Pustaka
Bahasa Indonesia

IKATAN TERSEMBUNYI

24.0K · Baru update
Zemira Fortunatus
13
Bab
138
View
9.0
Rating

Ringkasan

Joanna Vasile, seorang peneliti sejarah, datang ke sebuah desa terpencil di Transylvania, Rumania, untuk mengungkap jejak masa lalu yang selama ini tersembunyi di balik legenda kuno. Desa Bran seharusnya hanya menjadi tempat penelitian, hingga pertemuannya dengan seorang pria misterius bernama Vlad Dragoi mengubah seluruh hidupnya. Vlad adalah sosok yang sulit ditebak. Tatapannya menyimpan luka, sikapnya penuh rahasia, dan keberadaannya seolah terikat erat dengan legenda mengerikan yang selama berabad-abad menghantui Desa Bran. Ketika Joanna mulai menyelidiki sejarah Keluarga Dragoi, dia menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar mitos. Sebuah kutukan kuno mengikat garis keturunan keluarga itu dengan makhluk yang selama ini hanya dianggap legenda, serigala yang muncul setiap kali bulan purnama mencapai puncaknya. Semakin dalam Joanna mencari kebenaran, semakin dekat pula dirinya dengan Vlad. Perasaan yang awalnya hanya berupa rasa ingin tahu perlahan berubah menjadi cinta. Namun cinta mereka adalah cinta yang terlarang. Keluarga Dragoi menentang hubungan itu. Penduduk Desa Bran menyimpan kebencian terhadap darah manusia yang dianggap telah mengusik kutukan lama. Bahkan Vlad sendiri berusaha menjauh dari Joanna demi melindunginya. Namun Joanna menolak pergi. Di antara rahasia, darah, kutukan, dan malam-malam penuh ketakutan, keduanya justru menemukan ikatan yang tak mampu diputuskan oleh siapa pun. Tapi setiap purnama membawa ancaman baru. Karena di balik sosok Vlad Dragoi, tersembunyi sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan cinta mereka atau justru menjadi satu-satunya jalan untuk mematahkan kutukan yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Siapakah sebenarnya Vlad Dragoi? Apa rahasia kelam yang disembunyikan Keluarga Dragoi? Dan ketika cinta manusia bertemu dengan kutukan serigala, mampukah Joanna dan Vlad mempertahankan cinta mereka sebelum bulan purnama berikutnya tiba? Sebuah cinta terlarang. Sebuah kutukan kuno. Sebuah keluarga yang menyimpan rahasia. Dan satu ikatan tersembunyi yang mungkin telah ditakdirkan jauh sebelum Joanna mengenal Vlad. Penasaran dengan kisah cinta dan rahasia kelam di balik Desa Bran? Mari ikuti perjalanan kisah cinta Joanna dan Vlad dalam ikatan tersembunyi. Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.

DewasaZaman KunopetarungMengungkap MisteriKehidupan Misterius

1. Desa di Ujung Kabut

Kabut tipis menggantung rendah ketika sebuah kereta tua melambat, rodanya berdecit panjang seolah enggan berhenti. Joanna Vasile menegakkan tubuhnya di kursi kayu yang dingin, jari-jarinya menggenggam tas kulit cokelat yang sudah menemaninya sejak dari Bucharest. Dari jendela, hamparan pepohonan gelap terlihat seperti bayangan raksasa yang membungkuk, seolah mengintai setiap penumpang yang berani menjejakkan kaki di tanah ini.

“Bran!”

Suara masinis menggema singkat, datar, tanpa emosi.

Joanna menghela napas panjang. “Akhirnya.”

Stasiun kecil itu nyaris tak pantas disebut stasiun. Bangunannya tua, catnya mengelupas, dan hanya ada satu lampu gantung yang berayun pelan diterpa angin. Begitu Joanna turun, hawa dingin langsung menyelinap ke dalam mantel wol hitamnya, menusuk tulang.

Gadis itu melirik jam tangan peraknya. Pukul enam sore. Matahari sudah menghilang di balik perbukitan Transylvania.

“Tempat ini, menyeramkan,” gumamnya pelan.

Tak ada jawaban, tentu saja. Hanya suara angin dan derap langkahnya sendiri. Di ujung peron, seorang pria berdiri sambil merokok. Topinya ditarik rendah, wajahnya dipenuhi misteri yang dalam. Ketika Joanna melewatinya, pria itu menatapnya lama, terlalu lama.

“Permisi,” seru Joanna sopan, berhenti sejenak. “Apakah ini benar Desa Bran?”

Pria itu mengangguk perlahan, matanya tak lepas dari wajah Joanna.

“Benar,” jawabnya dengan aksen berat. “Dan kau, bukan orang sini.”

Joanna tersenyum tipis. “Kelihatan, ya?”

“Orang asing selalu terlihat jelas,” ujar pria itu lirih. Dia menghembuskan asap rokok, lalu menambahkan, “Terutama di tempat seperti ini.”

Nada suaranya membuat Joanna merinding.

“Ada penginapan di dekat sini?” tanya Joanna, berusaha mengalihkan perasaan tak nyaman.

Pria itu tertawa singkat, pahit. “Ada satu. Tapi seharusnya kau tidak datang di sini.”

Alis Joanna berkerut. “Tidak datang ke sini? Kenapa?”

Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. “Bran bukan tempat yang ramah. Terutama saat bulan hampir penuh.”

Joanna menahan senyum gugup. “Saya hanya seorang peneliti sejarah. Saya akan tinggal beberapa bulan di sini.”

“Sejarah,” ulang pria itu pelan, seolah sedang mencicipi kata itu. “Di sini, sejarah masih bernapas.”

Sebelum Joanna sempat bertanya lebih lanjut, pria itu mematikan rokoknya dan pergi begitu saja, meninggalkan bau tembakau dan perasaan tak tenang.

Kereta terakhir pergi, dan stasiun kembali sunyi. Sebuah mobil van tua menunggu di luar pagar kayu, cat hijaunya pudar. Di balik kemudi, seorang wanita berambut cokelat pendek melambai.

“Kau Joanna Vasile?” tanyanya ketika gadis itu mendekat.

“Ya,” jawab Joanna lega. “Anda pasti Mara?”

“Benar.” Mara tersenyum ramah, tapi sorot matanya menyimpan kehati-hatian. “Masuklah. Kita sebaiknya sampai sebelum gelap total.”

Joanna memasukkan koper ke bagasi dan duduk di kursi penumpang. Mobil melaju menyusuri jalan sempit berkelok, diapit hutan lebat yang semakin gelap.

“Desa ini indah,” seru Joanna mencoba basa-basi.

“Di siang hari,” jawab Mara singkat.

Mereka terdiam beberapa saat. Hanya suara mesin dan gesekan ban dengan kerikil yang terdengar.

“Kau tidak takut datang sendiri ke sini?” tanya Mara akhirnya.

Joanna tersenyum tipis. “Sedikit. Tapi saya penasaran.”

“Rasa penasaran sering membawa masalah di Bran.”

“Semua tempat punya cerita kelam,” balas Joanna. “Itu yang membuatnya menarik.”

Mara meliriknya sekilas. “Semoga kau tidak menyesal.”

Desa Bran muncul perlahan dari balik tikungan. Rumah-rumah batu berdiri rapat, atapnya curam, jendela-jendela kecilnya tertutup rapat meski belum terlalu malam. Beberapa penduduk terlihat di jalan, tapi begitu mobil lewat, mereka berhenti berbicara dan menatap Joanna. Tatapan mereka dingin. Penuh rasa curiga.

“Kenapa mereka menatap seperti itu?” bisik Joanna.

Mara menghela napas. “Orang asing jarang datang ke sini. Dan yang datang pun, jarang tinggal lama.”

Mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan pagar besi berderit. Lampu kuning redup menyala di teras.

“Inilah tempatmu,” seru Mara.

Joanna turun dan menatap bangunan itu. Rumah tua, tapi terawat. Namun entah kenapa, dia merasa seolah rumah itu sedang mengamatinya.

“Aku akan menemuimu besok,” ujar Mara sambil menyerahkan kunci. “Dan satu hal …”

“Ya?”

“Jangan keluar malam. Apalagi ke hutan.”

Joanna tertawa pelan. “Saya bukan petualang.”

Mara tak membalas senyumnya. “Bagus.”

Malam turun cepat di Bran. Joanna duduk di kamar tidurnya, koper terbuka, buku-buku sejarah berserakan. Dari jendela, hutan tampak seperti lautan hitam tanpa ujung.

Angin menderu, membuat jendela bergetar pelan.

Joanna memeluk dirinya sendiri. “Ini hanya rasa asing,” pikirnya. “Aku akan terbiasa.”

Namun ketika Joanna mematikan lampu dan berbaring, suara aneh terdengar dari kejauhan.

Sebuah Auman.

Nadanya rendah dan panjang. Bukan suara anjing.

Joanna bangkit setengah duduk, jantungnya berdebar.

“Itu serigala?” gumamnya.

Auman kedua terdengar, lebih dekat.

Joanna menutup tirai dan mematikan lampu sepenuhnya, berbaring dalam gelap dengan napas tertahan.

Di luar, bulan perlahan muncul di balik awan, bundar dan pucat.

Dan di hutan Bran, sesuatu mulai bergerak. Sesuatu yang telah lama menunggu kedatangannya.

Keesokan hari.

Pagi di desa Bran datang tanpa kehangatan. Kabut masih menggantung rendah di antara rumah-rumah batu ketika Joanna membuka jendela kamarnya. Udara dingin segera menyusup masuk, membawa aroma tanah basah dan kayu terbakar. Dari kejauhan, lonceng gereja berdentang pelan, suaranya menggema muram di antara bukit-bukit.

Joanna memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya. Suara auman semalam masih terngiang di telinganya.

“Hanya serigala,” katanya pada diri sendiri. “Ini Rumania. Wajar.”

Namun entah mengapa, perasaannya menolak penjelasan sesederhana itu. Joanna turun ke dapur penginapan kecil itu dan mendapati seorang wanita tua sedang menyapu lantai kayu. Rambutnya memutih, disanggul rendah, dan matanya tajam seperti elang.

“Selamat pagi,” sapa Joanna ramah.

Wanita itu menoleh perlahan. Tatapannya berhenti di wajah Joanna, lalu turun ke lehernya, seolah mencari sesuatu yang tak terlihat.

“Kau pasti Joanna,” katanya akhirnya.

“Ya. Dan Anda?”

“Ana Popescu. Aku pemilik rumah ini.” Suaranya serak, namun tegas. “Kau tidur nyenyak?”

Joanna ragu sejenak. “Cukup nyenyak, meski sempat mendengar suara aneh.”

Ana berhenti menyapu.

“Suara apa?”

“Auman. Dari hutan,” jawab Joanna.

Ana menurunkan sapunya perlahan. “Maka seharusnya kau menutup jendela rapat-rapat.”

“Apa itu hanya serigala?”

Ana tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tak menghibur. “Di Bran, tidak semua serigala berjalan dengan empat kaki.”

Joanna menelan ludah. “Maksud Anda?”

“Duduklah,” potong Ana sambil menunjuk bangku kayu panjang. “Dan minumlah ini.”

Ana menyodorkan secangkir teh hitam pekat. Joanna duduk, jari-jarinya melingkari cangkir hangat itu.

“Desa ini,” lanjut Ana. “Memiliki cerita lama. Cerita yang tak pernah tertulis di buku sejarahmu.”

Joanna mencondongkan tubuhnya, tertarik. “Justru itu yang ingin saya pelajari.”

Ana menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi jangan katakan aku tak memperingatkanmu.”

Siang hari, Joanna berjalan ke pusat desa. Jalanan sempit itu ramai oleh pasar kecil. Ada penjual roti, keju, dan daging asap. Namun di balik aktivitas itu, suasana tetap terasa tertahan, seolah semua orang berbicara dengan suara setengah nada.

Joanna berhenti di sebuah kedai kopi tua. Di dalamnya, beberapa pria paruh baya duduk mengelilingi meja kayu, berbicara pelan namun penuh emosi.

“Bulan akan penuh tiga malam lagi,” ucap salah satu dari mereka.

“Semoga hal itu tidak kembali,” sahut yang lain.

Joanna mendekat, ragu-ragu. “Permisi,” katanya sopan. “Bolehkah saya duduk?”

Percakapan langsung terhenti. Semua mata tertuju padanya.

“Kau orang asing,” ujar seorang pria berjanggut lebat.

“Ya,” jawab Joanna jujur. “Saya seorang peneliti sejarah. Saya ingin mempelajari legenda lokal.”

Salah satu pria tertawa pendek, namun sinis. “Legenda, katanya.”

“Kami tidak bicara tentang dongeng,” tambah yang lain.

Joanna duduk perlahan. “Justru itu. Saya mendengar tentang, manusia serigala.”

Keheningan jatuh seperti kabut tebal.

Pria berjanggut itu menyandarkan tubuhnya. “Siapa yang memberitahumu?”

“Tak ada. Tapi desa ini penuh simbol salib perak di pintu, jendela tertutup saat malam, dan ketakutan setiap bulan purnama.”

Seorang pria tua yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Suaranya pelan, namun membuat semua orang terdiam.

“Legenda itu lebih tua dari gereja kami.”

Joanna menoleh padanya. “Bisa Anda ceritakan?”

Pria itu menatap cangkir kopinya. “Dulu, sebelum manusia dan iman hidup berdampingan, hutan ini milik mereka.”

“Mereka?” ulang Joanna.

“Lupii oamenilor. Serigala manusia.”

Sore hari, Joanna duduk di bangku batu dekat gereja tua bersama Mara. Angin berdesir, membawa daun-daun kering berputar di udara.

“Kau bertanya terlalu banyak,” ucap Mara tanpa menoleh.

“Karena semua orang menghindar,” balas Joanna. “Seolah legenda itu nyata.”

Mara menghela napas. “Karena bagi kami, itu memang nyata.”

Joanna menatapnya tajam. “Mara, apa yang sebenarnya terjadi di Bran?”

Mara menoleh, wajahnya tegang. “Setiap beberapa tahun, seseorang mati. Tubuhnya ditemukan tercabik-cabik, tapi bukan seperti serangan hewan biasa.”

“Lalu?”

“Lalu pendeta datang. Salib perak dipasang. Doa dibaca.” Mara menelan ludah. “Dan setelah itu kami berpura-pura semuanya, baik-baik saja.”

“Joanna,” lanjut Mara pelan. “Manusia serigala yang ada di sini bukan monster tanpa pikiran. Mereka dulunya manusia.”

“Dulunya?”

“Mereka telah dikutuk.” Mara menatap bulan yang mulai tampak pucat di langit. “Karena dosa, darah, atau pilihan yang salah.”

Joanna terdiam. Bayangan mata gelap pria yang ditemuinya di stasiun, tiba-tiba terlintas di benaknya.

“Apakah ada keluarga tertentu yang dicurigai?” tanyanya.

Mara menegang. “Jangan sebut nama mereka.”

“Keluarga Dragoi?”

Mara berdiri mendadak. “Kau seharusnya tidak tahu itu!”

Malam turun lagi di Bran. Joanna kembali ke penginapan dengan pikiran penuh. Dia membuka buku catatannya, menuliskan semua yang didengarnya.

“Manusia serigala Transylvania, bukan legenda. Klan kuno. Kutukan turun-temurun. Bulan purnama sebagai pemicu.”

Angin tiba-tiba bertiup kencang, membuat lilin di mejanya bergetar.

Ketukan terdengar di pintu.

“Joanna?” Suara seorang laki-laki.

Joanna membuka pintu perlahan.

Pria itu berdiri di sana, yang ditemuinya di stasiun tadi malam. Rambut hitamnya sedikit basah oleh embun, matanya kelam dan dalam.

“Aku Vlad,” katanya pelan. “Dan kau seharusnya tidak mendengar cerita-cerita itu.”

Joanna menatapnya, jantungnya berdetak tak beraturan. “Kenapa?”

Untuk sesaat yang sangat singkat, Joanna melihat kilatan emas di mata pria itu.

“Karena legenda,” lanjut Vlad dengan suara rendah. “Memiliki cara untuk menjadi kenyataan.”

Vlad pun pergi setelah mengatakan itu.

Angin malam menderu, membawa aroma hutan dan sesuatu yang liar. Dan Joanna tanpa tahu mengapa, dia merasa jika hidupnya tak akan pernah sama lagi setelah tiba di desa ini.