bab 5 bersyukur
Setelah semalaman penuh kelelahan, Chen Zhuo memang merasa letih.
Namun, ketika ia melihat istri dan anaknya berada di sisinya dengan selamat, rasa bahagia dan puas itu menutupi semua keletihan yang ada.
Ibu Jiang khawatir mengganggu waktu istirahat Chen Zhuo, bermaksud membawa Yangyang keluar berkunjung ke rumah tetangga. Sayangnya, si gadis kecil menolak keras, bersikeras ingin tetap tinggal bersama ibunya.
Tak ada pilihan lain, sang ibu pun pergi sendiri, sementara ayah Jiang pergi bekerja dengan perasaan gembira. Di rumah hanya tersisa keluarga kecil Chen Zhuo bertiga.
Rumah kedua orang tua itu sangat kecil, hanya sekitar tiga puluh meter persegi.
Yangyang bermain sendirian di atas dipan, sementara Chen Zhuo duduk di bangku kecil di luar kamar, matanya menatap lurus pada sang istri.
Jangan lihat tubuh Jiang Wan yang tampak ramping—gerak-geriknya saat bekerja justru cekatan dan sigap.
Saat itu, ia sedang membungkuk, menuangkan air panas dari panci besar ke dalam baskom, lalu mencampurnya dengan air dingin. Ia mengulurkan tangan untuk mencoba suhu air; setelah merasa cukup hangat, ia menoleh ke arah Chen Zhuo, memberi isyarat agar suaminya mencuci muka dan rambut.
Tatapan Chen Zhuo sejak tadi terus menempel padanya. Begitu Jiang Wan menoleh, pandangan mereka pun bertemu.
Tatapan mata Chen Zhuo begitu panas, hingga membuat bulu mata Jiang Wan bergetar halus; ia menunduk dengan gugup, tak berani menatap balik. Ia takut padanya.
Melihat reaksi istrinya, dada Chen Zhuo terasa nyeri seolah disayat. Ia berdiri, melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk menyingkirkan helaian rambut di dahi istrinya.
Namun, gerakan itu justru membuat Jiang Wan terkejut dan mundur satu langkah dengan wajah waspada, menatapnya dengan pandangan penuh ketakutan.
Apakah… dia mengira dirinya hendak memukulnya?
Reaksi sang istri membuat Chen Zhuo merasa perih di hati.
Ia menatapnya dalam diam, lalu bersumpah dalam hati—mulai hari ini, ia akan memperlakukan istri dan anaknya dengan baik, dengan sepenuh hati dan segenap tenaga.
Dengan tekad itu, Chen Zhuo menggenggam tangan Jiang Wan, hendak berbicara, namun tiba-tiba celananya ditarik dari bawah.
Ketika menunduk, ia melihat putrinya sudah berdiri di sana, memeluk kakinya sambil menatapnya dengan mata bening dan berkata manja, “Ayah pegang tangan Ibu~”
Melihat putrinya yang manis dan tidak lagi takut padanya, rasa nyeri di dada Chen Zhuo sedikit mereda.
Ia menunduk, mengangkat anak perempuannya, dan mencium pipinya dengan penuh kasih. Sambil tersenyum, ia berkata, “Baik, Ayah akan pegang tangan Ibu.”
Selesai bicara, tanpa banyak berpikir, ia langsung menggenggam tangan Jiang Wan.
Namun, begitu merasakan kehangatan di telapak tangan istrinya, hatinya yang sudah perih terasa makin sesak.
Tangan lembut itu—pada usia semuda itu seharusnya halus dan lentur—justru penuh dengan kapalan tipis, tanda betapa banyak penderitaan yang telah ia tanggung. Ia baru berusia dua puluh satu tahun.
Dulu, Chen Zhuo tak pernah peduli urusan rumah. Ia menghabiskan hari-harinya bersama para pemuda pengangguran di jalanan.
Pekerjaan di ladang, urusan rumah tangga—tak satu pun pernah ia bantu.
Mengingat semua itu, sorot matanya redup, hati dipenuhi penyesalan dan kebencian pada dirinya yang dulu.
Sementara itu, Jiang Wan terpaku, menatap tangan mereka yang saling menggenggam dengan mata terbelalak, tak percaya.
Namun, hal yang lebih mengejutkan masih akan terjadi…
Chen Zhuo menekan bibirnya, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Xiao Wan, selama ini aku sudah bersalah pada kalian berdua.”
Begitu kata-kata itu keluar, rasa sesak di dadanya seketika menghilang.
Melihat wajah istrinya yang penuh keterkejutan, ia tersenyum tipis dan menggenggam tangannya lebih erat.
“Mulai sekarang aku akan memperlakukan kalian dengan baik. Kalian akan makan kenyang, berpakaian hangat.
Dan aku… tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku janji.”
Jiang Wan benar-benar terpaku. Ia menoleh ke luar, menatap matahari yang bersinar dari arah timur, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Apa yang terjadi dengan Chen Zhuo? Mengapa dia seperti berubah menjadi orang lain?
Jangan-jangan… dia dirasuki roh rubah gunung seperti yang dikatakan Kakak Ipar Chen—bahwa di desa Xiaohe ada roh rubah sakti yang suka merasuki manusia?
Pikiran itu membuat Jiang Wan ketakutan. Ia segera menarik tangannya, merebut anaknya dari pelukan Chen Zhuo, lalu menatapnya dengan gugup dan waspada.
Chen Zhuo tahu istrinya takkan langsung percaya. Ia hanya tersenyum maklum dan menunjuk wajahnya,
“Kau juga tak tidur semalam, ya? Lihat matamu sampai hitam begitu. Masuk saja dulu, tidurlah sebentar. Aku selesai mencuci nanti akan menyusul.”
Mendengar itu, Jiang Wan mengangguk hati-hati, lalu bergegas masuk ke kamar, menghindarinya.
Dengan ingatan dari mimpinya semalam, Chen Zhuo kini merasa rumah yang sempit ini amat menyesakkan.
Tubuhnya tinggi—sekitar satu meter delapan puluh lima—bahkan untuk berdiri tegak di ruangan kecil itu saja sulit.
Ia memandang ke arah sabun yang sudah terbelah dua di tepi baskom, lalu mengerutkan kening dengan rasa jengkel.
Ia harus segera mencari uang—agar istri dan anaknya bisa hidup lebih baik.
Pasti di kota sudah mulai dijual aneka produk perawatan kulit, juga sampo dan losion tangan bermerek. Ia harus membelinya, supaya tangan istrinya bisa kembali putih dan lembut seperti dulu.
Sambil mencuci muka dan kepala, ia mulai menata ingatan dari mimpinya dan merancang langkah-langkah untuk masa depan.
Setelah selesai membersihkan diri, ia menatap cermin di lemari dan melihat wajahnya sendiri—muda, tampan, dan penuh semangat. Melihat istri dan anaknya tidur dengan damai di atas dipan, semangatnya pun menyala.
Tidur! Tidur yang cukup dulu, baru bisa punya tenaga untuk bekerja dan menghidupi keluarga!
Chen Zhuo menanggalkan pakaiannya, berbaring di sisi dipan yang sengaja dikosongkan oleh istrinya, menggenggam tangan kecil putrinya, dan tertidur dengan tenang.
…
“San Ye! San Ye, bangun! Tengah hari begini masih tidur?”
Chen Zhuo sedang tidur lelap ketika terdengar suara ketukan keras di jendela dan teriakan seseorang di halaman.
Ia membuka mata dan langsung terkejut melihat pemandangan di depannya—dua wajah besar menempel di kaca jendela, hidung dan mata mereka tertekan hingga bentuknya aneh!
Jika diperhatikan lebih cermat, kedua wajah itu tampak mirip satu sama lain.
Begitu ia sadar siapa mereka, ia langsung berseru, “Sial! Kalian berdua ini tak ada kerjaan, ya?!”
Dua orang itu langsung tertawa cekikikan dan menjauh dari kaca.
Mereka adalah dua bersaudara, Cao Yong dan Cao Qiang—pengikut setia Chen Zhuo, yang selalu menempel padanya ke mana pun pergi.
Chen Zhuo mengusap wajahnya, melirik jam dinding.
Pukul sembilan lewat sepuluh—baru dua jam ia tertidur.
Ia memandangi sekeliling, tapi tak melihat istri dan anaknya di kamar. Dahi pun berkerut, lalu ia bertanya pada dua saudaranya yang sudah masuk, “Kakak iar kalian, ke mana?”
Cao Yong dan Cao Qiang saling pandang, lalu dengan wajah bingung bertanya balik, “Kakak Iar? Maksudnya Jiang Wan, San Ye?”
Begitu mendengar nama istrinya disebut begitu saja, Chen Zhuo langsung berdiri dan menendang Cao Yong.
“‘Jiang Wan’ itu sebutanmu, hah?”
Cao Yong cepat menunduk, menghindar dan tertawa canggung,
“Salah, salah! Tapi bukankah dulu San Ye sendiri yang melarang kami memanggilnya ‘kakak ipar’? Tahun lalu waktu aku panggil ‘kakak ipar’, kau juga menendangku begitu!”
Chen Zhuo terdiam sejenak—memang benar, dulu ia tidak pernah mengizinkan mereka memanggil Jiang Wan “kakak ipar”.
Rasa bersalah kembali menyeruak, meski wajahnya tetap tenang.
Ia menatap tajam pada keduanya dan berkata, “Itu dulu. Sekarang sudah berbeda. Mulai sekarang, kalian harus hormat pada kakak ipar kalian, jangan pernah kurang ajar.”
“Baik, baik, San Ye bilang apa pun kami nurut,” kata Cao Qiang dengan senyum mengembang.
Lalu ia menambahkan, “San Ye, si Monyet dipukuli orang! Kita harus segera balas dendam!”
“Monyet?”
Alis Chen Zhuo terangkat. Seketika, wajah seseorang muncul di benaknya.
Heh—hampir saja ia lupa.
Dalam mimpinya, “Monyet” itulah yang beberapa tahun kemudian bersekongkol dengan musuh bebuyutannya untuk menjebaknya, hampir membuatnya masuk penjara.
(* San Ye= artinya Tuan Ketiga)
