Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2: Malam Pertama yang Menyesakkan

Langkah kaki Keysha terdengar pelan saat ia masuk ke kamar itu. Gaun putihnya masih membalut tubuhnya, tapi hawa di dalam kamar terasa berbeda—lebih dingin, lebih… mencekam.

Ini bukan kamar pengantin. Ini lebih mirip ruang penghakiman. Dan dia, sang terdakwa.

Rayhan berdiri di depan jendela, memunggunginya. Hanya lampu kecil yang menyala di meja nakas, menciptakan bayangan remang-remang di wajahnya yang keras.

“Kunci pintunya,” katanya tanpa menoleh.

Keysha menelan ludah. Tangannya bergetar saat memutar kenop kunci. Setelah itu, ia berdiri diam, menunggu instruksi berikutnya seperti seorang pelayan yang siap dihukum.

Rayhan membalikkan badan. Tatapannya langsung menusuk ke arah Keysha—dingin, tajam, tak terbaca.

“Lepas gaunnya.”

Jantung Keysha langsung melonjak ke tenggorokan.

“A-apa…?” suaranya nyaris tak keluar.

“Aku tidak suka main kode. Ini malam pertama kita, dan kamu sudah tahu peranmu. Jangan pura-pura bodoh.” Suaranya tetap datar, tapi penuh tekanan.

Keysha berdiri kaku. Matanya memanas. Tapi ini bukan saatnya menangis. Ia sudah tanda tangan kontrak. Ia sudah tahu risikonya.

Dengan tangan gemetar, ia mulai melepaskan kancing belakang gaunnya satu per satu. Setiap bunyi “klik” terdengar seperti palu godam yang menghancurkan harga dirinya.

Rayhan mendekat, tapi tidak menyentuh. Ia hanya berdiri di depan Keysha, matanya menelusuri tubuh perempuan itu perlahan, seolah sedang menilai barang yang baru ia beli.

“Aku tidak butuh romantisme. Aku hanya ingin kamu… melakukan peranmu dengan baik.”

Keysha mengangguk kecil. Ia berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, meski seluruh tubuhnya gemetar. Gaunnya sudah meluncur ke lantai, menyisakan lingerie tipis berwarna krem.

Rayhan menarik napas panjang, lalu mengangkat dagunya sedikit. “Naik ke ranjang.”

Tanpa kata, Keysha melangkah. Kasur itu tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil dan rapuh malam ini. Ia berbaring, menatap langit-langit, mencoba mengalihkan pikirannya ke tempat lain.

Ketika Rayhan naik ke ranjang dan mulai mendekat, tubuh Keysha otomatis menegang.

“Jangan kaku,” bisik Rayhan, suaranya serak. “Kalau kamu membuatku tidak puas, aku bisa mencari di tempat lain. Tapi kurasa kamu tidak ingin itu terjadi, kan?”

Keysha menggeleng pelan.

“Bagus.”

Lalu bibir pria itu mencium bahunya.

Dingin.

Tajam.

Bukan penuh cinta, tapi penuh kuasa.

Rayhan tak berkata apa-apa lagi. Tubuhnya menyatu dengan tubuh Keysha. Setiap gerakannya terukur. Tidak ada kelembutan, tidak ada rayuan. Hanya irama yang teratur, menyakitkan secara emosi, tapi membakar secara fisik.

Keysha menutup matanya. Mencoba bernapas perlahan. Mencoba… berpura-pura.

Ia melenguh pelan, bukan karena kenikmatan, tapi karena beban di dadanya terlalu berat untuk dipendam sendiri.

Tangannya mencengkeram seprai. Kakinya kaku. Tapi bibirnya tetap tersenyum kecil —sebuah topeng yang ia kenakan demi bertahan.

Meysha menggigit pelan bibir bawahnya sambil mendesah perlahan — suaranya kecil dan lembut.

“Bagus,” bisik Rayhan di telinganya. “Kamu belajar cepat.”

Rayhan sangat menikmati semua yang sedang terjadi, entah dia tau atau peduli dengan perasaan dan pikiran Keysha? Yang terlihat sekarang hanya kepuasannya dan bagaimana cara ia menikmati semua momen hangat itu.

Sekali-kali Keysha menjerit kesakitan, mengingat selaput perawannya yg baru saja pecah sedikit demi sedikit, tapi ia tidak bisa melawan, juga tidak bisa berkomentar.

Rayhan yang berada diatas tubuh Keysha menyadari hal itu…

“Ternyata ini pengalaman pertamamu, pantas saja kamu kelihatan tegang dari tadi. Tapi… kamu menikmatinya juga kan?”

Suara itu terdengar seperti bisikan di telinga Keysha tetapi rasanya seperti dentuman keras tanpa perasaan.

Entah apa yang ada dipikiran Rayhan, tetapi setiap kali dia mendengar suara desahan dari Keysha, ia bisa langsung menyadari dan membedakan mana desahan menikmati dan mana desahan kesakitan.

Setiap kali mendengar desahan pelan dari mulut kecil Keysha, Rayhan melanjutkan gerakannya sambil menatap wajah Keysha. Begitu juga dengan Keysha, terkadang suara itu tidak sengaja keluar dari mulut mungilnya.

Setiap kali ia sadar bahwa suaranya terdengar seperti rayuan, Keysha spontan menggigit bibir bawahnya yang dia pikir itu akan menyadari Rayhan. Alih-alih sadar, sepertinya Rayhan semakin menyukai ekspresi itu.

Namun, saat Rayhan mendengan suara desahan kesakitan. Ia sadar dan langsung menghentikan sebentar gerakannya. Lalu melanjutkannya kembali sampai ia puas.

Malam itu… semua terdengar seperti mimpi untuk Keysha, tetapi rasa sakit itu lagi-lagi menyadarkannya bahwa itu adalah NYATA.

Saat semuanya selesai, Rayhan bangkit tanpa banyak bicara. Ia masuk ke kamar mandi, meninggalkan Keysha dalam keheningan yang lebih bising dari jeritan.

Ia tetap terbaring, tubuhnya lengket, tapi ia bahkan tak peduli.

Air mata mengalir ke pelipisnya. Tanpa suara. Tanpa hentakan. Hanya air mata perempuan yang menyadari bahwa malam ini… sebagian dirinya telah mati.

Ia tidak pernah menyangka, malam pertama yang dulu ia impikan akan berubah menjadi malam pertama yang… menyesakkan.

Keysha masih terbaring ketika suara air dari kamar mandi berhenti. Nafasnya belum teratur. Matanya kosong menatap langit-langit yang terlalu mewah untuk malam yang begitu menyedihkan.

Ia merasa kotor. Tapi bukan karena sentuhan fisik.

Tapi karena ia baru saja menjual sebagian harga dirinya demi sebuah nama di kartu keluarga.

Rayhan keluar dari kamar mandi. Handuk putih melilit pinggangnya. Rambutnya masih basah. Sorot matanya tetap sama—dingin, tenang, tak tersentuh.

Tatapan pria itu melirik tubuh Keysha yang masih telanjang, masih terdiam.

“Kau tidak tidur?” tanyanya, seolah semua ini biasa saja.

Seolah tadi tak terjadi apa-apa.

Keysha menarik selimut ke atas tubuhnya, lalu menjawab lirih, “Tidak mengantuk.”

Rayhan berjalan ke sisi ranjang, lalu duduk. Ia mengambil ponsel dari nakas, membukanya, membalas sesuatu dengan wajah datar. Seolah perempuan yang baru saja ia tiduri bukan siapa-siapa.

Dan mungkin memang begitu kenyataannya.

Keysha tidak tahan. Ia bangkit perlahan, menahan nyeri yang tak terlihat di kulit, tapi sangat terasa di dada. Ia melangkah ke kamar mandi, menutup pintu dengan hati-hati.

Begitu air mulai mengalir dari shower, ia jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin.

Ia menangis. Dalam. Diam. Hancur.

Air dari pancuran menyatu dengan air matanya.

“Aku bukan perempuan murahan…” bisiknya pada dirinya sendiri.

Tapi mengapa tubuhnya begitu dingin? Mengapa ia merasa begitu… hampa?

Semalam, ia masih seorang gadis yang punya harapan. Kini, ia menjadi istri dari pria yang tak mengenalnya. Yang hanya menyentuhnya untuk memenuhi kesepakatan. Yang tidak peduli apakah ia merasa nyaman atau tidak.

Yang bahkan… tidak bertanya apakah ia siap atau tidak.

Keysha memeluk lututnya erat-erat. Mencoba mengumpulkan serpihan dirinya yang berserakan.

Setelah hampir setengah jam, ia bangkit. Membersihkan dirinya perlahan. Mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu mengenakan baju tidur satin berwarna abu muda. Ia menatap bayangannya di cermin.

Matanya bengkak. Wajahnya pucat. Tapi ada sesuatu di sana—sekilas cahaya kecil. Cahaya dari seseorang yang tidak ingin terus jadi korban.

Ketika ia kembali ke kamar, Rayhan sudah tidur. Tidurnya tenang. Lengan kirinya menyelimuti kepala, wajahnya menghadap langit-langit. Keysha hanya berdiri mematung di sisi tempat tidur.

Ia menarik napas panjang, lalu masuk ke dalam selimut. Tubuhnya menjaga jarak. Tapi aroma tubuh Rayhan masih begitu dekat, begitu membekas.

“Mulai sekarang, aku tidak akan jatuh lebih dalam lagi…” gumamnya dalam hati. “Aku akan bertahan. Bukan untuknya. Tapi untuk diriku sendiri.”

Keysha menutup mata.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia bermimpi buruk tentang pernikahan yang baru saja dimulai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel