyonya Sinta, mulai sekarang Sanum harus ikut sarapan bareng, meskipun Sanum menolak dan lebih memilih bergabung dengan pelayan yang lain, yang sudah menjadi kebiasaan nya. Tapi Bu Sinta tidak mau menerima alasan penolakan Sanum itu.
“Jangan sungkan Sanum, duduk sini nak.”
Sanum duduk disebelah Bu Sinta. Namun dengan gerakan refleks, Sinta menarik tangan Sanum. Dan mendorong kursi agar Sanum duduk bersebelahan dengan Reyhan yang bersikap acuh.
Semula, Reyhan mengabaikan tidak menghiraukan penampilan serta wajah Sanum. Tanpa sadar dia menoleh, seketika dia terpana melihat kecantikan alami dan natural yang terpancar dari wajah Sanum sekarang. Serta penampilan nya yang semula terlihat kampungan, berangsur-angsur menjadi lebih menarik dengan make up yang sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih.
“Ternyata, gadis kecil ini benar-benar cantik, dan sangat imut sekali jika diperhatikan lebih lama, aaaagghhh... tidak....aku tidak boleh tergoda. Karena aku sudah menikah dan mempunyai istri yang bernama Fiona, sebentar lagi Fiona pasti akan kembali, hanya dia cintaku sekarang dan untuk selamanya, meskipun dia yang lebih mementingkan diri sendiri dan merawat kecantikan tubuhnya, tapi aku yakin suatu saat Fiona ku pasti berubah.” Gumam Reyhan yang kembali menyuap makanan melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda beberapa saat.
Reyhan mengelap mulutnya dengan tissue, meminum air putih hingga tinggal separuh. Setelah selesai, Reyhan langsung pamit pada mama, tanpa memperdulikan Sanum yang duduk disampingnya. Dia seakan-akan sengaja menjaga Jarak.
“Ma, Reyhan berangkat ke kantor dulu.”
“Kok buru-buru nak, ngak nunggu Zein datang dulu.”
“Ngak usah ma, Rey nyetir sendiri saja.”
“Okey, baiklah. Hati-hati dijalan ya nak.”
“Ya, ma.”
Sinta menatap punggung Reyhan, yang sudah menjauh menuju mobilnya yang terparkir dihalaman utama.
“Sanum, kamu harus sabar menghadapi sikap Reyhan yang seperti ini, semenjak menikah dan sering ditinggal Fiona, dia lebih gampang marah dan terkadang bersikap kasar, ternyata Fiona memiliki pengaruh yang begitu besar bagi perubahan sikap Reyhan sekarang.” Ucap Sinta menatap sedih mobil anak kesayangannya meluncur meninggalkan pekarangan rumah yang sangat luas ini.
“Iya Nyonya, ngak papa. Sanum ngerti kok.”
“Sanum sayang, mulai sekarang aku ingin kamu memangil ku dengan sebutan mama, seperti Reyhan.”
“Apa, maaf Nyonya. Bukan Sanum ngak mau, tapi bagaimana dengan Tuan Muda nantinya. Pasti dia keberatan." Tolak Sanum halus.
“Reyhan pasti tidak akan mempermasalahkan nya nak, aku menyayangi mu dan sudah mengganggap mu sebagai Putri kandungku sendiri. Apa kamu bersedia sayang.” Menatap lembut Sanum yang masih terlihat ragu.
“Sanum setuju sekali nyonya.”
“Mama.” Ulang Sinta
“Ya, Mama.”
Sanum menitikkan air mata ketika Bu Sinta membawa tubuh Sanum kedalam pelukannya. Dia terharu sekaligus merasa sangat bahagia, dapat merasakan pelukan lembut dan hangat nya seorang ibu. satu hal yang selalu dirindukan Sanum selama ini.
“Mulai sekarang dan seterusnya, panggil mama ya.”
“Iya Nyonya, Eh mama.” Ucap Sanum sambil menghapus air matanya.
Perlakukan baik Sinta, membuat hubungan mereka bertambah dekat. Sinta yang semula kesepian, karena suaminya yang tidak pernah kembali pulang. Lebih memilih istri mudanya, dari pada dia dan Reyhan. seakan terobati dengan kehadiran Sanum ditengah-tengah keluarga nya.
Siang ini, Sinta menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dipusat perbelanjaan, mengajak serta Sanum.
“Sanum, kamu pilih-pilih saja barang-barang yang kamu sukai ya.”
“Ngak usah ma, pakaian baru Sanum yang Mama beliin kemaren masih banyak, dan masih ada yang belum sempat dipakai.”
“Biar aja, yang penting sekarang kamu pilih barang yang kamu sukai.”
“Ba... Baiklah, ma.”
Sanum diberikannya kebebasan untuk memilih barang-barang yang disukai nya. Meski Sanum selalu menolak. Namun Sinta terus memaksa. Sehingga bagasi mobil Sinta penuh dengan belanjaan mereka berdua.
“Mama senang sekali, menghabiskan waktu dengan anak perempuan Mama yang cantik dan imut ini.” Mencubit pipi Sanum penuh sayang. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan pada menantunya Fiona Salsabila.
“Sanum, gedung perusahaan yang dipimpin oleh Reyhan tidak jauh dari sini Lo.” Ucap Sinta antusias.
“Gitu ya Ma.” Sanum bingung harus menjawab apa.
“Sayang, kita main kesana yuk. Sekalian ngantar makan siang buat dia. Sebentar mama pesan dulu.”
Sanum tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dan menurut. Meskipun sebenarnya dia malas dan enggan untuk bertemu dan melihat tampang jutek dan arogan Reyhan lagi setiap kali bertemu dengan dirinya.
“Bagaimana ini, aku malas banget untuk bertemu dengan tuan muda Reyhan, tapi gimanapun aku, juga merasa ngak enak untuk menolak ajakan Mama Sinta.” Sanum berusaha untuk menyembunyikan kegundahan hatinya dengan tetap senyum dan cerita dihadapan Mama Sinta.
“Sanum Sayang, kita kesana jalan aja ya, karena tidak terlalu jauh dari sini kok. Lihat gedungnya aja kelihatan dari sini.” Menunjuk kesalah satu gedung menjulang tinggi yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
Arah pandangan mata Sanum, mengikuti arah tunjuk mami Sinta, gadis cantik itu terpana melihat perusahaan besar dengan gedung menjulang tinggi itu. seakan tidak percaya jika dia akan Memasukinya.
“Ayo sayang.”
Mereka berjalan pelan, sambil menenteng Dua box makanan. Tidak perlu waktu lama. Mereka sudah memasuki lobby perusahaan yang luas membuat perasaan adem dan nyaman jika sudah berada didalamnya.
Nampak beberapa karyawan menyambut dan menyapa Mama Sinta, dan menatap heran pada Sanum. Mungkin mereka penasaran dengan dirinya. Mengingat Mama Sinta tidak memiliki anak perempuan, dan dia juga bukanlah menantunya Fiona yang cantik dan seksi.
“Sebentar sayang, Mama angkat telpon dulu.”
Sinta tiba-tiba berhenti, sambil mengangkat ponselnya. Dia terlihat sibuk dan seperti berdebat dengan sipenelpon. Sanum dengan setia menunggu nya sambil memegangi makan siang yang sengaja mereka bawa untuk Reyhan.
“Sanum sayang, mama barusan mendapatkan telpon. yang meminta Mama untuk segera kesana. tempnya tidak jauh dari sini kok nak. Kamu ngak papa kan mama tinggal dulu. bentar lagi Zein bakal datang menjemputmu ke lobby ini.”
“Tapi Ma....” ucapan Sanum langsung terputus, karena Mama Sinta langsung pergi begitu saja, mengabaikan panggilan Sanum yang masih kebingungan.
Samum mulai resah, melihat kiri kanan tidak satupun orang yang dikenalnya. sementara dia sendiri tidak mengetahui letak ruangan Reyhan.
Sebuah tangan menyentuh bahu Sanum dari arah belakang, sontak membuat gadis belia itu terlonjak kaget sambil mengusap dadanya. hampir saja Sanum berteriak jika tidak segera menguasai kondisi dan keadaan nya saat ini.
“Mas Zein, ngagetin aja tau.” Ucap Sanum.
“Habis gayamu itu seperti maling, celingak-celinguk kiri dan kanan. Emang yariiin apaan sih...uangmu jatuh satu lembar ya...” goda Zein sambil tertawa-tawa.
Samum tidak menjawab, namun muka nya sudah memerah. Karena selalu dibecandai oleh Zein.
