Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Abu, Darah dan Orang Asing

Joanna berlari tanpa arah yang jelas.

Cabang-cabang pohon mencambuk wajah dan lengannya, akar-akar mencuat dari tanah seperti jebakan. Napasnya tersengal, dadanya terasa terbakar. Di belakangnya, cahaya obor menari-nari di antara pepohonan, disertai teriakan yang tak lagi terdengar seperti manusia yang berdoa, melainkan manusia yang berburu.

“Di sana!”

“Aku melihatnya!”

“Kepung!”

Joanna tersandung dan jatuh tersungkur. Telapak tangannya menghantam tanah keras yang masih hangat oleh api. Bau asap menusuk hidungnya, membuat matanya perih. Dia mencoba bangkit, namun kakinya gemetar hebat.

“Vlad …”

Nama itu berdenyut di kepalanya, bercampur dengan bayangan darah dan mata emas yang penuh peringatan.

Langkah-langkah berat terdengar semakin dekat.

“Joanna Vasile!” Seseorang berteriak. “Keluar! Kau tidak bisa bersembunyi lagi!”

Joanna merangkak mundur, punggungnya membentur batang pohon besar yang hangus sebagian. Api menjalar di kulit kayu, berderak pelan seperti tawa.

“Joanna!”

Suara itu berbeda.

Bukan suara warga desa. Bukan pula suara Vlad. Seseorang muncul dari balik asap, seorang pria tinggi dengan mantel panjang berwarna abu-abu gelap. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, namun matanya tajam dan dingin, memindai keadaan dengan cepat.

“Berdiri,” ucapnya singkat.

Joanna menggeleng panik. “Mereka, hendak memburuku.”

“Aku tahu.” Pria itu meraih lengannya dan menariknya berdiri dengan kekuatan yang mengejutkan. “Jika kau ingin hidup, dengarkan aku.”

“Siapa kau?” napas Joanna tersengal.

“Bukan bagian dari mereka,” jawabnya. “Dan bukan musuhmu.”

Teriakan semakin dekat.

Pria itu mendorong Joanna ke balik semak rapat. Dia menekan tubuhnya ke tanah, lalu menutupinya dengan jubah tebal yang berbau logam dan asap.

“Jangan bergerak,” bisiknya di telinganya. “Apapun yang kau dengar.”

Langkah-langkah melewati mereka. Bayangan obor menari di atas tanah, sangat dekat.

“Joanna tidak mungkin pergi jauh.”

“Cari bekas darah!”

Salah satu pria berhenti tepat di depan semak. Joanna menahan napas, jantungnya berdenyut keras.

Pria misterius itu bergerak cepat, terlalu cepat. Dia berdiri dan menghantam leher pria itu dengan satu gerakan tajam. Tubuh itu roboh tanpa suara.

“Apa itu?” teriak yang lain.

“Asap!” jawab seseorang. “Api semakin besar!”

Pria misterius itu menarik Joanna keluar dari persembunyian. “Kita harus lari, sekarang!”

Keduanya berlari menyusuri jalur sempit yang tak dikenal Joanna. Api menyala di kejauhan, memantulkan cahaya merah ke langit malam. Auman samar terdengar dari dalam hutan, panjang, penuh amarah dan luka.

Joanna berhenti mendadak. “Vlad …”

“Jika kau kembali,” potong pria itu dingin, “kau akan mati!”

“Vlad ingin menyelamatkanku!”

“Dan sekarang kau harus menyelamatkan dirimu sendiri!” teriak pria itu.

Mereka keluar dari hutan tepat ketika lonceng gereja berdentang kacau. Desa Bran terbentang di depan atap-atap rumah berwarna gelap, orang-orang berlarian, api menjilat tepi hutan seperti dinding neraka.

Pria itu berhenti di tepi jalan.

“Sampai di sini saja aku mengantarmu,” katanya.

“Kau tidak ikut?” Joanna menatapnya.

“Tidak.” Dia melangkah mundur. “Ingat satu hal, Joanna Vasile. Yang dibakar malam ini bukan hanya hutan.”

“Siapa namamu?” teriak Joanna.

Pria itu berhenti sejenak. “Panggil aku, Alexandru.” Lalu dia menghilang.

Pagi datang dengan warna kelabu.

Hutan di utara desa tinggal arang dan asap. Pohon-pohon berdiri hitam, telanjang, seperti tulang belulang raksasa. Bau terbakar menyelimuti segalanya, menempel di pakaian, rambut, bahkan napas.

Joanna berdiri di depan gereja bersama puluhan warga desa. Wajah-wajah orang itu keras, mata mereka merah karena kurang tidur dan api amarah.

Father Constantin berdiri di depan, jubahnya berjelaga. Salib perak tergenggam erat di tangannya.

“Kita telah melakukan apa yang harus dilakukan,” ucapnya lantang. “Kegelapan tidak bisa hidup di tempat yang diterangi api.”

Beberapa orang mengangguk. Yang lain tampak ragu.

Mara berdiri di samping Joanna, tangannya gemetar. “Mereka bilang satu dari makhluk itu mati.”

“Dan yang lain?” tanya Joanna pelan.

“Mereka bilang melarikan diri.” Mara menelan ludah. “Tapi darah ditemukan. Banyak darah.”

Joanna memejamkan mata.

“Vlad …”

Seorang pria desa melangkah maju. “Kita harus menyelesaikannya!”

“Benar!” sahut yang lain. “Api saja tidak cukup!”

Father Constantin mengangkat tangannya. “Tenang. Kita akan membersihkan Bran sepenuhnya.”

Tatapan pendeta itu beralih ke Joanna.

“Termasuk pengaruh asing!”

Kerumunan berbalik menatap Joanna. Tatapan itu bukan lagi curiga. Tapi permusuhan terbuka.

“Kau membawa mereka ke sini,” teriak seseorang. “Sejak kau datang!”

“Itu tidak benar!” Joanna membalas, suaranya bergetar. “Kalian hidup dengan ketakutan jauh sebelum aku datang!”

“Kau membela mereka,” bentak pria lain. “Kau berjalan ke hutan! Kau terlihat bersama seseorang!”

Kerumunan mulai bergerak mendekat.

“Joanna,” bisik Mara panik. “Pergi.”

“Aku tidak bersalah!”

“Kebenaran tidak penting lagi,” jawab Mara lirih. “Yang penting, mereka butuh seseorang untuk disalahkan.”

Father Constantin melangkah turun dari mimbar. “Demi keselamatan desa, aku meminta Joanna Vasile meninggalkan Bran.”

“Dan jika tidak?” tanya Joanna, menatapnya lurus.

Pendeta itu tersenyum tipis. “Maka kami akan menganggapmu bagian dari kegelapan.” Keheningan mencekam menyelimuti alun-alun.

“Joanna.” Seorang wanita tua berseru. “Pergilah. Sebelum lebih banyak darah tertumpah.”

Joanna menoleh ke sekeliling, wajah-wajah yang semula netral kini tertutup kebencian dan ketakutan. Desa ini telah memilih jalannya.

Joanna menarik napas dalam-dalam. “Aku akan pergi,” katanya pelan. “Tapi ketahuilah satu hal, api tidak membunuh legenda. Api hanya membuatnya marah.”

Beberapa orang bergidik. Yang lain mencibir. Joanna berbalik dan berjalan pergi.

Di rumah dekat hutan, Joanna mengemas barang-barangnya dengan tangan gemetar. Setiap suara di luar membuatnya menegang. Abu beterbangan masuk lewat jendela yang retak.

Ketukan terdengar di pintu.

“Joanna.”

Ternyata Mara.

“Kau benar-benar pergi?”

“Jika aku tinggal, mereka akan membunuhku.”

Mara menunduk. “Aku minta maaf, tidak bisa membelamu”

“Joanna,” lanjutnya pelan. “Warga desa telah membentuk kelompok. Mereka menyebutnya, penjaga salib perak.”

Joanna membeku. “Perburuan akan berlanjut.”

Mara mengangguk. “Dan mereka tidak akan berhenti di hutan saja.”

Joanna menutup kopernya. Dibenaknya, terbayang mata emas yang menatapnya dengan peringatan dan kesedihan.

“Vlad masih hidup,” ucapnya tiba-tiba.

Mara menatapnya ragu. “Bagaimana kau tahu?”

Joanna menggenggam dadanya. “Aku merasakannya.”

Malam kembali turun di Bran.

Dari kejauhan, auman terdengar, lemah, lebih jauh, namun penuh amarah yang belum padam.

Joanna berdiri di ambang pintu rumah yang akan ditinggalkannya. Abu menempel di sepatunya. Langit memantulkan cahaya merah samar dari bara hutan yang masih menyala.

Di antara bayangan, sesosok berdiri.

Alexandru.

“Kau diusir,” katanya datar.

“Tidak,” jawab Joanna. “Aku melangkah keluar sebelum mereka mendorongku ke kematian.”

Alexandru mengangguk. “Cerdas.”

“Kau tahu semua ini akan terjadi?” tanya Joanna.

“Aku tahu bagaimana manusia bereaksi saat takut.”

“Siapa sebenarnya kau?”

Alexandru menatap hutan yang terbakar. “Seseorang yang telah melihat perang ini terlalu lama.”

Joanna mengangkat wajahnya. “Bawa aku pada Vlad.”

Alexandru menoleh tajam. “Kau tahu apa yang kau minta?”

“Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak melakukannya.”

Keheningan menggantung di antara mereka.

Akhirnya, Alexandru berkata, “Kalau begitu, bersiaplah. Malam ini, Bran bukan lagi tempatmu.”

Joanna melangkah maju, meninggalkan rumah, desa, dan kehidupan lamanya.

Di belakangnya, Desa Bran tenggelam dalam abu dan doa-doa yang dipenuhi ketakutan. Dan di depannya, ada hutan, yang terluka, marah, dan belum selesai menuntut balas.

Hutan yang terbakar meninggalkan keheningan yang berbeda. Bukan keheningan damai, melainkan jeda panjang setelah jeritan. Tanah masih hangat oleh bara yang tersembunyi, dan udara membawa bau getir kayu hangus yang menempel di tenggorokan.

Joanna melangkah hati-hati di belakang Alexandru, setiap langkah terasa seperti memasuki wilayah yang tidak lagi mengenal belas kasihan.

“Kau yakin dia di sini?” tanya Joanna, suaranya serak oleh asap dan kurang tidur.

Alexandru tidak menoleh. “Aku tidak membawa orang ke tempat yang kosong.”

“Jawabanmu selalu seperti itu,” gumam Joanna.

“Karena pertanyaanmu jarang tepat,” balasnya datar.

Mereka berhenti di sebuah celah batu besar, tertutup semak berduri yang sebagian hangus. Alexandru menyibak semak itu dengan pisau kecil berbilah kusam. Di baliknya, lorong sempit menurun ke dalam tanah.

“Masuk,” katanya.

Joanna menatap lorong itu ragu. “Kau ingin aku masuk ke dalam tanah setelah semua yang terjadi?”

“Jika kau ingin bertemu dengannya,” jawab Alexandru, akhirnya menoleh, “ini satu-satunya jalan yang tidak akan membuatmu dibunuh sebelum fajar.”

Joanna mengangguk, menelan ketakutannya, lalu masuk.

Lorong itu berakhir pada ruang batu alami, langit-langitnya rendah, dindingnya basah oleh embun. Di sudut ruangan, sosok itu terbaring, Vlad Dragoi.

Joanna membeku.

Pria itu terlihat lebih pucat dari terakhir kali mereka bertemu. Bajunya robek, bahunya dibalut kain yang menggelap oleh darah kering. Napasnya terdengar berat, tidak teratur.

“Vlad,” bisik Joanna.

Matanya terbuka perlahan.

Untuk sesaat, Joanna ketakutan. Takut melihat mata emas itu kembali menyala. Namun yang dilihatnya adalah mata gelap yang lelah, penuh rasa sakit dan sesuatu yang lebih berbahaya dari amarah, sebuah penyesalan.

“Joanna,” ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri. “Kau seharusnya tidak datang ke sini.”

Joanna berlutut di sampingnya, tangannya gemetar saat menyentuh lengannya. “Kau masih hidup. Aku sungguh lega.”

“Aku tidak yakin itu kabar baik,” balas Vlad pahit.

Joanna menahan air mata. “Warga desa membakar hutan.”

Vlad menutup mata sejenak. Rahangnya mengeras. “Aku bisa mencium apinya dari jauh.”

“Mereka memburuku,” lanjut Joanna. “Warga desa juga akan memburumu lagi.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu, dan kau tetap pergi sendirian!” Joanna meninggikan suara, emosinya pecah. “Kau hampir mati!”

Vlad membuka mata dan menatapnya. “Lebih baik aku mati daripada kau.”

Keheningan jatuh di antara keduanya, berat dan rapuh.

Joanna menarik napas panjang, lalu berkata pelan, “Aku diusir dari Bran.”

Vlad terdiam. “Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Joanna menggeleng. “Ini bukan salahmu. Tapi karena ketakutan warga desa.”

Vlad tersenyum lemah. “Ketakutan adalah bahasa yang paling mereka pahami.”

Dari balik bayangan, Alexandru bersandar pada dinding batu, menyilangkan tangan. “Kalian sungguh romantis,” katanya dingin. “Tapi kita tidak punya banyak waktu.”

Vlad menoleh tajam. “Kau!”

“Masih hidup,” sahut Alexandru. “Dan masih belum berpihak pada siapapun.”

“Kenapa kau membawanya ke sini?” Vlad bertanya, nada suaranya berbahaya meski tubuhnya lemah.

“Karena jika tidak, Joanna akan mati,” jawab Alexandru tenang. “Dan karena kau tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa dia.”

Vlad menggeram pelan. “Kau tidak tahu apa yang kau campuri.”

Alexandru tersenyum tipis. “Aku tahu lebih banyak daripada yang kau kira.”

Joanna menatap keduanya bergantian. “Kalian saling mengenal?”

“Kami pernah berada di sisi yang sama,” ucap Alexandru. “Dan di sisi yang berlawanan.”

Vlad memalingkan wajahnya. “Kau seorang pemburu.”

“Aku mantan pemburu,” koreksi Alexandru. “Sekarang, aku pengamat.”

“Pengamat tidak menyelamatkan orang dari perburuan,” balas Vlad.

“Pengamat memilih momen,” jawab Alexandru. “Dan momen ini menarik.”

Joanna berdiri, menatap Alexandru. “Kenapa kau ingin menolongku?”

Alexandru terdiam sejenak, lalu berkata, “Karena jika perang ini berlanjut seperti sebelumnya, semua pihak akan kalah.”

“Kau bicara seperti ada pihak yang benar,” seru Joanna.

“Tidak juga,” jawab Alexandru. “Hanya yang ingin bertahan yang bisa melewati segalanya.”

Tiba-tiba Vlad berusaha bangkit, namun meringis kesakitan. Joanna segera membantunya.

“Jangan paksakan dirimu,” ucapnya. “Lukamu parah.”

“Tidak separah jika warga desa jika menemukan tempat ini,” balas Vlad.

Alexandru mengeluarkan botol kecil dari saku mantelnya. “Minumlah.”

Vlad menatap botol itu curiga. “Apa ini?”

“Sesuatu yang menahan rasa sakit,” jawab Alexandru. “Sementara.”

Joanna menatap Alexandru. “Kau punya obat seperti ini?”

“Aku punya banyak hal,” katanya. “Sebagian karena aku memburu. Sebagian karena aku belajar.”

Vlad meneguk cairan itu dengan enggan. Napasnya perlahan lebih teratur.

“Joanna,” katanya pelan, “jika kau tinggal bersamaku, kau akan selalu berada di antara api dan taring.”

Joanna menggenggam tangannya. “Aku sudah berada di sana.”

Vlad menatapnya lama. “Aku bisa saja melukaimu.”

“Aku tahu,” jawab Joanna. “Dan aku memilih tetap akan berada di sisimu.”

Alexandru mengalihkan pandangan, seolah memberi mereka ruang. “Kita harus pergi sebelum fajar.”

“Ke mana?” tanya Joanna.

“Ke tempat rahasia,” jawab Alexandru. “Tempat di mana legenda bersembunyi ketika manusia lupa caranya hidup berdampingan.”

Vlad tertawa pendek. “Kau selalu bicara seperti nabi.”

“Dan kau selalu meremehkan orang yang tidak memilih sisi,” balas Alexandru. “Padahal dunia tidak hitam putih saja. Ada warna lain.”

Joanna menatap Alexandru dengan saksama. “Kau tidak membenci warga desa?”

“Aku membenci pembantaian,” jawabnya. “Dan aku membenci kebohongan yang menyebutnya keselamatan.”

“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Joanna.

Alexandru menatap api yang masih berpendar di kejauhan. “Keseimbangan.”

Vlad menghela napas. “Keseimbangan tidak pernah bertahan lama.”

“Memang tidak.” Alexandru mengakui. “Tapi selalu layak untuk dicoba.”

Mereka keluar dari lorong ketika langit mulai memudar dari hitam menjadi biru kelabu. Hutan yang terbakar terlihat seperti luka terbuka. Asap mengepul perlahan, seolah tanah itu sendiri bernapas dengan susah payah.

Joanna menoleh ke Vlad. “Aku tidak akan kembali ke Bran.”

“Aku tahu.”

“Kau akan ikut denganku?” tanya Joanna.

Vlad menatapnya, lalu Alexandru, lalu kembali ke Joanna. “Jika aku ikut, bahaya akan mengikutimu.”

Joanna tersenyum tipis, mata berkaca-kaca. “Bahaya sudah memilihku.”

Alexandru berjalan lebih dulu, meninggalkan jejak di tanah berabu. “Cepat. Dunia akan bangun, dan dunia tidak ramah pada sesuatu yang berbeda.”

Ketiganya melangkah bersama, manusia, manusia serigala, dan pria abu-abu yang menolak memilih sisi.

Di belakang mereka, desa Bran tertidur di bawah abu dan doa-doa yang kosong.

Sementara Di depan, jalan rahasia sedang menunggu. Jalan yang akan menguji cinta, kesetiaan, dan batas antara monster dan manusia.

Dan untuk pertama kalinya sejak perburuan dimulai, Joanna merasakan sesuatu yang hampir menyerupai harapan yang rapuh. Namun nyata.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel