Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sidang Pembubaran Perceraian

Setelah berita tentang kehamilan Michel menimbulkan perubahan besar bagi semua penghuni Rumah Deon, terutama Dera dan Dinata yang telah lama menantikan kehadiran seorang cucu. Wanita itu mulai merasa bukan lagi bagian dari keluarga Dinata, sehingga posisinya perlahan tergeser.

Sebagai seorang istri yang telah diceraikan dan tidak diinginkan lagi, tentu saja Ayunda akan memilih untuk pergi. Ia pulang ke rumah orang tuanya.

Dibutuhkan hampir sebulan bagi Ayunda untuk merenung, meratapi, dan menangisi hidupnya serta pernikahannya yang hancur. Beruntunglah orang tua Ayunda adalah orang tua yang baik, mereka tidak menyalahkan wanita dengan postur tubuh yang tambun ini. Sebaliknya, mereka memberinya semangat untuk bangkit kembali.

Setelah melalui masa sulit menghadapi kehancuran emosinya, Ayunda tidak lagi menunda perceraian di antara mereka.

Setelah sebulan berada di rumah orang tuanya, tidak seorang pun dari keluarga Dinata menghubunginya, bahkan hanya untuk sekedar bertanya kabarnya. Mertua yang dulunya tampak menyayanginya seakan telah melupakannya.

"Pikiran dan perasaan mereka terhadapmu telah digantikan. Jadi, mengapa aku masih harus tinggal di sini?" begitu pemikiran Ayunda saat itu.

Kini, dengan tekad yang bulat, Ayunda memasuki gedung pengadilan. Semangatnya telah kembali, walaupun tubuhnya masih terasa lemah. Tubuh Ayunda terasa lebih ringan dari sebelumnya, akibat kesulitan makan karena stres.

Di satu sisi, hatinya menolak untuk bercerai, tetapi di sisi lain, rasa sakit yang diberikan mantan suaminya membuatnya mantap untuk hadir dalam sidang perceraian ini.

Setelah 20 menit berada di ruang sidang, akhirnya sidang perceraian dimulai. Ayunda tidak melihat Deon di ruangan tersebut. Hanya Damian yang melemparkan pandangan singkat padanya. Apa yang bisa dia harapkan? Tentu saja Deon tidak akan meluangkan waktu untuk datang.

Ayunda menghela nafas. Harapannya untuk bertemu Deon untuk kali terakhir lenyap sudah. Ia telah berencana untuk pergi jauh setelah ini.

Ayunda meremukkan mata dalam diam, ketika palu hakim dengan tegas menghantam lohannya beberapa kali. Suara ketukan itu seperti luka, menandakan resmi berakhirnya ikatan antara dirinya dan Deon.

Ayunda terdiam, seolah-olah seluruh vitalitasnya dicabut dengan paksa, menyisakan rasa lelah yang merayap dalam tubuhnya. Dia menyadari bahwa dalam setiap pertemuan, pasti terdapat perpisahan. Namun, tidak seperti perpisahan ini. Keinginannya adalah perpisahan yang berbeda. Namun, bisakah seseorang mengubah takdir?

Buliran bening, yang sejak tadi mengecam untuk dilepaskan, mengalir di pipinya. Semua telah berakhir.

Cinta yang dalam dan ikhlas tidak mendapat balasan, hanya karena keterbatasan fisik. Seberapa pentingkah penampilan fisik di mata orang lain? Bukankah cinta mampu membutakan dan membuat penampilan menjadi tak berarti? Namun, semuanya tampak seperti retorika kosong. Tidak ada yang mampu mencintai seorang wanita yang memiliki tubuh lebih besar dan wajah yang dianggap tak menarik.

Ayunda mengusap pipinya dengan tangan yang gemetar. Langkahnya tergesa-gesa meninggalkan ruang sidang. Dia berusaha menghindari pandangan penuh arti dari lelaki yang dulu adalah kakak iparnya. Dia tidak ingin lagi berhadapan dengan anggota keluarga Dinata, baik itu Deon, Damian, Dera, atau Dinata sendiri.

Ayunda menyadari bahwa kasih sayang keluarga itu hanyalah sandiwara. Nilai seseorang ditentukan oleh sejauh apa mereka bisa menyenangkan orang lain dan mendapatkan pujian. Ini jauh berbeda dengan apa yang dia rasakan saat ini.

*

*

*

"Nak,Kamu yakin akan berangkat?" Lestari mendekati Ayunda yang sedang mengatur koper-kopernya, masih ada waktu 2 hari sebelum keberangkatannya. Ayunda ingin persiapannya tidak terburu-buru, maka dari sekarang dia telah mulai mengatur barang-barang yang akan dibawanya. Koper-koper yang dia bawa ada dua, karena dia tidak hanya berencana untuk pergi jauh, tetapi juga untuk menetap di sana.

Lestari duduk di samping Ayunda dengan wajah sedih. Baru saja dia senang melihat putrinya kembali dan bisa berkumpul bersamanya. Namun, sekarang wanita janda ini berniat pergi lagi.

Tidak mungkin bagi seorang ibu untuk tidak merasa sedih atas nasib rumah tangga anaknya yang hancur. Rumah tangga yang selama ini dia pikir baik-baik saja ternyata membuat anaknya menderita. Lestari merasa sedikit menyesal mengapa dia dulu menyetujui perjodohan itu. Jika akhirnya putrinya hanya akan diabaikan seperti ini.

"Iya, Ma. Aku ingin memulai hidup baru dengan status baru di tempat yang baru juga," jawab Ayunda dengan tekad. Dia merasa butuh lingkungan baru dan suasana baru untuk melupakan kesedihan di hatinya.

"Kenapa tidak tinggal di sini saja, Ayunda? Mengapa harus pergi ke Amerika? Mama merasa sulit melepaskanmu pergi begitu jauh," Lestari menghela nafas panjang, ekspresi wajah wanita tua itu tampak penuh dengan kepedihan, dan matanya redup. Tangan Ayunda yang sedang merapikan pakaian di dalam koper pun terhenti.

Ayunda menoleh pada ibunya. Dia menggenggam tangan putih keriput namun tetap kokoh itu. Hati kecil Ayunda tergetar oleh kesedihan ibunya.

Dia merasa seperti anak yang tidak berbakti. Alih-alih menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya yang semakin menua, dia malah akan pergi ke suatu tempat dan meninggalkan mereka. Apa sebenarnya yang dia cari sampai harus pergi begitu jauh?

Ayunda mencoba mengangkat ujung bibirnya untuk membentuk senyuman lembut. Dia tidak ingin terlihat lemah dengan mengeluarkan air mata.

"Mama, jangan khawatir. Aku yakin akan baik-baik saja di sana. Lauren akan menemaniku di sana. Selain itu, aku akan pulang ke sini setiap beberapa bulan sekali untuk menjenguk Mama dan Papa. Aku juga janji akan menelepon kalian berdua setiap hari," ucap Ayunda meyakinkan.

Dia mengangkat jari kelingkingnya untuk dijalin dengan jari Lestari sebagai tanda kesepakatan. Lestari pun ikut tersenyum. Dia teringat saat Ayunda masih kecil, gadis manis dengan pipi tembam, kulit putih, dan rambut panjang yang indah.

Banyak orang yang menyebut Ayunda gemuk dan tidak menarik. Namun, bagi Lestari, dia adalah permata yang berkilau. Hanya saja, keindahannya tersembunyi di balik keraguan. Bagi orang lain, Ayunda hanya terlihat seperti batu kerikil di tepi jalan.

Seperti permata yang tertutup oleh lumpur. Ketika lumpur itu hilang, keindahan permata itu akan bersinar. Lestari yakin bahwa suatu hari nanti, keluarga Dinata akan menyesal atas keputusannya. Menyesal telah mengabaikan putri yang begitu dia sayangi dengan sepenuh hati.

"Ma!"

"Mama!"

Lestari tersentak dari lamunannya. Dia menatap Ayunda yang memandangnya dengan penuh tanya.

"Ma, apa yang sedang Mama pikirkan sampai membuat Mama melamun begitu? Aku sudah bilang kan, Mama tidak perlu khawatir,aku akan baik-baik saja disana." kata Ayunda, menghentikan lamunan ibunya.

"Tidak apa-apa, Nak. Mama hanya membayangkan kebahagiaan Putri Mama bersama keluarga kecilnya," senyum Lestari mengembangkan senyuman di wajah Ayunda yang redup.

Jika suaminya telah menganggapnya seperti barang bekas, siapa yang mau mengambil barang bekas seperti dirinya?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel