
Ringkasan
Dewi. Asisten rumah tangga Andrian yang ternyata teman masa kecil saat di Panti Asuhan. Walaupun mereka sudah tidak punya jarak lagi dan Andrian terus mencari Dewi, akan tetapi Dewi tidak percaya diri, penampilannya tidak secantik dulu. Maka dari itu. Dewi terus menutupi identitasnya dibalik profesinya sekarang menjadi asisten rumah tangga. Namun hatinya bergejolak berbeda kepada majikannya setelah setiap hari bersama. Dia jatuh cinta begitu juga Andrian. Bagaimana kisah Dewi dan Andrian, baca terus babnya.
Singkat Tentang Kita
Andrian masih berusaha memastikan jika tabungannya cukup untuk membeli barang seseorang yang sekarang ada di dekatnya.
"Rian. Hari ulang tahun aku nanti, aku tidak punya orang yang akan membuat aku senang, aku tidak punya siapa-siapa, padahal aku ingin mempunyai orang tua yang bisa menyayangi aku seperti anak-anak yang lain," lirih Dewi menenteskan air mata.
Andrian memahami apapun yang dirasakannya, dia juga merasakan segalanya karena Andrian sudah tidak mempunyai orang tua kandung semenjak kecelakaan kejadian kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
"Tenanglah Dewi, masih ada aku di sini. Aku akan selalu ada untuk kamu," balas Andrian.
"Aku sangat bersyukur kamu ada di sini dengan aku, aku beruntung punya kamu dan yang lainnya, di panti ini adalah keluarga aku," kata Dewi memegang lengan Andrian.
Senyumnya lebar bersama Andrian penuh dengan harapan, jika dirinya akan menemukan kebahagiaan setelah hari ulang tahunnya yang ke sebelas tahun ini.
Masih ada dua hari lagi menjelang hari ulang tahunnya. Andrian diam-diam mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli kado.
'Aku akan membuat kamu bahagia Dewi. Percayalah hanya aku yang bisa membuat kamu bahagia.'
Andrian terus mengacak-acak rambut Dewi, dia yang mengerti betapa Dewi begitu rapuh di depannya.
Dewi sangat cantik di panti asuhan yang mereka tempati, panti asuhan permata bunda, di sana memang dia ratunya, penyebab utama Andrian sangat mengagumi kecantikannya, apalagi dia sangat lembut.
Andrian berandai-andai jika dirinya besar, dia ingin menikah dengannya, karena dia menyukai kecantikannya dan rambut panjangnya, itulah fikiran anak remaja yang masih belum mengerti arti tujuan untuk menjalani hubungan rumah tangga, namun Andrian ingin mewujudkannya.
Dewi masih ada di depan panti, dia sibuk mengumpulkan bunga-bunga yang ingin dia susun ke dalam pot kaca berwarna putih.
"Cantik sekali bunga itu," kata Andrian baru saja datang memberikan sapaan kepadanya.
Dewi menengok dengan cepat, senyumnya terpancar membuat jantung Andrian kembali berdetak lebih kencang semenjak mengenalnya.
Andrian sudah mengenal arti cinta diumurnya yang terbilang muda, tiga belas tahun, umur yang seharusnya dipergunakan hanya untuk sibuk mengejar mimpi-mimpi dan belajar.
"Rian. Kamu katanya mau membeli sesuatu di pasar malam dekat sini, apakah tidak jadi?" Tanyanya menagih janji.
"Oh ya, aku hampir lupa, kalau begitu kita berangkat sekarang," jawabnya.
"YEAAHH. Kita berangkat," soraknya begitu senang.
"Iya, aku ingin kamu yang memilih sendiri hadiah ulang tahun kamu itu," balas Andrian.
"Kamu mau membelikan aku kado? Uangnya dari mana?" Tanya Dewi.
"Aku sudah membawa celengan jago, kita pecahkan sekarang," jawab Andrian.
Andrian dan Dewi memecahkan celengan jago yang ada di depan mereka menggunakan batu.
Suara pecahan celengan terdengar. Andrian dan Dewi terus mengumpulkan dan merapikan uang yang sudah berceceran di depan mata mereka. Senyum Dewi terlihat ketika Andrian terus melanjutkan untuk menghitung uangnya.
"Banyak juga uangnya, kamu dapat dari mana?" Tanya Dewi.
"Aku membantu tetangga mencuci piring, dan selalu diberikan uang, aku tabung di celengan ini," jawab Andrian.
Andrian memang meminta kepada asisten rumah tangga di dalam panti asuhan untuk mengajaknya ke rumah tetangga, agar dirinya mendapatkan uang yang akan dia kumpulkan sebulan yang lalu. Alasannya cuma satu.
Dihari ulang tahun Dewi, dia ingin membelikan sesuatu yang sangat spesial.
Mereka akhirnya pergi ke pasar malam yang ada di dekat panti asuhan, di sana banyak yang menjadi pilihan Dewi dan Andrian.
"Bagaimana kalau boneka?" Tanya Dewi melirik boneka beruang berwarna pink.
"Boleh," jawab Andrian.
Namun Dewi melihat harga yang ada di gantungan boneka, harganya sangat mahal. Bahkan uang Andrian tidak akan cukup membayar dua ratus ribu rupiah.
"Kemarilah Rian, kita cari yang lain saja," ucap Dewi.
"Baiklah."
Sebenarnya Andrian ingin juga membelikan boneka itu, boneka yang sudah diinginkan dewi. Namun mata Andrian tertuju kepada pedagang aksesoris wanita.
"Lihatlah kalung ini Dewi, sangat cantik untuk kamu," kata Andrian.
"Iya, itu bagus."
Rasa senang Dewi langsung membuat Andrian berani membeli kalung yang ada di depannya. Sisa uangnya mereka belikan popcorn warna warni.
Andrian belum menyerahkan kalung itu. Dia ingin memberikan di saat ulang tahun Dewi.
"Kita pulang sekarang, nanti ibu panti mencari kita," ajak Andrian.
"Iya kamu benar, ayo kita pulang," jawab Dewi.
Mereka terlalu menikmatinya, berkeliling melihat wahana yang ada di sana, juga banyaknya pedagang. Mereka akhirnya pulang ke panti, terdengar oleh mereka pembicaraan ibu panti yang mengatakan jika Andrian akan di adopsi oleh pasangan yang akan terbang ke Korea.
"Tidak! Kamu akan pergi Andrian!"
Lirikan mata Dewi sendu, dia tidak sanggup kehilangan Andrian yang sudah membuat dirinya nyaman.
"Dewi. Tunggu aku!"
Andrian mengejar Dewi untuk tidak salah paham dengan ini semua. Andrian tidak mau berpisah dengan Dewi, dia ingin tetap ada di panti asuhan ini apapun yang terjadi.
Dewi sudah menutup rapat pintu kamar agar Andrian tidak bisa masuk ke dalam kamar.
"Hiks. Andrian akan pergi, aku tidak mau itu terjadi."
Tangannya gemas memukul-mukul bantal yang ada di tangannya, dia tidak bisa kehilangan Andrian seperti dia kehilangan teman-temannya yang lain. Namun ini Andrian yang selalu ada untuknya, tidak mungkin jika Dewi merelakannya begitu saja.
"Dewi. Aku mau bicara!"
Tangan Andrian terus menggedor-gedor pintu kamar Dewi, dia tidak mau kalau Dewi membencinya. Karena Andrian baru mengetahui ini semua, dia juga memahami setelah ini Dewi tidak juga keluar. Sampai pada akhirnya Andrian memberanikan dirinya naik ke atas jendela kamar Dewi.
"Dewi," Panggil Andrian.
Dewi turun dari tempat tidurnya, dia merasa harus mengeluarkan apapun yang menjadi keresahannya.
"Kamu kenapa nekat masuk? Aku sudah bilang, kalau kamu mau pergi dari panti ini, pergi saja. Aku sudah tidak mau dengar apapun itu," kata Dewi meneteskan air mata.
Tangan Andrian menyeka air matanya, dia mengerti jika Dewi tidak akan sanggup kehilangannya. Apalagi Andrian sendiri sudah berjanji untuk menjaganya.
"Aku mohon jangan seperti ini Dewi. Aku tidak mengetahui kalau aku akan di adopsi. Tenanglah sekarang, aku tidak akan menerima adopsi itu demi kamu," ucap Andrian.
"Hiks. Kamu janji?"
Jarinya ada di depan mata seolah ingin membuat janji kepada Andrian yang harus menepatinya.
"Aku akan lakukan apapun untuk kamu," kata Andrian.
Jari Andrian mengikat jari kelingking Dewi. Mengaitkannya sekencang mungkin agar tidak lepas. Senyum Dewi terpancar seketika mereka sudah mengucapkan janjinya.
'Janji yang tidak penting menurut Andrian.'
Malam ini terlihat sangat dingin. Andrian keluar lagi dari kamar Dewi melalui pintu. Dewi sudah mau membukanya. Ibu panti melihat mereka setiap hari semakin akrab.
Kesedihannya memang tidak bisa dibohongi oleh dirinya yang masih takut jika nanti akan terjadi, dirinya dan Andrian terpisah karena mereka di adopsi oleh kedua orang tua yang berbeda.
"Tidak! Aku tidak akan sanggup membayangkan semuanya!"
Dewi menutup wajahnya dengan bantal ketika ingin tertidur, perkataan ibu panti dan orang yang akan mengadopsi Andrian terus terngiang di telinganya.
Dari kamar Andrian, dia tersenyum dengan lebar melihat foto yang ada di dekat bantalnya.
Next Bab Selanjutnya.
