Bertingkah aneh
"Apa Jack, belum kembali?"
"Belum Nyonya."
Meja makan penuh dengan makanan lezat, layaknya cukup untuk menjamu banyak orang. namun sayang cuma ada Ellena. dan Sinta yang berdiri dibelakangnya untuk membantu apapun keinginan dan yang dibutuhkan nyonya muda nya.
"Apa Jack setiap hari akan seperti ini?"
"Ya, tuan muda sering lembur dan pulang larut. sehingga dia berpesan pada kami, untuk melayani nyonya sebaik mungkin." jawab Sinta.
"Baiklah, saya akan makan sendiri."
Ellena mulai menikmati makan malam, namun dia tidak mempunyai selera. sehingga sedikit spaghetti sudah membuat nya merasa kenyang.
"Sinta, aku mahu jalan-jalan mengelilingi ruangan luas ini. sebaiknya kamu tidak perlu terus mengikuti ku."
"Baik nyonya muda."
Ellena berjalan sedikit pelan, karena bagian sensitif nya yang masih agak perih, akibat kebrutalan Jack semalam.
"Mudah-mudahan malam ini Jack tidak pulang sama sekali, sehingga aku bebas dari kebuasan nafsunya."
Ellena terus berjalan dari satu ruang keruangan lain, memperhatikan banyak nya miniatur dan sovenir berkelas. dia yakin barang-barang tersebut tidak ada yang murah. namun sekian banyak yang dia perhatikan. tidak ada foto keluarga ataupun kekasihnya yang bernama Angela.
"Aku benar-benar penasaran dengan gadis yang bernama Angela, ah... sudahlah untuk apa juga aku harus mencari tahu." meyakinkan diri nya kembali.
Saat hendak berbalik, Ellena melihat sebuah camera pengintai yang terdapat disetiap sudut ruangan. dia yakin, jika gerak geriknya tidak luput dari pantauan Jack. sehingga Ellena memutuskan untuk istirahat dikamar kembali.
"Ternyata, hidup dirumah bak istana dan menjadi seorang putri. tidak seindah yang aku bayangkan."
****
Dikantor, Jack terus memperhatikan istri kecil, yang mulai menarik perhatiannya. melalui camera pengintai cctv yang terhubung langsung dengan laptopnya.
Ditengah-tengah rapat besar ini, Jack tersenyum-senyum sendiri. membayangkan malam panas yang sudah mereka lalui. sehingga Jack ingin merasakan nya kembali. tubuh Jack berdasarkan dikantor namun hati dan pikirannya sudah melayang membayangkan Ellena.
"Tuan Jack, bagaimana dengan hasil pembahasan kita." ucap salah seorang kepala cabang perusahaan.
Namun Jack tidak menanggapi ucapan mereka, malah kembali tersenyum penuh misteri. asisten Jason yang paham dengan apa yang tengah dirasakan tuan mudanya, segera mengambil alih rapat.
"Jason, kamu lanjutkan saja. apapun hasilnya segera laporkan nanti." ucap Jack melangkah meninggalkan ruangan rapat sesuka hatinya, tanpa memperdulikan tatapan heran peserta rapat, mengingat Jack selama ini sangat disiplin.
"Ternyata jatuh cinta, mampu merubah seseorang. bahkan orang yang berkuasa sekalipun." gumam Jason.
Selesai rapat, Jason kembali menemui Jack keruangan nya.
"Tuan, ini laporan rapat hari ini."
"Letakan dulu disana." sambil bersiap untuk pergi.
"Maaf tuan, anda mahu kemana?"
"Apa aku harus melapor padamu?" Jawab Jack dengan nada dingin.
"Maaf tuan, jika saya lancang. tapi sebentar lagi akan ada pertemuan dengan klien kita dari Jepang."
"Atur jadwal nya, untuk besok pagi saja."
"Tapi ini klien penting, dan ini proyek kerjasama dengan nilai fantastis, tuan." ucap Jason berusaha memberanikan dirinya.
"Jadi kamu sudah berani, mengatur dan membantahku." menatap tajam dan mengintimidasi Jason yang mulai ketakutan dan menyesali ucapannya.
"Tidak... tidak tuan, baiklah, saya akan atur kembali sesuai dengan keinginan tuan. kalau begitu saya permisi."
"Ya, keluarlah dari ruangan ku."
Jason mundur dan segara keluar, dia begitu melihat kemarahan Jack yang tidak pernah ditujukan padanya selama ini.
"Tuan Jack sekarang mulai bertingkah aneh, padahal biasanya dia selalu mengutamakan kerja dan kerja, mengenyampingkan urusan pribadi. yang menurutnya tidak penting." gumam Jason.
