Kehilangan
Sebuah foto yang tadinya ada di dalam map coklat dengan beberapa dokumen tentang surat adopsinya.
"Akhirnya aku diadopsi dan memiliki orang tua," ucapnya.
Andrian membiarkan dirinya menerima adopsi tersebut karena dia harus mempunyai masa depan yang cerah, andai dia terlalu lama di sini, tidak mungkin mempunyai kesempatan kuliah di Korea yang akan datang dua kali kepada dirinya, dia juga takut besar di sini dan bersama dengan yang lain, karena dari dulu mimpinya bisa mempunyai pendidikan yang sempurna.
Tentang Dewi sekarang ini menurut Andrian, bukan tanggung jawabnya, terlalu banyak memikirkan orang lain tidak membuatnya akan maju.
Padahal Dewi sudah mengatakan kepada Andrian, sejuta mimpinya adalah mempunyai hari yang paling spesial bersamanya.
Tepat hari ini, ulang tahun Dewi. Mereka terbangun secara bersamaan, tidak ada yang berubah dari kegiatan mereka di pagi hari, kecuali sore ini.
Andrian mulai menuliskan surat untuk Dewi di dalam kamar.
Isi surat.
[Kamu bisa menunggu aku di danau. Aku ingin merayakan ulang tahun bersama kamu.]
Andrian sudah melipat surat itu dengan dua lipatan kecil dan dimasukkan ke dalam saku bajunya. Karena tidak ada amplop yang pas untuk melengkapi surat tersebut. Andrian mulai mencari di mana keberadaan Dewi sekarang.
Begitu lirikannya tertuju kepada Dewi yang sudah ada di atas sepeda phoenix. Andrian berjalan menuju tempat Dewi, dia berkata.
"Dewi. Bukalah surat ini kalau sudah selesai mengerjakan semua itu, kamu pergi ke tempat yang aku tuliskan," katanya.
Surat itu diberikan Andrian kepada Dewi menerimanya dengan senyum.
"Baiklah Rian."
Dewi mulai membuka surat itu. Pandangannya sudah melihat Andrian yang ada di depan pintu panti.
Seketika dia mengambil sepedanya untuk menuju tempat yang Andrian tuliskan. Tidak jauh dari sana, tempat favorit mereka berdua dengan banyaknya pohon-pohon besar, udara yang sejuk. Danau itu sangat terawat kebersihannya, dia berhenti di sana, menaiki perahu kayu yang sudah ada di tepian danau, tangannya masih memegang surat dari Andrian, berharap jika Andrian akan datang dan menepati janjinya.
"Aku sudah tidak sabar lagi bisa bertemu dengan Andrian, dia pasti akan membawa kue dan hadiah kalungnya, persis yang aku minta," ucapnya.
Dewi semakin membayangkan betapa indahnya waktu bersama Andrian seperti biasanya, tidak perlu Dewi meragukan janji Riyan untuk bisa ke tempat ini.
Hampir satu jam dirinya menunggu Andrian, dia menunggu sampai menjelang magrib, matahari yang sudah tenggelam membuat Dewi turun dari perahu.
"Lebih baik aku pulang, mungkin Andrian ketiduran di panti."
Dewi pulang ke panti. Namun ketika baru sampai di depan gerbang panti asuhan.
"RIYAN!" Teriak Dewi dari kejauhan.
Mata Andrian terbelalak melihatnya, dia ternyata sudah duduk di mobil berwarna hitam bersama orang yang dirinya tidak kenal.
Seperti orang tua angkat Andrian yang akan membawa Andrian pergi.
"Dewi," panggilnya.
Andrian mendekat kepadanya. Dewi ingin bertanya. Kenapa Andrian melanggar janjinya? Bukan hanya itu saja, jika dia menginginkan pergi dari panti, kenapa dia harus membohonginya melalui surat yang dia berikan.
"Dewi. Maafkan aku, aku harus pergi dari sini, maafkan aku."
"Rian. Kamu tega! Kamu mau pergi dan melanggar janji kamu sendiri!"
Penuh dengan kekecewaan. Dewi berlari ke arah panti. Air matanya mengalir masih jatuh sampai membasahi pakaiannya sedikit demi sedikit.
"Kenapa kamu pergi? Aku ingin pamit," kata Andrian.
Andrian kembali lagi masuk ke dalam mobil bersama keluarga barunya, dia juga ikut menangis, seolah ini adalah perpisahan yang terakhir kalinya untuk Dewi dan panti asuhan yang telah memberinya kehidupan.
Tangannya membuka kaca mobil, dia berharap jika Dewi mengejarnya dan mengatakan jika tidak mau kehilangannya.
Rian masuk lagi dan hendak menutup kaca mobil yang ada di pinggir, suaranya terdengar seketika kepala Andrian menengok lagi keluar jendela mobil yang hendak tertutup rapat.
"Andriannnnnn! Andrian tunggu akuuu! Tungguuuu aku Andrian!" Teriak Dewi.
Andrian menengok dan melemparkan senyum termanisnya.
"Dewi. Berhentilah berlari, kamu bisa jatuh, berjanjilah tetap menjadi Dewi yang aku kenal."
Tangannya melempar sesuatu untuk Dewi dari sana, sehingga terjatuh di jalan, namun Dewi melihat barang yang terjatuh dari tangan Andrian.
Dewi berhenti, dia tidak sanggup mengejar mobilnya. Mereka tidak mau menghentikannya untuk Dewi, kedua orang tua baru Rian sama tidak mau kalau Andrian berubah fikiran lagi.
"Hiks. Aku butuh kamu."
Nafasnya masih berbatah-batah karena sudah berlari cukup jauh mengejar mobil Andrian yang tidak mau berhenti.
Dewi masih menangis di sana, dia melihat sesuatu yang terjatuh di depannya.
"Ini kotak kalung yang Andrian beli untuk aku," katanya.
Dewi membuka kotak kalung mainan yang lucu berwarna-warni. Persis warna pelangi seperti kemauannya.
Tangannya mengangkat kalung yang ada di dalam kotak mainan tersebut.
Satu kalung berlambangkan infinity sangat indah di matanya sekarang ini.
"Ini terlalu bagus Andrian. Aku sangat suka ini, kenapa kamu harus pergi dari aku di saat hari ulang tahun aku, seharusnya kita bisa senang-senang hari ini," lirihnya.
Dewi menggenggam erat kalung pemberian dari Andrian dengan sepenuh hatinya.
Dia tidak mau melepaskan kalung tersebut sampai dirinya pingsan di jalanan, beruntunglah banyak warga yang segera menolongnya untuk dibawa ke panti kembali. Mereka semua sudah mengenalnya, dia terkenal menjadi anak panti paling baik dan suka membantu warga di sekitar. Sekarang diangkut warga ke panti agar Dewi didasarkan terlebih dahulu.
Diperjalanan menuju bandara. Andrian menangis, dia tidak kuat berpisah dengan Dewi.
"Suatu hari nanti kamu pasti akan mengerti. Dewi," kata Rian di dalam hatinya.
Dia berusaha tegar di depan kedua orang tua barunya. Karena mereka adalah masa depan untuk Andrian. Selama ini dia membutuhkan ini. Andrian terlalu mendambakan keluarga kaya layaknya anak-anak yang lain.
Semua yang terjadi beberapa menit yang lalu, sudah membuat Dewi terbangun dari pingsannya. Terlihat jelas jika Dewi menangis lagi memikirkan kepergian Andrian. Kalungnya sudah melingkar di lehernya, dia terus memegang kalung itu, di mana bayangan masih tertuju pada Andrian. Seseorang yang sudah mengingkari janjinya untuk tetap bersamanya di sini. Akan tetapi Andrian benar-benar mengingkarinya.
'Sebuah janji tidak akan penting diucapkan, jika itu hanyalah ucapan belaka!'
Dewi berdiri saat ibu panti sudah pergi dari kamarnya setelah menyadarkannya dan memberi pengertian kepada Dewi tentang kepergian Andrian ini.
Dewi berlari keluar panti malam-malam, dia berlari ke tempat sepedanya.
Dia ke danau, dia berkata.
"Aku benci kamu Andrian! Aku benci!"
Dewi terus menuju ke danau. Hingga dirinya sampai ke danau, menaiki perahu yang tadi sore sudah dia tinggalkan.
"TIDAKKAH TUHAN ADIL! KENAPA HARUS RIYAN YANG PERGI? AKU TIDAK PERCAYA INI. SEMUA ORANG PERGI DARI AKU!"
Teriakannya begitu keras di tempat yang sangat sepi ini, di sana sangat gelap, tidak ada lampu, namun dia berani ada di atas perahu dengan kegelapan.
Tangannya memegang kalung dari Andrian, dia menjatuhkan kalung tersebut dengan tangannya yang perlahan lurus ke bawah dan masih dalam keadaan menangis.
"Selamat tinggal Andrian! Selamat tinggal!"
Matanya tertutup dan Dewi menjatuhkan dirinya dari atas perahu kayu, tenggelam dengan kalungnya yang sudah begitu sabar ditunggunya hanya untuk bisa memakainya hari ini, dirinya tenggelam, bagi Dewi kehidupannya sudah selesai selepas Andrian pergi. Karena dia menganggap Rian sebagai satu-satunya orang yang dirinya harapkan untuk terus bersamanya, tetapi dia sendiri sudah mengingkari janjinya, tidak ada semangat dirinya hidup, keceriaan redup, terlalu banyak kekecewaan dalam benak gadis itu, dia bersama gelapnya malam akhirnya tenggelam.
Byurrr.
Suara orang masuk ke danau setelah beberapa detik dirinya melihat anak kecil yang tenggelam di danau.
Siapa dia yang masuk ke dalam danau setelah Dewi?
Next Bab Selanjutnya.
