Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 4 salah informasi

“Apa?”

Mendengar perkataan Han Dazhuang, wajah ibu Jiang seketika berubah pucat ketakutan. Ia mencengkeram lengan bajunya dan dengan cemas bertanya,

“Dari siapa kau dengar itu? Ada apa dengan Xiao Zhuo? Mengapa bisa ditangkap oleh pihak keamanan?”

Han Dazhuang sambil berbicara menengok ke arah dalam halaman, lalu dengan sengaja meninggikan suaranya menjawab,

“Aku melihatnya sendiri! Tepat di depan klinik kesehatan, aku kebetulan bangun malam dan melihat dua polisi menahannya. Mungkin dia membunuh seseorang! Borgol pun sudah dipasangkan!”

Mendengar itu, ibu Jiang hampir pingsan karena panik. Tubuhnya goyah, lalu berbalik dan berlari ke dalam rumah sambil berteriak dengan suara gemetar, “Xiao Wan! Suamiku! Ada masalah besar!”

Suara lantang Han Dazhuang sudah lebih dulu terdengar oleh orang-orang di dalam rumah.

Jiang Wan yang sedang mencuci muka anak perempuannya ikut terkejut mendengar kabar itu, dan tanpa sengaja menjatuhkan baskom air ke lantai.

Jiang Yu, kakak keduanya, yang tadinya masih tidur, dibangunkan oleh istrinya. Begitu mendengar bahwa Chen Zhuo “membunuh orang”, ia terlonjak bangun dari tempat tidur.

Sekejap rumah keluarga Jiang menjadi kacau balau — ada yang menangis, ada yang berteriak. Para tetangga pun keluar menonton keributan itu.

Yangyang yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, melihat neneknya menangis dan ibunya pucat ketakutan, langsung ikut menangis keras-keras.

Jiang Wan sambil menggendong anaknya mencoba menenangkannya, sementara pikirannya bekerja cepat.

Mengapa pihak keamanan bisa menangkap Chen Zhuo? Apakah sopir itu meninggal dunia semalam? Apakah mereka salah paham pada Chen Zhuo?

Tidak, dia harus pergi menjelaskan!

Dengan pikiran itu, Jiang Wan menyerahkan anaknya ke pelukan ibunya, membuat beberapa gerakan isyarat, lalu bersiap pergi.

Namun Jiang Yu langsung menariknya dengan wajah kesal, menegur dengan suara dingin,“Kau mau ke mana? Masih kurang memalukan, hah? Diam saja di rumah!”

Han Dazhuang yang kini berdiri di halaman sambil menempelkan wajah di jendela, berbicara dengan suara keras agar semua orang mendengar,

“Menurutku, si Chen Zhuo itu memang orang jahat, kalau ditangkap ya biarkan saja! Sudah seharusnya ditembak mati sejak dulu. Orang seperti dia itu parasit dalam masyarakat sosialis, pembuat onar! Sering pula menyiksa adikmu, ditangkap itu sudah pantas!”

Orang-orang yang sedang menonton turut mengangguk dan ikut berbicara, menasihati ayah Jiang yang wajahnya sudah mulai menghitam menahan marah,

“Benar itu, jangan dipikirkan lagi. Orang seperti dia ditangkap juga bagus, nanti Jiang Wan bisa hidup tenang.”

“Omong kosong!” Ayah Jiang marah besar sampai kumisnya bergetar, menunjuk Han Dazhuang dan memaki,

“Kau yang parasit masyarakat! Meskipun Chen Zhuo memang keras kepala, tapi dia tidak pernah memukul orang sembarangan, apalagi sampai membunuh! Kau yang kerjaannya hanya mengganggu orang dan menipu orang bodoh, jangan seenaknya bicara di rumahku!”

“Eh?”

Han Dazhuang merah padam dimarahi begitu, matanya melotot dan ia membalas,“Paman, aku ini datang baik-baik untuk memberi kabar, kenapa malah dimaki begitu?”

Ayah Jiang mendengus keras, menatapnya dengan tajam,“*Musang datang memberi ucapan selamat pada ayam pasti ada maksud buruk. Kami tidak perlu kabar darimu! Jiang Yu, kau pergi ke kantor polisi, tanyakan apa yang sebenarnya terjadi!”

(*ada udang dibalik batu)

Jiang Yu dipanggil namanya, wajahnya tampak tidak rela, namun tak berani membantah ayahnya. Ia pun menumpahkan kekesalannya pada Jiang Wan, melepaskan genggaman tangannya dengan kasar, dan berjalan keluar rumah dengan langkah kesal.

Namun baru saja ia sampai di pintu halaman, suara motor besar terdengar tut tut tut.

Para tetangga yang mengerumuni segera menoleh, mencari sumber suara.

Ternyata menantu bungsu keluarga Jiang, Chen Zhuo, duduk di atas motor polisi, dengan rambut berantakan seperti sarang ayam, wajah berkerut menatap kerumunan orang.

Pembunuh kembali?

Semua orang tertegun, memandangnya dengan campuran rasa ingin tahu dan takut.

Chen Zhuo sudah bekerja sama dengan polisi semalaman. Setelah semua urusan selesai, barulah ia dikembalikan ke desa.

Begitu melihat halaman rumah mertuanya dipenuhi orang, ia langsung terkejut.

Apa-apaan ini?

Belum sempat motor berhenti, ia sudah melompat turun, hendak bertanya mengapa semua orang berkumpul di sini, namun ayah mertuanya sudah bergegas menyambut dengan wajah cemas,

“Xiao Zhuo, apa yang terjadi? Kenapa kau bersama pihak keamanan?”

Sebelum sempat menjawab, Jiang Wan juga sudah mendekat dengan langkah cepat. Ia menatap suaminya dari atas ke bawah, lalu dengan gugup membuat isyarat tangan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Chen Zhuo paling tidak tahan melihat istrinya panik. Baru hendak menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara lantang dari belakangnya,

“Pak polisi, kenapa kalian melepaskan bajingan itu? Bukankah dia sudah membunuh orang?”

Hah???

Bajingan? Membunuh orang?

Bukankah itu maksudnya aku?

Chen Zhuo menoleh, dan melihat Han Dazhuang sedang berbicara dengan polisi bermarga Zhang yang mengantarnya pulang.

Polisi Zhang terkejut, menatap Han Dazhuang dengan bingung,“Siapa yang kau maksud? Siapa yang membunuh?”

Han Dazhuang dengan yakin menunjuk Chen Zhuo,“Dia! Aku melihat sendiri kalian menahannya semalam!”

Zhang tertawa kecil,“Kau pasti salah lihat! Saudara Chen Zhuo ini adalah orang yang sangat jujur dan berhati mulia! Kalau bukan karena dia bertindak cepat menyelamatkan korban, sopir truk itu pasti sudah meninggal semalam!”

“Apa?”

Polisi itu lalu menjelaskan dengan ramah bagaimana Chen Zhuo dengan berani menolong korban, bekerja sama dengan mereka semalaman tanpa tidur, dan memujinya sebagai teladan masyarakat yang patut dicontoh — “seorang Lei Feng masa kini”.

(*Lei Feng=tokoh asli dalam sejarah)

Begitu mendengar itu, para tetangga yang tadi menonton hanya bisa melongo, memandangi Chen Zhuo yang berambut seperti sarang ayam.

Dia? Chen ‘San Ye’ yang terkenal sebagai preman dan pembuat onar di seluruh desa, sekarang disebut pahlawan penyelamat jiwa? Mana mungkin!

Setelah menjelaskan beberapa kalimat, polisi pun pamit kembali ke kantor, meninggalkan kerumunan yang kini malu sendiri. Tak seorang pun berani berbicara lagi, hanya sesekali melirik Chen Zhuo dengan wajah tak percaya.

Chen Zhuo kini mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap Han Dazhuang dengan pandangan menyipit, dingin, dan tajam.

Tatapannya membuat bulu kuduk berdiri — ada aura berbahaya di dalamnya.

Chen Zhuo tahu siapa Han Dazhuang ini.

Jika dulu dirinya adalah preman kasar dan berangasan, maka Han Dazhuang ini adalah orang yang bahkan lebih rendah — bajingan tak bermoral, bejat, dan hina.

Ia terkenal mata keranjang, setiap melihat perempuan cantik selalu berniat jahat.

Setelah berpikir sejenak, Chen Zhuo langsung bisa menebak niatnya — pasti mengincar istrinya.

Heh, benar-benar cari mati.

Han Dazhuang yang merasa tatapan itu seperti pisau menusuk kulit kepalanya, langsung menunduk, tak berani menatap balik, dan kabur terbirit-birit.

Ayah Jiang yang wajahnya tadi hitam kelam karena marah, kini justru memerah karena gembira.

Ia menatap Chen Zhuo dengan mata berbinar, menepuk bahunya kuat-kuat dan berkata,

“Bagus sekali, Nak! Ayah tahu kau pria sejati! Lihat dirimu, rambut sampai acak-acakan begitu, semalaman pasti belum tidur, ya? Ayo, cepat masuk, mandi, makan sedikit, lalu istirahat di atas ranjang!”

Selesai berbicara, ayah Jiang menegakkan tubuhnya, menyapu pandangan ke seluruh kerumunan yang kini menunduk malu, lalu mendengus keras sebelum memeluk bahu menantunya dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Sebelum melangkah masuk, Chen Zhuo menoleh ke belakang, menatap istrinya yang masih terpaku di tempat, lalu tersenyum dan mengedipkan mata padanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel