Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4: Dilarang Jatuh Cinta

Sejak pagi, Keysha merasa ada sesuatu yang berbeda dari Rayhan. Ia tak seketus biasanya. Bahkan tadi saat mereka sarapan, pria itu sempat menyodorkan teh hangat ke arahnya tanpa bicara—dan untuk Rayhan, itu sudah termasuk perhatian besar.

Di kantor, Keysha mendampingi Rayhan dalam beberapa rapat penting. Ia duduk tenang di sisi pria itu, mencatat, mendengarkan, dan pura-pura paham istilah-istilah bisnis yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Beberapa kali Rayhan mencuri pandang ke arahnya. Keysha pura-pura tak sadar, tapi jantungnya berdetak terlalu cepat untuk diabaikan.

Saat jam makan siang, Rayhan tiba-tiba berkata, “Kita makan di luar.”

Keysha menoleh, sedikit terkejut. “Berdua?”

“Ya.”

Mereka berdua menuju restoran Jepang yang cukup tersembunyi di pinggiran kota. Ruang VIP langsung disediakan untuk Rayhan. Tentu saja. Dia CEO. Semua orang tunduk pada namanya.

Saat makanan datang, suasana hening. Hanya bunyi sumpit yang bersentuhan dengan piring keramik.

Keysha memberanikan diri bicara. “Kamu selalu begini ke perempuan yang kamu nikahi?”

Rayhan tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap teh hijaunya, lalu berkata pelan, “Aku tidak pernah menikah sebelumnya.”

Keysha menggigit bibir bawahnya. “Maksudku, kamu memperlakukan semua orang… dengan jarak seperti ini?”

Rayhan menatapnya. “Itu caraku menjaga batas.”

“Batas apa?”

“Batas agar kamu tidak jatuh cinta.”

Keysha tertawa kecil. Pahit. “Siapa bilang aku akan jatuh cinta?”

“Bukan kamu. Tapi kadang, orang yang terlalu sering disentuh… jadi lupa bahwa semua ini hanya sementara.”

Keysha terdiam.

Rayhan melanjutkan, “Kamu milikku. Tapi hanya untuk sementara. Dan aku tidak ingin kamu lupa bahwa semua ini hanya kontrak. Ada masa berakhirnya.”

Kalimat itu menghantam keras di dada Keysha. Ia menggenggam sumpit terlalu erat hingga jemarinya memutih.

Ia ingin marah. Tapi apa haknya?

Bukankah dari awal dia tahu bahwa ini semua hanya permainan? Bahwa ia hanya pemeran figuran dalam sandiwara mewah bernama “pernikahan CEO”?

Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor. Tapi suasana di mobil terasa lebih dingin daripada AC-nya.

Rayhan sibuk dengan tabletnya. Keysha menatap ke luar jendela. Hatinya seperti kaca yang mulai retak.

Malam harinya, Keysha sudah berada di kamar lebih dulu. Ia duduk di pinggir ranjang, rambutnya digerai, wajahnya tanpa makeup. Tapi bahkan dalam kesederhanaannya, ia tampak cantik dan rapuh.

Pintu kamar terbuka. Rayhan masuk, melepaskan jasnya dan menaruhnya di gantungan.

Tak ada sapaan.

Hanya tatapan singkat ke arah Keysha sebelum pria itu masuk ke kamar mandi.

Keysha menghela napas. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Sentuhan. Diam. Tidur. Lalu pagi tanpa kata.

Tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini—bukan dari Rayhan, tapi dari dirinya sendiri.

Ia tak tahu kenapa. Tapi dada Keysha terasa penuh. Seolah ada sesuatu yang ingin meledak. Bukan amarah. Tapi luka.

Beberapa menit kemudian, Rayhan keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus dan celana pendek.

Ia berjalan menuju ranjang, lalu berhenti di depan Keysha.

“Aku lelah,” katanya singkat. “Tapi kamu tahu kewajibanmu.”

Keysha menatapnya. Ada air yang mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi cepat-cepat ia sapu sebelum terlihat.

“Kenapa kamu melakukan ini setiap malam?” tanyanya pelan. “Padahal kamu bisa menyentuh siapa saja, membayar siapa pun… kenapa harus aku?”

Rayhan tidak menjawab. Ia hanya menatap Keysha lama. Lalu duduk di sampingnya.

“Karena kamu istriku,” ucapnya akhirnya. “Dan karena kamu milikku. Aku tidak butuh alasan lain.”

Keysha ingin berkata bahwa dirinya bukan benda. Tapi lidahnya kelu. Ia terlalu lelah untuk berdebat.

“Baik,” katanya lirih. “Tapi tolong… jangan pernah berharap aku menikmati ini sepenuhnya.”

Rayhan mengangkat alis. “Aku tidak pernah meminta itu.”

Ia mendorong Keysha perlahan ke ranjang. Tatapannya tajam. Tapi malam ini… Keysha menangkap sekilas keraguan di mata pria itu.

Rayhan memandang wajahnya, lalu menyentuh pipinya. Lembut. Tidak seperti biasanya.

“Jangan jatuh cinta, Keysha.”

“Tenang saja,” bisik Keysha, menatap langsung ke matanya. “Aku bukan perempuan sebodoh itu.”

Rayhan kembali menatap wajah Keysha setelah mendengar ucapannya.

“Aku bukan perempuan sebodoh itu.”

Ucapan itu terdengar dingin. Tapi Rayhan justru tersenyum tipis—senyum tipis yang entah kenapa membuat jantung Keysha berdebar tak karuan.

Tanpa banyak bicara, Rayhan menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Tidak kasar. Tidak juga lembut. Hanya sekadar menggenggam tubuhnya, seolah sedang menahan sesuatu yang tak ingin dia lepaskan… tapi juga tak ingin terlalu dekat.

Pelukan itu hanya berlangsung beberapa detik. Lalu Rayhan melepaskannya, bangkit berdiri, dan mengambil ponsel.

“Ada yang harus aku selesaikan. Kamu bisa tidur lebih dulu,” katanya datar.

Keysha hanya mengangguk, menatap punggung pria itu yang berjalan keluar kamar menuju ruang kerja di lantai atas. Ada perasaan aneh di dadanya—campuran lega, hampa, dan kecewa.

Ia berbaring di ranjang, menatap langit-langit.

Jangan jatuh cinta, katanya.

Keysha tertawa lirih.

“Mana mungkin jatuh cinta pada seseorang yang bahkan tak tahu caranya menyayangi?”

Tapi batinnya tak sekuat lidahnya.

Karena setiap sentuhan Rayhan, bahkan yang paling dingin sekalipun, perlahan meninggalkan jejak—jejak yang mengacaukan pikirannya, dan membuat tubuhnya menginginkan sesuatu yang tak ingin diakui oleh hatinya.

Pagi harinya, Keysha terbangun lebih pagi dari biasanya.

Ia bangkit, membuka tirai jendela, dan membiarkan cahaya pagi masuk. Matanya menyapu seluruh ruangan. Sepi. Rayhan belum kembali sejak tadi malam.

Ia mandi, berdandan sederhana, lalu turun ke dapur. Belum ada pelayan yang datang pagi ini. Jadi ia memutuskan membuat teh sendiri.

Saat sedang menyendok gula ke dalam cangkir, suara pintu depan terbuka.

Rayhan.

Masih mengenakan pakaian yang sama semalam. Wajahnya lelah. Matanya merah. Tapi tetap tampak memesona dengan caranya yang dingin dan berwibawa.

“Aku tidak pulang tadi malam,” katanya sambil berjalan ke arah kulkas dan mengambil air dingin.

Keysha mengangguk pelan. “Aku tahu.”

“Aku tidak merasa perlu menjelaskan ke mana aku pergi,” lanjutnya, berdiri di ambang pintu dapur, menatap Keysha dari atas ke bawah.

“Aku tidak bertanya,” jawab Keysha sambil menyeruput tehnya. Suaranya datar, tapi cukup membuat Rayhan menghentikan langkah.

Ada ketegangan di udara.

Rayhan mendekat perlahan, lalu mengambil cangkir dari tangan Keysha dan menaruhnya di meja. Ia mendekapnya dari belakang. Dingin tubuhnya kontras dengan hangatnya leher Keysha yang terbuka.

“Jangan bicara seperti itu lagi,” bisik Rayhan di telinganya.

Keysha mematung.

Rayhan memeluknya lebih erat, lalu membisikkan lagi, “Kamu boleh tidak mencintaiku. Tapi kamu tetap milikku. Jangan pernah lupa itu.”

Keysha menarik napas dalam.

“Aku tidak lupa,” jawabnya pelan. “Aku hanya berusaha mengingatkan diriku sendiri, agar tidak berharap lebih.”

Rayhan melepaskan pelukannya, lalu berjalan pergi meninggalkan dapur begitu saja. Seolah tak terjadi apa-apa.

Keysha menatap cangkir tehnya. Jemarinya masih terasa panas. Tapi bukan karena airnya. Melainkan karena sentuhan Rayhan.

Siang hari, Keysha menerima pesan dari asisten Rayhan bahwa ia tidak perlu ikut ke kantor hari ini.

Ia menghabiskan waktunya membaca novel, sesekali melamun, dan membalas pesan dari Hana—satu-satunya sahabat yang tahu sebagian kecil kisah hidupnya.

“Kamu nggak kesepian di rumah segede itu sendirian?”

“Kesepian itu bukan soal tempat. Tapi soal siapa yang nggak bisa kamu peluk saat kamu butuh.”

“Gila. Puitis banget. Lo naksir sama suami kontrakan lo, ya?”

Keysha tidak menjawab. Ia hanya menatap layar ponsel sambil tersenyum miris.

Apakah ia mulai menyukai Rayhan?

Atau hanya… terbiasa disentuhnya?

Batas antara cinta dan keterbiasaan memang terlalu tipis untuk dibedakan.

Malam harinya, Rayhan pulang lebih awal. Ia langsung masuk kamar, menatap Keysha yang sedang menyisir rambut di depan cermin.

“Besok ikut aku ke gala dinner.”

Keysha menoleh. “Aku tidak punya gaun yang cukup pantas.”

“Aku sudah minta sekretarisku mengirim beberapa pilihan. Pilih salah satu. Kamu akan jadi pusat perhatian malam itu.”

Keysha menelan ludah.

“Kenapa tiba-tiba?” tanyanya.

Rayhan hanya menjawab sambil membuka kancing bajunya, “Karena aku ingin mereka tahu siapa yang tidur denganku tiap malam.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel