Pustaka
Bahasa Indonesia

Istri Jelekku

38.0K · Tamat
Silviarita
50
Bab
4.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Perkenalkan namaku Berliana,  kedua orang tuaku sangat menyayangi ku, mengiat aku anak tunggal mereka satu-satunya, kemauan ku selalu dituruti, terutama soal makanan kesukaan. Sehingga aku menjadi gadis yang mempunyai  berat badan berlebih, semula aku tidak mempermasalahkan nya, namun seiring dengan diriku yang beranjak remaja, aku mulai kewalahan mengingat bentuk tubuh  yang tidak bisa kembali normal layaknya gadis-gadis lain yang memiliki bentuk  tubuh mereka yang sangat ideal. Begitu juga dengan Devan, pria tampan yang berambisi menjadi kaya raya tanpa usaha dan kerja keras, menikahi Berliana hanya untuk menikmati harta kekayaan gadis itu. Penghianatan yang dilakukan Devan, membuat Berliana terpuruk dan hancur, sehingga dia berubah menjadi sosok lain, wanita cantik dengan ambisi balas dendamnya. akan Berliana kembali mendapatkan cinta sejati yang benar-benar tulus mencintainya?

PresdirPengkhianatanSweetPernikahanKeluargaIstriDewasaPerselingkuhanBaper

Tidak pernah dianggap

Perkenalkan namaku Berliana, kedua orang tuaku sangat menyayangi dan memanjakanku, mengiat aku anak tunggal mereka satu-satunya, kemauanku selalu mereka turuti, terutama soal makanan kesukaan. Sehingga aku menjadi gadis yang mempunyai berat badan berlebih, semula aku tidak mempermasalahkan nya, namun seiring berjalanya waktu dimana aku yang sudah beranjak remaja, mulai kewalahan dengan bentuk tubuh yang tidak bisa kembali normal layaknya gadis-gadis lain yang memiliki bentuk tubuh yang sangat sangat ideal.

Aku sering diejek, apalagi mataku yang minus sehingga aku harus mengunakan kaca Mata tebal, membuat penampilanku bertambah buruk di mata mereka. Aku hampir tidak memiliki teman dan rasa percaya diri lagi.

Gigi-gigi yang tidak rata, mengharuskan aku mengunakan behel, tidak ada yang menarik dan dapat dibanggakan dari bentuk tubuhku, bahkan orang malas memandang diriku lebih lama, ataupun melirik dua kali ke arahku, bahkan dengan sindiran pedas mereka mengatakan jika matanya sakit melihat diriku. Menyedihkan, tapi itulah kenyataan pahit yang harus aku terima.

Namun keberuntungan seakan berpihak pada garis hidupku, ketika perusahaan papaku semakin maju pesat. Usaha yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit itu menjadi usaha terbesar didaerahku.

Sehingga orang-orang yang mengenali keluargaku, berusaha untuk mendekati dan ada yang ingin berteman denganku, tapi mereka tidak tulus, mendekati hanya untuk memanfaatkan kekayaan gadis polos seperti diriku, jika aku tidak memberikan apa permintaan mereka, dia akan menjauhi ku.

Awal cerita hidupku,

“Papa, hari ini Berli ikut ke pabrik ya.”

“Tumben minta ikut papa, biasanya paling malas diajak ke pabrik apa lagi melihat perkebunan kelapa sawit kita yang luas.”

“Ngak tahu pa, tiba-tiba saja Berli ingin ikut papa.” jawabku spontan.

“Bagus juga jika kamu sering-sering ikut papa, mengingat kamu anak kami satu-satunya, penerus papa untuk memimpin pabrik dan perkebunan kita nanti nya.” Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan papa, dan ikut masuk ke mobil nya.

Sepanjang perjalanan, kami melewati perkebunan kelapa sawit milik kami yang lumayan luas, selain itu papa juga membeli hasil kebun sawit milik masyarakat sekitarnya untuk diolah di pabrik pengolahan milik kami.

“Tampan nya.”

Gumamku tanpa sadar saat mobil kami berpapasan dengan sepeda motor butut yang dikendarai seorang pria tampan. Yang sedang memboncengi bapak-bapak.

“Pa, mereka siapa?”

“Mereka itu buruh yang bekerja diperkebunan kita, namanya pak Karyo dan anaknya, kalau tidak salah namanya Devan.” Terang papa menjelaskan.

“Devan.”

Aku mengulangi menyebut nama Pria tampan itu dalam hati sambil tersenyum manis, memperhatikan mereka melalui kaca spion mobil yang terus berjalan.

Sampai dipabrik aku lebih banyak menghabiskan waktu bersantai diruangan kerja papa, namun pikiranku kembali teringat laki-laki tampan yang bernama Devan itu, sambil tersenyum sendiri membayangkan jika seandainya bisa bersanding dengannya, meskipun itu mustahil tapi tidak ada salahnya jika aku berharap lebih.

Hari-hariku lalui dan sering dibayangi wajah tampan Devan, aku sengaja sering-sering berkunjung ke pabrik agar bisa memperhatikannya secara diam-diam.

“Kenapa denganku, apa aku sudah jatuh cinta?”

Berbagai pertanyaan berkecamuk, pagi yang cerah ini aku kembali ikut dengan papa, berharap bisa bertemu dan melihat Devan kembali yang sudah menarik seluruh perhatianku.

Devan yang merupakan anak dari karyawan biasa pabrik pengolahan minyak kelapa sawit, sudah membuatku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. aku akan menjadi resah gulana jika tidak melihat Devan.

“Kenapa pria tampan itu tidak pernah muncul lagi? Bagaimana ini, aku ingin sekali melihat wajahnya kembali.” Gumam Berliana melamun di taman depan kantor perusahaan nya.

Tiba-tiba senyum mengembang di bibirnya, begitu melihat Devan yang kembali mengantarkan ayahnya dengan motor butut nya.

Dengan ramah Berliana menyapa, Devan yang semula cuek dan mengabaikan nya langsung berubah ketika ayahnya membisikkan jika Berliana anak dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.

“Non Berlian, pa kabar.”

“Baik pak.” Balas Berlian sambil melirik kearah Devan.

“Non Berli, Perkenalkan ini anak bapak. Namanya Devan.”

Berliana dengan senyum ramah dan rendah hatinya mengulurkan sebelah tangan kanannya kearah Devan.

"Berlina."

"Devan."

Perkenalan singkat itu berlanjut sampai mereka saling tukar nomor hp, Berliana sangat bahagia setiap kali Devan membalas chat nya. Walaupun Berli sangat menginginkan bertemu lagi dengan Devan.

“Baru bang Devan laki-laki tampan yang mau tersenyum ramah dan menjadi sahabatku.” Gumam Berliana sangat bahagia, dia mersa harinya semakin indah semenjak bertemu dengan Devan, Berliana yang tengah jatuh cinta mulai belajar dandan berharap Devan akan tertarik melihatnya.

“Selamat siang bang Devan.” Mengirimkan pesan.

“Siang juga Berli.” Balas pesan singkat dari Devan.

“Lagi sibuk ngak bang Devan?”

“Ngak,”

Tiba-tiba timbul keinginan Berliana yang sudah beberapa hari ini ngak bertemu dengan Devan, dia benar-benar merindukan laki-laki itu, sehingga diapun ingin melakukan panggilan Vidio.

“Astaga, cewek ini menghubungiku, panggilan Vidio lagi.”

Devan kebingungan untuk mengangkat, dan memilih mengabaikan panggilan tersebut, karena sejatinya dia tidak menyukai Berliana sama sekali, namun karena dia anak dari pemilik pabrik tempatnya bekerja, mau tidak mau Devan terpaksa menanggapinya.

“Bang kok ngak diangkat?”

“Abang lagi pakai boxer doang gerah. Abang malu jika dilihat Berli yang cantik.” balas Devan.