Pertemuan Penuh Luka yang Tak Terduga
Dengan langkah hati-hati, Ayunda keluar dari taksi di depan restoran berbintang yang menjadi tempat pertemuan dengan seseorang yang telah mengguncang fondasi rumah tangganya. Rasa keraguan sejenak mencengkeram hatinya, membuat langkahnya terasa berat.
Pertemuan ini bukanlah yang diharapkannya. Melihat wajah wanita yang telah merusak segalanya membuat perasaannya terganggu. Walau begitu, Ayunda mengatasi perasaan mualnya dan melangkah masuk melewati pintu kaca restoran.
Seorang pelayan pria dengan sopan menunjukkan jalan, mengangguk pelan sebagai sambutan. Mata pelayan itu menjelajahi ruangan, mencari tanda-tanda wanita yang menghubunginya tadi. Posisi wanita itu dengan mudah terlihat, duduk dekat jendela yang memandang jalan raya.
Pemandangan lalu lintas yang sibuk terlihat jelas dari balik jendela. Ayunda menarik kursi dan duduk di depan wanita yang tampil anggun dan cantik, seolah-olah sedang memamerkan kelebihannya.
"Dapatkah saya memesan sesuatu untukmu? Menu di sini sangat lezat. Mas Deon sering membawaku makan di sini. Tempatnya begitu nyaman dan romantis, tidakkah kau setuju?" ujar Michel, membuka percakapan di antara mereka.
Sambil menggelengkan kepala, Ayunda melepaskan senyum pahit. "Apakah kau benar-benar mengundangku ke sini hanya untuk memamerkan hal tersebut?" cibir Ayunda dengan nada merendahkan.
"Michel menegaskan, 'Tinggalkanlah rumah ini!' Ayunda terkejut oleh perkataan tersebut. Suasana di restoran yang tenang memungkinkan mereka berbicara dengan jujur.
Michel memilih untuk tidak mengulur waktu dengan basa-basi karena ia tahu Ayunda tidak menghendakinya. Ia berpikir beberapa kata sapaan ringan mungkin bisa meredakan ketegangan dalam percakapan mereka. Namun, bagi Ayunda, perempuan berpostur lebih berisi itu, waktu tidak seharusnya dihabiskan lebih lama lagi untuk seorang wanita yang telah merusak hubungannya.
Seperti dua pasukan yang sedang mempertahankan wilayah masing-masing, mereka bertempur dengan kata-kata.
"Ayunda mengulang, 'Meninggalkan rumah ini? Apa maksudmu?' untuk memastikan bahwa ia benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan Michel.
"Apakah ucapanku masih kabur?" Michel mulai menunjukkan sisi kesombongannya.
"Sebagai wanita yang sudah diceraikan, tidak sepantasnya kau terus berada di rumah mantan suamimu. Lebih baik pergilah, dan biarkan aku menggantikan tempatmu," sahut Michel.
Sudut bibir Ayunda berkedut, hatinya memanas mendengar ucapan wanita yang sejak tadi mengusap-usap perutnya yang tampak sedikit menyembul di balik dress ketat yang dikenakannya. Seperti sedang memamerkan pada Ayunda, tangan wanita yang tambun itu terkepal di bawah meja, matanya semakin nanar menatap Ayunda dengan kebencian yang membakar hati.
"Apakah kau mencoba menggantikan ku? Tidakkah kau memiliki keyakinan diri untuk diterima oleh keluarga ini jika aku ada?" gumamnya sambil mata semakin menyorot Ayunda. "Namun, mungkin memang benar, siapa yang akan menerima seseorang yang merusak pernikahan orang lain."
"Aku tahu ibu mertuaku adalah ibu mertua terbaik di dunia. Tidak mungkin dia akan menerima seseorang seperti dirimu. Lihatlah pakaianmu, lebih cocok untuk wanita yang mencoba menarik perhatian di klub malam daripada wanita anggun dan berkelas!" lanjut Ayunda, kata-katanya menusuk tajam seperti pisau.
Walaupun hatinya terasa sakit, Ayunda bukanlah wanita yang lemah. Dia tidak akan menangis di depan wanita itu, sekalipun hatinya merasa hancur. Dia tidak akan pernah merendahkan diri untuk memohon pada wanita yang berdiri di hadapannya ini, bahkan jika dia harus mempertahankan suaminya.
Dahulu, ia berpegang pada satu harapan yang kini, setelah melihat tindakan Deon yang tersembunyi dengan seorang wanita di hadapannya, harapan itu telah mati dan terkubur dalam hatinya. Yang tersisa hanya rasa kebencian yang membara.
"Aku mengakui bahwa kamu wanita yang cantik, tetapi kecantikan yang kamu miliki hanya mampu membuatmu mendapatkan barang-barang bekas. Barang-barang bekas dari diriku!" Ayunda merangkai kata dengan hati-hati, sengaja menciptakan setiap kalimat untuk menusuk hati Michael meskipun sebenarnya hatinya juga terluka. Namun, ia berusaha semampunya untuk menyembunyikannya.
Rahang Michel semakin tegang dan matanya melebar keluar dari posisinya. Meskipun mendapat hinaan dari Ayunda, dalam kemarahannya, wanita itu masih berusaha tersenyum manis.
"Jangan tunjukkan kesombonganmu seperti itu! Kau pikir ada lelaki yang mau mengambil wanita gemuk dan tanpa bentuk seperti dirimu. Lihatlah dengan jelas pantulan dirimu dalam cermin ini, Ayunda!" Michel menunjuk cermin yang besar dan lebar di samping mereka. Bayangan diri mereka terlihat samar-samar. Ayunda memandang pantulan dirinya dengan diam.
"Apakah kau bisa melihat? Tidak ada yang bisa kau banggakan dari dirimu saat ini. Mengapa kau begitu sombong padaku? Barang-barang bekas adalah sesuatu yang digunakan. Jadi, bagaimana mungkin Deon bisa disebut barang bekas dari dirimu jika dia bahkan belum pernah menyentuhmu!" Michel tertawa dengan meremehkan. Tatapan matanya seolah-olah mengupas harga diri yang sudah diperjuangkan dengan susah payah oleh wanita gendut itu.
Jika suatu ketika ada harapan yang dulu dipegang erat, namun kini lenyap terkubur oleh perbuatan Deon dengan wanita di depannya, hanya kebencian yang tersisa dalam hatinya.
"Kau memang cantik," Kata Ayunda pada Michel
mikir , "tetapi kecantikanmu hanya mampu memperoleh barang-barang usang. Barang usang dari aku!" Ayunda memilih kata-kata dengan hati-hati untuk menyakiti Michael, walaupun dia sendiri merasa tersakiti.
Rahang Michael mengencang dan matanya melebar. Walaupun Ayunda melempar hinaan, dia masih mencoba tersenyum. "Jangan terlalu sombong! Lelaki mana yang mau menikahi wanita gemuk dan tak berbentuk seperti dirimu. Lihatlah dirimu di cermin ini!" Michel menunjuk cermin besar di samping mereka. Ayunda melihat pantulan dirinya dalam diam. "Tidak ada yang bisa kau banggakan saat ini. Mengapa sombong padaku? Barang usang adalah sesuatu yang dipakai. Bagaimana Deon bisa dianggap barang usang dari dirimu jika dia bahkan tak pernah menyentuhmu!" Michel tertawa sinis. Tatapannya melucuti harga diri yang Ayunda pertahankan.
"Kau hanyalah pakaian cacat yang tak berharga," ucap Michel dengan nada tajam.
"Aku dibeli dengan harga yang cukup tinggi, lalu dari segi mana aku tidak berharga? Statusku sebagai istri sah di mata hukum dan agama. Lalu kamu? Hanya pakaian yang dipakai tanpa dibeli, bahkan pakaian obralan pun masih memiliki nilai harga, sedangkan harga kamu sendiri berapa?" balas Ayunda dengan nada yang tak kalah tajam.
Ketegangan semakin terasa di antara mereka berdua. Bahkan makanan yang ada di antara mereka sama sekali tak tersentuh. Ayunda mulai merasa muak dengan pertengkaran yang begitu menguras emosi ini.
"Kau harus ingat satu hal, tak akan pernah ada kebahagiaan setelah merebut kebahagiaan orang lain. Mungkin saat ini kau bisa bangga atas kemenanganmu. Tapi semuanya hanyalah ilusi, bagi seorang Deon, kau hanyalah boneka pemuas semata. Aku mengutuk, kau takkan pernah bahagia dengan apa yang telah kau rampas dariku. Takkan pernah! Jika saat itu tiba, ingatlah wajahku saat ini, wajahku yang penuh kebencian! Suatu hari nanti, aku akan membuatmu menangis darah dan menyesal karena telah mengusik hidupku! Dan saat itu tiba, tak akan ada belas kasihan sedikitpun dari ku," tegas Ayunda, dipenuhi amarah.
Michel terkejut dengan perkataan Ayunda yang mengguncang hatinya.
"Tenanglah, Michel. Wanita itu hanya menggertak mu. Siapa dia sehingga bisa mengutukmu? Kamu pasti akan bahagia. Keluarga Dinata adalah keluarga terpandang dengan harta yang berlimpah, kekayaan yang dimiliki Deon cukup untuk membuatmu bahagia. Wanita itu takkan mampu berbuat apa-apa selain menangis di pojok kamar!" batin Michel, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan mengusir rasa takutnya.
Ayunda bangkit dari tempat duduknya. Ia merasa bahwa pembicaraan mereka sudah cukup jelas dan sudah waktunya berakhir.
Ayunda meninggalkan restoran dengan hati yang hancur. Luka yang baru saja diobati kembali terasa sakit. Ayunda menghentikan taksi yang lewat di depannya. Di dalam taksi, air matanya tumpah begitu saja.
Sopir taksi meliriknya melalui spion.
"Silakan pergi saja, Pak. Jangan khawatir tentang saya. Saya baik-baik saja!" ujar Ayunda di tengah-tengah tangisannya. Sopir taksi mengangguk dan menyodorkan tisu untuk menghapus air mata Ayunda. Meskipun langit cerah di atas, hati Ayunda begitu gelap.
Ia merasa sesak nafas seolah-olah tak ada udara di sekitarnya.
