Penasaran
Hangatnya petang menuai semburat jingga. Sinar mentari terlalu habis tergelincir di ufuk barat menerobos melalui sela-sela tirai jendela ruangan Rian.
"Sebaiknya saya pulang, hari sudah mulai gelap."
Rian membereskan semuanya terlebih dahulu. Dia juga akan menelpon menemui seseorang yang katanya dia adalah Dewi. Semua informasi didapatkan karena wanita itu menggunakan kalung berlambang infinity yang pernah dia berikan.
Masih Rian merasakan hembusan kesejukan di luar kantornya.
"Aku ingin pulang dulu, lebih baik saya mandi agar bertemu dengan Dewi palsu lebih wangi, saya tidak tahu itu kamu atau bukan, yang pasti saya berharap," ucapnya masuk ke dalam mobil.
Rian sudah tenang karena tidak akan bertemu dengan si buruk rupa itu lagi. Dia sudah sampai ke rumah melakukan perjalanan hampir dua jam karena terkena macet jalanan.
"Sumpah, kalau saya Ibu hamil mungkin sudah lahiran di jalan," gumamnya masuk ke dalam rumah.
Rian menaruh tasnya, dia merebahkan tubuhnya sejenak ketika sampai di sofa panjangnya itu.
Matanya sedikit terpejam untuk merilekskan diri dari pekerjaan yang sudah membuatnya pusing sepanjang hari ini.
"Dewi. Buatkan saya kopi!" Perintahnya.
Tidak sadar kalau dirinya sudah mengusir bahkan membuang Dewi dijalanan.
"Oh iya. Dewi sudah pergi, sial saya harus membuat kopi sendiri."
Rian beranjak dari sofa, dia benar-benar ingin membuat kopinya sendiri. Ketika baru saja ingin melangkah ke dapur.
"Mas Rian, silahkan kopinya sudah jadi," kata Dewi.
Rian mengucek matanya beberapa kali, dia tidak percaya yang dia lihat ini, asli atau palsu.
"Kamu. Asli atau bukan?"
Rian sekali lagi benar-benar memastikan itu Dewi atau bukan.
'Kok bisa ada di sini? Padahal dia sudah dibuangnya.'
"Mas Rian? Katanya minta kopi, minumlah selagi hangat, saya permisi ke belakang dulu untuk menyiapkan makan malam," pamitnya.
"Eh."
Rian bingung harus berkata apa setelah Dewi pamit ke dapur, dia juga ingin segera meminum kopi itu agar tidak mengantuk ketika bertemu dengan wanita yang mengaku dirinya Dewi.
"Wanita siluman itu ya, tadi jelas-jelas di buang di jalan. Kenapa dia bisa kembali?"
Rian penasaran bagaimana caranya Dewi bisa kembali ke rumah setelah perjalanan yang cukup jauh dari tempatnya membuang tadi.
Rian menyudahi kopinya. Dia pergi ke dapur untuk melihat Dewi di sana. Seperti ingin mengetahui banyak tentang si buruk rupa itu.
"Mas sedang mengintip saya?" Tanyanya.
Dewi mengetahui jika majikannya memang sedang mengintipnya.
"Saya hanya ingin tahu kamu masak apa di sini? Saya boleh tahu?"
Andrian mendekat, dia mengambil sendok yang ada di dekat sana. Dewi membiarkan majikannya itu mencicipi masakannya.
"Cobalah masakan saya Mas, lebih baik Mas bilang kalau mau mencoba, jangan mengintip dari jauh, jujur itu seperti maling," singgungnya.
"Jadi kamu berfikir saya maling?" Dengusnya.
"Bukan seperti itu, saya hanya berkata yang terbaik untuk Mas Rian," balas Dewi.
"Terbaik atau menggurui saya hah? Kamu pasti suka menggurui orang tua seperti saya. Jadi kamu merasa berhak sekarang! Cepat katakan kepada saya, kenapa bisa kamu kembali lagi di rumah ini?" Tanyanya berhasil mengatakan pertanyaannya ini.
Dewi menundukkan kepala, mengehentikan tangannya yang mengaduk masakan.
"Saya sudah selesai masak, lebih baik Mas mandi dan ganti baju, saya mencium aroma tidak segar di sini," sindirnya.
"Kamu bilang saya bau?" Decaknya tidak terima.
"Bukan begitu," balas Dewi.
"Sudahlah, tadi saya tanya tidak di jawab. Sekarang kamu menghina saya bau," ucapnya ketus.
Kemarahan Rian yang tidak ada tandingannya di mana-mana. Dia terlalu emosi dan tidak bisa dikendalikan. Hanya saja Dewi tidak menanggapinya serius. Walaupun sekarang tersenyum kecut di depan Rian.
"Maaf, saya harus menyiapkan ini dulu," pamit Dewi.
Rasanya Rian tidak percaya akan hal ini. Dia mulai dimendapatkan sikap cuek dari seorang wanita.
"Hanya perlu jurus jitu agar si buruk rupa itu tidak cuek, eh. Kenapa aku memilihnya sekarang? Tidak mungkin! Lebih baik aku mandi."
Rian membuyarkan lagi fikirannya untuk tidak lagi memikirkan si buruk rupa dengan wajah yang berjerawat.
Setelah mandi. Dia harus tetap dengan janjinya malam ini. Bertemu dengan wanita yang sekarang ingin dia temui.
Sudah pukul 19.00 WIB. Rian akan pergi menuju tempat yang dia janjikan kepada Dewi palsu.
"Mas Rian mau kemana?" Tanya Dewi.
"Bukan urusan kamu!" Serunya masuk ke dalam mobil.
Dewi menggelengkan kepala, dengan sabar masuk lagi ke dalam rumah. Padahal dia sudah memasakan yang paling lezat untuk majikannya.
Dewi memastikan sendiri masakannya itu sebelum Rian pulang kembali, dia bisa memanaskannya lagi.
"Huekkkkk! Tidak enak!"
Dewi memuntahkan makanan yang dia fikir itu enak, beruntung tadi Rian belum sempat mencicipi.
"Saya selamat dari marabahaya mulut majikanku itu," ucapnya.
Dewi segera membersihkan semua makanan yang sudah capek-capek dia masak itu.
Dari tempat Rian berada sekarang, dia bertemu dengan seorang wanita. Dia sangat cantik dan mempesona.
"Jadi kamu-Dewi?"
"Yah, saya Dewi, saya punya bukti jika saya Dewi, kalung ini," jawabnya.
Wanita itu menunjukkan kalung yang dipakai melingkar pada lehernya. Memang sangat indah dan bagus mata Andrian lihat jika kalung tersebut terbuat dari berlian asli, itu sebabnya Andrian berdiri tangan yang menggenggam erat ada di atas meja.
Brak!
"Penipu! Mau apa kamu menipu seperti ini? Memangnya kamu fikir layak jadi Dewi? Dewi tidak seperti kamu yang jelek!"
Tangannya memukul meja dua kali, dia mengambil air minumnya yang baru saja diantarkan pelayan.
Wanita itu sangat terhina di depan Rian, sudah diguyur air minumnya. Belum mulut Rian yang tidak mau berhenti. Wanita itu pergi. Menyesali perbuatannya yang sudah menipu Rian.
"Dia fikir siapa? Memang lebih baik itu orang pergi dari pada saya maki terus!"
Rian pergi, dia tidak akan bisa menerima ini lagi. Berapa kali bertemu dengan wanita yang mengaku dirinya Dewi. Namun wanita itu memamerkan kalung berlian. Itu bukan kalung yang dia berikan, karena kalung yang dia berikan itu adalah kalung mainan yang hanya dia beli dengan harga murah.
Rian pulang dengan rasa kesalnya. Masih dongkol atas pertemuan barusan. Walaupun Rian sampai melihat wanita itu menangisi perbuatannya. Namun Rian tidak peduli.
Rian masuk ke dalam rumah setelah dia sampai. Tidak mau banyak berbicara dengan Dewi si buruk rupa.
Rian menggigil, dia banyak memikirkan Dewinya. Tidak percaya jika dirinya gagal menemukan Dewi yang asli. Karena sekarang Rian benar-benar merasa bersalah dan ingin menebus kesalahannya kepada Dewi.
Dalam tidurnya bermimpi tentang masa lalunya itu. Dia terus menyebutkan nama 'Dewi'.
Asistennya masuk ke dalam kamar Rian, siapa lagi kalau bukan Dewi. Dia mendengar suara Rian yang terus mengigau menyebutkan namanya.
"Andrian. Saya di sini," ucapnya.
Next Bab Selanjutnya.
