Ancaman Berliana
Devan sempat kaget, mengingat dia tidak menuntut Berli nikah lagi, mengingat gadis itu masih mengirimi nya uang, meskipun dia sudah jauh di luar negeri.
“Abang, kok diam.”
“Ngak kok, Abang Cuma ngak nyangka kamu pulang mendadak gini, Abang senang....senang banget malah.”
“Abang cepetan jemput ya.”
“Baik sayang”
Setelah menutup telepon, Devan kembali mendekati sang kekasihnya nya Milka yang sudah ikut terbangun mendengar obrolan mereka.
“Sayang mau kemana?” ucap Milka yang enggan melepas pelukannya dari tubuh Devan yang sudah bersiap-siap untuk pergi dari kontrakan nya.
“Berliana kembali, dia minta untuk dijemput kebandara.” Ucap Devan sambil mengenakan pakaian nya kembali. Dia berusaha terlihat Serapi dan setampan mungkin, agar Berliana semakin jatuh cinta melihatnya nya.
“Cewek kebo' itu lagi, mau sampai kapan sih dia nyerah ganggu hubungan kita.” Jawab Milka kesal.
“Sayang kamu jangan begitu, Berli itu tambang emas kita. Kamu harus bersabar jika ingin hidup kaya dan enak denganku.” Bujuk Devan.
“Baiklah aku mengizinkan mu, tapi berjanjilah padaku jika kamu tidak akan melakukan hubungan badan dengannya, aku tidak sudi berbagi dengan nya.” Ancam Milka.
“Tentu Sayang, kamu pikir juniorku ini akan berdiri melihat tubuhnya, yang ada dia malah takut dan sembunyi.” Goda Devan.
Senyum mengembang di bibir Milka, karena dia yakin dan percaya pada Devan, mengingat dirinya jauh lebih cantik dibandingkan dengan Berliana.
“Ya sudah Abang pergi dulu ya sayang.”
“Ya, bang.”
Devan mencium sayang kening kekasihnya Milka, setelah berhasil membujuk Milka, Devan langsung menuju bandara internasional, dari kejauhan sudah nampak sosok Berli yang melambaikan tangannya kearah Devan.
“Abang Berli kangen.” Memeluk erat Devan.
“Abang juga sayang.” Sambil menutup matanya menerima pelukan Berli.
“Percuma tampan, liat seleranya seperti itu.” Terdengar bisik-bisik orang-orang yang berdiri disamping Devan, yang membuat nya merasa malu.
“Paling ceweknya anak orang kaya, makanya dia , kalau ngak mana mungkinkah.” Bisik yang satu lagi membuat kemarahan Devan memuncak dan menatap tajam kearah dua wanita yang saling berbisik itu.
“Dari tampangnya saja sudah kelihatan jika dia laki-laki yang hanya jual tampang, aku rasa dia itu gigolo.” Bisik mereka.
“Oyo bang, kita jalan.” Berli menarik lengan Devan yang ingin menghadang dua wanita itu.
“Brengsek mereka, beraninya menghina diriku dan berfikir buruk tentangku ini.” Gerutu Devan sambil mengepalkan tangannya geram.
“Sudahlah bang, biarkan saja mereka, yang penting aku percaya padamu dan mencintai mu dengan tulus bang.”
“Ya Berli, cintamu inilah yang membuat Abang kuat selama ini.”
Ucapan manis Devan selalu sukses membuat Berliana terbang ke langit biru, bahkan cinta yang sudah membutakan mata hati Berliana sehingga dia tidak bisa membedakan lagi Mama ucapan serius dari hati atau manis dibibir saja.
“Bang kita langsung kerumah Berli ya, semoga hari ini papa dan Mama mau memberikan kita restu.” Ucap Berli ketika masuk kedalam mobil jemputan Berli yang sangat mewah.
“Baiklah, sayang, Abang sudah tidak sabar lagi untuk mempersunting dirimu,”
“Ya, kita berjuang bersama-sama ya bang.”
“Tentu sayang.”
“Wah mobil yang sangat bagus, aku bisa menikmati semua ini jika berhasil menikahi kebo ini. Peduli amat dengan omongan orang-orang.” bathin Devan bergumam dalam hatinya sambil tersenyum sinis membayangkan jika dia berhasil mendapatkan semuanya.
“Iya sayang, aku juga sudah tidak sabar ingin segera menikahiku.” Ucap Devan meremas lembut jemari Berli yang membuat gadis itu terbang melayang saking bahagianya.
“Abang manisssnya.” bergelayut manja dilengan Devan.
Mobil sudah memasuki gerbang utama rumah besar Berliana yang seperti istana, Devan melonggo menatap takjub. Karena orang seperti nya baru pertama kali memasuki rumah sebesar dan semewah ini.
“Rumah ini seperti istana,” pikiran nya langsung menerawang membayangkan keluarga kecilnya dengan Milka, serta anak-anak mereka yang berlarian, berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan Berliana.
Berliana membayangkan, betapa bahagianya dia bersanding dengan Devan, membuka keluarga yang bahagia.
“Abang kok bengong, yuk masuk. Kita tunggu papa diruangan tamu ini dulu.” Menarik tangan Devan menuju ruangan keluarga yang mewah dan empuk.
“Iii iya sayang.” Mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mewah dan luas tersebut.
“Ini seperti mimpi bagiku, memasuki istana ini.” Bathinnya.
“Eeehhhmmm.” Terdengar deheman papa Milka yang berjalan bergandengan dengan istrinya mendekati mereka berdua yang terlihat harap-harap cemas.
Papa duduk dikursi kebesarannya, menatap tajam kearah mereka berdua, terutama Devan. Membuat nyali pria itu langsung menciut. Dan menunduk kan kepalanya.
“Berli, apa keputusan mu sudah bulat, sehingga tidak mendengar kan lagi perkataan papa.”
“Maafkan Berli, Pa. Berli benar-benar mencintai bang Devan.” Ucapnya.
“Papa harap, suatu saat kamu tidak akan pernah menyesali keputusanmu ini, ingat Berliana papa hanya ingin yang terbaik untuk mu saja nak tidak lebih.” Ucap papa yang menatap Berliana lekat.
“Iya pa, Berliana tahu. Tapi Berli yakin jika bang Devan bisa membahagiakan Berli.”
