Dikerjain mama dan Zein
“Duh perhatian bangetz ya sama calon suami.” Zein kembali menggodanya.
“Calon suami, maksud mas Zein apaan sih?” Tanya Sanum heran.
“Sudah...sudah ngak usah dibahas lagi, yuk sekarang kita menuju ruangan kerja Bos Besar kita.” Mengajak Sanum memasuki sebuah lift khusus CEO.
Detak jantung Sanum, sudah tidak terasa normal lagi. tangannya terasa dingin sesekali dia menatap kebawah. sambil memikirkan apa tanggapan Reyhan nanti, begitu melihat kedatangan dirinya.
Lift berhenti, Zein mengajak Sanum keluar dan mengikuti langkah kaki pria tersebut.
“Ayo Sanum, ruangan kerja Bos Reyhan sebelah sana.”
Detak jantung Sanum semakin berpacu, seiring dengan langkah kakinya yang gemetaran. antara cemas dan senang melihat wajah Reyhan yang tampan meskipun jutek. Reyhan telah membuat Sanum jatuh Cinta pada pandangan pertama. tapi dia kembali berusaha menyingkirkan perasaan nya yang salah, mengingat siapa dirinya, dan status Reyhan yang merupakan suami orang.
“Sanum, inilah ruangan bos Reyhan.”
Sanum mundur beberapa langkah, dia berdiri agak menjauh dibelangkang Zein, yang sedang mengetuk pintu masuk.
“Silahkan masuk.” Terdengar sahutan dari dalam.
“Ayo Sanum, kita masuk.”
“I...Iya mas.”
Menjawab dengan gugup, tangan dan kaki Sanum terasa bergetar ketika menginjakkan kakinya memasuki ruangan tersebut.
Reyhan yang tengah sibuk memeriksa beberapa file di mejanya, Langsung berhenti. Begitu mengetahui kedatangan Sanum kekantor nya.
Zein yang semula ikut masuk keruangan itu, mundur pelan-pelan dan langsung pergi keluar dari ruangan. sambil menutup pintu secara pelan agar Reyhan dan Sanum tidak menyadari jika dia sudah tidak berada diruangan itu lagi.
“Kamu?”
Reyhan menatap lekat wajah Sanum yang terlihat gugup dan grogi, entah magnet apa yang membuat Reyhan begitu menyukai wajah polos dan tingkah Sanum yang seperti ini. Apalagi matanya yang bulat. Seperti mata kucing jalanan yang meminta untuk dikasihani. Seakan itulah daya tarik yang membuat nya begitu menikmati memandang wajah Sanum. Reyhan juga merasa ikut grogi, mengingat sekarang tinggal mereka berdua saja diruangan kerja yang luas dan mewah ini.
“Mmmmm’hh” Reyhan berdehem untuk menghilangkan suasana canggung. Dia berdiri, sambil mengayunkan langkah santai mendekati Sanum.
“Apa yang kamu pegang itu?”
Reyhan menunjuk box makanan yang masih dipegang Sanum dengan tangan gemetar.
“Ini makan siang Tuan, tadi mama sengaja memesan makanan ini, dan meminta ku untuk mengantarnya untuk Tuan.” Menunduk takut.
“Ooo, sudah aku duga. Pasti mama yang mengatur dan merencanakan semua ini. Tapi kamu panggil apa barusan. Mama?” Menatap mata Sanum.
“Panggil apa Tuan?”
“Memangil orang tuaku dengan sebutan Mama, siapa yang memberikan mu izin.” Bentak Reyhan.
“Ini permintaan Bu Sinta sendiri, Tuan. Aku tidak berani menolak nya, mengingat dia sangat baik terhadapku dan juga keluarga ku selama ini.”
“Atas dasar apa?” Reyhan masih belum merasa puas, mendengar penjelasan dari Sanum.
“Mama, dia sudah menganggap ku sebagai Putri nya sendiri. Dan meminta ku memanggilnya dengan sebutan itu.” meremas jemarinya yang tersa dingin.
“Dan kamu mau saja.?” Tanya Reyhan mulai kesal.
“Maaf Tuan, saya tidak berani menolak. Karena Bu Sinta begitu baik padaku dan nenek.” Ulang Sanum.
Reyhan kembali melunak, saat Sanum mengatakan nenek. bagaimana pun juga dia sangat menyayangi Bi Yam. Wanita yang penuh kasih sayang merawat dan membesarkannya. Meskipun dia hanya seorang pengasuh.
“Baiklah, aku terima alasan mu itu.” Reyhan berjalan menuju sofa. Duduk sambil menyilangkan kakinya.
“Apa kamu akan terus berdiri seperti patung?” melihat Sanum masih berdiri di tempat semula.
Sanum pun melangkah mendekati Reyhan, lalu meletakkan box makanan tersebut diatas meja dan duduk disofa yang satu lagi.
Reyhan yang kebetulan belum makan siang, langsung membuka nya dengan antusias. mengingat makanan itu kesukaannya.
“Cepat buka makanan mu,” memberikan bok satu lagi pada Sanum.
“Maaf Tuan, saya sudah kenyang.” mencoba menolak, mengingat saat ini Sanum merasa perutnya benar-benar kekenyangan.
“Jadi untuk apa kamu bawa dua box makanan ini, kamu mau membuat tubuhku yang sispec ini berubah menjadi gendut.” Meninggikan nada suara.
“Tidak Tuan aku tidak berniat seperti itu,"
Sanum menggelengkan kepalanya. dengan wajah polos seperti tanpa dosa. membuat Reyhan terpana sesaat melihat wajah imut dan menggemaskan itu, dengan kedua lesung pipi yang sangat manis.
“Kalau begitu, buka makanan itu, lalu makan bagian mu sampai habis .” Perintah Reyhan. mencoba mengendalikan debaran jantung yang mulai berdetak secara tidak normal.
“Ba...baik” Sanum membuka bagian nya, dan mulai menyendok secara perlahan.
“Kamu kenapa tidak bersemangat seperti itu, apa makanannya tidak enak.?” Tanya Reyhan lagi yang hampir membuat sendok yang dipegang Sanum jatuh ke lantai.
“E...enak sekali Tuan.” Mulai memakan dengan lahap, karena Sanum tidak ingin Reyhan kembali salah paham.
Setelah selesai makan, Sanum kembali resah dan gelisah mengingat mereka cukup lama berduaan. Sementara mama Sinta belum juga kembali. meskipun semula dia berkata hanya sebentar saja.
Samum sesekali memperhatikan layar monitor ponselnya, dia ingin menghubungi mama Sinta. Namun keberanian nya hilang. mengingat siapa dirinya. meskipun dia dan mama Sinta sudah cukup dekat satu sama lain.
“Kucing kecil, apa yang sedang kamu pikirkan.?” Reyhan mulai membuka diri dan mengajaknya ngobrol.
“Kucing, maksud Tuan saya.” Sanum menunjuk dirinya.
“Iya, siapa lagi. Memangnya ada orang lain selain kita berdua disini.” nada suara Reyhan kembali berubah datar.
“Tuan anda benar-benar keterlaluan, kemaren dia mengatakan jika aku seperti suster ngesot kehilangan sisir, sekarang seenaknya memanggilku dengan sebutan kucing.” Gumam Sanum perang bathin dengan perasaan nya sendiri.
“Kenapa kamu menatap ku seperti itu, tidak terima dengan panggilan baru dariku, atau bahkan kamu terlalu menyukainya?”
“Nama saya, Sanum Salvana Kinari. Tuan bisa panggil dengan sebutan Sanum. bukan Kucing.” Sanum terlihat kesal mengingat nama yang sangat dibanggakan nya telah diganti sesuka hati. Padahal kedua orang tuanya mengundang orang-orang sekampung, saat proses pemberian namanya dulu.
“Tapi aku lebih suka memanggilmu kucing kecil.” Menjawab acuh, tanpa memperdulikan penjelasan Sanum barusan.
“Baiklah, jika Tuan memanggilku dengan sebutan itu. Jadi aku bisa juga menganti panggilan Tuan, dengan sebutan buaya atau buaya darat.” Sanum kemudian menutup mulutnya, menyesali kekencangan dan keberanian nya yang muncul secara tiba-tiba, ditambah lagi tatapan mata Reyhan yang tajam. Membuat Sanum seketika menunduk.
“Apa alasan mu memberikan aku seorang laki-laki tampan, mapan ini dengan Julukan buaya?”
“Karena.... karena buaya binatang yang setia Tuan. Tapi selama dia hidup di darat.” Menjawab asal.
“Kalau dia hidup di air?” Reyhan tidak puas dengan jawaban Sanum.
“Kalau sudah di air, namanya sudah berubah Tuan. Bukan buaya darat lagi. Tapi buaya air. Dan mungkin jadi dia juga mempunyai pasangan yang lain di dalam air itu.” secara tidak sadar, Sanum mengeluarkan sifatnya yang ceria dan asal bicara. tanpa Sanum duga membuat Reyhan tertawa lepas, dia merasa lucu mendengar penuturan Sanum.
“Kalau Tuan, apa alasannya memberikan aku julukan kucing kecil?” Sanum balik bertanya.
“Aku memberikan julukan itu, karena bola matamu yang bulat dan hitam. Seperti bola mata kucing jalanan, sehingga timbul niat dihatiku untuk merawat dan melindungi mu.” Tutur Reyhan mulai jujur lalu mengungkap apa yang dirasakannya.
