Bab 3: Hari Pertama Jadi miliknya
Keysha membuka mata saat fajar belum sepenuhnya muncul di balik jendela kamar yang besar. Pagi pertama sebagai istri—tapi bukan istri sungguhan. Ia menatap langit-langit kamar yang asing dan mewah, sambil menarik selimut hingga ke dagunya.
Di sampingnya, Rayhan masih tidur. Tubuh pria itu menghadap ke sisi lain, tak bergerak sama sekali. Napasnya pelan dan teratur. Keysha nyaris berpikir, apakah ini semua hanya mimpi buruk yang terlalu nyata?
Tapi rasa nyeri di punggung karena kasur yang terlalu empuk dan gaun satin yang menyisakan bekas di kulitnya menjawab semua itu: ini nyata.
Ia menikah dengan CEO dingin yang tidak ia cintai.
Dan mungkin… tidak akan pernah.
Keysha perlahan bangkit dari ranjang, mencoba tidak menimbulkan suara. Ia ingin mandi, mengganti baju, lalu turun ke dapur—mencoba mengalihkan pikirannya dengan sesuatu yang lebih masuk akal daripada fakta bahwa semalam ia tidur di ranjang yang sama dengan seorang pria asing.
Tapi belum sempat kakinya menyentuh lantai, suara berat dan pelan terdengar dari arah ranjang.
“Tak perlu pura-pura.”
Keysha terdiam. Jantungnya seakan melompat ke tenggorokan.
“Aku sudah bangun sejak kamu mulai gelisah dari jam tiga pagi.” Rayhan membalikkan tubuhnya, dan kini ia menatap Keysha lurus-lurus dengan mata tajamnya. “Kau pikir aku tidak tahu kalau kamu menangis diam-diam?”
Keysha menunduk, malu. Ia tidak menyangka pria itu benar-benar menyadari air matanya semalam.
“Aku tidak… aku cuma…”
“Kau menyesal?” tanya Rayhan cepat.
Keysha tidak menjawab.
Rayhan duduk. Rambutnya masih berantakan, tapi sorot matanya tetap sama: tajam dan menghukum. Seolah dunia ini miliknya dan ia bisa menghancurkan siapa saja yang tidak tunduk padanya.
“Kalau kau menyesal, kau bisa pergi sekarang juga,” katanya dingin. “Tapi jangan harap ayahmu bisa keluar dari rumah sakit dengan selamat. Aku yang bayari semua pengobatannya.”
Nada suara itu tidak meninggi. Justru semakin tenang, semakin menyakitkan.
Keysha menggigit bibir bawahnya, menahan emosi. Ini bukan soal cinta. Ini bukan soal harga diri. Ini soal nyawa ayahnya, kebahagiaan ibunya, dan kehormatan keluarganya yang sedang terancam.
“Aku tidak akan lari,” jawabnya akhirnya. Pelan, tapi mantap. “Aku akan bertahan. Apa pun yang terjadi.”
Rayhan menatapnya lama. Lalu bangkit dari tempat tidur, berjalan ke lemari, dan mengenakan kemeja hitam.
“Bagus,” katanya singkat. “Jangan lupa janjimu. Karena sekali kau mengingkari—aku tidak akan segan mengakhirinya dengan cara yang kau tidak suka.”
Setelah itu, ia pergi begitu saja, meninggalkan aroma parfum maskulin dan ancaman yang menggantung di udara kamar.
Keysha duduk kembali di ranjang. Matanya masih terasa berat, tapi pikirannya sudah terlalu penuh untuk menangis lagi.
Ia tahu… ini baru permulaan.
⸻
Pukul sembilan pagi, Keysha duduk sendirian di meja makan yang panjang dan terlalu sunyi untuk ukuran rumah semewah ini. Makanan sudah disajikan oleh asisten rumah tangga, tapi ia hanya menatapnya. Tak ada nafsu makan.
Satu per satu mulut-mulut dunia maya mengiriminya pesan. Ponsel barunya berbunyi tanpa henti.
“Keysha, kamu serius udah nikah?!”
“Kok gak ada kabar? Siapa suaminya? Rayhan Ardiansyah yang itu? CEO itu?!”
“Please reply. Kita sahabatan sejak SMP, masa kamu sembunyiin gitu aja?”
Keysha mendesah. Ia tak tahu harus menjawab apa. Kontrak menyuruhnya diam. Dan… mungkin diam memang jawaban terbaik.
Ia mematikan ponselnya, lalu berdiri dari meja makan.
Sebelum ia bisa melangkah ke ruang tamu, seseorang menahan bahunya. Lembut, tapi kuat.
Rayhan.
Dia kembali. Tanpa suara. Seperti bayangan.
“Kau mau ikut ke kantorku?”
Keysha menoleh pelan. “Untuk apa?”
“Orang-orang harus melihatmu sebagai istriku. Biar tidak ada yang berani menyentuhmu.”
Kata-kata itu… tidak romantis.
Tapi ada sesuatu di balik nada dingin itu—entah itu perlindungan, penguasaan, atau sekadar pengingat bahwa ia milik pria itu sekarang.
“Aku harus pakai baju apa?”
Rayhan mengangkat alis. “Kau punya banyak pilihan di lemari. Tapi… aku lebih suka kau pakai baju yang membuat pria lain menyesal karena tak memilikinya.”
Keysha tercekat.
Ia tahu, hari-hari ke depan akan lebih sulit. Tapi ia juga tahu… ini bukan kisah tentang pasrah.
Ini tentang bagaimana ia bertahan di dalam permainan yang tak ia ciptakan—tapi tak boleh ia kalahkan.
Keysha berjalan menuju kamar dengan langkah pelan. Masih terasa canggung menyebut rumah ini sebagai rumahnya sendiri. Apalagi menyebut pria dingin itu sebagai suaminya.
Ia membuka lemari, dan tertegun.
Deretan pakaian yang belum pernah ia lihat—gaun-gaun elegan, blus-blus mahal, sepatu hak tinggi berjajar rapi, semuanya baru, semuanya bermerek. Bahkan ukurannya persis miliknya.
Rayhan sudah menyiapkan semua ini.
Tapi mengapa pria itu seolah membencinya?
Apakah ia hanya mainan yang dibeli Rayhan karena iseng? Atau karena dendam kepada dunia? Kenapa memilih menikahi seorang perempuan asing hanya untuk menyiksanya secara perlahan?
Keysha memilih gaun putih gading berlengan panjang. Sopan. Elegan. Tapi tetap anggun.
Dia tahu mata Rayhan menuntut daya tarik, tapi batinnya tidak siap menyerah secepat itu.
Ketika ia kembali ke ruang tamu, Rayhan sedang duduk di sofa, membaca koran cetak seperti pria dewasa tahun 90-an.
“Sudah siap?” tanyanya, tanpa menoleh.
“Sudah.”
Rayhan mendongak. Matanya menyapu tubuh Keysha sejenak. Lalu mengangguk kecil. “Cukup.”
Cukup.
Itu satu-satunya pujian yang ia dapatkan hari ini.
⸻
Di dalam mobil, mereka duduk diam. Keysha menatap jalanan Subang yang basah sisa hujan semalam. Rayhan sibuk dengan tabletnya. Kadang-kadang ia mengangkat alis atau mengerutkan dahi, seolah dunia bisnis lebih penting daripada kehadiran manusia di sebelahnya.
“Apa kamu menikah cuma buat jaga image, atau… ini cuma permainan kekuasaan?” tanya Keysha tiba-tiba.
Rayhan meliriknya sekilas. “Kenapa bertanya begitu?”
Keysha menatap jendela. “Aku hanya ingin tahu… kenapa harus aku?”
Diam.
Beberapa detik berlalu sebelum Rayhan menjawab.
“Karena kamu perempuan paling terdesak yang pernah kutemui. Dan orang yang terdesak… tidak punya pilihan.”
Jawaban itu seperti pisau.
Tajam. Masuk tanpa izin.
Keysha memalingkan wajah. Ia tidak ingin Rayhan melihat matanya yang berkaca-kaca. Lagi-lagi pria ini berhasil membuatnya merasa kecil.
“Aku bukan boneka.”
“Aku tidak bilang kamu boneka.”
“Tapi kamu memperlakukan aku seperti properti.”
Rayhan mendesah pelan. “Karena kamu memang properti, Keysha. Sementara kontrak ini berjalan, kamu milikku. Tapi… kalau kamu bisa bertahan, kamu bisa keluar dari sini lebih kuat dari sebelumnya.”
Mobil berhenti di basement kantor pusat Ardiansyah Group.
⸻
Mereka masuk lewat lift pribadi. Rayhan berdiri tegak, menatap bayangan mereka di cermin lift. Keysha berdiri di sampingnya, mencoba tak terlihat rapuh.
“Mulai hari ini, kamu akan tampil di hadapan publik sebagai istri CEO. Banyak mata akan mengawasi. Banyak mulut akan menghakimi. Tapi jangan pernah buka mulut soal kontrak,” ujar Rayhan datar.
“Aku tahu.”
“Dan kalau ada yang tanya kenapa kamu bisa menikah denganku…”
“Karena aku mencintaimu,” jawab Keysha cepat. Matanya menatap ke depan. Tanpa ragu. Meski hatinya gemetar.
Rayhan diam.
Hanya terdengar bunyi ding dari lift saat pintu terbuka.
⸻
Di lantai utama, keheningan mereka langsung dibantai sorotan kamera dan tatapan tajam para staf. Semua orang berdiri. Beberapa karyawan perempuan menatap Keysha dari ujung kepala hingga kaki. Ada yang berbisik, ada yang melongo tak percaya.
Rayhan menggenggam tangan Keysha tiba-tiba.
Hangat. Kuat. Penuh kepemilikan.
“Hari ini, istri saya akan menemani saya sepanjang rapat,” ucapnya keras, agar semua orang mendengar.
Keysha tersentak kecil. Tapi ia tetap menampilkan senyum tipis. Ia tahu, sekarang bukan waktunya terlihat goyah.
Seorang wanita tinggi dengan tubuh model berjalan mendekat. Bibir merah merona. Blazer ketat. Tatapannya tajam—lebih tajam dari stileto yang ia pakai.
“Saya tidak tahu Anda sudah menikah, Tuan Rayhan,” katanya dengan nada menusuk.
Rayhan tersenyum tipis. “Aku tidak perlu mengumumkan segalanya, Vania.”
Vania. Nama yang asing… tapi cara dia menatap Rayhan jelas bukan sekadar rekan kerja.
Dan cara dia menatap Keysha? Penuh ancaman.
⸻
Setelah pertemuan selesai, Rayhan kembali ke ruang kerjanya. Keysha duduk di sofa sudut ruangan, memandangi kaca jendela yang menyuguhkan panorama kota.
Pintu tertutup. Hening lagi.
“Kau masih marah?” tanya Rayhan, tanpa menoleh dari meja kerjanya.
Keysha tidak menjawab.
“Jawab aku.”
“Apakah ini akan jadi hidupku selama setahun ke depan? Menjadi boneka yang dibawa ke mana-mana hanya untuk formalitas?”
Rayhan berdiri. Langkah kakinya menuju sofa membuat jantung Keysha memompa cepat.
“Tidak,” katanya pelan. “Ini akan jauh lebih rumit dari sekadar formalitas. Karena kamu akan belajar… bahwa jadi istriku tidak semudah itu, Keysha.”
Dia menunduk, menatap Keysha dari dekat. Suaranya pelan, tapi menggetarkan.
“Kamu akan belajar… bagaimana rasanya menjadi milik seseorang. Sepenuhnya.”
