Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Gagal Membuang Dewi

Rumah sudah menjadi 'kutukan'. Kata-kata itu tepat karena sekarang di dalam rumah yang dulunya nyaman tidak lagi setelah ada asistennya yang selalu membuat Andrian kesal.

"Pagi Mas Rian?" Sapa Dewi.

"Hemm."

Dia hanya berdeham kepada Dewi yang baru saja menaruh sarapan untuknya di meja makan.

"Silahkan makan Mas, jangan lupa nanti keluar rumah, karena di luar sudah ada lima wanita yang sudah menunggu," kata Dewi memberitahu.

"Siapa mereka? Kamu tanya namanya?" Tanya Rian akhirnya mau berbicara.

"Dewi," jawab Dewi.

"Semua? Atau salah satu saja?" Tanyanya lagi.

"Iya semua Mas, mereka bilang kalau mereka Dewi," balas Dewi.

"Oh, jadi mereka Dewi. Kamu sebaiknya tunggu di sana, saya akan keluar setelah sarapan," katanya.

"Baik Mas, saya akan lakukan, kalau begitu saya pamit," pamit Dewi.

"Yah."

Andrian benar-benar santai makan roti yang sudah disediakan Dewi. Dia tidak akan terburu-buru menanggapi penipu-penipu yang hanya mengincar hartanya melalui ini. Ini adalah jalan mereka mendapatkan uang dari Andrian, jika memang terbukti itu Dewi.

Dewi keluar dan memastikan mereka tetap mengantri sesuai urutan yang sudah disediakannya.

Bertambah tiga orang wanita yang datang dengan pakaian yang cukup glamor dan sexi.

"Astaga, sexinya."

Dewi berani mengomentari pakaian mereka, hingga dirinya lupa diri dengan pakaiannya sendiri yang berseragam 'Pembantu'.

Andrian keluar. Kehebohan terjadi ketika mereka semua melihat wajah dan tubuh Andrian.

"Huahhhhhh ganteng."

Kata-kata itu terdengar sampai di telinga Dewi.

"Wanita-wanita menjijikkan! Pergi kalian semua!" Andrian mengusir mereka.

Padahal belum Rian menyeleksi mereka apakah benar itu adalah Dewi atau bukan, yang terlihat saat ini tetap bukan Dewi, yang Andrian lihat, jika mereka terlalu mempertontonkan aset berharga mereka di depan orang, padahal Rian mengenal Dewinya yang berpakaian lebih tertutup.

"Masuk! Jangan berikan mereka izin masuk ke dalam halaman lagi! Saya tidak akan sudi menerima mereka masuk!"

"Baik Mas."

Dewi lagi-lagi menundukkan kepalanya. Tanda jika dia hanya akan menurut kepada majikannya.

"Bagus, kamu juga jangan bikin aku kesal. Saya bisa gantung kamu di atas pohon depan!" Ancam Rian.

"Tidak Mas, tolong jangan."

"Masuk ke dalam! Buatkan saya kopi panas dengan takaran gula setengah sendok teh," perintahnya.

"Baik Mas."

Dewi pergi menuju dapur untuk membuat kopi yang diminta Andrian. Dia sedikit keberatan membuatkan kopi untuk Andrian. Ini adalah kesempatan baginya untuk bisa dekat dengan majikannya.

Dewi keluar dari dapur membawa kopi untuk Rian. Dia melihat jika Rian memegang piring plastik yang menumpuk di meja makan dapur.

"Heh! Ini apa? Kamu niat bekerja atau tidak! Kamu tumpuk pekerjaan ini. Sama saja kamu tidak becus bekerja!"

Dewi meringis lagi, dia paham kalau pekerjaannya menumpuk. Akan tetapi memang hari masih pagi, di baru bisa menyiapkan sarapan untuk majikannya.

"Maaf Mas, saya akan kerjakan sekarang," kata Dewi.

"Sudahlah! Kemarikan kopi itu!"

Dewi berjalan ingin memberikan kopi yang baru saja dia buat. Namun kakinya mulai tidak seimbang lagi.

"Argh."

Kopi itu tumpah di celana coklat Andrian. Dia mulai menarik kursinya untuk bisa berdiri.

"PANAS BODOH! KAMU CEROBOH LAGI!"

Dewi menundukkan kepala, rasanya takut sudah melakukan kesalahan yang fatal seperti ini.

"Astaga, pasti Mas Rian akan bilang, kalau harga diri saya ini tidak lebih mahal dari celananya," umpatnya.

"Heh! Kamu tahu tidak? Celana ini lebih malah dari harga diri kamu! Kamu harus tahu itu!"

Ucapan Andrian sudah dihafal Dewi hari ini. Dia sudah terbiasa. Andrian memastikan jika Dewi tidak punya niatan untuk menamparnya lagi. Kalau iya, Rian akan melempar dia ke laut.

"Saya minta maaf," ucapnya lalu pergi.

Dewi pergi agar emosi Riyan tidak banyak dilampiaskan kepadanya.

"Memang pembawa sial! Kenapa juga Mamih mempekerjakan orang seperti itu?" Gerutunya mengibaskan celananya yang tertumpah kopi tadi.

Rian tidak menyangka jika dia punya asisten rumah tangga yang bodoh dan tidak bisa bekerja dengan baik.

Dia mengganti celana agar secepatnya dia berangkat kerja. Hari ini juga Rian benar-benar harus mengurus perusahaan milik orang tuanya.

"Ikut dengan saya! Saya membutuhkan asisten!" Perintah Rian.

"Baik Mas.."

Dewi hanya mengikuti saja kemana majikannya akan membawanya pergi, dia tidak mau kalau majikannya ini naik darah ketika menanggapi sikapnya.

Rian benar-benar membawa Dewi pergi dari rumah.

'Ini kesempatan untuknya membuangnya.'

Dewi masuk ke dalam mobil mewah Andrian.

"Huahhhhhh, bagus...saya baru naik mobil kayak begini, kursinya empuk dan dingin juga," katanya sumringah.

"Dasar norak!"

Andrian sekali lagi mengatai Dewi lagi. Bagaimana tidak seperti itu, ini pertama kalinya Andrian duduk dekat di samping orang norak seperti Dewi.

Dewi tetap tidak peduli. Dia senang bisa naik ke mobil mewah majikannya. Masih terus ada di sana menikmati dinginnya AC, duduk di dalam mobil Andrian sangat menyenangkan untuk Dewi. Dia menghentikan mobilnya di tengah jalan.

"Cepat keluar! Saya mau kamu keluar!"

Andrian menyeret tangan Dewi secara paksa. Tidak menunggu jawaban Dewi agar tetap di sana.

"Kita sudah sampai?" Tanyanya lugu.

"Hadeh! Banyak tanya lagi. Pergi jauh dari mobil saya!"

Rian meninggalkan Dewi di pinggir jalan. Tanpa ada rasa kasihan sedikitpun Rian tetap pergi bekerja.

Dewi tenang. Dia merasa jika dirinya memang harus pulang ke rumah sekarang. Tidak panik saat diturunkan oleh Rian.

'Kamu harus sabar menghadapi anak saya, karena dia itu jahil dan suka sekali tidak punya perasaan dalam berbicara dan bersikap.'

Kata-kata itu tertanam pada kepala Dewi yang dikatakan Mayang kepadanya akan selalu dia ingat.

"Lebih baik saya mencari bus," ucapnya.

Dewi menghentikan busnya. Berlari mengejar bus yang masih berjalan belum juga berhenti.

Ini mengingatkan betapa dulu dirinya mengejar mobil seseorang yang tidak juga berhenti ketika dirinya kejar.

Dewi mendapatkan busnya. Naik dan duduk di sana. Banyak sekali penumpang di sana. Melihat penampilan Dewi seperti sebelah mata. Rambutnya yang dikepang dan menggunakan kaca mata bulat berukuran lumayan besar.

"Ada yang salah dengan saya ya," umpatnya.

Dewi melihat sendiri penampilannya itu. Tidak ada masalah. Dia tidak pernah menggunakan cermin semenjak dia berpisah dengan Andrian dulu.

"Mukanya jerawatan, cupu juga. Kasihan deh, pasti susah dapat jodoh," ucapnya pelan.

Penumpang lain mengomentarinya sangat jahat. Mereka sudah terlalu banyak membicarakan tentang Dewi.

Hanya Dewi yang diam. Dia tidak terlalu memperdulikan mereka semua, baginya hidup itu tidak akan layak jika kita mengurusi kehidupan orang lain dengan menghinanya.

Dewi berhenti di tempat yang seharusnya. Terbiasa menggunakan angkutan umum, dia tidak pernah baper dengan omongan orang.

"Hingga sekarang saya mengerti, jika orang-orang itu selalu menghina penampilan saya ini, saya tidak peduli."

Dewi melangkah masuk ke gerbang rumah majikannya. Dia sudah selamat dan aman, entah Andrian berfikir apa saja tentangnya jika pulang nanti.

Gimana nih kalau Rian masih melihat Dewi di rumahnya guys?

Next Bab Selanjutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel