Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Biarkan Terpendam

Andrian berhenti di depan Mayang. Dia mengetahui kalau Mamihnya sedang marah. Andrian paling pintar merayu Mamihnya dengan beberapa makanan. Contohnya yang dia bawa sekarang. Martabak.

"Saya bawakan Mamih martabak yang paling Mamih sukai loh. Dan ini rasanya manis sekali," rayunya dengan mengedipkan matanya.

"Kebiasaan kamu itu memang suka sekali buat Mamih begini. Ya sudahlah jangan diulang. Mamih mau makan martabaknya," balas Mamih tergiur.

Mayang mengambilnya. Dia sudah tidak memikirkan lagi tentang Dewi yang ada di kamar sedang terbaring lemas. Mayang juga melupakan ketika dirinya ingin memastikan apakah Dewi itu adalah sahabat anaknya.

"Ini kesempatan aku untuk tidur. Malas sekali harus membahas si buruk rupa," kata Rian.

Rian masuk dengan santai ke dalam kamar. Tidak ada yang dia fikirkan kecuali benar-benar istirahat malam ini.

Dewi terbangun. Dia ingin melihat Rian dari dekat. Diam-diam masuk ke dalam kamar yang sedikit dia buka.

Tubuhnya masih terombang-ambing karena pusing.

"Saya pusing, saya benar-benar pusing sekali."

Dewi memegang kepalanya bagaikan batu keras yang sangat berat. Dia sudah melihat Andrian ada di depannya.

"Andrian?" Panggil Dewi.

Matanya berat. Dia tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Menjadi pingsan juga tidak ada yang dapat lihat setelah matanya tertutup.

Bugh.

Suara orang terjatuh di atas tubuh Rian. Dia terkejut karena yang jatuh itu ternyata si buruk rupa.

"Hadeh. Drama apalagi yang dia perbuat?"

Rian menepuk wajah Dewi untuk membangunkan yang dia rasa itu hanya pura-pura.

"Woy. Bangun! Jangan pura-pura deh, kamu itu tukang tipu juga. Sama seperti cewek-cewek yang saya kenal," kata Rian.

Namun tidak ada jawaban dari Dewi. Tangannya benar-benar merasakan jika Dewi memang sedang demam.

"Panas sekali. Dia sakit ini," ucapnya baru panik.

Rian mengambil obat panas yang ada di dalam kotak obat.

Rian panik sampai lupa kalau Dewi sudah punya obat sendiri dari dokter yang dipanggil Mamihnya.

Rian hanya memindahkan Dewi ke tempat tidurnya. Berasa gerah karena tempatnya digunakan untuk orang jelek.

Malam sudah terlalu larut. Sehingga Rian ikut tertidur di samping Dewi memegang tangan Dewi.

Sangat terlelap ketika dua hari bisa menjadi satu. Malam ini terlalu sulit dilupakan. Walaupun mereka tidak sadar dipersatukan dalam mimpi.

Pagi menyapa mereka berdua dengan saling pandang satu sama lain. Begitu terkejutnya Rian bersama dengan wanita si buruk rupa.

"Tidak! Kamu kenapa ada di sini? Keluar sekarang!" Teriaknya.

Dewi bangun dari sana. Dia beranjak pergi untuk menghindari konflik dengan Rian.

"Kamu memang tidak akan bisa membuat saya jadi gugup seperti ini! Memangnya dia secantik apa saja saya harus gugup?"

Rian bertanya kepada dirinya sendiri karena sudah gugur di depan Dewi. Wanita jelek itu benar-benar luar biasa dipikiran Rian karena sudah membuatnya gugup dan selalu terbayang akan wajah jeleknya.

"Saya harus bekerja lagi. Semua pekerjaan pasti sudah menumpuk."

Dewi pergi ke dapur untuk memastikan pekerjaannya memang tidak menumpuk, akan tetapi dalam fikirannya memang pekerjaannya pasti menumpuk dikarenakan di rumah tidak akan ada yang membantunya. Namun matanya melihat jika banyak asisten rumah tangga di dalam dapur yang membersihkan piring-piring kotor dan lantai juga ada yang bertugas untuk memasak. Itu membuat Dewi kebingungan setelah dirinya sembuh dari sakit justru rumah ini dipenuhi dengan asisten rumah tangga.

"Dewi sudah sadar? Ibu tadi mau ke kamar tapi Dewi sudah ada di sini," kata Mayang.

"Iya Ibu, saya mau bekerja, tadinya saya berfikir jika pekerjaan di rumah masih banyak, jadi saya kesini," jawab Dewi.

"Sudah sayang, kamu istirahat saja. Di sini banyak asisten rumah tangga yang sudah Ibu bayar. Jadi kamu bisa fokus untuk kuliah," ucap Mayang.

Dewi terharu. Dia benar-benar merasa jika ibu Mayang ini tulus membantunya dan dia beruntung mendapatkannya, yang membantu biaya sekolahnya sejak dirinya masih SMA dan sampai di perguruan tinggi hingga semester akhir ini semuanya dari keluarga ini. Dewi banyak hutang budi kepada Ibu Mayang yang selalu menganggap dirinya sebagai anak.

"Terima kasih Ibu, saya beruntung bisa menggunakan Ibu Mayang yang sangat baik hatinya. Saya tahu kalau ibu Mayang sayang sama saya," kata Dewi sambil memeluk Ibu Mayang.

"Iya sama-sama Nak."

Sikap ibu Mayang ini memang layak diberi jempol karena semua anak pasti mengidam-idamkan Ibu seperti bunga yang ini bahkan menjadi menantunya pasti akan bahagia.

"Ibu mau kamu jujur Nak, kenapa kamu menutupi identitas asli kamu di depan anak Ibu?" Tapi Mayang.

"Maksud Ibu apa? Dewi tidak mengerti," jawabnya.

"Iyah. Ibu sudah mengetahui kalau kamu itu memang sahabat kecil Rian," kata Mayang.

"Ibu, saya mohon. Saya minta Ibu Mayang jangan katakan diri aku ini siapa kepada Rian," pinta Dewi.

"Kenapa kamu meminta ini? Dia berhak mengetahui itu. Ibu tahu kalau kalian saling merindukan satu sama lain," katanya.

"Tidak Ibu, biarkan dia melanjutkan hidupnya tanpa saya lagi, biarkan saya memendamnya. Saya tidak mau kalau dia tahu kondisi saya yang sekarang," balas Dewi.

"Tidak Nak, Rian pasti mengerti keadaan kamu, kalau kamu berani jujur dengannya, percayalah Nak, Rian akan menerima temannya."

Dewi membalikan tubuhnya dari Ibu Mayang yang dia tidak akan percaya lagi jika Rian itu akan menerima kondisinya seperti ini. Bahkan setelah dirinya mengetahui sifat Rian itu. Andrian yang sekarang seperti tidak dikenalnya.

"Tolong Bu. Biarkan semuanya berjalan dengan apa adanya saja. Jika memang takdir mengizinkan saya dan Andrian bersatu lagi. Maka tidak akan ada yang memisahkan kita," katanya sambil memegang lengan Mayang.

"Ibu tahu itu, tetapi kita juga harus berusaha mendapatkan kebahagiaan kita Nak, kamu harus bilang sama Andrian. Sebelum semuanya terlambat," balasnya lalu pergi.

Di dalam kepalanya itu terdapat banyak pertanyaan yang mengganggu Dewi sehingga dirinya tidak akan pernah bisa menerima kata-kata dari siapapun namun dari bunga yang ini membuatnya tersadar Jika sesuatu itu bisa hilang bahkan terulang kembali seperti dulu. Andrian sudah ada di belakang Dewi sekarang melihat Dewi begitu bengong di depan para asisten yang sedang bekerja.

"Sedang apakah kamu! Kenapa kamu tidak bekerja? Mereka sudah bekerja dari tadi! Mau makan gaji buta?"

Andrian seolah memerintah Dewi terlalu keras sehingga Dewi hanya menunduk dan tidak berani menjawab perkataannya itu dia masih memikirkan sesuatu yang Ibu Mayang katakan kepadanya.

"Heh! Bengong Bu? Kerja woy!" Teriak Rian.

Dewi baru saja menerima teriakan lagi dari Rian yang berdiri disampingnya bahkan sekarang menarik tangannya untuk ikut bekerja dengan para asisten yang lain.

"Kalian libur saja. Biarkan dia yang bekerja sendirian!" Perintah Rian.

"Ehhh. Sembarangan! Kata Ibu Mayang, saya tidak boleh kerja lagi," protes Dewi.

"Diam! Saya yang punya kuasa di sini, saya bebas karena saya anak Ibu Mayang," ucap Rian.

"Huff! Majikan yang benar-benar menyebalkan!"

Dewi berani membisik ke telinga Rian.

Next Bab Selanjutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel