Acara Makan Satu keluarga
"Minuman itu milik Deon. Aku tidak sadar saat Kak Damian meminumnya. Seharusnya aku mencegahnya. A... Aku...." Ucapan Ayunda terputus.
Ia menggigit bibirnya seraya memalingkan wajah. Ia merasa malu untuk menjelaskan semuanya. Rasanya dia ingin sekali membenamkan tubuhnya ke dalam tanah sekarang juga.
Demi mendapatkan perhatian suaminya sendiri, ia harus melakukan hal konyol dan memalukan itu.
Damian bangkit dan bersandar pada sandaran ranjang. Ia melirik ke arah punggung polos Ayunda lalu melemparkan pandangannya ke arah selimut yang ia kenakan untuk menutupi aset prianya.
"Apa kau melakukannya hanya untuk menjebak suamimu sendiri? Aku tidak habis pikir begitu kesepiannya dirimu," ujarnya dengan wajah datar.
"Tolong keluar dari kamar ini segera, Kak. Sebelum semua orang di rumah ini melihat. Anggap saja tidak ada yang terjadi di antara kita. Aku tahu diri, jadi pergilah!" sambungnya lagi.
"Apakah engkau akan diam ?" Damian bertanya dengan tidak percaya mendengarnya.
Saat seorang wanita kehilangan kehormatannya, biasanya ia akan menangis dan meminta pertanggungjawaban. Namun, wanita yang berdiri di sampingnya ini justru mengusirnya dengan tegas.
"Aku tidak berani, tetapi aku memohon agar engkau pergi! Demi kebaikan kita bersama. Beristirahatlah dengan tenang, aku akan menjaga rahasia ini." jelas Ayunda dengan suara pelan, sambil tetap membelakangi Damian.
Mata wanita itu berkabut dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari bahwa ini adalah aib yang amat memalukan bagi pria di hadapannya. Semua yang telah terjadi di antara mereka hanya murni ketidaksengajaan belaka. Mana mungkin ada seorang pria yang dengan sukarela menyentuh wanita seperti yang telah terjadi.
Damian merasa bingung tentang apa yang seharusnya ia katakan, sehingga lebih memilih untuk bungkam. Dengan langkah tergesa-gesa, ia meninggalkan kamar, mengumpulkan pakaiannya dengan cepat, dan mengenakannya.
Sebelum benar-benar pergi, Damian memutarkan kepala sejenak untuk melihat Ayunda, namun wanita itu tetap tegar, tidak mengalihkan pandangannya atau memberi tahu bahwa ia melihat Damian.
Segera setelah Damian pergi, Ayunda mengunci pintu kamarnya dan menuju kamar mandi. Di bawah semburan air dingin pancuran, air matanya bercucuran. Ia menyadari bahwa tangisannya tidak akan mengubah situasi, tapi perasaannya terlalu pedih untuk ditahan. Tidak ada yang bisa ia salahkan selain takdir.
*
*
*
Malam ini, semua orang berkumpul di meja makan kecuali Deon. Dera dan Dinata terlihat bahagia setelah berkunjung ke rumah sanak saudaranya di luar kota. Mereka baru tiba siang tadi.
"Wah, Deon nggak ikutan ya? Ada urusan kali ya?" tanya wanita tua yang tetap modis meski tak lagi muda. Pakaian dan gaya rambutnya membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.
"Kayaknya dia masih punya kerjaan, Bu," jawab Ayunda sambil berbohong. Sebenarnya dia sendiri tak tahu apakah suaminya akan pulang malam ini atau tidak.
Tapi matanya melirik ke arah Damian yang duduk beberapa kursi kosong di sebelahnya. Damian terlihat santai menikmati makanannya, tak terlihat canggung atau bersalah. Ayunda merasa sedikit kecewa, walau sebenarnya dia sendiri tak tahu apa yang diharapkannya dari pria itu.
"Setelah semua yang terjadi di antara kita, dia malah tetap santai aja, seolah-olah nggak ada apa-apa. Kenapa aku bisa kena masalah dengan dua Kakak-Adik yang ribet ini," gerutu Ayunda dalam hati. Ekspresinya berubah jadi sedih. Dia menundukkan kepala, memandang makanannya yang tak lagi menggugah selera.
Damian melihat Ayunda begitu dia tak lagi menatap. Dia merasakan rasa sedih dalam mata wanita itu. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Bahkan Damian sendiri bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Selamat malam semuanya!" seru Deon dengan ceria. Semua mata tertuju padanya yang baru datang. Langkahnya santai. Dia menghampiri Mama dan duduk di samping Dera, berhadapan dengan Damian. Tapi hati Ayunda terasa sakit, dia merasa yakin suaminya memilih tak duduk di sebelahnya.
"Kamu pulang telat, Nak? Kami nungguin kamu makan bareng dari tadi," tanya sang Mama.
"Aku sudah kenyang, Ma. Tadi makan dengan teman di luar," balasnya. Ayunda merenung dalam hati. Teman yang dimaksud suaminya pasti selingkuhan yang tak bisa dia toleransi.
Makanan di mulut Ayunda terasa berat untuk ditelan. Wanita itu makan dengan lambat, pertanda kegelisahan.
"Ma, Pa... ada hal serius yang ingin kukemukakan malam ini," ucap Deon ragu-ragu. Damian memicingkan mata, curiga akan rencana aneh adiknya itu.
Ayunda berusaha meredam ketegangan walaupun tangannya meraih sendok erat-erat.
"Katakanlah! Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Dera antusias, melempar senyuman ceria ke arah Ayunda. Tanpa menyadari perasaan yang tersimpan di baliknya.
"Aku ingin menikah lagi. Dengan kekasihku!" ucap Deon mantap.
Ayunda kaget, dan begitu juga Dera. Dentingan sendok jatuh menimpa piring, menciptakan suara mengganggu dari arah Ayunda. Ucapan sang putra terasa seperti petir yang menusuk hatinya. Wajahnya memerah, usahanya menahan amarah dan kekecewaan jelas terlihat.
"Apakah kau masih waras, Deon? Kamu mengucapkan ini dengan begitu ringan dan tak beban. Apa kamu tak menyadari bahwa wanita di hadapanmu adalah istrimu!" marah Dinata pada putranya. Perasaannya jelas terpampang.
"Aku sadar, Pa. Bahkan sangat sadar!"
"Jika Anda memiliki kesadaran dan kewarasan, seharusnya Anda tidak mengucapkan kata-kata sembarangan seperti itu. Tidakkah Anda mempertimbangkan perasaan istri Anda?" tegur laki-laki berdarah Eropa tersebut.
"Aku tidak pernah mencintai Ayunda, Papa Mama sudah mengetahui hal ini sejak awal. Semua ini hanya karena permintaan konyol almarhum Kakek. Mengapa harus aku yang harus menikahi wanita yang dianggap gemuk dan jelek ini? Kenapa bukan orang lain?" ujar Deon.
"Cukup Deon, jagalah perkataanmu! Wanita yang kamu hina ini adalah istrimu!" balas pria paruh baya tersebut dengan wajah murka.
Dera melihat menantu lelakinya dengan simpati, memandang mata yang gelap oleh badai pikiran. Sebagai seorang wanita, ia juga merasa tersentuh oleh pertengkaran antara suami dan anak laki-lakinya. Ucapan Deon yang terus mengangkat permasalahan perjodohan dan menilai penampilan fisik Ayunda yang tidak sesuai dengan standar kecantikan.
"Sudahlah, Deon, hentikan pertengkaran ini. Yang pasti, Mama dan Papa tidak akan memberikan restu untuk pernikahanmu dengan siapapun. Dan Ayunda pasti juga berpendapat serupa dengan kami," ujar sang ibu dengan nada lembut.
"Aku sama sekali tidak peduli apakah Mama dan Papa setuju atau tidak. Apalagi harus mendapatkan persetujuan dari wanita yang dianggap gemuk ini. Aku, aku tidak membutuhkannya. Keputusan untuk menikahi Michel sudah bulat dan takkan berubah," teguh Deon dengan mantap.
Ayunda menghela nafas berat. Semua ini telah ia antisipasi sebelumnya. Berkali-kali ia memutar pikiran tentang bagaimana ia akan menjawab jika saat ini akhirnya tiba.
"Aku tidak ingin menjadi bagian dari poligami. Jika memang Anda ingin menikah lagi, silakan saja. Tapi, tolong ceraikan aku terlebih dahulu. Laporkan talak atas diriku sekarang, dan Anda akan bebas untuk menikahi siapapun yang Anda inginkan," ujar Ayunda dengan tegas.
