Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pertikaian Tak Terelakkan

Dera dan seluruh orang di ruangan itu terkejut. Namun, Deon justru tersenyum puas. Ia tak pernah membayangkan bahwa semuanya bisa berjalan begitu lancar.

Bahkan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Ayunda membuat lelaki itu ingin loncat kegirangan karena baru memenangkan hadiah perlombaan.

Ayunda melihat senyum yang terukir di bibir pria yang tak lama lagi akan menjadi mantan suaminya, dan bibirnya pun berkedut.

Menjaga hubungan tanpa adanya cinta adalah tindakan yang tidak memiliki makna. Mengikat pria yang tidak memberi peluang masuk ke dalam hati hanyalah membatasi kesempatan bagi perasaan tumbuh. Aspek perasaan adalah hal kompleks yang tak mudah dikendalikan.

Lalu, mengapa ia harus bertahan? Pertanyaan itu terus berkecamuk di pikirannya, mendorongnya untuk mengambil langkah tegas mengakhiri kisah cinta yang berjalan selama dua tahun. Dua tahun yang terbuang percuma, dihabiskan dalam upaya mengejar bayangan dirinya sendiri. Hasil yang diperoleh hanya kelelahan dan patah hati.

"Ayunda, apa yang kau katakan ini?" tanya Mama dengan suara cemas. "Bagaimana mungkin kau meminta Deon untuk menceraikan mu? Ini tak bisa diterima..."

"Ma, biarkan urusan rumah tangga mereka tetap menjadi milik mereka sendiri. Ini keputusan Ayunda, dan kita seharusnya menghormatinya," Damian ikut campur. Meskipun sebelumnya ia hanya diam, kini ia angkat bicara untuk menghentikan ucapan Dera.

"Mama tahu bahwa ini adalah urusan rumah tangga mereka, Damian. Tapi sebagai orang tua, Mama hanya ingin yang terbaik bagi kalian. Apapun masalahnya, seharusnya bisa dibicarakan dengan baik. Bukan diakhiri dengan perceraian seperti ini."

"Memang, inilah keputusan terbaik menurutku, Ma. Kita sudah mencapai titik di mana rumah tangga ini sulit dipertahankan. Perasaanku terhadap Ayunda sudah ku lalui selama dua tahun, tetapi tidak ada perubahan. Aku ingin hidup bersama wanita yang benar-benar kucintai," kata Deon dengan mantap. Ia bertekad untuk membebaskan diri dari ikatan dengan Ayunda.

Deon memiliki impian memiliki seorang istri yang tidak hanya cantik, tetapi juga mempesona. Ia menginginkan pasangan yang bisa memanjakan matanya dengan keindahan fisiknya. Namun, sepanjang hidupnya, Ayunda, yang sudah bukan gadis lagi, menghadapi kesulitan mendapatkan bentuk tubuh yang ramping.

Sejak kecil, Ayunda sudah berusaha mengurangi makanannya untuk mendapatkan tubuh yang diinginkannya. Namun, setiap kali ia makan, walaupun dalam porsi kecil, berat badannya selalu bertambah. Ia merasa putus asa karena tidak ada yang berhasil. Bahkan, ia pernah dirawat di rumah sakit akibat memaksa diri untuk menjalani diet.

"Dinata semakin meradang, 'Siapa wanita yang ingin kamu nikahi itu? Sampai-sampai kamu tega ingin meninggalkan istrimu sendiri!' Walaupun berdarah luar yang menjalani kehidupan demokratis, tetap saja ia tak merestui tindakan putranya.

"Michel."

"M-Michel?" Dera dan Dinata terkejut. Dera merasakan dadanya sesak.

"Ya, Michel!" jawabnya singkat.

Dera berdiri, melemparkan pandangan tajam pada putra bungsunya. Dia tahu pasti siapa wanita yang dimaksud. Bagi Dera, Michel adalah wanita rendahan yang menjual dirinya demi status dan kedudukan.

"Tidak! Ibu tidak setuju dengan hubunganmu bersama wanita itu. Ibu merasa wanita itu hanya akan membawa petaka dalam hidupmu. Ibu tidak bisa memberikan restu!"

"Aku sudah dewasa dan tahu apa yang terbaik untuk hidupku," balas Ayunda dengan mantap. Ia hanya diam mendengarkan perdebatan antara ibu dan anak itu. Lidahnya kelu, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, larut dalam rasa sakitnya sendiri.

Deon bangkit dari kursinya, tidak terpengaruh oleh protes yang diajukan Dera. Ia bertekad hidup bersama wanita yang diinginkannya. Deon ingin mengakhiri ini dengan cepat, karena ia percaya semakin cepat mereka berpisah, semakin baik.

"Aku menceraikan, Ayunda Maharani! Mulai hari ini, kau tidak lagi menjadi istriku!" teriak Deon lantang. Suaranya cukup untuk membuat semua orang di ruang makan terkejut, sekali lagi.

Deon melontarkan kata-kata yang membuat tubuh Ayunda lemas, hancur menjadi serpihan. Dia menundukkan kepala dengan tangan yang erat terkepal, getar tubuhnya menahan amarah yang siap meledak.

Talak yang diucapkan oleh Deon membuat tubuh Ayunda merasa lunglai, seakan nyawanya dicabut paksa dari jasadnya, menghancurkan kepingan hati yang tersisa. Hingga tak tersisa bentuk atau wujud yang utuh.

Ia menundukkan kepala dengan kedua tangan terkepal erat dan tubuh bergetar, menahan amarah yang siap meledak. Air mata yang bertumpahan di pelupuk mata tidak dapat lagi ia bendung. Jatuh begitu saja, tak ada daya untuk mencegahnya.

Perceraian ini mungkin merupakan pilihan terbaik, setelah menghabiskan waktu untuk merenung dengan keras, hingga ia nekat mabuk dan akhirnya merugi dengan kehilangan mahkotanya yang berharga.

Pengkhianatan dianggap sebagai kejahatan tertinggi yang dapat dilakukan manusia. Ia bisa merenggut nyawa seseorang tanpa perlu menumpahkan darah atau meninggalkan bekas luka. Sementara cinta, ia bagai nyawa; mampu menghidupkan dan juga mengubur. Bisa membuat seseorang hidup dalam kematian, atau kembali hidup dalam kesedihan.

"Deon, kata-katamu tak ada tandingannya!" ujar ibunya.

"Cukup, Ma. Aku sudah menunaikan harapan Mama dan Papa. Aku juga telah memenuhi wasiat Almarhum Kakek. Kini, izinkan aku mencari kebahagiaanku sendiri. Begitu pun dengan Ayunda, biarkanlah dia menemukan lelaki yang benar-benar mencintainya. Yang pasti, aku bukanlah pilihan itu!" tegas Deon.

Lelaki itu melemparkan pandangan merendahkan tepat saat Ayunda menegakkan kepalanya. Hingga Deon mengalihkan pandangan dan meninggalkan tempat tersebut. Ia merasa tidak nyaman menatap mata berkabut milik Ayunda.

"Tidak, Ayunda. Hentikan tangismu. Air mata tidak akan mengubah apapun, hanya membuat hatimu semakin sesak. Kau berharga saat berada di tangan orang yang mengenali kualitasmu. Berhenti menangis!" batin Ayunda. Ia mengusap air matanya dengan kasar, semakin ia menghapus air mata, semakin banyak jatuh.

Apakah dia cengeng? Tidak, ia bukan cengeng. Namun, luka yang diakibatkan oleh lelaki itu terlalu dalam. Seberapa kuat pun seseorang, pasti akan berteriak saat merasakan sakit yang begitu hebat. Begitu juga dengannya.

Dera bangkit dari duduknya. Ia mendekati menantunya dan memeluk tubuh wanita itu dengan penuh kasih. Ia ikut menitikkan air mata, merasakan rasa sakit yang diderita menantunya ini. Rasa sayang Dera pada Ayunda tak jauh berbeda dengan rasa sayangnya pada kedua putranya.

"Maafkan putraku, Ayunda. Maaf karena telah menghancurkan hatimu. Kau tetap menantuku sampai kapanpun!" ujar Dera, air mata Ayunda kembali jatuh.

Dinata dan Damian diam memperhatikan

kedua wanita yang berpelukan sedih. Mereka bingung tentang tindakan yang harus diambil untuk menghibur.

Damian menatap Ayunda intens. Dia telah membuat keputusan dan tahu apa yang akan dilakukannya terhadap wanita itu. Wanita yang tanpa sengaja bersama menghabiskan malam panjang. Wanita yang pertama kali ia sentuh dalam sepanjang hidupnya.Wanita yang selalu ia lihat bersedih dan terluka .Tidak ada salahnya jika ada orang lain yang menemuinya. Orang itu tidak akan dituduh mencuri, bukan?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel