Surat Perjanjian Pranikah
"Terima kasih untuk hari ini." ucap Ellena.
Mata Jacky sedikit berkedut keatas, bibirnya menyeringai dengan tawa kecilnya yang semakin menambah kharismatik ketampanannya.
"Apakah menurutmu, aku akan membiarkan seseorang memperlakukan istriku begitu saja, yang baru aku nikahi didepan semua orang?" ucap Jack santai.
"Sebenarnya, aku tidak pantas kamu bantu tuan, Jack. Aku sengaja ingin membalas pasangan yang tidak tahu diri tersebut." bslas Ellena, dengan meminta maaf, Ellena menjelaskan kepada Jacky dengan menatap lurus kedepan orang yang duduk disebelahnya.
"Aku tahu, hanya saja. kamu tidak bisa memikirkan cara yang lebih baik untuk melawan seseorang, kamu seharusnya bertanya padaku. mengorbankan dirimu untuk membalas sesorang adalah langkah yang bodoh bukan..?"
"Ellena..."
"Kamu turun dimana? dimana rumahmu??" tanya Jack tiba-tiba, mengingat dia belum mengetahui banyak tentang Ellena.
"Bukankah kita sudah menikah hi..hi...?" Ellena tertawa renyah, sambil menjawab dengan tidak ragu dan sangat santai. karna apa yang sudah dia lakukan, tidak akan pernah dia sesali.
"Apakah kamu yakin? Kita tidak hanya menikah, tapi malam ini adalah malam pertama kita sebagai pasangan suami-isteri." balas Jack terdengar seperti guyonan.
Elena tersipu malu, tetapi dia mengangguk dengan pasti, mengiyakan ucapan Jack barusan. dalam sekejap hening, Jack kembali bertanya.
Mobilnya berhenti di lampu merah, Jack memegang dagu Ellena, lalu menatapnya dengan tatapan mata elang yang tajam hingga mampu menembus relung hati terdalam Ellena.
"Hanya saja, aku jujur di depanmu dan aku akan terus seperti ini, Jack. karna aku takut kamu akan berfikir buruk tentangku." Elena mengungkapkan kesetiaannya, meskipun pernikahan mereka tidak diawali cinta dan sangat dadakan.
"Tuan Jack, aku tinggal di kos-kosan Anggrek. dan barang-barang ku masih disana."
"Tidak perlu, dirumahku semua akan tersedia untuk mu."
"Tapi tuan Jack, apakah nantinya aku masih boleh bekerja?"
"Tidak, istri seorang Jack tetap dirumah. bahkan kamu harus melahirkan penerus untuk keluargaku."
"Anak? eh maksudku pernikahan kita hanya dadakan dan saling menguntungkan. jadi apakah harus ada anak. bahkan aku yakin diantara kita tidak ada perasaan khusus yang mengikat?"
"Ya, kedua orang tuaku menginginkan penerus. tenang saja aku akan memberikanmu kompensasi jika berhasil melahirkan anakku, setelah itu kamu bebas dengan dirimu sendiri."
"Apa kompensasi yang akan kamu berikan jika aku berhasil?"
"Aku akan memberikan uang cuma-cuma sebanyak dua miliar, dan sebuah villa De Larose."
"Astaga." ucap Ellena seakan tidak percaya.
"Eits...jangan senang dulu, kamu harus tanda tangan surat pra nikah ini. dan satu lagi jangan pernah ikut campur urusan pribadi ku."
"Baiklah tuan, aku sangat setuju sekali. tapi aku butuh uang muka, karena setiap bulannya aku harus mengirimi ibu dan adik-adikku dikampung."
"Nanti asistenku akan mengurus semuanya, kamu tinggal memberikan no rekeningnya saja."
"Oh.. benarkah, terimakasih sebelumnya." Ellena tersenyum senang sambil mengatup kedua tangannya di dada. diapun segera menuliskan nomor rekening ibunya dikampung.
Setelah kontrak tanda tangan selesai, asisten Jack. masuk kedalam sebuah ruangan khusus berdua dengan Jack.
"Robert, bagaimana menurutmu istri baruku itu "
"Sangat lucu dan imut, namun menurutku dia gadis yang sangat berani berhadapan langsung dengan Anda, tanpa ekspresi dan gaya menggoda. tidak seperti para gadis yang mendekati tuan selama ini."
"Yah, bahkan gadis ini terlihat sederhana dan berpakaian sangat sopan dari cara berpakaiannya." puji Jack untuk pertama kalinya dia menilai seorang perempuan, jujur dari dalam hatinya.
