Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

10 Tahun Kemudian

Dewi memasuki ruangan, sebilah nampan yang di atasnya terdapat berbagai macam makanan, dia meletakkan di nakas dekat tempat tidur majikannya.

Gemetar yang luar biasa masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Siapa kamu? Berani masuk ke dalam kamarku!"

Suara yang tidak familiar untuknya setelah beberapa hari bekerja untuk menggantikan ayahnya yang sudah pensium, namun keluarga itu memberikan Dewi kesempatan untuk bekerja di sana karena ayahnya yang sekarang sakit-sakittan.

"Saya membawakan makan malam untuk Mas. Ibu yang memerintahkan saya untuk mengantarkan makanan ini," jawab Dewi.

Seseorang itu memang menakutkan. Terlebih karena dia mempunyai alis yang cukup tebal.

"Hey! Saya tidak tanya itu, yang saya tanyakan, kamu siapa?" Tanyanya lagi mengerutkan dahinya.

"Eummmm...saya Dewi," jawab Dewi.

"Dewi?" Tanyanya tidak percaya.

"Ya..itu nama saya, saya permisi keluar dulu Mas. Kalau Mas membutuhkan sesuatu panggil saja saya," kata Dewi pamit.

"Tungguuu!"

Dewi berhenti, menengok ke arah seseorang yang tangannya ada di belakangnya, dia masih penasaran dengannya.

"Ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya Dewi.

Laki-laki itu diam. Mendekat ingin melihat sejauh mana Dewi jika dipandang dari matanya.

"KELUAR DARI SINI! Perintahnya.

Dewi tersentak sendiri mendengar suara majikannya meninggi kepadanya.

"Baik," jawab Dewi.

Dewi terburu-buru keluar dari kamar, pria berdarah dingin yang sudah mengusirnya sangat keras.

"Tidak mungkin wanita jelek itu Dewi, saya yakin kalau sekarang Dewi sudah menjadi wanita yang cantik," ucapnya.

Andrian duduk melihat makanannya, dia teringat sesuatu yang tidak pernah diberikan siapapun kecuali Dewi.

"Posisi sendok ini, sama persis ketika Dewi meletakkannya."

Dia tidak percaya. Andrian menghilangkan fikirannya sejenak sebelum dirinya makan malam.

Sedangkan Dewi, dia masih harus menyelesaikan pekerjaan di dapur. Banyak piring yang kotor, dia harus segera membersihkan dengan waktu yang singkat, agar dia bisa cepat tidur. Badannya sudah lelah, seperti remuk saja tulang punggungnya bekerja seharian ini.

Dewi terus mengerjakan tugasnya sampai pada akhirnya, kaki itu berjalan dari belakang Dewi. Dia diam-diam memperhatikan bagaimana Dewi yang bekerja di dapur.

"Ayolah Andrian. Jangan berfikir jika itu Dewi. Dewi bukan wanita berjerawat," katanya.

Dia berjalan menuju wastafel tempat di mana dia harus menaruh bekas piring kotornya.

"Tolong cuci ini juga," pinta Andrian.

Sontak membuat Dewi menengok ke sampingnya.

"Baik Mas, biar saya cuci," jawab Dewi mengambilnya.

Andrian masih sibuk memastikan jika yang di depannya itu Dewi. Sahabatnya atau bukan, bahkan sekarang tatapan Andrian tertuju pada tangan Dewi.

"Tangannya juga kasar dan hitam tidak mungkin kalau dia Dewi," umpatnya.

Dewi mengira jika majikannya sudah pergi dari sana. Dia sangat tenang bekerja. Sampai pada akhirnya selesai mencuci piring.

Beberapa percikan air membasahi lantai, sedikit licin ketika Dewi mulai melangkah.

Kakinya goyah tidak bisa seimbang lagi, hingga di mana Dewi ingin kembali meluruskan tubuhnya. Ternyata sudah ada di bagian paling miring.

"Aghhhh....!"

Telapak tangan Dewi menempel di bagian tubuh seseorang yang sekarang menangkapnya.

"Wanita ceroboh! Sedang apa?"

Dewi memandang majikannya dengan rasa takut, dia menundukkan kepalanya lagi tanpa berbicara.

"Lain kali lebih hati-hati. Di rumah ini hanya ada aku dan kamu, kalau kamu mati karena terpeleset, maka beritanya akan viral, jika majikannya tidak bisa memberikan tempat yang aman untuk asistennya," katanya.

Andrian terus menggurui Dewi, dia merasa dirinya tidak pernah melakukan kecerobohan.

"Baik Mas...saya minta maaf," ucap Dewi.

"Bagus kamu minta maaf, jika sudah selesai pekerjaan ini. Lebih baik istirahat. Karena ini sudah sangat larut, aku mau kamu bangun pagi, besok akan ada banyak tamu wanita."

"Iya Mas, kalau begitu saya permisi," pamit Dewi.

Dewi berjalan ke arah kamarnya, tempat yang sudah menjadi tempat tinggal ayah dan ibu angkatnya selama sepuluh tahun jika ibunya masih hidup dan ayahnya tidak sakit-sakittan. Tidak mungkin Dewi mau bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah ini.

Hanya saja majikannya yaitu Ibu Mayang. Beliau yang mau Dewi ada di dalam rumah ini. Karena Dewi adalah anak asisten rumah tangga yang selama ini sudah mengabdi paling lama. Beliau percaya jika anaknya juga akan sama. Bisa bersikap baik dan bekerja lama untuknya.

"Saya akan berikan kamu gaji yang layak dan biaya sekolahmu," kata Mayang.

Itu katanya, dia menjamin masa depan untuk Dewi di sini. Dewi menerimanya karena tidak mungkin dia bisa mempunyai banyak biaya untuk dirinya. Sedangkan Raki-Ayah angkatnya itu sudah pensiun jadi tukang kebun di rumah ini beberapa pekan yang lalu.

Dewi menutup pintu kamar. Berharap malam ini bisa tertidur pulas tanpa adanya gangguan, namun di luar dugaannya.

"Dewi!" Teriak Andrian dari luar kamar.

Menggedor tiga kali pintu kamar Dewi yang baru saja ditutup.

Dewi membuka pelan. Mata Andrian begitu marah pada asisten barunya yang berdiri di depan.

"Kamu sudah melunturkan kemeja kesayangan saya!"

"Hehe, maafkan saya Mas, saya belum mengetahui cara memakai mesin cuci, terus asal campur," jawabnya meringis.

"Kamu fikir ini lucu? Saya akan memberikan kamu hukuman! Kamu tahu tidak, kalau kemeja ini lebih mahal dari harga diri kamu!"

Plak!

Tamparan keras dari Dewi untuk majikannya itu, dia kelepasan. Tangannya tidak terkontrol. Dia tidak mau jika dirinya dihina.

Walaupun Andrian masih sangat marah kepada Dewi. Nanar matanya Dewi membuka nuraninya untuk diam lalu pergi.

"Pembantu sialan! Bukannya minta maaf. Ini mukul! Saya akan mengadukan ini kepada Mamih!"

Andrian tidak habis fikir dengan kelakuan Dewi kepadanya, dia akan mengadukan ini kepada Mayang, melalui handphone.

["Mih. Rian mau Mamih pecat Dewi si buruk rupa itu!"]

["Tunggu dulu, ada apa sebenarnya?"]

["Memang Rian harus bilang alasannya dulu kalau mau minta Mamih pecat pembantu itu?"]

["Jelas dong sayang, dia itu pembantu kita satu-satunya, kamu tahukan kalau Mamih orangnya tidak mudah percaya sama orang, jadi kalau kamu bermasalah bersama Dewi. Mamih paham itu karena kamu emosi saja. Ayo katakan bagaimana kronologi kamu bisa tidak menyukai Dewi?"]

["Baiklah. Rian akan jelaskan bagaimana cara Dewi membuat kemeja luntur dan tidak berguna lagi. Mamih, aku sangat suka kemeja yang aku beli waktu di Paris itu, tetapi rusak karena dia."]

["Ohh...jadi karena kemeja, pastinya kamu sudah memarahi dia dengan berkata. Kemeja itu lebih mahal daripada harga dirinya kamu. Iyakan?"]

["Hahaha..Mamih tahu itu? Rian rasa Mamih sangat mengenal Rian sekarang."]

["Aku sudah mengenal kamu Nak, tetaplah sabar. Hukum saja dia, jangan sampai kamu memecatnya. Mamih sudah berjanji untuk menjaganya seperti anak Mamih sendiri."]

["Tapi Mih, dia sudah menamparku!"]

Sebelum suara terakhir Andrian di dengar Mayang, sambungan sudah terputus.

Tutt....tutt...tutt.

"Argh. Kebiasaan Mamih."

Andrian melempar handphonenya ke tempat tidur.

Andrian berfikir untuk menghukum pembantunya, dia terus memikirkan ide yang cocok.

Hah! Andrian akan menghukum Dewi apa?

Next Bab Selanjutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel