Bercak Malam Itu
Hujan turun dengan derasnya disertai gemuruh yang menggelegar di langit seakan menumpahkan segala amarahnya. Langit seakan ikut merasakan kesedihan yang dialami Ayunda.
Wanita itu keluar dari dalam taksi daring dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya yang sempoyongan menyusuri kediaman keluarga Adipati, terkadang terjatuh dan bangun seraya tertawa.
Setelah mendapati suaminya yang berselingkuh untuk kesekian kalinya, Ayunda pergi ke club untuk menumpahkan semua kesedihan yang dia rasakan dengan menenggak beberapa gelas minuman beralkohol.
Ini kali keduanya wanita bertubuh gempal itu melakukan tindakan bodoh. Pertama,karena patah hati ketika melihat suaminya sedang berjalan dengan mesra bersama model cantik yang pria itu kenalkan sebagai kekasihnya.
Sekarang lelaki itu justru ingin menikahi wanita lain itu dan mengacuhkan perasaannya sebagai seorang istri. Ayunda tak mampu menerima tapi juga tak ingin berganti status dari seorang istri menjadi seorang janda.
Janda tapi perawan siapapun yang mendengarnya akan mengejek membuat Ayunda malu. Sebegitu buruk kah dirinya ? Apa orang gendut tak pantas dicintai ?
" Astaghfirullahaladzdim, Nak Ayu. Anda kenapa bisa mabuk lagi ,Nak. Apa Tuan Deon menyakiti Nak Ayunda lagi ? " Ucap Pak satpam yang bernama Gito yang baru datang dari belakang rumah menatap iba. Ayunda berdiri sempoyongan diteras rumah dengan keadaan basah kuyup dan setengah sadar.
Pria berumur 40 tahun itu tahu semua yang menimpa wanita ini dalam rumah tangganya. Satpam ini lah yang menolong Ayunda ke kamarnya. Saat mabuk dulu dan menyembunyikan kejadian itu rapat-rapat agar wanita muda ini tak merasa rendah diri pada keluarga mertuanya.
" Dia mengkhianati aku lagi, Pak Gito. Bahkan dia akan menikahi wanita lain. Apakah aku begitu buruk,Pak ? Hingga suamiku sendiri tak ingin menyentuhku. Apa aku tak pantas untuk dicintai ? Padahal aku sudah berusaha menjadi istri yang baik !" Racau Ayunda mengeluarkan segala isi hatinya. Tangisannya membuat Pak Gito iba.
Pak Gito mempunyai dua orang putri di kampung yang mulai beranjak dewasa, memikirkan jika putrinya nanti menikah mendapatkan perlakuan buruk dari suaminya seperti yang dialami Ayunda.
Memikirkannya saja hati Pak Gito sudah berdenyut nyeri . Bagaimana dengan orang tua Ayunda. Tapi lelaki tua itu tak dapat membantunya,dia hanya orang luar yang tak berhak ikut campur.
" Sabar, Nak....sabar ! Nanti juga Tuan Deon sadar dan menyesali apa yang sudah dia perbuat pada Nak Ayunda. Kita sama-sama berdoa agar Tuhan memberikan hidayah padanya . Sekarang Nak Ayunda masuk dulu,ya ! Nanti bisa sakit kalau basah kuyup begini." Ajak Pak Gito
Baru saja hendak beranjak, tiba-tiba pintu rumah besar terbuka.Pak Gito terkejut melihat ada orang di balik pintu tersebut.
" Ada apa dengannya ? Kenapa kondisinya berantakan begini ? Apa dia tak menyadari usianya yang sudah tua,tapi masih main hujan-hujanan saja seperti bocah !" Cibir lelaki putih dengan sinar mata yang dingin .
Tubuhnya yang berotot sebagai tanda ia rajin menjaga pola makannya dan berolahraga.
Damian Adipati,putra tertua dari pasangan jelita Hidayat dan Jelita Adipati. Seorang pengacara handal yang memiliki segudang prestasi. Namun masih begitu nyaman dengan kesendirian diusianya yang sudah 30 tahun.
" Non Ayunda mabuk Tuan. Sepertinya dia sedang merasa sedih,saya akan mengantarnya ke kamarnya segera." Jelas Pak Gito gugup.
Tatapan mata Damian yang tajam membuat siapapun lawan bicaranya jadi tak berkutik. Wajahnya tampan bahkan lebih tampan dari adiknya Deon. Sudut mata yang tajam ditambah rahang yang keras menambah aura tak biasa pada dirinya.
Damian menaikkan satu alisnya,menahan tubuh Pak Gito,dia tidak bisa membiarkan lelaki tua itu merangkul tubuh Ayunda. Tubuh tuanya yang renta tidak akan mampu untuk menopang tubuh wanita tersebut.
" Nggak....Aku nggak mabuk kok.Aku hanya minum sedikit. Aku juga tidak nakal ,tapi Deon yang jahat padaku ! Disini rasanya sakit sekali !" Racau Ayunda kembali dengan manja.
Ayunda tanpa sadar memukul dadanya ber kali-kali. Meluapkan segala kekesalan hatinya. Buliran kristal terus mengalir di pipi gadis itu,sebagai bentuk rasa sakit dan kecewa yang tak bisa diungkapkan.
" Biar ini jadi urusan saya,Pak Gito lebih baik kembali ke pos jaga saja !" Titah Damian.ia mengambil alih tubuh adik iparnya.
" Deon brengsek,mata keranjang, lelaki tak setia. Apa aku begitu buruknya hingga kamu menghinaku seperti ini. Jika kamu tak mencintaiku,kenapa dulu menikahiku ?"lirih Ayunda Lemah,ia bersandar di dada bidang Damian .
Kaos hitam yang dikenakan pria itu pun ikut basah karena tertempel baju Ayunda yang sudah basah kuyup.
" Dasar bego !"ejeknya seraya membawa Ayunda masuk tak lupa ia menutup pintu.
" Syukurlah Mama dan Papa tidak ada dirumah. Jika tidak,rumah ini akan ricuh karena menantu kesayangan mereka pulang dalam keadaan seperti kucing dilempar kesungai. Kasihan sekali,berat banget lagi !" Gerutu Damian geram.
" Mengapa wanita begitu mudah patah hati hanya karena urusan cinta. Sudah tahu Deon tak setia,masih saja mau bertahan dan kembali lagi padanya.Bego !" Damian mulai mengomeli wanita yang ia papah.
*
*
*
Dipagi hari yang cerah cahaya matahari begitu bersinar terang, masuk menembus gorden kamar Ayunda menerpa wajahnya dan membuat Ayunda terbangun. Ayunda merasa kepalanya begitu berat. Ayunda menoleh ke kiri,ia terkejut saat menyadari ada pria lain yang tidur diatas ranjang bersamanya.
Tubuhnya kaku seketika melihat siapa lelaki yang ada disebelahnya itu. Ia terdiam,mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
Ayunda ingat semalam lelaki itu mengantarkan dirinya yang sedang mabuk ke kamar. Karena lelah dan letih membopong tubuhnya yang berat dari lantai bawah hingga ke kamarnya di lantai dua. Membuat Damian merasa kemudian tanpa izin atau bertanya , Damian meminum air yang ada pada teko kecil diatas nakas sebelah ranjangnya.
Air putih yang sengaja Ayunda campur Aprodhisiac beberapa hari yang lalu untuk menjebak suaminya. Namun sayang,selama beberapa hari itu Deon yang datang tak kunjung meminumnya. Meski Ayunda sudah mencoba menawarkannya . Bodohnya lagi,Ayunda lupa untuk membuang minuman itu setelah rencananya gagal.
Pergulatan panas itu nyata,bukan hanya khayalan atau ilusinya semata. Entah harus menangis atau tertawa saat suaminya sendiri jijik menyentuhnya. Dia justru menghabiskan malam dalam dekapan pria yang tak seharusnya ia lihat.
Pria itu terbangun dan mata mereka beradu sesaat dalam diam.
" Apa yang kau campurkan dalam minuman itu ?"
Deg
Ayunda menelan Saliva nya ,tatapan dingin lelaki itu membuat bibirnya tertutup rapat. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada lelaki itu. Di Satu sisi malu ia merasa malu,di sisi lainnya , bukankah yang seharusnya dirugikan ?
