Dimanfaatkan Devan
Devan membalas pesan Berli, dalam hatinya ingin muntah saat mengatakan Berliana cantik.
“Ngapain aku mesti melakukan panggilan Vidio dengan cewek gendut kayak karung beras itu, bisa-bisa mataku sakit.” Ucap Devan sambil menikmati makanan mahal yang dikirimkan Berliana. Yang diselingi tawa teman-temannya.
“Sama hartanya kamu mau, jadi kamu harus siap juga menerima pemiliknya meskipun sejelek apapun bentuknya,” Rangga sahabat baik Devan ikut menimpali.
“Ngak kebayang deh, bagaimana cara kalian melakukan ML saat bulan madu atau malam pertama dengan tubuh Berli yang besar dan kekar, bisa-bisa kamu yang dibanting duluan ha...ha...” Teriak teman Devan yang lainya.
“Ha...ha...ha...” mereka semua tertawa lepas mengejek bentuk tubuh Berliana.
“Aku rasa Devan yang ambruk duluan, karena Berli lebih besar dan perkasa. sebaiknya tutup mata saja Devan, anggap saja lagi menunggangi kerbau betina.” Rangga ikut bersuara kembali.
“Kenapa pembicaraan kalian melebar kemana-mana, perlu kalian tahu, jika aku dan cewek gendut itu tidak memiliki hubungan apa-apa, emang tuh ceweknya yang kegagalan menghubungi aku terus-menerus." Devan terlihat kesal diledek teman-temannya.
“Justru itu, jika kamu ingin hidup enak dan jadi orang kaya dengan mudah dan gampang, ya mau tidak mau kamu harus menjalin hubungan dengan gadis itu, paling tidak kamu tidak perlu kerja susah payah seperti ini.”
“Ide yang menarik.”
Devan yang sedari tadi membantah, mulai terpengaruh dengan usulan sahabatnya. Meskipun sahabatnya mentertawakan eksperinya saat ini. Malah sekarang dia ikut tertawa ketika teman-teman nya mengejek, seakan mendapatkan ide dari perkataan Rangga barusan.
“Apa orang tuanya mau menerimaku nanti?” Devan terlihat bimbang mengingat status sosial mereka yang jauh berbeda.
“Pasti maulah, Berliana itu anak mereka satu-satunya, pewaris tunggal perkebunan kelapa sawit yang sangat luas ini. Yang terpenting sekarang kamu dekati dan bujuk rayu Berli, hidupmu yang susah ini pasti akan berubah drastis jika kalian sudah menikah.”
“Aku rasa sangat mudah untukmu mendapatkan Berliana, mengingat sekarang saja dia sudah kepincut dan sudah tergila-gila duluan padamu, yang hanya bermodalkan wajah tampan doang, tapi kantong kere.” Ledek mereka.
“Wajah tampan dan tubuh atletisku ini modal, bro.” Balas Devan bangga seraya menepuk dadanya.
“Ingat Devan, kami semua mendukung mu, teman.”
“Terimakasih bro, atas dukungan kalian berdua.”
Ucap Devan menatap dua sahabat baiknya Rama dan Rangga yang mempunyai sifat tidak jauh beda darinya. Pemalas dan ingin hidup enak dan kaya tanpa harus berusaha keras dan Bekerja.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan Berliana dan Devan semakin erat. Bahkan Devan dengan bantuan kedua sahabat nya mulai sering mengajak jalan, Berliana yang sebelumnya tidak pernah pacaran dan mengenal yang namanya cinta sangat bahagia begitu Devan mengajaknya makan malam romantis.
Malam ini, Devan sudah membulatkan tekadnya untuk melamar Berliana. dia tidak sabar lagi ingin merasakan menjadi orang kaya dalam waktu singkat, dia rela meskipun harus menjatuhkan harga diri yang selama ini dia junjung tinggi terutama dihadapan teman-temannya.
“Bagaima Berli, apa kamu mau menerima Cinta Abang?” yang diteriaki yel-yel oleh Rangga dan Rama.
“Terima....terima...terima,” ucap keduanya memberikan semangat.
Muka Berliana bersemu merah, dia seakan tidak percaya dengan pendengaran nya. Semua ini seperti mimpi baginya. Seorang pria tampan mau menyatakan cinta pada Berli yang sering dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang belum mengetahui jika dia anak orang terkaya.
Tangan Berli gemetar untuk menerima bunga mawar sebagai pernyataan cinta Devan, sebagai bukti bahwa dia menerima pria itu sebagai pacarnya sekarang.
"Iya bang, karena Berli juga sudah lama menyukai Abang," jawab Berliana malu-malu.
“Benarkah Berli, Abang bahagia banget mendengarnya."
Devan melirik kearah teman-temannya memberitahu jika mereka sudah resmi berpacaran.
"Aku diterima Berli jadi pacarnya.” teriak Devan senang pada kedua sahabatnya.
"Selamat ya Devan, semoga kalian bahagia!" ucap Rama.
"Terimakasih, Rama. atas doa nya."
"Selamat ya Berliana, semoga hubungan kalian bisa langgeng hingga ke pelaminan." ucap Rangga.
"Amiiin."
"Bagaimana jika kalian membuktikan hubungan kalian dihadapan kami dengan ciuman." Rangga tiba-tiba mengeluarkan ide konyol.
“Cium...cium ...cium,” teriak Rama dan Rangga, yang langsung mendapatkan plototan tajam mata Devan. merasa teman-teman nya sengaja melakukan hal itu untuk mengeceknya saja.
Berliana memejamkan matanya, berharap Devan akan memperlakukan nya seperti Drama romantis Korea yang sering ditontonnya. Dia memonyongkan bibirnya kedepan siap menerima kecupan lembut dan mesra dari bibir Devan.
"Awas kalian!" umpat Devan pelan pada kedua sahabatnya yang tertawa meledek. bahkan Devan sempat saling dorong dengan kedua sahabatnya, dia benar-benar tidak sudi mencium bibir Berliana yang menurut nya lebih mirip pantat bebek sawah.
“Devan, kamu harus menunjukkan dan meyakinkan Berli jika kamu benar-benar mencintainya.” Bisik Rangga sambil mendorong tubuh Devan untuk maju mendekati Berliana.
“Cup!”
Kecupan singkat mendarat dibibir Berliana, membuat senyum indah mengembang disudut bibirnya. sementara Devan langsung mengusap bibirnya jijik.
"Makasih ya bang, moment indah ini akan Berli ingat selama nya." balas Berlina seraya membuka matanya, dia merasa seperti terbang diatas awan, dengan seribu kuntum bunga berterbangan disekitarnya.
"I...iya sayang."
