Keluar negeri
Beriana hanya bisa Menangis, dia tidak bisa membantah lagi, mengingat keputusan papanya yang sudah bulat. Bahkan papa tidak menghiraukan suara tangisan nya
"Baiklah, Berli akan ikuti permintaan papa."
Mau tidak mau, Berli terpaksa menuruti perintah papanya, sepanjang perjalanan menuju bandara yang dilalui penuh dengan derai air mata Berliana yang tidak mau berhenti menagis.
“Sudah nak, jangan menangis lagi. Semoga kamu betah ya di Jerman. Disana juga ada Arya kakak sepupu mu. Semoga kalian berdua bisa dekat nantinya.” Bujuk mama.
Disaat keberangkatan nya keluar negeri Berli ingin sekali melihat Devan dan memeluk kaki-laki yang dicintainya itu untuk terakhir kalinya, namun sosok Devan tidak pernah muncul, meskipun hanya sekedar melepasnya dari jarak jauh.
“Berli jangan harap, laki-laki itu akan muncul menyusulmu kesini. Karena dia tidak mencintaimu nak, melainkan harta kita.” Ucap papa yang bisa membaca kegelisahan Berli.
“Bang Devan tidak seperti itu pa, mungkin dia lagi sibuk.” Berli tidak rela mendengar papa menjelek-jelekkan Devan yang menurutnya sangat baik dan mencintainya.
Harapan Berliana untuk melihat Devan hanya tinggal keinginan saja, laki-laki itu sama sekali tidak muncul. Bahkan Berliana saat itu ingin Devan datang dan mengajak nya untuk kabur, jika perlu mereka kawin lari, sesuatu yang mustahil diharapkan Berli, mengingat Devan yang hanya mencintai uangnya saja.
"Hati-hati disana, jangan lupa jaga kesehatanmu dan sering-sering hubungi kami. jangan mikirin Devan Mulu karena itu hanya buang-buang waktu mu saja." pesan mama ketika sudah sampai di bandara.
"Iya, mama, papa Berli pergi dulu."
"Ya sayang."
Pesawat mulai mengudara, air mata Berliana terus mengalir membasahi wajahnya, bahkan Berliana sempat ketiduran dengan genangan air mata yang masih membasahi pelupuk matanya yang sembab karena kebanyakan menagis.
Tanpa terasa perjalanan jauh sudah dia lewati, dengan langkah gontai Berliana berjalan keluar, dari kejauhan nampak tante Fiona dan anaknya Arya datang menjemput Berliana, senyum hangat mengembang di bibir mereka.
"Tante Viona."
"Kak Arya."
“Berli sayang, Tante merindukan mu.” Mereka berpelukan erat saling melepas rindu.
“Halo Berliana adikku yang manis.” Arya menjewer pipi tembem Berliana yang selalu membuatnya games.
“Sakiiit kak.”
Mereka bertiga tertawa lepas menuju mobil, suasana kota yang indah tidak sedikitpun menarik perhatian Berliana untuk menikmatinya, sesekali dia mengusap air mata seiring mobil yang meluncur kencang menuju kediaman keluarga Tante Fiona.
Hari-hari terasa hampa dilalui Berliana selama berada diluar negeri, dia tidak pernah tenang. Pikiran nya selalu tertuju kepada Devan yang selalu menghubungi nya. Meskipun ujung-ujungnya minta dikirimkan uang oleh Berliana lagi dengan berbagai alasan yang dia kemukakan.
“Sayangku Berliana, Abang begitu merindukan mu. Sehingga Abang mengurung diri dikamar.” Ucap Devan berakting menelpon Berli yang begitu senang menerima panggilan darinya.
“Ya bang, Berli juga merindukanmu.” Ucap Berliana mengusap air matanya.
“Sayang, Rangga ngajak Abang keluar, biar tidak sedih terus mikirin kamu dirumah. Tapi uang Abang tidak mencukupi untuk keluar.” Mulai membujuk Berli.
“Okey bang, Berliana akan transfer segera kerekening Abang.” Berli langsung mentransfer mengunakan ponselnya satu lagi.
“Sayang Abang makin cinta deh sama Berli, sehat-sehat disana ya. Jangan lupa makan yang banyak biar tambah seksi dan Abang makin sayang.” Ucap Devan yang membuat sahabat nya menutupi mulut mereka menahan tawa.
“Abang ngak keberatan dengan tubuh besar Berli nantinya, jika bertambah gemuk,?”
“Tidak sayang karena Abang mencintai mu apa adanya.” Sambil tersenyum puas saat mendapatkan notifikasi pesan masuk jika saldo rekeningnya sudah bertambah.
“Abang, Berli jadi kangeeen banget.” Berli mengigit jemarinya menahan perasaan rindu berpisah jauh dari Devan.
“Ya udah sayang, Abang tutup dulu ya. Nanti Abang akan hubungi Berliana kembali... muuuacch cup.” Ucap Devan.
“Muuuacch juga Abang Devan ku.” Ucap Berli kegirangan.
“Ha....ha....hebat sekali acttingmu bro, disuruh makan banyak lagi, bagaimana jadinya itu Berliana jika bertambah gendut.” Ucap rama membayangkan.
“Tau' lah, yang jelas malam ini aku mau senang-senang bersama Milka.” Ucap Devan. Yang langsung melajukan motornya kerumah gadis pujaan hatinya.
Berliana menjalani hari-harinya dengan hampa, dan Berliana akan lari ke makanan. Sehingga berat badan nya semakin bertambah.
“Aku tidak bisa seperti ini terus, aku bisa mati bila terus berjauhan dengan Bang Devan.” Teriak Berliana sambil menatap pantulan wajah dan tubuhnya dicermin.
“Hallo ma.”
“Halllo juga nak, apa kabarmu disana dan bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Mama.
“Buruk ma, Berli mersa tersiksa jauh dari bang Devan. Pokonya Berli mau pulang sekarang.” Ucapnya terus merengek.
“Tapi nak, sebaiknya kita bicarakan dulu sama papa.” Bujuk mama menenangkan nya.
“Tidak ma, papa pasti tidak akan mengizinkan Berli pulang, sebaiknya Mama saja yang bujuk papa. Kalau tidak lebih baik Berli mati saja daripada berjauhan dari bang Devan.” Ancamnya.
“Astagfirullah Berli, sadar nak.” Ucap mama mengelus dada melihat begitu besarnya pengaruh Devan bagi putrinya yang dulu menurut dan sangat patuh.
“Baiklah jika itu keputusan mu, pulang lah nak. Biar masalah papamu itu Mama yang menyelesaikan nya.” Ucap mama akirnya pasrah dari pada dia harus kehilangan anak satu-satunya.
