Gadis unik
Sanum mengolesi pipinya dengan bedak tipis, begitu juga dengan lipstik, dia kurang menyukai dandan jika terlalu menor. Sehingga dia terlihat begitu cantik dan natural, Reyhan bukannya tidak mengetahui perubahan penampilan Sanum, namun dia memilih mengabaikan nya. Karena menurut Rey, Sanum masih remaja dan bukan tipe gadis yang termasuk kategori Wanita idaman nya. Apa lagi dengan bentuk tubuh Sanum yang masih tahap perkembangan, yang sangat jauh dari kata montok apalagi seksi.
“Tidak ada yang menarik dari gadis ini, mudah-mudahan saja Mama tidak memilih dirinya untuk aku nikahi secara siri. Melihat bodinya yang datar aku sama sekali tidak bergairah. Apalagi sampai harus membuatnya hamil, aku ragu jika adik kecilku ini akan terbangun melihat tubuhnya.” Gumam Reyhan dalam hatinya, dia sangat yakin tidak akan tertarik melihat Sanum, Reyhan angkuh berlalu dari hadapan Sanum yang tengah melintasinya ingin pergi kedapur membantu Bi Ratna.
“Degkh.....degkh.... kenapa jantungku selalu berpacu dan berdetak secara tidak normal, jika sedang berhadapan dengan tuan muda, apalagi tatapan nya yang seolah-olah seperti seekor macan yang ingin menerkam ku hidup-hidup.” Sanum mengusap dadanya, dia kembali tenang setelah Reyhan pergi menuju kamar nya sendiri.
**
Pagi yang cerah ini, Sanum langsung membersihkan tubuhnya, berjalan keluar menuju dapur. Sudah menjadi kebiasaan Sanum, setiap pagi membantu Bi Ratna menyiapkan menu sarapan pagi.
“Bi, aku siapin sarapan dimeja dulu ya.”
“Ya Sanum, hati-hati masih panas Lho.”
“Ya bi.”
Sanum mulai membawa dan menaruh pelan-pelan makanan dimeja makan.
“Ya, sudah beres semuanya.”
Saat Sanum hendak berbalik, bertepatan dengan Reyhan yang berjalan agak tergesa-gesa, hampir saja menabrak tubuh Sanum dari arah belakang. Karena dia terburu-buru ingin minum air putih, sehabis lari Pagi keliling komplek perumahan elite miliknya.
“Bisa jalan ngak sih, main nyelonong aja?” Terdengar Suara nya yang sedikit keras, membuat Sanum terlonjak karena kaget.
“Maaf Tuan muda, aku tidak mengetahui jika Anda berada dibelakang ku barusan.” Menunduk hormat dan sedikit ketakutan, Sanum berlalu menuju dapur kembali.
“Hey tunggu, kenapa kamu lari sambil menundukan wajahmu, dan tatap aku jika sedang berbicar. kamu pikir aku atau Monster yang menakutkan.” Reyhan semakin kesal, ditambah akhir-akhir ini emosinya tidak stabil, karena kepergian Fiona.
“Ma..maf Tuan muda.”
Samum perlahan mengangkat wajahnya, dan menatap wajah Reyhan, yang terlihat begitu tampan. Sanum langsung terpana dan terpesona pada anak majikannya itu, meskipun Reyhan selalu bersikap angkuh dan cuek padanya.
“Ya Tuhan, Benar-benar tampan banget Tuan muda Rey. Astaghfirullah ada apa dengan ku, sadar...sadar...lah Sanum, sadar lah dari mimpi mu ini, dia itu suami orang. Bahkan berubah jadi Cinderella pun, Tuan muda Reyhan tidak akan pernah mau dengan gadis miskin seperti mu, apa lagi untuk sekedar melirik mu, karena dia begitu mencintai mbak Fiona yang sangat cantik dan seksi, dibandingkan Upik abu seperti dirimu ini.” Gumam Sanum tersenyum hambar merugikan dirinya uang mulai terpesona pada Rayhan.
“Hey, kenapa kamu senyum dan Kembali melamun, bertingkah aneh, apa selama hidup mu belum pernah melihat pria tampan sepertiku.” Bentak Reyhan, mengingat Sanum bekerja dirumah nya baru hitungan bulan, selepas kepergian bi yam. Dan mereka juga jarang sekali bertemu.
“Benar sekali Tuan, anda sangat mirip dengan artis idolaku.” Ucap Sanum meluncur begitu saja, seketika Sanum menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
“Apa? Jadi jangan mentang-mentang aku mirip dengan idolamu, kamu bebas menatap dan mengagumi ketampanan ku ini. Ingat aku sudah punya istri. Dan kamu bukan tipe ku.”
“Maaf Tuan muda, aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Kesini kamu.” Perintah Rey sambil berjalan menuju sofa, dia membatalkan niatnya yang semula ingin masuk Kekamar untuk mandi.
“Saya Tuan.” Sanum menunjuk dirinya sendiri.
“Sapa lagiiiiii......”
Reyhan benar-benar dibuat kesal, dia yang semula gerah sekarang terlihat bertambah kesal, sangat terlihat dari ekspresi wajahnya yang ditekuk.
“Apanya yang lucu, kamu sengaja ya meledekku.” Rey berdiri dari duduknya. Moodnya benar-benar dibuat buruk oleh pelayan kesayangan mamanya itu.
Sanum duduk dibawah sofa sambil bersimpuh, dia malu duduk dan berdekatan dengan jarak yang begitu dekat dengan Reyhan, yang begitu terlihat sangat menggoda dengan pakaian yang sedikit basah habis lari pagi maraton. Samum memilih menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya dan sesekali merapikan rambut panjang bergelombang nya.
“Duduk disofa, gaya dudukmu itu membuatku bergidik ngeri. Kamu tidak ubahnya seperti suster ngesot. Yang kehilangan sisir. Ditambah lagi menundukkan kepalamu dalam-dalam seperti hendak tiduran dilantai ini ”
Bentak Reyhan dengan nada suara yang benar kesal, yang membuat Sanum langsung melompat duduk disampingnya sambil mengatupkan tangan ketakutan.
“Tuan aku takut, mana suster keramas nya?” Sanum mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. dengan bibir bergetar.
“Bukan keramas, tapi ngesot.”
“I..Iya, tapi mana?” Sanum mengedarkan pandangannya.
“Ini.” Tunjuk Reyhan tepat dijidad Sanum.
“Eeehh, ini saya sendiri, Tuan..” Nyengir seperti tidak memiliki dosa dan kesalahan.
“Ya, memang kamulah hantu nya. Kamu bersyukur bisa tinggal dan diperlukan istimewa oleh Mamaku dirumah ini, dibandingkan dengan pelayan Kami yang lainnya, mengingat kamu itu cucunya Biyam, jadi pandai-pandailah menempatkan diri mu dirumkahku ini.”
“Ya, Tuan” Ucap Sanum.
“Syukurlah, ternyata kalian semakin akrab sekarang dan terlihat cocok banget, mama senang banget melihat nya.” Mama Sinta dan Zein tiba-tiba muncul, Mama langsung menuju kamarnya, sedangkan Zein dengan santai nya duduk dimeja sarapan.
“Apa-apaan sih ma, bikin kesal malah.”
“Reyhan, kamu Jangan seperti ini ya, Sanum itu gadis kecil yang pernah main denganmu dulu. Sewaktu Biyam sering mengajaknya datang kerumah ini, ramah dan lembut dikit bisa Nggak sih, dia hanya punya kita.” terang Mama.
Reyhan terdiam, dia juga heran dengan sikapnya yang terus kesal setiap melihat Sanum. dia menatap lekat wajah Sanum yang masih menundukkan kepalanya, pikiran Rey kembali menerawang pada masa beberapa tahun silam. Saat itu Sanum masih kecil.
Bola matanya yang bulat serta senyumnya yang sangat manis. membuat Reyhan saat itu, sangat suka menatap bahkan dia sering bermain dengan gadis kecil itu. meskipun saat itu umur Reyhan sudah beranjak remaja. Mama melanjutkan langkah kakinya berlalu pergi menuju kamarnya. Reyhan merasa moodnya sudah memburuk pagi ini.
Sanum mempunyai kesepakatan untuk segera kabur, dia berjalan cepat menuju dapur, gadis remaja itu mengusap dadanya menghadapi sikap dingin dan angkuh anak majikan nya yang sekarang lebih sering berada dirumah besar dan mewah ini semenjak kepergian istrinya Fiona.
“Pagi Bos, kenapa wajah tampan bis ditekuk seperti ini...”
“Tumben kamu berkunjung ke rumahku pagi-pagi begini, mau numpang sarapan lagi ya?"
