Pulangnya Mayang
Tangan Rian jelas memegang sesuatu yang ada di dahinya.
"Kain apakah ini?"
Rian menurunkannya, melihat si buruk rupa ada di samping tempat tidurnya. Dia tertidur di tangannya yang lain.
"Dia tidur? Apakah saya demam selamam? Si buruk rupa ini sudah merawat saya?" Tanyanya sendiri.
Rian membangunkan Dewi yang masih tertidur disampingnya dengan posisi duduk dan kepalanya berada diatas tangannya, dia merasa tidak nyaman jika si buruk rupa itu menindihkan kepalanya diatas tangannya karena itu rasanya sakit.
"Bangun! Jangan di sini kami tidur!"
Dewi bangun. Dia sudah dibangunkan oleh orang yang membuatnya begadang semalaman.
Matanya bisa melihat jika Andrian sudah sehat kembali.
"Rian, kamu sudah sehat? Saya tahu kamu akan sehat lagi, Rian. Saya seperti nelangsa untuk bisa memiliki kamu," umpat Dewi.
Dewi menundukkan kepala. Itu yang dia lakukan agar lebih sopan di depan majikannya. Terlebih tahu sifat Rian sekarang seperti ini.
"Keluar dari kamar saya jelek! Kamu tidak pantas ada di sini!" Rian mengusirnya.
"Baiklah."
Dewi keluar sangat santai, tidak pernah memasukkan kata-kata kasar Rian ke hatinya.
Dewi membuka pintu rumah yang sekarang sudah ada Mayang di depannya.
"Ibu, selamat datang kembali di rumah ini," kata Dewi.
"Selamat datang Dewi, kamu harus tahu kalau saya membawakan kamu oleh-oleh banyak, karena kamu sudah mau bertahan di rumah ini," balasnya merangkul Dewi.
Mendengar kalimat Mayang mengatakan 'Sudah bertahan di sini?' apakah itu tertuju untuknya yang sulit diatur?
Mayang mencari anaknya itu di dalam kamar, tidak ada di sana.
"Mih. Saya ada di belakang Mamih," katanya.
Mayang menengok ke belakang. Tawanya renyah terdengar oleh telinga Rian. Tanpa berlama-lama mereka berpelukan.
"Andrian, kamu memang anak Mamih yang paling tampan," ucapnya.
"Jelas itu Mih, siapa dulu Mamihnya yang cantik."
Mamih melonjak gembira mendengar jawaban dari anaknya itu. Dia masih membawa koper dan beberapa tas untuk peralatan yang akan dia gunakan di Indonesia.
"Mamih akan tinggal di sini? Tanya Rian.
"Tentu. Mamih akan tinggal bersama anak Mamih yang tampan ini. Dan Dewi yang kata kamu si buruk rupa," jawab Mamih.
"Nah itu yang ingin saya bahas, saya ingin kasih tahu Mamih kalau dia itu," katanya belum selesai.
"Dia itu siapa?"
Mayang penasaran dengan cerita Rian. Namun Dewi sudah masuk ke dalam kamar Rian membawa barang-barang Mayang yang lain.
"Ibu, ini mau diletakkan di mana? Apakah di sini saja?" Tanya Dewi.
"Di sini saja, terima kasih ya Dewi."
"Sama-sama Ibu Mayang," jawabnya pergi.
Bagaikan tempat sandarannya Mayang selalu berusaha mendengarkan apapun yang dikatakan oleh anaknya ini walaupun kadang dari dulu Andrian memang suka sekali marah-marah. Semenjak Andrian merasa jika dirinya memang belum bisa menebus kesalahannya kepada masa lalunya. Mayang ingat jika itu semua mengganggu fikiran anaknya terus menerus akan tetapi Andrian bisa mengontrol semua itu jika dalam masa pendidikan ataupun pekerjaan Dia sangat fokus.
"Mamih tahu tidak, saya tidak suka dengan Dewi karena dia terlalu ceroboh dan semua pekerjaannya tidak pernah betul. Dia memang tidak pantas untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga di keluarga kita ini, saya ingin dia dipecat apalagi dia pernah menamparku," katanya mengadu kepada Mayang.
Mayang hanya terkekeh mendengarkan pengaduan dari anaknya ini mengenai Dewi karena Mayang sendiri yang meminta Dewi menjadi asisten rumah tangganya bahkan berkali-kali Dewi menolaknya karena dia tahu jika dirinya memang belum pantas menjadi seorang asisten rumah tangga yang baik tetek Mayang memaklumi itu semua itu sebabnya Dia memberi kesempatan asalkan Dewi tetap Bertahan untuk menghadapi Andrian yang begitu keras kepala dan tidak bisa mengontrol kata-katanya beberapa kali mengganti asisten rumah tangga mereka kabur karena terus diketahui oleh Andrian begitu tajam dan mencengkam hati mereka satu persatu.
"Kamu berlebihan Andrian, dia marah mungkin karena sikap kamu dan perkataan kamu menyinggungnya, mungkin jika Mamih bukan orang tua kamu, Mamih akan tersinggung dengan semua ucapan kamu yang terlalu kasar dan terlalu tinggi untuk diucapkan," balas Mamih.
"Ayolah Mih, saya hanya ingin dia dipecat dari rumah ini dan hidup saya akan lebih tenang lagi, Andrian ingin lebih fokus di rumah ini mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai dan sempat diberikan email dari Papih, rasanya jika melihat si buruk rupa itu fikiran Andrian tidak fokus," katanya lagi terus membujuk Mamihnya.
Seperti racun yang ingin diberikan oleh Andrian kepada Maminya untuk memecat Dewi dari rumah ini bahkan mengusirnya. Semakin hari Rian tidak suka dengan Dewi karena dia begitu jelek dan mempunyai nama seperti orang yang dia sayangi itu tidak layak untuk Dewi si buruk rupa. Namun Mayang tetap menghadapinya dengan santai dia tidak mau Jika Dewi pergi dari rumahnya terlebih dia sudah berjanji kepada kedua orang tua Dewi.
"Kalau kamu mau fokus bekerja, lakukan saja pekerjaan dan Jangan membawa semuanya kepada Dewi, Itu hanya alasan kamu saja untuk menghindari pekerjaan kalau kamu memang berkata itu membuat kamu tidak fokus, Mamih saja tidak merasa terganggu oleh Dewi Walaupun dia banyak salah, yang tahu pekerjaan Dewi itu Mamih lebih dulu bukan kamu, jadi hargailah Dewi seperti kamu menghargai Mamih," balas Mayang.
"Baiklah kalau itu mau Mamih, jangan salahkan saya jika sikap saya masih sama seperti dulu dan akan kasar kepada Dewi. Jika dia tidak pergi dari rumah ini, saya hanya meminta baik-baik kepada Mamih. Namun jika semua ini tidak membuat dia pergi maka sikap saya yang akan membuat dia pergi dan Mamih tidak boleh melarangnya pergi dari sini," pinta Andrian.
"Baiklah kalau itu mau kamu, Mamih yakin jika Dewi akan bertahan di sini dan mengerti akan sikap kamu, kami percaya itu. Karena Mamih begitu mempercayai keluarganya dan Mamih yakin jika Dewi anak baik-baik, dia tidak akan mudah menyerah dengan sikap kamu, cuma dia tahu jika kamu orang yang baik," kata Mayang.
Wajah Andrian berubah kecut mendengarkan jawaban dari mamihnya itu. Bagaimana bisa si buruk rupa itu mengerti tentang sikapnya yang ternyata baik, padahal selama dia di sini, si buruk rupa itu terus dibulinya dan dikatai bahkan tidak dipedulikan. Andrian yakin jika si buruk rupa itu mempunyai niatan buruk karena sudah di hati olehnya.
"Saya tidak mau jika si buruk rupa itu ada di rumah ini! Saya tetap tidak mau!"
Dalam hati Andrian dia akan memastikan jika Dewi keluar dari rumah ini dengan wajah yang menangis dan sangat sedih. Dia akan menyesal sudah tinggal di sini dan mengambil hati Mamihnya. Sampai begitu teguh Mayang membela Dewi.
Apakah Andrian akan bisa mengusir Dewi?
Next Bab Selanjutnya.
