Merindukan Devan
Berliana menjalani hari-harinya dengan hampa, dan Berliana akan lari ke makanan. Sehingga berat badan nya semakin bertambah.
“Aku tidak bisa seperti ini terus, aku bisa mati bila terus berjauhan dengan Bang Devan.” Teriak Berliana sambil menatap pantulan wajah dan tubuhnya dicermin.
“Hallo ma.”
“Halllo juga nak, apa kabarmu disana dan bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Mama.
“Buruk ma, Berli mersa tersiksa jauh dari bang Devan. Pokonya Berli mau pulang sekarang.” Ucapnya terus merengek.
“Tapi nak, sebaiknya kita bicarakan dulu sama papa.” Bujuk mama menenangkan nya.
“Tidak ma, papa pasti tidak akan mengizinkan Berli pulang, sebaiknya Mama saja yang bujuk papa. Kalau tidak lebih baik Berli mati saja daripada berjauhan dari bang Devan.” Ancamnya.
“Astagfirullah Berli, sadar nak.” Ucap mama mengelus dada melihat begitu besarnya pengaruh Devan bagi putrinya yang dulu menurut dan sangat patuh.
“Baiklah jika itu keputusan mu, pulang lah nak. Biar masalah papamu itu Mama yang menyelesaikan nya.” Ucap mama akirnya pasrah dari pada dia harus kehilangan anak satu-satunya.
Tante Fiona yang mendengar obrolan Berliana dengan mamanya ditelpon, mendekati dan ikut membujuknya.
“Berliana, kamu baru memukai kuliah mu disini. Bertahanlah dulu sampai kamu bisa betah dan cocok dengan lingkungan mu yang baru.” Bujuk yante Fiona.
“Ngak Tante, Berli mau pukang saja.”
Arya dan mamanya juga sudah kewalahan dan kehabisan akal, untuk membujuk Berliana. Namun gadis itu tetap bersikeras, dan tidak mau merubah sedikit pun keputusan nya.
Berli mengambil penerbangan pertama hari itu, terlebih dahulu dia meminta Devan untuk menjemput nya dibandara.
“Kenapa bang Devan ngak mengangkat panggilan ku?” mengulanginya lagi.
“Aku sudah ngak sabaran lagi untuk bertemu dengan. Bang Devanku sayang .”
**
Zzzz....zzzrrrd....
Getaran ponsel Devan yang terletak di atas nakas, membuyarkan tidur pasangan yang saling berpelukan itu. Devan mengusap kasar wajahnya, dengan malas dia melihat layar ponselnya.
“Berliana, kenapa dia menghubungi ku?”
Devan bangkit, meskipun keberatan untuk mengangkat panggilan tersebut, karena masih tidur nyaman dipelukan Milka. Dia menyeret juga langkah nya.
“Halo Berliana sayang.”
“Bang jemput aku ke bandara hari ini ya.” Ucap Berliana dengan antusias.
“Kamu Pulang?”
“Iya bang, bahkan aku mengancam kedua orang tua ku agar mereka merestui kita.”
“Apa?”
Devan sempat kaget, mengingat dia tidak menuntut Berli nikah lagi, mengingat gadis itu masih mengirimi nya uang, meskipun dia sudah jauh di luar negeri.
“Abang, kok diam.”
“Ngak kok, Abang Cuma ngak nyangka kamu pulang mendadak gini, Abang senang....senang banget malah.”
“Abang cepetan jemput ya.”
“Baik sayang”
Setelah menutup telepon, Devan kembali mendekati sang kekasihnya nya Milka yang sudah ikut terbangun mendengar obrolan mereka.
“Sayang mau kemana?” ucap Milka yang enggan melepas pelukannya dari tubuh Devan yang sudah bersiap-siap untuk pergi dari kontrakan nya.
“Berliana kembali, dia minta untuk dijemput kebandara.” Ucap Devan sambil mengenakan pakaian nya kembali. Dia berusaha terlihat Serapi dan setampan mungkin, agar Berliana semakin jatuh cinta melihatnya nya.
“Cewek kebo' itu lagi, mau sampai kapan sih dia nyerah ganggu hubungan kita.” Jawab Milka kesal.
“Sayang kamu jangan begitu, Berli itu tambang emas kita. Kamu harus bersabar jika ingin hidup kaya dan enak denganku.” Bujuk Devan.
“Baiklah aku mengizinkan mu, tapi berjanjilah padaku jika kamu tidak akan melakukan hubungan badan dengannya, aku tidak sudi berbagi dengan nya.” Ancam Milka.
“Tentu Sayang, kamu pikir juniorku ini akan berdiri melihat tubuhnya, yang ada dia malah takut dan sembunyi.” Goda Devan.
Senyum mengembang di bibir Milka, karena dia yakin dan percaya pada Devan, mengingat dirinya jauh lebih cantik dibandingkan dengan Berliana.
“Ya sudah Abang pergi dulu ya sayang.”
“Ya, bang.”
Tante Fiona yang mendengar obrolan Berliana dengan mamanya ditelpon, mendekati dan ikut membujuknya.
“Berliana, kamu baru memukai kuliah mu disini. Bertahanlah dulu sampai kamu bisa betah dan cocok dengan lingkungan mu yang baru.” Bujuk yante Fiona.
“Ngak Tante, Berli mau pukang saja.”
Arya dan mamanya juga sudah kewalahan dan kehabisan akal, untuk membujuk Berliana. Namun gadis itu tetap bersikeras, dan tidak mau merubah sedikit pun keputusan nya.
Berli mengambil penerbangan pertama hari itu, terlebih dahulu dia meminta Devan untuk menjemput nya dibandara.
“Kenapa bang Devan ngak mengangkat panggilan ku?” mengulanginya lagi.
“Aku sudah ngak sabaran lagi untuk bertemu dengan. Bang Devanku sayang .”
**
Zzzz....zzzrrrd....
Getaran ponsel Devan yang terletak di atas nakas, membuyarkan tidur pasangan yang saling berpelukan itu. Devan mengusap kasar wajahnya, dengan malas dia melihat layar ponselnya.
“Berliana, kenapa dia menghubungi ku?”
Devan bangkit, meskipun keberatan untuk mengangkat panggilan tersebut, karena masih tidur nyaman dipelukan Milka. Dia menyeret juga langkah nya.
“Halo Berliana sayang.”
“Bang jemput aku ke bandara hari ini ya.” Ucap Berliana dengan antusias.
“Kamu Pulang?”
“Iya bang, bahkan aku mengancam kedua orang tua ku agar mereka merestui kita.”
“Apa?”
