Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Perpisahan Ayunda

Satu Minggu telah berlalu. Selama periode itu, Ayunda telah berusaha untuk merapikan pikirannya kembali. Meskipun wajahnya masih terlihat muram, namun cahaya di matanya tidaklah putus asa seperti hari-hari sebelumnya.

Taman kecil di samping rumah menjadi tempat di mana wanita itu bersantai di pagi hari yang cerah. Matanya terpaku pada hamparan bunga mawar merah yang sedang mekar indah. Bunyi gemericik air dari pancuran yang membentuk patung Putri Duyung, beserta guci di tengah kolam, memberikan kedamaian bagi pendengarannya. Hatinya merasa sedikit lebih tenteram.

"Kenapa kamu tidak makan pagi hari ini?" suara itu tiba-tiba muncul, membuat Ayunda terkejut. Dia memandang ke arah lelaki yang mendekatinya.

Pagi ini, pria itu telah pergi ke suatu tempat, sedangkan Ayunda seperti biasa, duduk untuk sarapan dengan kedua mertuanya di meja makan. Namun, hanya segelas teh tanpa gula yang disentuh oleh wanita itu. Bukan karena alasan diet, melainkan karena dia kehilangan selera makan.

"Aku sudah sarapan," jawabnya singkat. Dia kembali memalingkan pandangannya kembali ke bunga mawar merah yang selalu menjadi favoritnya. Dia yang menanam dan merawatnya setiap hari.

Mawar merah melambangkan cinta, kesetiaan, dan keindahan yang abadi. Semakin intens warna merah pada kelopak bunga, semakin mendalam pula makna cinta dan kesetiaan itu. Begitulah mitos yang diyakini Ayunda di dalam hatinya. Dia bahkan tak ingat bagaimana asal-usul filosofi itu.

"Ayunda, apakah kamu tidak mendengarkan kata-kataku?" Damian menepuk lembut bahu Ayunda, menghentikan lamunannya. Dia terkejut, lalu memandang lelaki yang kini duduk di sampingnya.

Wajah Damian terlihat agak kesal karena Ayunda terlalu terlarut dalam lamunannya, tak memberikan jawaban atas pertanyaannya sama sekali.

"Sangat menakjubkan melihat betapa dekatnya kita saat ini, Kak. Saya kagum kamu sudah bertanya apakah saya sudah sarapan atau belum," kata pria tersebut, tetapi Ayunda justru mengubah arah percakapan dengan Damian.

"Saya tidak mengerti kesulitannya untuk menjawab. Saat bersama Deon, kamu bisa bersikap manis, ckk."

Damian berdiri dan wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman. Meski begitu, Ayunda tidak memperdulikannya, hanya memandangi punggung Damian yang menjauh. Yang dia butuhkan saat ini adalah ketenangan. Ayunda masih bingung tentang apa yang seharusnya dia lakukan. Apakah dia masih seharusnya berada di rumah ini? Apa tujuannya, mengingat dia bukan lagi menantu di sana.

Pagi berganti siang, siang berganti malam, dan begitulah seterusnya. Tanpa terasa, sudah 4 hari berlalu. Damian tampaknya tidak lagi mendekati Ayunda, dia seperti biasanya, fokus pada pekerjaannya di Kantor. Ya, seharusnya memang begitu.

Ayunda sibuk di dapur membantu para pelayan menyusun makan malam. Ini adalah kegiatan biasa yang dilakukan Ayunda di rumah ini. Dia bergerak lincah dari sana ke sini, menyiapkan hidangan dengan cermat.

Makan malam pun disajikan di meja. Semua hidangan terlihat menggiurkan. Semua masakan itu hasil karya Ayunda, dia piawai dalam memasak dan tak perlu diragukan rasa masakannya.

Terdengar ketukan sepatu mendekat. Kedua mertuanya datang untuk menikmati makan malam bersama Ayunda setelah dipanggil oleh seorang pelayan. Sedangkan Damian, tampaknya tengah sibuk dengan kasus yang dia hadapi.

"Wah, semuanya terlihat lezat seperti biasanya. Kamu memang luar biasa, sayang. Membantu Mama yang paling terampil memasak. Masakan Mama saja kalah dibanding kamu," pujian Dera dengan wajah ceria.

"Mama terlalu berlebihan memujiku,ini biasa saja, Ma." balas Ayunda dengan nada merendah. Sambil mereka bertiga menikmati makan malam, mereka saling bertukar cerita dan bercanda.

Kedekatan Ayunda dan Dera dalam hal hobi makanan begitu nyata. Hanya, Dera tak memiliki keterampilan memasak sebaik Ayunda, dan meskipun makan banyak, tubuhnya tetap tidak gemuk.

"Selamat malam, Ma, Pa!" sapa Deon setelah tiba.

Semua mata tertuju pada mereka. Ayunda menahan napas sejenak, melihat seorang wanita yang sebelumnya ia lihat beberapa minggu lalu, kini hadir di samping Deon dengan senyuman bangga.

"Selamat malam, Pak dan Bu," sapu Michel.

"Dalam beberapa hari tak pulang, tiba-tiba kamu membawa wanita ini pulang?" canda Dera, mengabaikan sapaan Michel.

"Ma, Michel dan aku sudah menikah. Jangan seperti itu pada menantu Mama," balas Deon. Dia mengatur kursi untuk Michel, mengundangnya duduk di sebelah Ayunda, sementara dia duduk di sebelah Michel.

Dera melihat antara Ayunda dan Michel dengan penuh pertimbangan. Dalam hati, dia menyadari perbedaan mencolok antara dua wanita itu. Penampilan Michel lebih menarik daripada Ayunda. Pikirannya tercampur aduk, dia merasa dilematis dengan putranya.

Ayunda merasa frustasi melihat wanita di sampingnya. Ini bukan rasa iri, tapi lebih kepada perasaan tak suka melihat wanita ini begitu terang-terangan dan merasa bangga, padahal dia tahu bahwa pria yang diajaknya bermesraan telah memiliki pasangan.

Sekarang, wanita itu malu-malu, mencoba menarik perhatian Dera seolah masih polos. Dera mulai merasa tenang, dan pandangannya terlihat lebih santai.

"Kenapa kamu tidak memberi tahu kami bahwa kamu tak akan pulang beberapa hari ini?" tanya Dinata. Dalam hati, pria itu mencoba tetap netral, meskipun sebagai lelaki dia memahami situasi yang melibatkan putranya dalam perselingkuhan.

"Maaf, tapi aku sibuk mengurus pernikahanku dengan Michel," jawab Deon. Dia meraih tangan Michel di bawah meja, memberikan dukungan tersirat. Ayunda memperhatikan tangan Deon yang sesekali menyentuh perut Michel.

"Kalian menikah tanpa memberi tahu kami?" sentak Dera, suara dan ekspresinya semakin marah. Sebagai orang tua, ia merasa diabaikan oleh putranya.

"Jika aku memberi tahu, apakah Mama dan Papa akan datang? Kalian lebih memihak pada Ayunda daripada pada putra kalian sendiri," jawab Deon.

"Deon," Dinata mencoba memperingatkan dengan keras.

Mata Ayunda mulai berkaca-kaca. Dia tidak mengikuti percakapan mereka dengan seksama. Matanya tetap tertuju pada tangan Deon yang terus mengelus-elus perut Michel.

"Aku tahu bahwa Mama dan Papa tidak setuju dengan keputusanku. Namun, aku hanya ingin berbagi kabar bahagia," kata Deon.

Dera dan Dinata saling pandang, lalu mereka memandang putra mereka dengan ekspresi heran.

"Michel hamil, kalian berdua akan menjadi Kakek dan Nenek. Keluarga ini akan bertambah anggota keluarga baru dan kita semua akan menjadi keluarga yang lebih besar," ujar Deon dengan penuh kebahagiaan.

Dinata tersenyum bahagia, sementara Dera juga menunjukkan kegembiraannya. Walaupun dia tidak semeriah suaminya, namun ada senyum di wajahnya.

Sementara itu, Ayunda bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.

"Ayunda?" panggil Dera, namun dia tak menoleh. Hatinya hancur, merasa seperti orang asing dalam ruangan itu. Kehadiran bayi di dalam perut Michel membuat segalanya berubah secara dramatis, meruntuhkan keyakinannya. Ayunda tersadar dari pemikirannya yang naif jika keluarga ini tulus padanya. Ternyata mereka tidak peduli padanya. Kenapa dia harus bertahan di tempat ini?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel