
Ringkasan
Demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan, Keysha rela menandatangani kontrak pernikahan dengan CEO arogan yang tidak ia kenal: Rayhan Ardiansyah. Syaratnya jelas: tidak boleh jatuh cinta, harus tinggal serumah, dan menuruti semua permintaan sang suami—tanpa pengecualian. Tapi ketika malam demi malam berjalan, Keysha mulai bingung… apakah hatinya tunduk karena kontrak, atau karena Rayhan benar-benar mulai menaklukkan jiwanya? Di balik dinding megah rumah mereka, tidak hanya tubuh yang diuji, tapi juga harga diri dan batas cinta.
Bab 1: Pernikahan Tanpa Cinta
“Selamat malam, Tuan dan Nyonya Rayhan Ardiansyah.”
Kalimat itu terdengar seperti ejekan di telinga Keysha.
Suaranya pelan, hampir berbisik. Tapi tetap tak bisa menutupi kenyataan bahwa ia… resmi menikah dengan pria asing yang bahkan tak sempat ia lihat wajahnya sebelum akad.
Hanya suara.
Dan tanda tangan di atas kertas perjanjian yang lebih tebal dari buku nikahnya.
Keysha menggenggam ujung gaun putih sederhana yang ia pinjam dari butik milik tante sahabat ibunya. Bukan karena ingin tampil anggun. Tapi karena ini… pernikahan. Meski hanya kontrak.
Meski… hanya untuk menyelamatkan keluarganya dari utang ratusan juta.
“Kau bisa ikut aku sekarang.” Suara baritonnya dalam, tenang, dan… entah kenapa membuat tengkuk Keysha meremang.
Laki-laki itu berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja putih dan jas hitam yang menggantung rapi di bahunya. Wajahnya setajam pahatan—dingin, tajam, tak ramah. Rayhan Ardiansyah. CEO muda yang katanya kaya raya dan… tidak punya hati.
Atau memang tidak butuh hati?
Keysha melangkah pelan. Kakinya nyaris tak menyentuh lantai marmer rumah megah itu. Jantungnya berdetak kencang saat mereka berjalan berdampingan, diiringi hening yang lebih menusuk dari hinaan.
Semua terasa asing. Rumah ini, pria ini… bahkan dirinya sendiri.
“Kontrak berlaku selama satu tahun. Tidak boleh melibatkan perasaan, apalagi jatuh cinta.”
Keysha mengangguk pelan. Dia tahu isi kontrak lebih baik daripada isi hatinya sendiri saat ini.
“Aku tidak akan mengganggumu di siang hari. Tapi…” Rayhan menatapnya tajam, “Di malam hari, kamu tahu kewajibanmu.”
Keysha meneguk ludah.
“Kalau kamu tidak siap dengan itu…”
Pria itu mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Keysha yang pucat.
“…maka seharusnya kamu tidak menandatangani kontrak ini.”
Keysha menahan napas. Di luar, suara mobil sudah tak terdengar. Semua tamu pergi. Semua saksi diam.
Kini hanya ada dia.
Dan pria yang membelinya dengan harga sebuah rumah orang tuanya.
⸻
“Aku tidak akan menyentuhmu malam ini…”
Keysha hampir menghela napas lega, sampai kalimat berikutnya keluar dari bibir Rayhan, dengan suara rendah dan tajam.
“…tapi hanya kalau kamu tahu cara membuatku tak tertarik.”
Keysha menunduk. Ia tak tahu harus menjawab apa. Yang pasti, malam ini akan jadi malam paling aneh dalam hidupnya.
Ia mengira malam pertamanya akan penuh cinta. Dengan lelaki yang ia kenal, yang mencintainya, yang melamarnya dengan bunga dan pelukan. Bukan dengan… cek bank dan kontrak kerja.
Rayhan membuka pintu kamar di ujung lorong lantai dua. Kamar pengantin. Tapi tidak ada foto mereka, tidak ada hiasan bunga, tidak ada tawa—hanya lampu temaram dan ranjang king size yang terlalu mewah untuk malam yang terlalu dingin ini.
“Mulai malam ini, kamu tidur di sini,” ucap Rayhan pelan.
Keysha melangkah masuk. Kakinya seperti mati rasa.
“Aku tidur di sini juga?” tanyanya pelan, hampir tak terdengar.
Rayhan menatapnya tajam. “Kita suami istri, kan?”
Keysha menelan ludah. Entah kenapa, kalimat itu tidak terdengar romantis, malah seperti ancaman.
“Tapi—”
“Tenang.” Rayhan melepas jasnya dan meletakkannya di sofa. “Aku bukan monster. Aku hanya ingin kamu mengingat… semua yang kamu minta sendiri.”
Keysha menggigit bibir bawahnya.
Ya, dia yang memohon agar pernikahan ini terjadi. Dia yang datang ke kantor Rayhan, membawa permohonan gila dari ayahnya. Ayahnya yang sakit. Ibunya yang terus-menerus menangis. Utang yang menumpuk di meja makan setiap pagi.
Semuanya… tanggung jawabnya. Dan ini harga yang harus ia bayar.
“Aku mandi dulu.” Rayhan membuka pintu kamar mandi dan masuk tanpa banyak kata.
Begitu pintu tertutup, Keysha langsung terduduk di tepi ranjang. Tangannya bergetar. Perutnya mual. Apa yang ia lakukan? Benarkah ini keputusan yang tepat?
Ia membuka ponselnya diam-diam dan membaca ulang pesan terakhir dari ibunya:
“Ibu yakin, kamu kuat, Keysha. Ini cuma sementara. Setelah ayahmu sembuh, kita akan menebus semuanya. Maafkan ibu.”
Keysha menahan tangis.
Ketukan pelan di pintu kamar mandi membuatnya buru-buru bangkit dan meletakkan ponsel.
Rayhan keluar. Rambutnya basah, kaos hitam menempel di tubuhnya yang berotot. Keysha langsung memalingkan wajah, meski matanya sempat terpaku.
Rayhan mengibaskan handuk dari bahunya, lalu memandang Keysha dingin.
“Kau bisa mandi sekarang. Kalau kamu mau tidur tanpa rasa takut… usahakan jangan membuatku marah.”
Kalimat itu bukan gertakan.
Tapi peringatan.
Keysha berdiri kaku di dekat lemari. Suara detak jarum jam terasa seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ia tahu, tidak ada jalan keluar dari kamar ini. Tidak malam ini. Mungkin… tidak sepanjang satu tahun ke depan.
“Aku tidak akan menyentuhmu kalau kamu tidak menantangku,” ujar Rayhan tiba-tiba, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Keysha memaksakan senyum. “Aku tidak berniat menantang siapa-siapa.”
“Bagus.”
Dia lalu membuka laci di samping ranjang dan melemparkan sesuatu ke kasur. Sebuah kotak kecil.
Keysha menatapnya, lalu pelan-pelan mendekat. Ia membuka kotak itu—berisi kartu akses digital dan ponsel baru.
“Mulai sekarang, kamu pakai itu. Nomor barumu sudah aku atur. Jangan hubungi siapa pun tanpa izin. Kalau ada yang tanya tentang pernikahan ini, cukup bilang: aku menikah karena cinta.”
Keysha nyaris tertawa. Cinta? Bahkan mereka belum bicara lebih dari sepuluh kalimat sejak siang tadi.
“Tapi… keluargaku—”
“Aku akan urus keluargamu. Sesuai kontrak.” Rayhan menyela. “Kamu hanya perlu menjalani peranmu dengan baik. Aku tidak butuh istri cerewet.”
Keysha menunduk. Ia ingin melawan, ingin berteriak bahwa ia bukan boneka. Tapi, bahkan untuk bernafas pun dadanya terasa sesak. Ini bukan waktunya mempertahankan harga diri. Ini waktunya bertahan hidup.
“Silakan mandi. Aku tidak suka orang yang tidur tanpa bersih-bersih,” ujarnya lagi, lalu berbaring di sisi ranjang, membelakangi Keysha.
Dengan langkah pelan, Keysha berjalan ke kamar mandi, menahan air mata yang sudah lama ingin tumpah. Begitu pintu tertutup, ia berdiri di depan cermin.
Rambutnya kusut. Gaunnya lusuh. Matanya sembab. Ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri.
“Apa yang sudah aku lakukan…?” bisiknya lirih.
Lalu, perlahan, ia menyalakan air. Dan membiarkan alirannya menutupi suara tangis pertamanya sebagai… istri bayaran.
Air hangat menyapu tubuh Keysha, tapi tidak berhasil mengusir dingin yang merambat dari dalam hatinya. Ia berdiri lama di bawah pancuran, membiarkan waktu mengalir bersamanya. Tak ada lagu pengiring, tak ada cahaya remang-remang romantis seperti yang ia bayangkan dalam mimpi-mimpi remajanya dulu.
Semua terasa asing.
Tubuhnya menggigil bukan karena suhu air, tapi karena ketakutan yang ia sembunyikan sejak pertama kali tanda tangannya mendarat di kontrak itu.
“Aku kuat… Aku harus kuat,” gumamnya berkali-kali, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah mandi dan mengganti baju tidur berbahan satin yang telah disiapkan di lemari, Keysha keluar dengan langkah pelan. Lampu kamar telah diredupkan. Rayhan masih membelakanginya, tubuh tinggi tegapnya membentuk siluet di bawah selimut.
Ia ragu-ragu, lalu duduk perlahan di sisi ranjang yang masih kosong.
Sunyi. Tak ada suara. Hanya napas mereka yang terdengar berat.
Keysha menatap langit-langit kamar, lalu menutup mata pelan-pelan. Malam pertamanya… dimulai dalam diam, tanpa pelukan, tanpa kata cinta—hanya perjanjian dan peringatan.
Dan dalam diam itu, air matanya jatuh diam-diam.
