Nguping
Meskipun Sanum merasa tidak puas dengan alasan Reyhan, namun Sanum secara tidak langsung menerima alasan Tuan muda nya tersebut. Mengingat kehidupan nya selama ini tergantung pada keluarga Bu Sinta. Meskipun nenek bekerja dengan nya. Tapi tidak akan sebanding. Bahkan biaya berobat dan perawatan kedua
orang tuanya dulu ditanggung keluarga Reyhan, sampai pendidikan nya sekarang.
“Apa kamu masih keberatan dengan julukan ku itu?”
“Tidak Tuan, aku suka kok karena Tuan berkata jujur. Aku... aku, memang ibaratkan kucing kecil yang selama ini tergantung pada kebaikan keluarga Tuan." jawaban Sanum membuat Reyhan ikut tercekat, timbul rasa bersalah dan rasa kasihan menatap Sanum.
“Maaf, aku tidak bermaksud berbicara seperti ini.”
Sanum tersenyum manis, tanpa mereka sadari, suasana yang semula kaku dan dingin. sudah mencair dan hangat. Bahkan secara tidak langsung kedekatan mereka berdua sudah mulai terjalin.
Diluar ruangan Presdir itu, Mama Sinta dan Zein saling menguping pembicaraan mereka berdua, Karena kurang jelas Sinta mendorong tubuh Zein yang ikutan kepo. Sehingga pintu yang tidak terkunci itu terbuka lebar. Refleks Zein yang semula didorong langsung jatuh kelantai diikuti Mama Sinta dari belakang. yang menimpa tubuh Zein yang kurus tinggi itu.
“Brugghhh, brugghhh.....,,
“Aduuuh... Tante, tulang-tulang ku ini bisa patah dan hancur.” Rengek Zein.
Hal ini membuat Reyhan dan Sanum sontak menoleh kearah asal suara. Mereka berdua terlonjak kaget. dan berjalan menghampiri Mama Sinta dan Zein yang langsung nyengir kuda.
“Mama dan kamu Zein, pada ngapain sih.” Reyhan melangkah sambil berkacak pinggang.
“Aku....aku. Cuma mau ngantar Nyonya besar, keruangan ini saja Bos.” Zein mencoba mencari-cari alasan, sambil meringis mengusap-usap punggung nya.
“Be...betul sekali nak.” Mama ikutan bersuara.
“Tumben sekali kamu mengantar mama keruangan kerja ku, biasanya mama datang dan nyelonong masuk gitu aja.” Ucap Reyhan yang sangat mengetahui sekali. Jika dua orang ini sedang menguping pembicaraan nya dengan Sanum barusan.
“Tadi Tante Sinta, tiba-tiba amnesia dadakan. sehingga lupa ruangan Bos, bahkan sebelum kesini. Tante Sinta bahkan hampir nyasar masuk toilet pria. Karena menyangka itu ruangan kerja Bos yang baru.” Tutur Zein yang langsung mendapatkan plototan tajam dari Sinta dan menimpuk nya dengan tas.
“Pintar sekali kamu mengarang cerita ya.” Sinta menjewer telinga Zein.
“Ampun....ampun Tante, sakiiitt.” Sehingga Sinta melepaskan kembali.
“Kelihatannya, kalian berdua sudah akrab, mama senang sekali jika anak dan calon menantuku ini mulai akur seperti ini.” Pura-pura keceplosan.
“Mama, apa-apaan sih, jangan asal bicara.” Reyhan terlihat kesal.
“Maaf sayang, Mama suka keceplosan. Maksudnya Kedua anak kesayangan mama.” Mengusap bahu Reyhan.
Samum lebih memilih diam, karena merasa tidak enak melihat tatapan Reyhan yang kembali berubah menatapnya.
“Reyhan anakku sayang, berhubung jam pulang kantor sudah selesai. Kita pulang bareng ya nak.” Bujuk Mama.
“Baik Ma”
Reyhan tidak ingin membuat mamanya kecewa khusus nya hari ini, Mengingat papanya saat ini tengah mengadakan syukuran atas kelahiran anaknya bersama istri mudanya. yang sekarang bahkan sempat diliput media segala.
Reyhan berfikir jika saat ini Mama pasti belum mendengar dan melihat berita itu dimedia. Karena Sekarang wajah Mama terlihat biasa-biasa saja dan sangat ceria seperti tanpa beban.
Sampai di mobil, mama sengaja menyuruh Sanum duduk didepan bersama Reyhan. Mama memilih duduk sendiri di jok dibelakang. Sinta berharap kedekatan putra nya Reyhan dan Sanum semakin bertambah, sering berjalan nya waktu.
Sementara Zein, harus lembur untuk hari itu. Karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk. Meskipun kesal tapi Zein bisa berbuat apa. dia hanya pasrah dan menerima dengan ikhlas nasibnya sebagai asisten pribadi Bos perusahaan besar yang sudah banyak membantu kehidupan nya selama ini.
Gemerlap cahaya lampu jalanan yang menerangi pusat perkotaan ini, menambah keindahan suasana hati Sanum, dia tersenyum senang dan puas jalan-jalan bersama Mama Sinta dan juga Reyhan hari ini. mengingat selama ini Sanum hanya menghabiskan waktu dengan dirumah saja belajar dan membantu pekerjaan rumah hu Sinta.
“Sanum, kamu udah lapar ya sayang?”
“Be...belum ma.”
“Sekarang udah malam nak, Atau gimana kalau sekarang kita makan malam diluar, mama bosan makan dirumah terus.” Pinta Mama sambil melirik Reyhan yang fokus mengemudi mobilnya.
“Baiklah mama.” Melajukan mobilnya menuju rumah makan Jepang, Restoran faforite kesukaan mama, mereka bertiga melangkah masuk menuju meja yang sudah disediakan khusus bagi pengunjung VVIP.
“Sanum sayang, kamu makan yang banyak ya, biar tubuhmu terlihat lebih berisi dan tambah cantik.” Sinta sangat perhatian pada Sanum.
Reyhan tersenyum menyaksikan perubahan sikap mama, semenjak kehadiran Sanum. Mama sudah sering tersenyum dan tertawa lagi, bahkan dia sudah kembali dandan dan shoping, yang merupakan hobi dan kebiasaannya. mama juga berubah cerewet dan ceria. Reyhan seperti sudah menemukan kembali sifat mamanya yang dulu.
Meskipun, Reyhan sempat berpikir jika Mama tidak pernah memperlakukan hal yang sama seperti ini pada istrinya Fiona, meskipun Fiona sudah sering mencoba untuk mengambil hati mertuanya, bahkan mengajak shoping agar bisa lebih dekat dengan Mama mertuanya itu.v tapi Mama selalu menolak dengan berbagai alasan yang terkesan tidak masuk akal.
Semenjak suaminya ketahuan selingkuh, bahkan menikah dengan sekretarisnya. Mama Sinta berubah murung dan selalu bersedih. Keceriaan hilang. Sehingga Reyhan tambah membenci papanya. Bahkan merebut beberapa aset kekayaan keluarga dan perusahaan induk. Hampir dikatakan Reyhan memenangkan semua itu. Namun tidak membuat dia merasa puas. Karena sang mamanya berubah sedih dan terluka atas sikap suaminya itu.
Ini juga alasan utama Reyhan, yang semula menolak keras ketika Mama meminta dia untuk menikah lagi, dia tidak ingin menyakiti Fiona, sama seperti papa yang sudah menyakiti sang mama, namun disisi lain dia juga ingin membahagiakan mamanya dengan hadirnya seorang cucu, dimana Fiona tidak pernah mau mengabulkan keinginan terbesar mama, dan juga Reyhan sendiri. meskipun sudah masuk tahun ketiga pernikahan mereka.
“Ma, Reyhan sangat senang melihat perubahan sikap mama sekarang.“ Reyhan menggenggam erat tangan mamanya.
“Ini semua berkat kehadiran Sanum ditengah-tengah keluarga kita, bahkan sekarang mama sudah tidak bersedih lagi dan tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan oleh papamu diluaran sana, rasa sepi dan sedih Mama sudah terobati dengan kehadiran Sanum, nak .” tersenyum meyakinkan Reyhan.
“Jadi mama mengetahui berita tentang papa yang sekarang?”
“Tentu saja nak, karena keluarga kita bukanlah orang sembarangan.” terang Mama terlihat tanpa beban lagi.
“Terima kasih Sanum, kehadiran mu membawa perubahan besar pada Mama, meski semula aku bersikap kasar dan jutek padamu.” ucap Reyhan sambil menatap lembut wajah Sanum.
“Ya Tuan muda, aku ikhlas menyayangi Mama yang sudah seperti ibu kandungku sendiri, bahkan aku mersa sangat beruntung dipertemukan dengan Mama.” Membalas tatapan dan senyuman Reyhan, yang kembali seketika berubah jutek.
