Kehadiran Yang Tersembunyi
Ayunda merasakan sensasi aneh dalam dirinya selama seminggu terakhir. Namun, pagi ini, ia merasakan pusing dan kelemahan yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Ia tak henti-hentinya masuk dan keluar kamar mandi, mengeluarkan cairan bening dari perutnya.
Tenggorokannya terasa sedikit pahit, dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Ayunda sering kali mengabaikan waktu makan, mungkin masalah lambungnya bermula dari sana. Meski demikian, hatinya merasa ada sesuatu yang lain.
"Apakah kamu merasa sedikit lebih baik, Ayunda?" tanya Lestari, mendengar bahwa putrinya tidak dalam keadaan yang baik. Ia segera menyajikan secangkir teh pekat hangat untuk membantu meredakan perut Ayunda.
Sambil terbaring di pinggir ranjang, Ayunda hanya mampu mengangguk lemah. Lestari mendekat, menepuk lembut pelipis putrinya yang basah oleh keringat, menggunakan tisu. Wajah Ayunda pucat, seakan-akan darah tidak mengalir di wajahnya.
"Minumlah dulu ini, semoga bisa membantu meredakan lambungmu," kata Lestari.
Ayunda duduk tegak, menghadap Lestari. Ia meraih gelas teh dan meminumnya perlahan-lahan. Gelas terasa hangat di genggamannya, tetapi seketika itu juga perutnya bergolak lagi. Ayunda langsung berlari menuju kamar mandi dengan cepat. Ia memaksakan diri untuk muntah, tapi tetap saja tidak ada yang keluar.
Ayunda membersihkan wajah dan bibirnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Lestari merasa iba melihat putrinya yang belum makan sejak kemarin sore.
"Sepertinya masalah lambungmu semakin parah, Nak. Sebaiknya kita segera pergi ke rumah sakit, ya! Mama akan menemanimu," ajak Lestari. Ayunda hanya mampu mengangguk pasrah dengan gerakan yang hampir tak terlihat.
Lestari memberi Ayunda kesempatan untuk istirahat sejenak. Siang harinya, mereka berangkat ke rumah sakit menggunakan taksi. Tidak lama setelah itu, Lestari dan Ayunda tiba di rumah sakit.
Awalnya, Lestari mendaftarkan Ayunda di poliklinik umum. Namun, rasa terkejut menyapanya saat pemeriksaan, karena Ayunda dirujuk ke dokter kandungan. Setelah menjalani berbagai tes dan mendapatkan hasilnya, terungkaplah.
Kini Ayunda terkejut mendengarkan ucapan Dokter yang seolah menjatuhkan dirinya ke jurang yang paling dalam.
"Dokter tampan dengan pembungkus kepala tersebut berkata, 'Selamat Bu Ayunda, Anda akan segera memiliki seorang anak,'" ujar sang dokter.
Lestari terkejut dan menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca, ada perasaan senang yang menghampirinya. Ia tidak pernah menyangka harapannya menjadi seorang nenek akan menjadi kenyataan. Meski Lestari bahagia, Ayunda justru merasa berbeda.
Kenangan malam saat ia bersama Damian tergambar jelas dalam ingatannya. Ia merasa bodoh karena tidak menyadari bahwa tidak lagi mendapatkan haid. Masalah yang dihadapinya membuatnya lupa akan dirinya sendiri.
Sang Dokter memanggil, "Bu Ayunda? Bu Ayunda!"
Ayunda terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jika anak ini adalah dari Deon, mungkin ia bisa merasa sedikit bahagia meski dalam situasi perceraian. Namun, ternyata anak ini adalah dari mantan kakak iparnya sendiri. Ayunda bingung dan kacau.
"Ayunda, apa yang sedang kamu pikirkan?" Lestari mengguncang bahu putrinya, membangunkannya dari lamunannya.
"Ah... ada apa, Ma?" tanya Ayunda.
Lestari menghela nafas. "Dengarkanlah kata-kata Dokter."
Ayunda menoleh ke arah Dokter tampan yang tersenyum ramah. "Dokter memberi nasihat, 'Pada trimester pertama kehamilan, jagalah kandungan dengan baik. Hindari stres dan pikiran berlebihan. Pastikan asupan makanan sehat dan susu untuk bayi dalam kandungan.'"
Ayunda menganggukkan kepala, mencoba memahami. Namun, hatinya masih dipenuhi kebingungan, dan Lestari merasakannya. Ia tahu putrinya sedang dalam situasi sulit.
"Suami Ayunda, kemana? Mengapa dia tidak ada di sini? Seharusnya ia ada untuk mendengarkan berita bahagia ini bersamamu."
Ayunda melempar pandangan singkat ke arah Lestari. "Suamiku sedang bekerja, Dokter. Itulah sebabnya ibuku menemaniku," Ayunda menjawab dengan sedikit kebohongan.
Dokter tampan itu mengangguk paham, lalu mencatat resep di selembar kertas.
"Ini, Anda perlu merebus vitamin-vitamin ini di apotek, Nyonya. Jangan lupa untuk mengonsumsinya sampai habis. Makanlah apa pun yang Anda ingin makan. Jangan tahan-tahan; tidak apa-apa jika berat badan Anda bertambah. Malah, itu baik untuk perkembangan bayi," jelas dokter itu.
"Baiklah, Dokter. Terima kasih," Lestari dan Ayunda berkata serempak.
Mereka berpamitan dan mulai meninggalkan ruangan, menuju apotek untuk mengambil obat.
"Apakah kamu akan memberitahu Deon tentang kehamilan ini? Lagi pula, dia adalah ayah dari bayinya," Lestari melanjutkan percakapan dengan putrinya sambil menunggu obat.
Ayunda menggigit bibir bawahnya. Bagaimana dia bisa memberi tahu Deon tentang kehamilan ini, padahal pada kenyataannya, Deon bukanlah ayah dari bayi yang dia kandung? Dan mengungkapkan siapa ayah sebenarnya akan lebih tidak mungkin. Ayunda tidak ingin memberi beban lebih pada orang tuanya.
"Tidak perlu, Ma. Lagipula, mereka bahagia dengan bayi yang akan dilahirkan istri barunya." Ayunda menjawab.
"Tapi tetap saja, dia seharusnya tahu bahwa hanya wanita itu yang mengandung anaknya. Tapi kamu juga!" Lestari tetap gigih. Dia ingin putrinya dan bayi yang dikandungnya diakui oleh keluarga Dinata.
Ayunda menggeleng, menolak saran ibunya. Bagaimana dia bisa menjelaskan apa yang telah terjadi padanya? Ayunda merasa malu. Dia lebih suka tidak kembali kepada keluarga itu, karena pada akhirnya, dia hanya akan dihadapkan pada penolakan.
"Tidak, Ma. Aku tidak ingin kembali kepada keluarga itu. Aku tidak yakin mereka akan menerima aku dan anakku. Mereka tidak pernah menginginkan kehadiranku."
Ayunda memutuskan untuk pergi. Ya... dia akan pergi dan memulai hidup baru bersama anaknya. Hanya dia dan bayi yang belum lahir.
"Tapi Ayunda, bagaimana kamu akan membesarkan anak sendiri? Anakmu juga membutuhkan kehadiran ayah. Kamu tidak boleh egois tentang ini.Dia juga berhak tahu siapa Ayahnya," Lestari mencoba meyakinkan putrinya. Ayunda tetap diam, bahkan ketika mereka masuk taksi, dia tidak merespons kata-kata Lestari.
Ayunda menatap keluar jendela mobil, melihat gedung-gedung dan orang-orang yang lewat selama perjalanan. Sungguh rumit perjalanan hidupnya hanya karena fisiknya.
Pikirannya melayang saat dia memikirkan anak yang belum lahir. Satu fakta menusuk Ayunda seperti jarum: anaknya akan lahir tanpa ayah. Tanpa kasih sayang seorang Ayah.
Keputusan apa yang harus dia buat? Mengungkapkan kebenaran dan menerima penolakan apa pun yang mungkin datang padanya? Atau tetap diam dan pergi, menyimpan rapat-rapat identitas ayah dari bayi yang dikandungnya.
Ayunda bingung. Dia mengusap perutnya yang sedikit berisi, di mana lapisan lemak telah menumpuk dari waktu ke waktu. Baginya, masih terasa seperti mimpi bahwa dia bisa hamil, mengingat kondisinya saat ini.
"Jangan khawatir, sayangku. Mama akan merawatmu, bahkan tanpa kehadiran seorang ayah. Mama akan membuat hidupmu bahagia tanpa merasa kekurangan dibandingkan dengan anak-anak lain. Kamu milik Mama, dan hanya Mama yang akan ada untukmu. Kita akan melewati ini semua dengan baik. Tak kan ada yang mampu memisahkan kita," bisik Ayunda kepada anak yang belum lahir.
