Bentuk Tanggung Jawab
Langit yang semula gelap kini telah digantikan oleh matahari yang bersinar terang di langit biru, dengan awan putih bergerak beriringan di cakrawala. Keadaan cuaca yang cerah tersebut berkontras dengan suasana hati Ayunda saat ini, yang dipenuhi mendung dan kabut. Sejak semalam, wanita itu tidak pernah memejamkan matanya. Ia bahkan melewatkan waktu sarapan dan makan siangnya.
Duduk termenung di pinggir ranjang, Ayunda memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Semuanya masih terasa seperti mimpi baginya. Setelah resmi menyandang status janda, gairah hidupnya seakan hilang seketika. Mendengar kata-kata tersebut saja sudah cukup membuat kupingnya terasa sakit. Ayunda ingin menangis, tetapi sepertinya air mata di matanya telah habis karena terus mengalir semalaman.
Kata "gendut" adalah salah satu kata yang paling ia benci saat ini. Ia merasa ingin menghilangkan lemak-lemak yang menempel di tubuhnya agar ia bisa berubah secara tiba-tiba.
Tok..Tok..Tok..
Pintu kamarnya diketuk dengan kuat. Ayunda menatap pintu dengan sikap acuh. Tubuhnya seolah enggan untuk beranjak dari tempat tidur yang terasa dingin setiap malam.
"Ayunda! Tolong buka pintunya, Nak! Kamu harus makan, hari sudah hampir sore. Kamu akan sakit kalau terus begini, Ayunda. Mama mohon, bukalah pintunya!" jerit Dera dengan penuh kekhawatiran dari balik pintu.
Sebuah nampan berisi piring keramik putih diletakkan di atasnya, terisi makanan empat sehat lengkap dengan buah-buahan dan obat sakit kepala untuk Ayunda. Dera yakin bahwa saat ini Ayunda pasti sangat membutuhkan obat tersebut.
" Ayunda, mohon bukakan pintunya, Nak!" Panggil Dera dengan lembut. Damian, baru pulang dari kerja, mendekati ibunya yang masih berdiri di depan pintu kamar adik iparnya.
" Ada apa, Ma?" tanya Damian dengan perhatian.
Dera menoleh dengan ekspresi cemas. " Ayunda, dia belum keluar kamar sejak tadi. Dia belum makan apa-apa sejak kemarin sore," ujarnya khawatir.
" Damian, coba kamu bicarakan dengan Deon. Mungkin dengan kamu bicara, dia mau mendengarkan. Saya tidak ingin mereka berdua berpisah, dan saya tidak ingin Ayunda pergi dari rumah ini," pinta Dera dengan ekspresi suram pada putra sulungnya, mencoba mengungkapkan kekhawatirannya.
Dera sejak lama menginginkan memiliki seorang anak perempuan. Namun, karena suatu hal, ia tidak dapat memiliki anak lagi. Kehadiran Ayunda sebagai menantu telah membawa kebahagiaan bagi Dera.
Ayunda yang sopan, ramah, dan cerdas, mampu menaruh hati Dera. Bagi Dera, Ayunda adalah wanita cantik di balik penampilannya yang menawan.
" Ma, jangan khawatir. Ayunda pasti akan tetap tinggal di rumah ini. Dia tidak akan pergi ke mana pun, dan dia akan terus menjadi menantu yang baik bagi Ma," ucap Damian dengan tulus, berusaha menenangkan hati ibunya.
Damian mengetuk pintu dengan penuh semangat. Ia heran melihat kelakuan wanita itu yang tiba-tiba saja mengurung diri di kamar seharian tanpa beraktivitas.
"Hey, Ayunda! Keluarlah! Kamu bisa memilih untuk keluar dengan baik atau aku akan membongkarnya!" seru pria itu bersemangat. Ayunda yang mendengar suara keras itu langsung bangkit dari tempat duduknya. Dengan ragu, dia mendekati pintu dan membukanya. Di balik pintu, terlihat Dera dan Damian berdiri.
"Apa yang terjadi, Ma?" tanyanya polos. Wajahnya mencoba untuk tetap tenang seperti biasa. Damian mengerutkan keningnya saat melihat Ayunda di hadapannya. Dia merasa kesulitan menggambarkan perasaan wanita ini.
"Kamu belum makan dari kemarin, Sayang! Yuk, makan dulu!" Dera menyodorkan nampan yang dia bawa. Mata lembutnya menatap Ayunda, lalu ia mengambil nampan itu.
"Terima kasih, Ma. Aku akan makan nanti," jawab Ayunda singkat.
"Makan banyak ya, agar semakin cerdas dan kuat," ucap Dera sambil tersenyum. Setelah memberikan makanan tersebut, Dera kembali ke bawah dan memberi Ayunda waktu untuk merenung sejenak.
"Ayunda, tunggu!" Damian yang masih berdiri di tempatnya, tiba-tiba menahan lengan Ayunda yang mengenakan baju tidur. Langkah Ayunda terhenti, dan ia berbalik.
"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?" tanya wanita berwajah bulat dengan rambut panjang lurus yang diikat ke atas dengan sembarang.
"Aku ingin berbicara denganmu. Boleh aku masuk sebentar?" tanya Damian.
Alis sebelah kanan wanita itu terangkat. Ia berpikir sejenak. Haruskah ia memberi izin pada pria itu untuk masuk? Apa yang ingin ia bicarakan?
Rasa penasaran di dalam diri Ayunda lebih kuat. Ia mengizinkan Damian masuk tanpa menutup pintu kamarnya. Bukan karena takut pria ini akan berperilaku buruk, melainkan karena Ayunda merasa kurang percaya pada dirinya.
"Katakanlah apa yang ingin kamu sampaikan!" ujarnya sambil meletakkan makanan di atas meja kecil yang ada di depan sofa, tidak jauh dari ranjangnya.
"Ayo kita menikah? Aku menggantikan posisi Deon. Aku akan bertanggung jawab padamu," ujar Damian. Wanita itu tiba-tiba menoleh, sejenak menatap Damian seolah-olah ia adalah orang bodoh. Namun hanya dalam sekejap, wanita itu tersenyum.
Ucapan Damian seperti panggung komedi yang menggelikan perutnya. Apakah ini yang disebut tertawa dalam keterpurukan?
"Kakak, leluconmu memang hebat. Aku hampir ingin memberimu penghargaan dalam kategori menghibur hati wanita," kata Ayunda dengan tawa yang terdengar kering.
"Aku benar-benar serius, Ayunda. Apa yang kukatakan adalah sungguh-sungguh," tegas Damian.
Ayunda tersenyum dengan bibir mengkerut. "Sungguh-sungguh?" tanya wanita itu, mencari kepastian. Damian mengangguk, merasa bertanggung jawab atas wanita itu setelah apa yang terjadi di antara mereka.
Ayunda menatap mata Damian, menemukan sentuhan kasihan di dalamnya. Ya, semua ini dilakukan Damian karena kasihan padanya.
"Seberapa besar kesungguhanmu? Apa kamu pikir aku hanyalah mainan yang asyik untuk dimainkan, huh? Ketika adikmu merasa jijik dan menceraikan ku, sekarang kamu muncul ingin menikahiku. Apa kamu berpikir aku akan dengan mudahnya percaya?" ujar Ayunda.
"Bukan seperti itu, aku tidak berniat menipu atau menyakiti. Namun, aku merasa bersalah atas ini semua," jawab Damian.
Ayunda tertawa sinis mendengar akhir kalimat Damian. Merasa bersalah? Ayunda tidak menginginkan pernikahan yang didasari oleh rasa kasihan dan bersalah.
Jika mereka menikah, apa bedanya dengan pernikahan Ayunda dan Deon yang berantakan? Selama tidak ada cinta, pernikahan itu hanya akan berakhir seperti sebelumnya.
"Simpanlah rasa bersalah itu untuk dirimu sendiri, Kak! Jujur, aku bingung dengan apa yang sedang Kak Damian sampaikan. Sepertinya ucapan Kak Damian sama sekali tidak berpengaruh padaku," ujar Ayunda dengan wajah polos.
Damian mendelik. Ada sesuatu yang aneh dalam ucapan Ayunda baginya. Sepertinya wanita ini sedang bermain peran polos.
"Apa kamu mencoba mengelak dariku, Ayunda? Jangan main-main dengan kata-kata. Aku paham betul maksud dari yang kamu katakan," balas Damian tegas.
"Baguslah kalau Kakak merasa paham apa yang kupikirkan. Sekarang, baiknya Kakak keluar dari kamar ini. Aku ingin sendiri tanpa gangguan, baik itu dari kamu maupun Deon. Hidupku tak memerlukan kalian!" balas Ayunda dengan nada tegas. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke pintu yang terbuka lebar.
Damian menghela nafas panjang. Sepertinya ia datang pada waktu yang kurang tepat. Wanita ini masih dalam kondisi emosional dan pikirannya belum jernih. Saat ini, memaksa tidaklah opsi yang tepat. Damian merasa bahwa ia tak hanya memiliki kewajiban, tetapi juga alasan tersendiri untuk menikahi Ayunda. Dan semua ini berkaitan dengan Dera. Meskipun tidak diucapkan, Damian yakin Dera lah yang paling merasakan dampak dari keputusan Deon.
Jika Deon dan Ayunda benar-benar berpisah, otomatis wanita ini akan pergi dari rumah ini sendirian. Mereka berdua tak lagi memiliki hak untuk menahan Ayunda.
