Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rencana Devan

"Sayang, kamu bisa transferin Abang uang lagi nggak?" bujuk Devan yang ingin bersenang-senang di klub bareng Rangga dan Rama.

"Kan udah Berli transfer tadi pagi, Bang. bukannya tidak mau, tapi Berli takut ketahuan papa."

"Uang yang itu sudah habis dek, malam ini Abang butuh banget teman Abang ada yang kecelakaan, kasihan dia tidak punya sanak famili di kita ini." Devan mencari-cari alasan.

"Baiklah bang, tunggu bentar ya bang."

Tidak lama sebuah notifikasi Mbanking masuk ke hp Devan, dia tersenyum seraya memperlihatkan dengan bangga dihadapan teman-temannya.

"Malam ini, aku kembali menerima uang dari Berliana, gadis itu menurut ku benar-benar bodoh dan lugu. Dia tidak pernah menolak jika aku meminta dibelikan ini dan itu, termasuk sejumlah uang ha..ha..." Devan tertawa puas dan merasa bangga.

“Ini kesempatan yang tidak boleh kamu sia-siakan, Devan. sikat terus selagi ada kesempatan. anak pengusaha kaya itu harus kamu manfaatkan." bujuk Rangga.

"Kamu benar, dengan begini aku tidak perlu lagi hutang sana sini, dia ibarat mesin pencetak uang bagiku, berapapun aku inginkan dia akan memberikan nya. Mudah sekali hidup ku.” Devan mengibaskan uang pemberian Berli pada teman-temannya.

"Berarti malam ini kamu yang traktir kita-kita ya!"

"Boleh, kalian silahkan minum-minum sepuasnya."

"Thanks ya bro."

Tepat satu bulan hubungan asmara mereka, Devan membulat kan tekadnya untuk melamar Berliana. dia sudah memikirkan hal ini dari semalam, bahkan kedua orang tuanya sangat mendukung keinginan Devan tersebut.

“Berliana, Abang mau ngomong serius dengan mu.”

“Ngomomgin apa bang?”

“Abang tidak bisa jauh lagi darimu. Berliana, abang... Abang ingin.” Devan diam dia bingung untuk melanjutkan kata-katanya.

“Ingin apa bang?”

“Abang ingin melamarmu untuk jadi istri Abang.”

“Apa? Benarkah Abang mau melamar Berliana?”

Mata gadis itu langsung berbinar-binar bahagia, bahkan tubuh besarnya langsung menghambur maju memeluk tubuh Devan . hingga pria itu oleng kebelakang.

“Berliana bahagia banget bang, rasanya Berli ingin berteriak sekencang-kencangnya."

“Untuk apa beteriak?”

“Berli ingin memberitahu pada dunia, jika Berli begitu bahagia menerima lamaran Abang.” Mereka kembali berpelukan erat.

"Berlina, bagaimana dengan kedua orang tua mu. apa mereka merestui hubungan kita?" Devan mulai bimbang.

"Jika ke-dua orang tua Berli tidak merestui kita, Berli siap kabur dari rumah, agar kita bisa kawin lari bang." ucap Berliana semangat.

"Jangan!"

"Kenapa bang?"

"Kamu tahu sendiri jika Abang tidak punya apa-apa, kamu pasti menderita nantinya jika tidak ada orang tua."

"Tidak masalah bang, Berli sangat siap. sudah senang akan kita hadapi berdua." Berliana semakin mantap.

"Sayang, sebaiknya kita coba dulu ngomong baik-baik pada kedua orang tuamu, sapa tahu mereka merestui kita untuk menikah." ucap Devan.

"Iya juga Bang."

"Sialan ni cewek, kagak peka jika aku cuma ngincar hartanya doang. jika tidak aku ngak bakalan sudi nikah bersamanya." bathin Devan.

Saat berkumpul dengan kedua orang tuanya, Berliana pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memberitahukan dan berterus-terang. Jika dia dan Devan sudah menjalin hubungan.

“Kamu yakin jika tidak salah pilih Berli?” tanya Hendrawan memastikan.

“Tidak pa, kami sudah beberapa bulan ini pacaran. Bang Devan serius dengan ucapannya, bahkan dia sudah berencana akan meminang Berliana untuk menjadi istrinya." Jelas Berliana tersenyum bahagia.

“Berliana, Devan itu bukan laki-laki baik. Papa tidak ingin dia memanfaatkan kepolosan mu saja, nak.”

“Tidak pa, dia tulus mencintai ku.”

“Sadarlah nak, kamu sudah dibutakan oleh cinta. papa sangat mengenal siapa Devan yang sesungguhnya. Bahkan dia berandalan dan pengganguran yang suka berjudi dan main perempuan. dia hanya menginginkan harta kekayaan kita saja."

“Pa itu tidak benar, Berliana sangat mengenal siapa bang Devan. dia tidak mungkin seperti itu.” Berliana begitu yakin dengan perasaannya sehingga dia tidak bisa melihat kenyataan didepan matanya.

Pertengkaran Berliana dan papanya terus berlanjut, Berliana begitu sedih. Ditambah lagi dengan mamanya yang lebih membela keputusan suaminya dari pada perpihak pada anak semata wayangnya.

“Berliana, besok kamu akan papa kirim kuliah ke Jerman. Tinggal disana bersama Tante mu, Fiona.”

“Berli ngak mau pa, Berli tidak bisa meninggalkan bang. Devan. papa tidak boleh memisahkan cinta kami berdua hick..hick.."

"Pokoknya kamu harus pergi, kamu harus papa jauhi dari laki-laki bresengsek itu."

“Pa, Berli sangat mencintai bang Devan, Berli tidak ingin berpisah darinya.” menangis memohon pada papanya.

“Berli, Mama tidak ingin dia menyakitimu dan hanya memanfaatmu nak.” mama Berli terus meyakinkan anak semata wayangnya.

“Tidak ma, bang Devan sudah berjanji jika dia akan berubah. Ma tolongin bujuk papa biar merestui hubungan kami...hu...hu...” tangis Berli yang memeluk erat tubuh sang Mama.

“Berliana sayang, kamu jangan seperti ini nak. Sebaiknya kita ikuti dulu perkataan papa.” Bujuk mama.

“Tapi Berli hanya mencintai bang Devan,”

“Iya sayang, Mama ngerti. Nanti kita cari waktu yang tepat buat bujukin papa.” Ucap mama membelai satang rambut bergelombang putrinya.

"Berliana, Jika kamu masih bersikeras seperti ini, terpaksa papa bertindak tegas pada Devan dan keluarga nya." ancaman Hendarso mampu membuat Berliana terdiam, dia tidak ingin papanya memanfaaatkan kekuasaannya untuk memecat ayah Devan di pabrik tempatnya bekerja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel