Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kacang Lupa Sama Kulitnya

Gemerintik gerimis turun membasahi alam membawa aura kesejukan hati siapapun yang menikmati suasananya pasti akan menyukai.

Tidak dengan Andrian yang menatap hujan dengan kesombongannya yang menjadi-jadi. selama ini dia menderita menjadi anak panti asuhan dan sekarang menjadi orang paling kaya raya dia merasa angkuh dingin dan tidak mau mengenal siapapun kecuali orang tuanya sekarang dan dia masih mencari Dewi. Pandangannya tertuju kepada Dewi yang sedang mengepel lantai di tengah hujan yang deras seperti ini.

"Merusak pemandangan saja! Dia tidak tahu suasana yang sedang hujan seperti ini?"

Rian menggeleng kepala masih memperhatikan betapa bodohnya asisten rumah tangga satu-satunya itu.

'Dia fikir. Assistant limited edition!'

Andrian mendekat. Dia menendang ember yang ada di depannya. Tumpah membasahi lantai semua. Dewi menghentikan tangannya dan melemparkannya ke Andrian.

"Mas sengaja ya melakukan itu? Kenapa Mas tega menendang ember yang banyak air seperti ini! Mas tahu tidak kalau saya sedang tidak enak badan! Capek!"

Suara Dewi meninggi. Dia marah kepada Andrian yang sengaja melakukan itu semua.

Seketika itu Andrian naik pitam. Emosinya memuncak kepada Dewi yang sudah jelas mengeluh atas pekerjaannya.

"Kalau kamu sudah tidak betah bekerja di sini! Keluar dari sini! Atau kamu akan saya perlakuan seperti ini terus!"

Bukan Andrian saja yang naik pikam sekarang ini Dewi ikut naik pikam dan ingin mengatakan sesuatu kepada Andrian yang sombong ini, dia memang harus dilawan karena tidak mungkin Dewi diam saja diperlakukan seperti ini di saat sakit kepalanya sangat pusing, perutnya sangat mual dan tangannya gemetaran.

"Sombong! Kamu terlalu sombong sekarang Andrian! Kacang lupa dengan kulitnya!"

Seperti menyambar kepala Andrian kata-kata dari Dewi tersebut. Andrian terdiam berdiri di sana mengingat masa lalunya betapa menyedihkan dan sangat rendah. Wajahnya seperti baru saja ditampar jantungnya melompat tidak karuan, berusaha mengatur nafas. Tubuhnya lunglai tidak kuat menopang sendiri matanya melihat jika Dewi sudah berlalu meninggalkannya.

Dewi pergi dari sana meninggalkan Andrian yang masih memikirkan kata-kata itu, baru sekarang ini ada yang mengatakan seperti itu kepadanya. Bahkan yang mengatakannya ini adalah asisten rumah tangga. Si buruk rupa.

"Astaghfirullah, kenapa saya marah, saya sudah terpancing olehnya yang sudah membuat saya kesal," katanya menyesal.

Dewi berjalan menuju kamarnya dan memastikan jika tubuhnya akan sampai di tempat tidur, namun Mayang melihat Dewi berjalan dengan tidak wajar. Sempoyongan dan tidak terarah hingga dirinya ingin memastikan Dewi baik-baik saja di sana, dia berlari untuk menangkap Dewi yang sekarang ingin pingsan di dekat pintu kamarnya sendiri.

"DEWI! Teriak Mayang.

Sekuat tenaga Mayang memapah Dewi untuk dibantu masuk ke dalam kamar setelah itu Dia memanggil Rian yang ada di dalam kamarnya. Dia masih marah seketika meminta Dewi pergi dari rumah ini, namun Mayang tidak menurutinya.

"Bosan!" Seru Rian keluar dari kamarnya. Dia masih mengingat betapa Dewi mengucapkan kata sombong didepannya dan dia ingin membalas semua itu sekarang juga akan tetapi Rian tidak tahu di mana Dewi sekarang karena di sekitaran rumahnya Dewi tidak terlihat bahkan terlalu besar jika dia mencari satu-persatu ruangan yang ada di sana.

"Andrian," Panggil Mayang.

Andrian mendengar suara Mamihnya dari arah ruangan belakang. Langkahnya benar-benar cepat untuk memastikan Mamihnya baik-baik saja.

"Mih. Mamih kenapa?" Tanya Andrian panik.

Tangan Andrian memegang lengan Mamihnya. Mayang masih panik dengan kondisi Dewi yang sekarang sakit dan menggigil. Panasnya sangat tinggi, dia bingung harus seperti apa mengurus Dewi sedangkan sekarang ini mengatakan kepada Andrian seperti menyerahkan Dewi kepada musuhnya.

"Itu...Dewi sakit," kata Mayang.

"Huh! Rian fikir apa? Kalau si buruk rupa itu biarkan saja," balas Andrian acuh.

Mayang benar-benar kecewa dengan sikap Andrian dan dia tidak menyerah untuk membantu Dewi, tangannya yang menarik lengan Andrian, dia tidak peduli jika nanti Andrian marah kepadanya tidak mungkin Andrian marah kepada Mayang yang sudah membesarkannya selama ini. Namun tetap saja Rian tidak mau masuk ke dalam kamar walaupun dipaksa oleh Mayang, lebih jelasnya karena Mayang ingin agar Andrian membawa Dewi ke rumah sakit sekarang. Namun Rian tidak mau berhubungan dengan Dewi apapun itu walaupun Dewi sangat terlihat lemah sekarang ini. Nurani Andrian seperti Mati rasa untuknya.

Dewi masih tempat tidurnya. Meringkukkan kakinya yang menggigil kedinginan. Kamar itu dingin walaupun tempat itu adalah kamar asisten rumah tangga. Mayang tetap memberikan AC.

"Andrian. Andriannnnnn," panggilnya.

Suara itu terus terdengar di telinga Mayang. Entah bagaimana harus menjelaskan kepada Dewi yang sakit. Jika Andrian tidak peduli. Dia lebih memilih untuk pergi setelah hujan redah.

"Andrian, kamu di mana? Dewi rindu kamu. Andrian!"

Mayang sekarang mengerti jika yang disebutkan oleh Dewi adalah anak angkatnya. Dan dia berpikir jika memang Dewi yang di depannya adalah Dewi yang dimaksudkan oleh anaknya selama bertahun-tahun lamanya dan sempat dia lihat sejenak pertama kali dia bertemu dan berpisah dari Dewi, ketika Dewi mengejarnya mobilnya untuk mencegah Andrian pergi.

"Jadi Dewi ini. Anak itu?"

Mayang tidak percaya ini dia menelpon dokter untuk memeriksa keadaan Dewi, tidak mungkin jika dirinya tidak menolong teman lama dari anaknya ini dan Mayang sendiri sudah terlanjur menyayangi Dewi sebagai anaknya bukan sebagai asisten rumah tangganya. Mayang sendiri juga yang menyekolahkan Dewi selama ibunya itu sudah meninggal, Mayang berpikir jika benar ini adalah Dewi sahabat dari anaknya maka kedua orang tua yang ada di sini bukankah kedua orang tua Dewi.

Karena nasib Dewi sama seperti Andrian anaknya yang tidak punya orang tua kandung.

"Saya harus mengatakan ini kepada Andrian, dia pasti senang bisa bertemu dengan sahabatnya. Saya juga ikut andil atas penyesalannya. Saya yang sudah memisahkannya," kata Mayang.

Setelah dokter datang ke rumah untuk memeriksa keadaan Dewi. Mayang mencoba menelpon Andrian berkali-kali. Andrian tidak bisa dihubungi dia tidak ada kabar selama dua jam ini dan yang mengkhawatirkan keadaan Andrian di luar sana karena sekarang emosinya sedang tidak teratur.

Mayang ingin sekali mencari Andrian. Namun Dewi snagat membutuhkan dirinya.

"Andrian. Saya di sini, di dekat kamu."

Ucapan Dewi membuat tangan Mayang menutup mulutnya. Matanya mengalir air mata yang begitu sedih.

"Hiks. Dewi, maafkan Ibu."

Mayang merasa paling berdosa sudah membuat Dewi seperti ini. Dia juga yang tidak mencari pembantu lagi di rumahnya. Sehingga semua dikerjakan Dewi. Padahal rumah itu terlalu besar. Mayang berjanji setelah Dewi sembuh dia akan mencari asisten rumah tangga yang banyak sehingga dia tidak melihat Dewi sakit lagi.

Sampai larut malam Andrian baru datang ke rumah, dan Mayang memergokinya di pintu depan dengan menyalakan lampu.

"Dari mana kamu?" Tanya Mayang.

Next Bab Selanjutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel